Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Alvin dan Daniel



Alvin dan Daniel keluar dari rumah Nerissa lalu berangkat ke kantor bersama dengan mobil mereka masing masing.


Sesampainya di kantor, mereka berjalan ke arah ruangan mereka masing masing tanpa berbicara satu sama lain.


Beberapa jam telah berlalu, Daniel keluar dari ruangannya untuk memberikan hasil laporannya pada Alvin.


Danielpun masuk ke ruangan Alvin.


"Ini laporan yang kau minta," ucap Daniel sambil memberikan hasil laporannya.


"Apa kau marah padaku?" tanya Alvin sambil memeriksa laporan Daniel.


"Bagaimana menurutmu? apa aku harus marah atau tidak?" balas Daniel bertanya


"Aku sudah mengatakan padamu, aku menemui Nerissa untuk memberi tahunya jika bibi sudah kembali, aku sengaja menemuinya secara langsung karena aku merasa harus berterima kasih secara langsung padanya," balas Alvin menjelaskan.


"Benarkah? tidak ada niat yang lain?"


"Tidak, apa kau tidak mempercayaiku?"


"Aku percaya, asal kau tau Alvin, jika sainganku untuk mendapatkan Nerissa adalah dirimu maka aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, dia pasti lebih memilih dirimu daripada aku," ucap Daniel.


"Jangan berpikir terlalu jauh Daniel, perbaiki saja laporanmu, banyak bagian yang harus kau revisi!" balas Alvin sambil mengembalikan laporan Daniel.


"Revisi lagi? ini sudah yang ketiga kali Alvin!"


"Aku akan memintamu merevisinya sampai benar benar sesuai, bahkan jika perlu sampai 10 kali!" balas Alvin dengan tersenyum tipis.


"Waaahhh kau benar benar kejam pada sahabatmu," ucap Daniel dengan menggelengkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan Alvin.


Alvin hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sesekali ia masih memikirkan ucapan Daniel padanya.


"jika sainganku untuk mendapatkan Nerissa adalah dirimu maka aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, dia pasti lebih memilih dirimu daripada aku!"


Alvin menggelengkan kepalanya memikirkan ucapan Daniel. Meski pada awalnya ia tidak begitu dekat dengan Daniel, pada akhirnya ia dan Daniel bersahabat dekat sampai mereka tumbuh dewasa.


Daniel yang memberinya banyak alasan untuk kembali tertawa dan melihat dunia dari banyak sisi yang berbeda.


Jika bukan karena Daniel, mungkin Alvin masih terpuruk karena masa lalunya. Saat ia merasa tidak memiliki siapapun dalam hidupnya, Daniel datang dan memberinya alasan untuk tertawa.


Bersama Daniel, Alvin memulai banyak hal bersama. Persahabatan yang Daniel berikan pada Alvin, membuat Alvin berpikir untuk selalu mengutamakan persahabatan mereka dibanding apapun, termasuk cinta.


Hal itu yang membuat Alvin harus bersiap untuk merelakan Nerissa jika memang Daniel menyukainya.


Ia hanya tidak ingin persahabatannya hancur karena keegoisannya yang lebih memilih cinta.


"cinta? tidak, aku hanya menyukainya karena dia cantik, kecantikan dan kesederhanaannya yang membuatku menyukainya, ini bukan cinta, aku yakin bukan," ucap Alvin dalam hati.


Alvin berusaha menepis rasa yang ada di hatinya, bukan hanya karena Daniel, tapi karena ia sendiri ragu tentang apa yang ia rasakan sebenarnya.


Ia tidak tau seperti apa cinta yang sebenarnya, ia tidak mengerti bagaimana sebuah perasaan bisa disebut cinta.


Apakah hanya dengan menyukai seseorang bisa disebut mencintai?


Tapi yang pasti, ia pernah merasakan indahnya perasaan yang ia anggap cinta. Perasaan berbunga bunga saat dua pasang mata saling menatap, perasaan ingin memiliki dan ingin selalu melindungi, perasaan bahagia saat bersama dan perasaan sedih saat ditinggal pergi.


Perasaan indah itu pernah tinggal dalam hatinya, entah saat ini masih tertinggal atau sudah pergi bersama waktu yang telah berganti.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Daniel menghampiri Alvin di ruangannya.


