
Ratu Nagisa yang baru saja sampai di istana segera memerintahkan Morgan untuk memanggil Marin. Ratu Nagisa juga menemui Nerissa di kamarnya, meminta Nerissa untuk keluar dari kamarnya.
Ratu Nagisapun duduk di singgasananya dengan Nerissa dan Marin yang ada di hadapannya.
"Kemarilah Marin, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu," ucap Ratu Nagisa pada Marin.
Marinpun segera berenang mendekati Ratu Nagisa tanpa ia tahu apa yang akan Ratu Nagisa berikan padanya.
Ratu Nagisa kemudian meraih tangan Marin dan membuka tangan Marin, lalu meletakkan sebuah mutiara berwarna merah muda di telapak tangan Marin.
"Apa ini Ratu? kenapa Ratu memberikan ini pada Marin?" tanya Marin tak mengerti.
"Aku baru saja menemui mermaid tua penjaga persimpangan dunia laut dan dunia manusia, mermaid tua itu yang memberikan mutiara merah muda ini untukmu Marin," ucap Ratu Nagisa yang membuat Marin mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Bukankah ini mutiara yang sama seperti milikmu Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Sepertinya begitu, apa Bunda juga mengetahui tentang mutiara merah muda ini?" jawab Nerissa sekaligus bertanya pada sang Bunda.
"Perlu kau tahu Nerissa, mermaid tua penjaga persimpangan dunia manusia dan dunia laut adalah nenekmu, dia adalah ibu bunda yang sengaja ingin menghabiskan waktu tuanya untuk menjaga persimpangan dunia manusia dan dunia laut, jadi sudah pasti Bunda mengetahui tentang mutiara merah muda itu," jawab Ratu Nagisa yang membuat Nerissa begitu terkejut.
"Kenapa Bunda tidak pernah menceritakan hal itu pada Nerissa?" tanya Nerissa.
"Maafkan Bunda sayang, tapi itu adalah keinginannya sendiri yang hanya ingin dikenal sebagai mermaid tua penjaga persimpangan dua dunia," jawab Ratu Nagisa.
"Lalu kenapa nenek memberikan mutiara merah muda pada Marin?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Ada satu hal yang Bunda baru ketahui tentang mutiara merah muda itu dan juga tentang hubungan kalian berdua dengan manusia yang ada di daratan," ucap Ratu Nagita yang membuat Nerissa dan Marin saling pandang.
"Bunda tahu kau sangat mencintai laki-laki itu dan Marinpun juga merasakan hal yang sama pada laki-laki yang ada di daratan, namun kalian berdua pasti tahu bahwa apa yang kalian rasakan itu adalah sebuah kesalahan, tapi sepertinya takdir memberikan jalan pada kalian berdua," lanjut Ratu Nagisa.
"Memberikan jalan apa maksud bunda?" tanya Nerissa.
"Kau pasti tahu Nerissa, kalian berdua hanya akan memberikan dampak yang buruk bagi manusia jika kalian menjalin hubungan dengan para manusia itu, tetapi kalian memiliki jalan untuk kalian melanjutkan hubungan kalian dengan para manusia itu dengan mutiara merah muda yang kini sudah menjadi milik kalian berdua," ucap Ratu Nagisa.
"Apa maksud bunda dengan menukar kehidupan abadi kita sebagai mermaid?" tanya Nerissa menerka.
"Kau benar sayang, jika kalian berdua memang sangat mencintai laki-laki daratan itu kalian bisa menukar kehidupan abadi kalian sebagai mermaid dan menjalani kehidupan kalian sebagai manusia seutuhnya seumur hidup kalian tanpa bisa kembali lagi kelautan," jawab Ratu Nagisa.
"Apa dengan mengorbankan kehidupan abadi kita sebagai mermaid hubungan kita nanti tidak akan memberikan dampak yang buruk pada mereka?" tanya Nerissa.
"Tidak sayang, karena mutiara merah muda itu sudah menarik semua aura mermaid dalam tubuh kalian berdua, menjadikan kalian berdua manusia seutuhnya," jawab Ratu Nagisa
Nerissapun membawa pandangannya pada Marin yang saat itu hanya bisa terdiam mendengarkan dengan baik setiap penjelasan Ratu Nagisa.
