
Perpisahan memang menjadi hal yang paling menyedihkan sekaligus menyakitkan, namun jika takdir sudah menggariskan perpisahan yang harus terjadi maka tidak ada yang bisa lari darinya.
Begitu juga apa yang terjadi pada Nerissa dan Marin saat mereka harus menjalani takdir yang tidak mereka inginkan. Cinta dalam hati yang tiba-tiba tumbuh pada akhirnya menyisakan luka akibat perpisahan yang harus terjadi.
Melihat Nerissa tampak terpuruk, Marinpun memeluk Nerissa dengan erat, air matanyapun ikut tumpah melihat bagaimana Nerissa sangat bersedih setelah menghapus memori Alvin tentangnya.
Setelah beberapa saat berkutat dengan kesedihan mereka berdua, Nerissa dan Marinpun keluar dari ruangan Alvin.
"Apa dia akan baik-baik saja Putri?" tanya Marin pada Nerissa yang masih menatap Alvin dari pintu kaca.
"Aku tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan Marin, tapi setidaknya masih ada kesempatan baginya untuk melanjutkan hidupnya, meski saat ini dirinya masih berada di ambang batas antara hidup dan mati," jawab Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu Putri? jika tidak kita bisa menunggu beberapa hari lagi sampai keadaan Alvin membaik."
"Kita tidak bisa berada disini lebih lama lagi Marin, aku tidak ingin Cadassi menemukanku disini, jadi kita harus segera kembali ke Seabert sebelum Cadassi menyadari keberadaanku disini," jawab Nerissa.
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan selalu berada di sampingmu Putri," ucap Marin.
"Terima kasih Marin, sekarang kita harus menemui Daniel, sebelum itu aku akan memberimu waktu untuk berdua dengan Daniel, setelah kau siap aku akan datang dan menghapus memori Daniel tentang kita berdua!"
Marin hanya menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Nerissa, mereka kemudian meninggalkan rumah sakit untuk menemui Daniel di tempatnya bekerja.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang Nerissa dan Marin bicarakan, mereka berdua sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Setelah beberapa lama taksipun berhenti, Nerissa dan Marin turun dari taksi, berdiri di depan gedung Atlanta Group tempat Alvin dan Daniel bekerja.
"Apa kau siap Marin?" tanya Nerissa pada Marin yang hanya menatap kosong gedung tinggi di hadapannya.
Marin menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu membawa langkahnya berjalan memasuki gedung tinggi itu.
Baru saja Marin melewati pintu utama Atlanta Group, dia sudah melihat Daniel yang berjalan ke arahnya. Dengan senyum menawan di wajahnya, Daniel berjalan ke arah Marin yang berdiri di dekat pintu utama.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau mencariku?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Marin.
"Dokter tadi memberitahuku tentang keadaan Alvin, dokter bilang Alvin sudah melewati masa kritisnya, tapi jika sampai dua hari dia belum sadar kemungkinan besar dia akan mengalami koma, apa benar begitu?"
"Iya, dokter juga mengatakan hal yang sama padaku dan Putri," jawab Marin.
"Apa aku bisa meminta waktumu sebentar Daniel?" tanya Marin.
"Tentu saja, ada sesuatu yang ingin aku katakan juga padamu," jawab Daniel lalu meraih tangan Marin dan menggandengnya keluar dari gedung lalu mengajaknya berjalan ke arah taman kecil yang ada di dekat tempat parkir.
Marin dan Danielpun duduk di salah satu bangku yang ada disana.
"Apa kau ingat pertemuan pertama kita Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu padaku?" balas Marin bertanya.
"Beberapa hari ini aku tidak bisa berhenti memikirkannya, dari awal bertemu denganmu kau sudah menarik perhatianku, walaupun pertemuan kita bukan pertemuan yang baik saat itu bahkan setelahnyapun kita selalu bertengkar," ucap Daniel dengan menahan tawanya mengingat pertengkaran yang sering terjadi antara dirinya dan Marin.