Daniel masuk dengan raut wajah kesal lalu duduk di hadapan Alvin.


"Ada apa?" tanya Alvin yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangannya.


"Papa memintaku datang di acara perusahaan," jawab Daniel.


"Lalu apa masalahnya? bukankah papamu memang sering memintamu untuk datang di acara seperti itu?"


"Iya, tapi kemarin papa baru saja menamparku, jadi aku tidak akan datang sebelum papa meminta maaf padaku!"


Alvin hanya tertawa kecil mendengar ucapan Daniel. Pasalnya ia sangat tau bagaimana kebiasaan Daniel dengan papanya yang memang terkadang bersikap kasar padanya.


"Kenapa kau tertawa? apa ini lucu?" tanya Daniel dengan kesal.


"Tentu saja, sangat lucu," jawab Alvin yang masih tertawa.


"Kau memang menyebalkan!" balas Daniel yang semakin kesal.


"Aku sangat mengenalmu Daniel, sudah berapa kali papamu menamparmu dan berapa kali juga kau mengalah dan tetap datang mengikuti perintah papamu?"


"Kali ini berbeda Alvin, aku benar benar tidak akan datang!" balas Daniel.


"Datanglah Daniel, jika papamu memintamu datang, itu artinya papamu masih membutuhkanmu, papamu masih menganggapmu sebagai anak satu satunya yang dimiliknya," ucap Alvin.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiipp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang papa, namun Daniel mengabaikannya. Sampai beberapa kali panggilan sang papa diabaikan, tak lama kemudian sang mama yang menghubunginya.


Dengan cepat Daniel menerima panggilan sang papa dan untuk pertama kalinya ia menyesal karena menerima panggilan sang mama.


Ternyata sang mama hanya memintanya untuk mengikuti perintah sang papa, membuat Daniel semakin kesal.


"Bagaimana?" tanya Alvin dengan menahan senyumnya.


Alvin sangat tau, jika sudah menyangkut mamanya, maka Daniel tidak akan bisa berkutik lagi.


"Baiklah, aku akan jadi anak yang baik untuk keluargaku yang sudah berada di ujung tanduk," ucap Daniel lalu berdiri dari duduknya.


"Hahaha.... baguslah kalau begitu, cepat pergi, jangan membuat papamu menunggu lama!" balas Alvin.


Daniel hanya diam lalu keluar dari ruangan Alvin dengan langkah yang malas. Alvinpun berlari kecil mengikuti Daniel.


Alvin dan Daniel berpisah di depan kantor mereka karena tempat tujuan mereka yang berbeda.


Jika Daniel akan menemui sang papa, Alvin akan menemui Nerissa sore itu.


Sebelum itu, Alvin sudah membawa uang cash yang sudah ia masukkan ke dalam amplop untuk ia berikan pada Nerissa sesuai janjinya tadi pagi.


Sesampainya disana, Alvin segera keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah toko bunga Marin.


"Hai Alvin, apa kau mencari Putri?" sapa Marin sekaligus bertanya.


"Iya, apa dia ada di rumah?"


"Dia sedang mengantar pesanan, mungkin sebentar lagi akan kembali, kau mau menunggunya?"


"Iya, aku akan menunggunya," jawab Alvin.


Setelah beberapa lama menunggu, Nerissapun datang. Dengan peluh di keningnya, Nerissa berjalan lemas ke arah Marin tanpa mengetahui jika ada Alvin disana.


"Aaahh Marin..... kenapa hari ini panas sekali? aku ingin pergi ke pantai sekarang, mencari mahkota sekaligus menyelam ke dasar yang sangat dalam, aaahhh.... aku benar benar merindukan tinggal di......"


"Kau berlebihan Putri, padahal hari ini tidak begitu panas," ucap Marin memotong ucapan Nerissa dan memberikan kode dengan matanya untuk melihat Alvin yang duduk di sudut ruangan itu.


"Kau tidak merasakannya karena kau berada di dalam toko bunga Marin," balas Nerissa yang tidak peka pada kode Marin.


"Kau benar, cuaca hari ini memang sangat panas!" sahut Alvin.