"Apa yang sedang kau pikirkan Marin?" tanya Nerissa pada Marin.
"Aku hanya tidak mengerti Putri, kenapa aku harus memiliki mutiara merah muda ini padahal aku hanya mermaid biasa, jauh berbeda sepertimu," jawab Marin.
"Ketulusan hatimu yang membuatmu menjadi mermaid terpilih untuk bisa mendapatkan kesempatan memiliki mutiara merah muda itu, kau sudah menjaga Nerissa dengan baik Marin, sebagai ucapan terima kasih dariku dan juga dari ibuku kau berhak mendapatkan mutiara merah muda itu," ucap Ratu Nagisa menjelaskan.
"Mutiara merah muda itu adalah mutiara yang hanya dimiliki oleh mermaid tertentu dan tidak semua mermaid akan menggunakan mutiara merah muda itu walaupun dia memilikinya, karena harus ada pengorbanan yang sangat besar yang dilakukan untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan," lanjut Ratu Nagisa.
"Apa pengorbanan yang Ratu maksud menukar kehidupan abadi kita sebagai mermaid?" tanya Marin memastikan apa yang baru ia pahami saat itu.
"Kau benar Marin, dengan adanya mutiara merah muda itu di tanganmu tidak membuatmu harus menggunakannya, kau harus benar-benar memikirkannya dengan baik karena ini menyangkut masa depanmu dan orang-orang yang kau sayangi," jawab Ratu Nagisa.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Putri?" tanya Marin pada Nerissa dengan menatap mutiara merah muda yang ada pada genggamannya.
"Aku tahu kalian berdua sangat mencintai laki-laki itu, aku tidak akan memaksa kalian berdua untuk tetap tinggal disini jika memang kebahagiaan kalian berdua tidak berada disini, bunda sangat menyayangimu lebih dari apapun Nerissa, kebahagiaanmu lebih penting bagi Bunda meskipun bunda harus berada jauh darimu, tetapi jika itu membuatmu bahagia maka bunda akan merelakannya," ucap Ratu Nagisa.
"Jika Nerissa benar-benar menggunakan mutiara merah muda ini itu artinya Nerissa tidak akan terikat lagi dengan kehidupan laut, benar begitu bunda?" tanya Nerissa.
"Kau benar sayang, apapun yang terjadi kau tidak akan bisa kembali lagi ke dunia laut karena kau akan benar-benar menjadi manusia seutuhnya, meskipun begitu Bunda masih bisa menemuimu di tepi pantai saat bulan sudah terlihat penuh di langit gelap," jawab Ratu Nagisa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Jauh dalam hatinya ia tidak ingin berada jauh dengan Nerissa, namun melihat Nerissa yang selalu tampak sedih membuatnya semakin bersedih dan memutuskan untuk membiarkan Nerissa memilih sendiri keputusan apa yang harus ia pilih.
"Pulanglah Marin, bicarakan hal ini dengan ayah dan kakakmu, aku tahu ini pasti tidak mudah untukmu jadi aku akan menerima semua keputusan yang akan kau berikan padaku nanti," ucap Ratu Nagisa pada Marin.
Setelah Marin meninggalkan istana, kini hanya ada Nerissa dan sang Bunda yang ada di ruangan itu. Ratu Nagisa kemudian beranjak dari singgasananya lalu memeluk Nerissa dengan erat.
"Maafkan Bunda sayang, maafkan keegoisan bunda yang mencegahmu untuk mendapatkan cinta sejatimu," ucap Ratu Nagisa.
"Bunda tidak bersalah, Bunda melakukan hal itu karena memang itu yang terbaik untuk Nerissa," balas Nerissa dengan memeluk erat sang Bunda.