"Kau memang menyebalkan, kau selalu membuatku kesal dan marah," balas Marin.
"Dan aku juga berpikir seperti itu, bagiku kau sangat menyebalkan dan selalu membuatku kesal, tapi aku tidak pernah benar-benar marah padamu, pada kenyataannya aku selalu mengkhawatirkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi padamu," ucap Daniel dengan menatap Marin yang duduk di sampingnya.
"Nerissa memang gadis yang cantik Marin, aku bahkan menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya, tapi aku sadar bahwa aku hanya menyukai kecantikan dan kebaikan hatinya, pada kenyataannya ada seseorang yang lain yang berhasil masuk ke dalam hatiku dan bodohnya aku baru menyadari hal itu," lanjut Daniel yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Daniel yang tengah menatap dirinya saat itu.
Untuk beberapa saat kedua pasang mata itu saling menatap dalam diam, ada sebuah rasa dalam hati yang ingin segera tersampaikan.
"Mungkin kita memang sering bertengkar dan berdebat hanya karena hal-hal kecil, tapi itulah yang membuat kita menjadi dekat, tanpa aku sadari hal yang membuatku kesal tentangmu nyatanya adalah hal yang paling sering mengganggu pikiranku dan membuatku selalu memikirkanmu," ucap Daniel.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti," balas Marin yang segera mengalihkan pandangannya dari Daniel karena degup jantungnya yang kembali berdetak kencang.
"Semua kekesalanku padamu, semua hal menyebalkan yang kau lakukan tanpa sadar membuatku selalu memikirkanmu dan saat melihatmu terluka hatiku terasa sangat sakit Marin, aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu dengan baik meskipun aku tahu sebatas apa hubungan kita sebenarnya," ucap Daniel.
Marin hanya diam dengan menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, ia bahkan tidak berani untuk membawa pandangannya pada Daniel yang tengah berbicara serius saat itu.
"Aku mungkin bukan laki-laki sempurna untukmu, aku hanya laki-laki yang sering membuatmu kesal dan marah, tapi percayalah Marin aku akan selalu berusaha menjagamu dengan baik, aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu dan membawamu pergi dari rasa sakit yang selama ini kau simpan sendiri," ucap Daniel dengan masih menatap Marin yang duduk di sampingnya.
"Aku mencintaimu Marin, aku tidak ingin kehilanganmu dan aku tidak ingin siapapun melukaimu sedikitpun," ucap Daniel sambil menarik tangan Marin ke dalam genggamannya.
Seketika Marin terdiam, debaran dalam dadanya semakin bergejolak tak beraturan. Di saat ia berpikir bahwa Daniel tidak menyukainya ternyata Daniel malah menyatakan perasaan cinta padanya.
Namun semuanya terlambat karena pada saat itu juga Marin harus menyatakan perpisahannya pada Daniel.
Marin kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Daniel lalu segera beranjak dari duduknya.
"Maafkan aku," ucap Marin lalu membawa langkahnya pergi namun Daniel segera menahan tangan Marin dan menarik Marin ke dalam dekapannya.
"Berhenti membohongi dirimu sendiri Marin, aku tahu kaupun menyimpan perasaan yang sama sepertiku, maafkan aku karena baru menyadari apa yang selama ini kau rasakan terhadapku, maafkan aku yang......"
Daniel menghentikan ucapannya saat Marin menarik dirinya dari dekapan Daniel dan mendorong Daniel dengan cukup kuat.
"Semuanya terlambat Daniel, semuanya sudah tidak ada artinya lagi buatku," ucap Marin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Apa maksudmu? aku akan memberimu waktu jika kau membutuhkan waktu untuk memikirkannya, aku akan....."
"Tidak, aku tidak membutuhkan waktu untuk memikirkan hal ini karena apa yang aku rasakan ini hanyalah sebuah kesalahan," ucap Marin lalu berlari pergi.