Nerissa yang mendengar suara Alvin segera membalik badannya dan membawa pandangannya ke arah sumber suara.


"Alvin! sejak kapan kau duduk disitu?"


"Sebelum kau datang," jawab Alvin.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku Marin?" tanya Nerissa pada Marin dengan suara yang sangat pelan, namun cukup bisa di dengar dengan jelas oleh Marin.


"Aku sudah memberi tahumu Putri, tapi kau tidak peka!" balas Marin yang juga berbicara dengan suara yang sangat pelan.


"Aku kesini untuk memberikan gajimu sesuai janjiku tadi pagi," ucap Alvin lalu memberikan sebuah amplop berisi uang pada Nerissa.


"Aaahhh iya.... terima kasih Alvin," balas Nerissa.


"Apa kau sedang sibuk sekarang? aku ingin mengajakmu pergi sebentar!"


"Aku....."


"Tidak, pergilah Putri, pekerjaanmu sudah selesai" ucap Marin memotong ucapan Nerissa sambil mendorongnya menjauh.


"Baiklah, ayo pergi, aku yakin kau akan menyukainya," ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa pun pergi dari toko bunga bersama Alvin. Alvin kemudian mengendarai mobilnya menuju ke sebuah kafe.


Sesampainya disana, ia segera mengajak Nerissa masuk. Alvin memesan beberapa macam ice cream untuk Nerissa.


Saat pesanan Alvin datang, Nerissa tampak begitu senang.


"Makanlah, kau menyukainya bukan?"


"Nerissa, karena sekarang kau sudah tidak bekerja di rumahku, kau tetap bisa datang ke rumahku jika kau ingin melihat ikan ikanku!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Delia pasti akan sangat kalau dia tau aku ke rumahmu padahal aku sudah tidak bekerja disana," balas Nerissa.


"Apa dia pernah menyakitimu?" tanya Alvin.


"Tidak, dia hanya sering memarahiku saja," jawab Nerissa berbohong.


"Aku akan memberi tahunya untuk menjaga sikapnya padamu," ucap Alvin.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alvin.


"Alvin, sebenarnya apa yang membuatmu sangat menyukai lautan?" tanya Nerissa penasaran.


"Mmmm..... aku merasa lautan yang memberikanku kesempatan kedua," jawab Alvin.


"Kesempatan kedua?"


"Iya, Nerissa apa kau percaya kalau ada mermaid sungguhan di bawah lautan?"


Nerissa terdiam mendengar pertanyaan Alvin yang tiba tiba. Ia tidak mengerti kenapa Alvin menanyakan hal itu padanya.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? apa kau pernah melihat mermaid sungguhan?"


"Iya, sepertinya aku pernah melihatnya secara langsung," jawab Alvin yang semakin membuat Nerissa terkejut dan gugup.


"Be.... benarkah? dimana?"


"Di dalam mimpiku hehehe..." jawab Alvin yang membuat Nerissa bernapas lega.


"Hmmmm.... aku pikir kau benar benar melihatnya dengan sadar," ucap Nerissa.


"tidak, sepertinya aku memang benar benar melihatnya saat itu, dia yang menyelamatkanku saat ombak besar menerjang kapal yang aku tumpangi," ucap Alvin dalam hati.


Di sisi lain, seseorang baru saja memasuki kafe bersama beberapa orang yang membawa kamera.


Seseorang itu begitu terkejut karena melihat Alvin dan Nerissa disana.


"Ada apa? apa ada masalah?" tanya seorang kameramen.


"Tidak, ayo lanjutkan pekerjaan kita!" jawab Delia lalu berjalan ke arah lain.


Cordelia datang ke kafe itu untuk melakukan pemotretan dengan tema ice cream. Setelah beberapa lama berpose di hadapan kamera, Cordeliapun diberikan waktu untuk beristirahat.


Cordelia kemudian berjalan menghampiri Alvin dan Nerissa.


"Delia, apa yang kau lakukan disini?" tanya Alvin pada Cordelia yang berdiri di dekatnya.


"Aku sedang melakukan pemotretan, apa yang kalian lakukan disini? apa Daniel tau kalian disini?"