"Entah takdir seperti apa yang sudah mempertemukan kalian berdua, tetapi sejauh yang Bunda tahu kau dan Marin saling terikat dengan dua manusia itu, jadi apapun yang akan Bunda lakukan untuk memisahkan kau dengan manusia itu tidak akan pernah bisa berhasil karena apapun yang terjadi kalian berdua akan tetap terikat satu sama lain meski dalam waktu dan dunia yang berbeda," ucap Ratu Nagisa.
**
Hari-hari telah berlalu, Nerissa dan Marin masih memikirkan apakah mereka harus menggunakan mutiara merah muda itu atau tidak.
Marin bahkan masih menyembunyikan mutiara merah muda itu dari Chubasca dan Cadassi, hingga suatu hari Chubasca melihat Marin yang tengah melamun dengan mutiara merah muda yang ada di hadapannya.
"Ini milikku, Ratu Nagisa yang memberikannya padaku," ucap Marin.
"Kenapa Ratu Nagisa memberimu mutiara secantik itu?" tanya Chubasca penasaran.
"Mutiara apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Cadassi yang tiba-tiba datang, membuat Marin segera menggenggam erat mutiara di tangannya.
"Tidak ayah, bukan apa-apa," ucap Marin berusaha menyembunyikan mutiara pemberian Ratu Nagisa.
"Dia memiliki mutiara merah muda ayah," sahut Chubasca yang membuat Marin segera memukul Chubasca dengan ekornya.
"Mutiara merah muda? apa itu benar Marin?" tanya cadasi pada Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau tahu apa yang bisa kau lakukan dengan mutiara merah muda itu? kenapa Ratu Nagisa tiba-tiba memberikan mutiara itu padamu?" tanya Cadassi.
"Ratu Nagisa memberikannya pada Marin sebagai hadiah karena Marin sudah menemani Putri selama ini," jawab Marin.
"Lalu apa kau akan menggunakan mutiara merah muda itu untuk menemui laki-laki yang kau cintai di daratan?" tanya Cadassi yang membuat Marin begitu terkejut.
"Kenapa ayah tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Marin.
"Ayah sudah mengetahui semuanya Marin, selama ini mungkin ayah hanya diam dan seolah tidak peduli padamu, tapi tanpa kau tahu ayah sudah menghabiskan banyak waktu untuk membuat ramuan agar kau bisa kembali ke daratan tanpa gelang mutiara milik Ratu Nagisa," ucap Cadassi menjelaskan yang membuat Marin semakin terkejut.
"Kenapa ayah melakukan hal itu?" tanya Marin.
"Chubasca yang selama ini seperti tidak peduli padamu saja rela mengorbankan nyawanya demi membantumu untuk menemui kebahagiaanmu, sebagai ayah hanya ini yang bisa ayah lakukan untuk membantumu, walaupun sampai sejauh ini ayah tidak mendapatkan hasil yang ayah inginkan," jawab Cadassi.
"Apa ayah tidak menentang hubungan Marin dengan manusia?" tanya Marin memastikan.
"Mermaid dan manusia memang berada di dunia yang berbeda, tetapi pada dasarnya kita menjalani kehidupan yang hampir sama dengan manusia, hubunganmu dengan manusia memang hubungan yang terlarang tapi jika itu bisa membuatmu bahagia maka ayah tidak bisa melarangmu, ayah hanya ingin kau mendapatkan kebahagiaanmu Marin," jawab Cadassi yang membuat kedua mata Marin berkaca-kaca.
"Ayah sudah mendengarnya dari ratu Nagisa bahwa kau dan laki-laki itu sudah terikat satu sama lain, jadi tidak akan ada yang memisahkan kalian berdua bahkan perbedaan duniapun tidak akan membuatmu bisa melupakannya begitu saja," lanjut Cadassi.
"Kenapa ayah merestuinya begitu saja? ayah bahkan tidak tahu seberapa lemahnya manusia itu," tanya Chubasca yang segera mendapatkan pukulan dari Marin untuk kesekian kalinya.
"Ayah yakin takdir tidak akan pernah memberikan jalan yang salah, meskipun dia hanyalah manusia biasa pasti dia bisa menjaga Marin dengan caranya sendiri," ucap Cadassi.
