
Daniel masih berada di toko bunga Marin. Ada sedikit rasa bersalah karena sudah membuat Marin tampak bersedih. Ia tidak menyangka jika ucapan yang keluar dari mulutnya sudah menyakiti Marin.
Daniel kemudian mengambil kertas yang terjatuh di hadapannya. Tertulis nama perusahaan tempatnya bekerja beserta nama nama penerimanya.
NB : Taruh semua buket bunga ini di resepsionis, mereka akan mengambilnya sendiri di resepsionis
Daniel menghembuskan napasnya kasar setelah membaca catatan yang Marin berikan padanya.
Ia sudah salah paham pada Marin, ia berpikir jika ia harus mengantar buket bunga itu ke tempat yang berbeda beda.
Melihat betapa banyaknya buket bunga yang ada, Daniel berpikir jika itu akan menyita banyak waktunya. Ia tidak tau jika semua buket bunga itu hanya perlu ia bawa ke kantor tempatnya bekerja.
Saat Daniel mengedarkan pandangannya, matanya tertuju pada sebuah kertas yang tertempel di dinding kaca.
Sebuah kertas yang bertuliskan lowongan pekerjaan untuk pengantar bunga. Daniel semakin merasa bersalah dengan hal itu.
Jika saja ia tidak meminta Nerissa untuk bekerja dengan Alvin, maka dirinya tidak akan diminta Marin untuk mengantarkan bunga bunga itu dan Marin tidak akan bersedih karena ucapan kasar yang baru saja ia ucapkan.
Di sisi lain, Marin terduduk di belakang pintu dengan menumpahkan semua tangisnya. Untuk pertama kalinya ia menangis dengan hebat karena ucapan seorang manusia yang begitu menyakiti hatinya.
Ia memang sering bertengkar dengan Daniel, tapi Daniel tidak pernah mengucapkan hal yang menyakiti hatinya.
Namun hari itu, ia merasa hatinya begitu sakit saat mendengar kemarahan Daniel padanya.
Air matanya dibiarkan menetes membasahi pipinya dan terjatuh ke lantai lalu berubah menjadi butir butir mutiara.
Butir butir mutiara itu semakin banyak seiring dengan isak tangis Marin yang semakin menyakitkan.
Setelah dirinya sudah lebih tenang, ia mengumpulkan semua mutiara yang ada di lantai lalu memasukkannya ke dalam wadah dan menyimpannya.
Ia menyembunyikannya dari Nerissa agar Nerissa tidak tau jika dirinya baru saja menangis karena Daniel.
Setelah dirinya lebih tenang dan memastikan Daniel sudah pergi, Marin menghubungi kurir yang biasa mengantarkan papan bunga agar mengirim buket bunga ke perusahaan Atlanta Grup, tempat Daniel bekerja.
Saat akan membuat buket bunga lagi, Marin melihat beberapa lembar uang yang ada di mejanya.
Ia yakin itu adalah uang Daniel yang ia lemparkan ke wajah Daniel beberapa waktu lalu. Marin kemudian menyimpannya dan akan memberikannya pada Nerissa agar dikembalikan pada Daniel.
Sesekali Marin masih merasa begitu sedih saat mengingat ucapan Daniel padanya. Namun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya, ia tidak ingin Nerissa mengkhawatirkannya.
**
Di tempat lain. Setelah Daniel meninggalkan toko bunga Marin, ia segera kembali ke kantor. Bukannya makan siang, ia kembali masuk ke ruangannya.
Nafsu makannya sudah hilang karena semua masalah yang ia hadapi hari itu. Ia memijit keningnya memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Marin.
Meski sering bertengkar dengan Marin, Daniel tidak benar benar membenci Marin, ia hanya kesal pada sikap Marin. Namun melihat Marin bersedih, ia benar benar merasa bersalah.
Ia merasa menjadi laki laki yang jahat karena ucapannya sudah menyakiti hati seorang perempuan.
"benar apa yang Marin bilang, kau memang bodoh Daniel!" batin Daniel merutuki kebodohannya.
Karena masalah yang ia hadapi, tanpa sadar ia melampiaskan semuanya pada Marin.
Tak lama kemudian pintunya diketuk dan Alvin datang dengan membawa satu kotak makanan dan segelas minuman.
"Makanlah, aku tau kau belum makan!" ucap Alvin lalu duduk di hadapan Daniel.
"Aku sedang tidak berselera Alvin," balas Daniel menolak.