Saat Daniel akan mengejar Marin, Nerissapun datang menghentikan Daniel.
Nerissapun melakukan apa yang harus ia lakukan, ia menghapus semua memori Daniel tentangnya dan juga Marin, ia tidak membiarkan sedikitpun memori Daniel tersisa tentang mereka berdua.
Setelah berhasil menghapus memori Daniel, Nerissapun segera pergi meninggalkan Daniel yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Nerissa berlari mengejar Marin yang kini sudah duduk di trotoar jalan raya sambil memeluk kedua kakinya dengan menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Aku tahu ini berat untukmu Marin, maafkan aku yang sudah menempatkanmu pada posisi yang menyedihkan ini," ucap Nerissa sambil mengusap punggung Marin.
Marin kemudian membawa pandangannya pada Nerissa lalu memeluk Nerissa dengan erat dan menumpahkan semua tangisnya pada Nerissa, ia sudah tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya yang melihat air matanya yang jatuh menjadi mutiara.
Di sisi lain Nerissa menggunakan kekuatannya untuk menghentikan waktu, membuat semua orang yang ada disana bahkan daun-daunpun berhenti bergerak, memberikan waktu bagi Marin untuk menumpahkan semua tangisnya dalam pelukannya.
Setelah Marin lebih tenang Nerissa dan Marinpun mengumpulkan mutiara yang tercecer di trotoar lalu membuangnya ke tempat sampah.
Bagaimanapun juga jalan takdir sudah digariskan, membawa Nerissa dan Marin kembali ke Seabert untuk melanjutkan apa yang sudah menjadi takdir bagi mereka berdua.
Dengan membawa kesedihan dan rasa sakit dalam hati mereka, mereka berdua bersiap meninggalkan daratan setelah menghapus memori semua orang yang mengenalnya termasuk Mama papa Daniel, bi Sita, Amanda, Cordelia dan keluarganya.
Di bawah langit malam yang tak berbintang Nerissa dan Marin berdiri di tepi pantai, membiarkan kaki mereka basah oleh gulungan ombak yang menyapu pantai.
"Putri, bisakah kau menghapus memoriku tentang semua yang ada di daratan?" tanya Marin pada Nerissa.
"Aku tidak bisa melakukannya Marin, jika aku menghapusnya maka kaupun pasti akan melupakan banyak hal penting lainnya," jawab Nerissa.
"Kalau begitu hapus saja memoriku tentang Daniel, aku benar-benar tidak ingin mengingatnya Putri," ucap Marin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Nerissa kemudian mendekati Marin dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Biarkan Daniel menjadi salah satu kenangan indah yang kau dapatkan di daratan Marin, kau tidak perlu melupakannya, jadikan dia sebagai kenangan terindah yang pernah kau miliki saat kau berada di daratan," ucap Nerissa pada Marin.
Marin menganggukkan kepalanya pelan lalu mengusap air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Maafkan aku Putri, apa yang terjadi beberapa hari ini membuatku sangat lemah dan mudah menangis," ucap Marin
"Menangis bukanlah sebuah kesalahan Marin, itu adalah hal yang wajar, tapi buatku beberapa hari ini adalah hari-hari yang bisa membuatku menjadi Nerissa yang lebih kuat, perpisahanku dengan Alvin memang sangat menyakitkan, takdir pertemuan kita sangat singkat dan berakhir dengan menyedihkan, tapi aku harus tetap menjalaninya demi Bunda yang sudah menungguku di Seabert," ucap Nerissa.
"Kau sekarang menjadi lebih dewasa Putri, aku sangat bangga padamu," ucap Marin lalu memeluk Nerissa.
Nerissa dan Marin kemudian berjalan semakin jauh meninggalkan bibir pantai, saat setengah badan mereka sudah tenggelam merekapun memutar gelang mutiara mereka 7 kali dan tanpa menunggu lama kedua kaki merekapun berubah menjadi ekor.