"Jangan mulai mencari masalah Delia, kau...."


"Tidak, aku tidak akan mencari masalah, aku tau ada kamera yang sedang mengawasiku," ucap Delia memotong ucapan Alvin.


Cordelia kemudian menggeser kursi lalu duduk di samping Alvin.


"Kau mau?" tanya Nerissa menawarkan ice cream pada Cordelia.


Cordelia hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aku tidak suka ice cream, terlalu manis dan bisa membuatku gendut," ucap Cordelia.


"Kau tidak menyukai ice cream? benarkah? padahal ini enak sekali!" balas Nerissa.


Cordelia kembali menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, membuat Nerissa sedikit heran dengan sikap Cordelia.


"Alvin, apa aku bisa menginap di rumahmu nanti?" tanya Cordelia pada Alvin.


"Kenapa kau harus menginap di rumahku?"


"Aku sedang bertengkar dengan mama dan papa, jadi aku tidak akan pulang malam ini," jawab Cordelia.


"Kau bisa tidur di hotel," ucap Alvin.


"Kau jahat sekali, padahal kau selalu membiarkan Nerissa menginap di rumahmu!"


"Aku punya alasan kenapa aku menginap di rumah Alvin," sahut Nerissa.


"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi, oh ya apa Daniel tau kalau kalian berada disini?"


"Kenapa Daniel harus tau?" balas Nerissa bertanya.


Mendengar pertanyaan Nerissa, Cordelia membawa pandangannya pada Alvin.


"Apa dia tidak tau atau pura pura tidak tau?" tanya Cordelia pada Alvin.


"Pergilah Delia, kau harus bekerja disini!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Cordelia.


"Tapi....."


"Delia!" panggil sang kameramen.


Delia menghembuskan napasnya kasar kemudian beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Alvin dan Nerissa.


"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya tiba tiba berubah?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Dia sedang bekerja saat ini, ada banyak kamera yang mengawasinya, jadi dia harus memperlihatkan citra baiknya di depan kamera, apa kau mengerti maksudku?"


"Tidak," jawab Nerissa dengan menggelengkan kepalanya.


"Sudah kuguda," balas Alvin pelan.


"Kenapa?"


"Tidak, habiskan ice cream mu, setelah ini aku akan mengantarmu pulang!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera pergi dari sana bersama Alvin setelah ice creamnya habis.


"Alvin, aku masih tidak mengerti apa yang Delia ucapkan di kafe tadi!" ucap Nerissa pada Alvin.


"Dia mengatakan apa?" tanya Alvin


"Tentang Daniel, apa aku harus memberi tahu Daniel kalau aku sedang bersamamu?"


Alvin terdiam mendengar pertanyaan Nerissa. Ia tau bagiamana usaha Daniel untuk mendekati Nerissa, tapi Nerissa tidak menyadari hal itu.


"Alvin, kenapa kau diam?" tanya Nerissa membuyarkan lamunan Alvin.


"Menurutmu bagaimana? apa kau harus memberi tahu Daniel?" balas Alvin bertanya.


"Tidak," jawab Nerissa singkat.


Alvin menganggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban Nerissa.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Daniel.


Alvinpun menepikan mobilnya untuk menerima panggilan Daniel.


"Halo, ada apa?"


"Aku di toko bunga Marin sekarang, apa kau bersama Nerissa?"


"Iya, aku bersamanya, aku...."


"Cepat antar dia pulang dan bilang padanya kalau aku sudah menunggunya," ucap Daniel memotong ucapan Alvin.


"Sebentar lagi kita akan sampai," balas Alvin.


Panggilan berakhir, dari nada suaranya, Alvin bisa tau jika Daniel sedang kesal saat itu.


"Ada apa Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Apa kau tidak membawa ponselmu?" balas Alvin bertanya.


"Tidak, aku menaruhnya di toko bunga," jawab Nerissa.


"Lain kali selalu bawa ponselmu agar orang lain bisa mudah menghubungimu!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Apa kau marah padaku?" tanya Nerissa.


"Tidak, Daniel menunggumu di toko bunga, kita harus segera pulang," jawab Alvin.


Nerissa kembali menganggukan kepalanya tanpa banyak bertanya.