"Aku sudah mendengarnya, pertengkaranmu dengan Ricky, apa kau masih memikirkannya?"
"Tidak, bukan itu yang menganggu pikiranku sekarang," jawab Daniel.
"Apa tentang orangtuamu?" terka Alvin yang sudah sangat tau tentang masalah keluarga Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat. Memang kedua orangtuanya sedang bertengkar dan mamanya memilih pergi meninggalkan rumah.
Tapi bukan masalah itu yang menggangu pikirannya, melainkan masalahnya dengan Marin. Namun ia tidak bisa mengatakan hal itu pada Alvin.
"Kau sudah bicarakan pada papamu?" tanya Alvin yang hanya dibalas gelengan kepala Daniel.
"Temui papamu Daniel, ajak papamu bicara, aku yakin papamu akan mendengarmu," ucap Alvin.
"Kau tau papa selalu sibuk Alvin, papa hanya akan mendengarku saat ada acara acara penting yang mengharuskanku untuk ikut!" balas Daniel.
"Selesaikan laporanmu Minggu depan, kau bisa pulang cepat dan selesaikan masalahmu nanti!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya.
"Terima kasih Alvin," ucap Daniel.
"Aku harap masalahmu cepat selesai," ucap Alvin sambil menepuk bahu Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
Waktu berlalu, Daniel masih berusaha untuk bisa fokus dengan pekerjaannya, namun sorot mata Marin yang penuh kesedihan selalu mengganggu pikirannya.
"Apa aku harus menghubunginya?" tanya Daniel pada dirinya sendiri.
Daniel kemudian mengambil ponselnya dan mencari nama Marin di penyimpanan kontaknya.
Untuk beberapa saat Daniel menatap nama Marin di ponselnya. Ia ragu untuk menghubungi Marin.
Daniel kemudian berpindah ke pesan, dia mengetik beberapa kata permintaan maaf atas sikap kasarnya, namun ia segera menghapusnya.
Ia kemudian mengganti kata kata yang diketiknya, namun kembali dihapus, begitu seterusnya sampai beberapa kali.
Pada akhirnya ia tidak menghubungi Marin ataupun mengirim pesan pada Marin. Daniel merasa hari itu ia benar benar kacau.
Di sisi lain, bunga yang dipesan sudah sampai di meja resepsionis. Satu per satu pemesan bunga itupun mengambilnya di resepsionis, termasuk Alvin.
Ya, ia memesan buket bunga aster putih dan bunga matahari yang akan ia berikan pada Nerissa.
Tepat jam 5 sore Alvin sudah meninggalkan ruangannya. Sebelum pulang ia memastikan jika Daniel juga sudah meninggalkan ruangannya.
Setelah itu Alvinpun segera keluar dari kantor dan pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan buket bunga yang dibawanya untuk Nerissa.
**
Di tempat lain, Cordelia baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah Alvin. Dengan satu kotak coklat di tangannya, ia berjalan dengan bersenandung riang ke arah pintu rumah Alvin.
Ia tau jika Alvin belum pulang dari kantor, ia sengaja datang lebih dulu untuk memberi Alvin kejutan.
Namun, bukannya memberikan kejutan, ia malah lebih dulu terkejut karena adanya Nerissa di rumah Alvin.
"Kau disini lagi? apa lagi alasanmu kali ini?" tanya Cordelia pada Nerissa.
"Aku bekerja disini," jawab Nerissa jujur.
"Haahh bekerja? memangnya kau bisa apa? memasak? menyapu? atau...."
"Menjaga dan merawat ikan ikan ini," ucap Nerissa memotong ucapan Cordelia.
"Kau pasti memaksa Alvin agar menerimamu bekerja disini, kau pasti berniat untuk menggodanya, benar kan?"
"Justru Alvin sendiri yang memintaku untuk bekerja disini!" balas Nerissa.
Nerissa kemudian berjalan meninggalkan Cordelia untuk mengambil tasnya. Ia sangat malas jika harus berlama lama menghadapi Cordelia.
"Kemana kau?" tanya Cordelia namun tidak dijawab oleh Nerissa.
Cordelia pun berlari mengikuti Nerissa yang naik ke lantai dua. Saat Nerissa akan membuka pintu kamar, Cordelia menarik tangan Nerissa dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan? Alvin akan sangat marah jika dia melihatmu masuk ke kamar tanpa izin!"
Nerissa kemudian menarik tangannya dari Cordelia dengan kasar.