"Aaahhh Putri, tolong aku!" teriak Marin sambil meraih tangan Nerissa dan menggenggamnya dengan erat.
Nerissa hanya tertawa lalu menggenggam tangan Marin dan membawanya berenang menjauh dari pantai.
"Aku sudah terbiasa berjalan dengan kaki, rasanya sangat aneh saat aku berenang dengan ekor seperti ini," ucap Marin yang masih belum terbiasa berenang menggunakan ekornya.
Nerissa hanya terkekeh lalu mempercepat gerakan ekornya agar mereka segera sampai di Seabert.
"Apa kita akan masuk ke istana melewati jalan yang Chubasca tunjukkan Putri?" tanya Marin.
"Tentu saja tidak, kita akan melewati pintu istana agar semuanya ada disana tahu bahwa kita sudah pulang dari tugas yang Bunda berikan pada kita."
"Aaahhh iya, tapi apa kau akan siap jika Pangeran Merville menemuimu?"
"Tenang saja, aku bahkan siap untuk menghadapi Ran," jawab Nerissa penuh keyakinan.
Setelah lama berenang merekapun sampai di wilayah Selatan Seabert. Namun tidak banyak mermaid yang mereka temui disana, suasana di wilayah selatan itu tampak sangat berbeda dengan saat Nerissa dan Marin pertama kali meninggalkan Seabert.
"Apa yang terjadi disini Putri? sepertinya wilayah selatan tidak sedang baik-baik saja," tanya Marin.
"Aku juga tidak tahu Marin, kita akan segera mengetahuinya setelah kita sampai di istana," jawab Nerissa.
Sesampainya mereka di gerbang istana, para Morganpun begitu terkejut dengan kedatangan Nerissa dan Marin.
"Selamat datang Putri, kami semua sudah menunggu kedatanganmu," ucap Morgan yang menyambut Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum lalu mengajak Marin masuk ke dalam istana.
"Tunggu Putri, bagaimana dengan ramuan yang sudah ayah sebarkan di dalam istana?" tanya Marin berbisik pada Nerissa.
"Tenang saja aku bisa mengatasinya," balas Nerissa lalu berenang masuk ke dalam istana dan segera menghampiri sang Bunda yang berada di kamar persembunyiannya.
Chubasca dan Beetna yang melihat kedatangan Nerissa begitu terkejut. Mereka sangat senang karena Nerissa dan Marin sudah kembali dari daratan, yang artinya Nerissa sudah mendapatkan mutiara biru yang bisa menyelamatkan Ratu Nagisa.
"Tolong kalian keluarlah, beri aku waktu untuk berdua dengan Bunda," ucap Nerissa pada Marin, Chubasca dan Beetna.
Mereka semuapun menganggukkan kepala lalu berenang keluar dari kamar persembunyian Ratu.
Nerissa terdiam untuk beberapa saat menatap sang Bunda yang masih terpejam di hadapannya.
"Maafkan Nerissa karena terlalu lama membiarkan Bunda seperti ini, sekarang Nerissa kembali dengan semua kekuatan yang sudah nerisa pahami bunda," ucap Nerissa lalu mengambil mutiara biru dari mahkota yang dipakainya.
Sebelum Nerissa meninggalkan daratan, dia sudah mengubah hiasan rambutnya menjadi mahkota dan sejak mutiara biru itu berada di tangannya Nerissa bisa memahami semua kekuatan yang ada pada dirinya dengan bantuan suara misterius yang seolah selalu ada bersamanya.
Nerissa kemudian menggenggam mutiara itu dan menaruh genggaman tangannya tepat di atas dada sang Bunda. Nerissa memejamkan matanya dan tak lama kemudian mutiara dalam genggaman tangannyapun menghilang, masuk ke dalam tubuh sang Bunda.