"Apa ayah tahu pengorbanan besar apa yang harus Marin lakukan jika Marin menggunakan mutiara merah muda ini?" tanya Marin pada sang ayah.
"Tentu saja ayah tahu, kau akan menjadi manusia seutuhnya dan kau akan meninggalkan dunia laut untuk selamanya," jawab Cadassi.
"Apa ayah tidak keberatan dengan hal itu?" tanya Marin dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Bukankah ayah sudah mengatakan bahwa kebahagiaanmu adalah yang utama bagi ayah, lagi pula ayah bisa menemuimu di saat-saat tertentu di tepi pantai, kau juga tahu bahwa ayah sering pergi ke daratan bukan?"
Marin seketika memeluk ayahnya dengan erat, ia menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan sang ayah.
Ia merasa sangat bersyukur karena mendapatkan cinta dan kasih sayang yang begitu besar dari ayahnya.
"Kejarlah kebahagiaanmu Marin, hanya dengan kebahagiaanmu itulah ayah bisa menjalani sisa hidup ayah dengan kebahagiaan juga, apapun keputusanmu ayah akan mendukungmu, jadi jangan bimbang hanya karena kau takut membuat ayah bersedih karena kesedihanmu hanya akan memberikan kesedihan yang jauh lebih besar pada ayah," ucap Cadassi dengan masih memeluk Marin begitu erat.
Chubascapun ikut memeluk Marin dan sang ayah. Tak dapat dipungkiri hatinya ikut trenyuh melihat bagaimana sang ayah begitu mencintai dan menyayangi Marin.
"Aku harap kau memikirkannya dengan baik Marin karena dia pasti akan cepat pingsan hanya karena aku memukulnya sangat pelan," ucap Chubasca yang membuat Marin segera memukul Chubasca.
"Hentikanlah Chubasca, kau membuatnya kesal!" ucap Cadassi pada Chubasca.
"Hahaha.... Chubasca hanya bercanda ayah," balas Chubasca yang kembali memeluk Marin dan sang ayah.
Di tempat lain, Nerissa sedang berbaring di pangkuan sang Bunda.
"Apa kau sudah mempunyai keputusan sayang?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa.
"Nerissa takut keputusan Nerissa akan membuat Bunda bersedih," jawab Nerissa.
"Justru bunda akan sangat bersedih jika melihatmu selalu bersedih seperti ini, jika kebahagiaanmu memang berada di daratan maka bunda akan merelakannya," ucap Ratu Nagisa.
"Bagaimana dengan kehidupan bunda disini setelah kepergian Nerissa?" tanya Nerissa khawatir.
"Jangan mengkhawatirkan Bunda sayang, bunda akan menjaga Seabert dengan baik, lagi pula Seabert mempunyai Gianira, Cadassi, Chubasca dan Beetna yang bisa diandalkan, mereka tidak hanya menjaga Bunda tetapi juga menjaga Seabert dengan baik," jawab Ratu Nagisa.
"Nerissa minta maaf Bunda, Nerissa minta maaf karena sudah memiliki cinta yang terlarang ini," ucap Nerissa yang sudah beranjak dari pangkuan sang Bunda.
"Kau tidak perlu meminta maaf pada Bunda sayang, apa yang ada di hatimu tidak sepenuhnya bisa kau kendalikan, Bunda bisa mengerti hal itu dan bunda akan menerima semua keputusanmu, bunda akan sangat bahagia jika kau bisa menemukan kebahagiaan sejatimu Nerissa," balas Ratu Nagisa.
Nerissa kemudian memeluk sang Bunda. Jauh dalam hatinya ia memang sangat ingin melanjutkan kehidupannya di daratan bersama Alvin, namun di sisi lain bagian lain dari dirinya seolah menahannya untuk tetap berada di Seabert, tempat dimana ia dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi mermaid sekaligus putri istana Seabert.
"apakah aku egois jika aku memilih untuk kembali ke daratan dan melanjutkan kehidupanku bersama Alvin? atau aku harus tetap berada disini melanjutkan hidup dan takdirku sebagai mermaid?" tanya Nerissa dalam hati.