"Ini kamar tempatku beristirahat, sudah pasti Alvin mengizinkanku masuk kesini, sebenarnya apa masalahmu Delia? kenapa kau selalu mencari masalah denganku?"
"Justru kau yang mencari masalah denganku, kedatanganmu disini adalah sebuah kesalahan besar yang sudah kau lakukan!" balas Cordelia.
PLAAAAAKKKKK
Satu tamparan mendarat dengan keras di pipi Nerissa, seketika tangan Nerissa memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Cordelia.
"Jangan memaksaku untuk bersikap kasar padamu, ini peringatan dariku agar kau menjauhi Alvin, mengerti?"
Cordelia kemudian turun meninggalkan Nerissa. Ia keluar dari rumah Alvin dan pergi begitu saja.
Sedangkan Nerissa segera masuk ke kamar, mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang walaupun Alvin belum tiba di rumah.
"ternyata seperti ini rasanya ditampar, sakit sekali!" batin Nerissa sambil mengusap pipinya yang memerah.
Setelah berpamitan pada mbak Tina, Nerissa keluar dari rumah Alvin. Baru saja ia membuka pintu, Alvin sudah datang.
"Kau mau pulang?" tanya Alvin yang masih berada di dalam mobil.
"Iya," jawab Nerissa sambil menganggukkan kepalanya.
"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Alvin.
"Tidak, aku....."
"Apa aku harus menggendongmu?" tanya Alvin memaksa.
"Tidak, jangan!" ucap Nerissa kemudian segera berlari kecil ke arah mobil Alvin.
"Duduklah di depan, aku bukan supirmu!" ucap Alvin saat Nerissa membuka pintu belakang.
Nerissa kemudian menutupnya dan membuka pintu depan lalu duduk di samping Alvin.
Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak diam, tidak seperti saat Nerissa bersama Daniel.
Tak lama kemudian mereka sampai, Alvin dan Nerissa turun dari dalam mobil.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa yang hendak berbalik, namun Alvin menahan tangannya.
"Tunggu!" ucap Alvin lalu melepaskan tangan Nerissa saat Nerissa menghentikan langkahnya.
"Besok hari Minggu, apa kau senggang?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Besok aku harus membantu Marin di toko bunga, sepertinya dia belum mendapatkan penggantiku," jawab Nerissa.
"Apakah kau akan sibuk sampai malam?" tanya Alvin.
"Mmmm.... sepertinya iya," jawab Nerissa.
Ia sudah merencanakan untuk segera mencari mahkota miliknya di pantai. Meskipun ia sudah mencarinya disana, ia akan menyisir area pantai dengan lebih teliti lagi.
"Baiklah kalau begitu, aku..... tunggu.... pipimu kenapa?" tanya Alvin yang baru menyadari jika pipi Nerissa tampak merah.
"Bukan apa apa, aku masuk dulu!" ucap Nerissa yang hendak berbalik namun Alvin kembali menahannya.
Alvin melangkahkan kakinya satu langkah lebih dekat pada Nerissa dan memegang pipi Nerissa.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Alvin dengan menyentuh pipi Nerissa lembut.
"Aku.... aku tidak sengaja terjatuh tadi," jawab Nerissa berbohong.
"Jangan berbohong Nerissa, apa....."
"Pergilah, aku sangat lelah!" ucap Nerissa kemudian segera berlari masuk ke dalam rumah.
Alvin kemudian mengambil ponselnya di saku jasnya untuk melihat rekaman CCTV di rumahnya.
Tapi yang dia lihat hanya gambar gambar yang patah. Ia pun segera masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.
Ia ingin melihat rekaman CCTV nya melalui laptopnya karena berpikir jika sambungan ke ponselnya sedang eror.
Sesampainya di rumah, saat ia akan keluar dari mobil ia melihat buket bunga yang ada di kursi belakang.
"Aaahh aku melupakan buket bunga ini!" ucap Alvin kesal kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
Saat sedang mengecek rekaman CCTV dari laptopnya, hal yang sama terjadi. Rekaman CCTV hari itu semuanya bermasalah. Ia pun segera menghubungi seseorang yang bisa membantunya memperbaiki CCTV di rumahnya.
Tapi meskipun CCTV di rumahnya berhasil diperbaiki, rekaman hari itu tidak ada yang bisa dilihat.
Alvin kemudian bertanya pada mbak Tina tentang apa yang terjadi pada Nerissa dan siapa yang datang ke rumahnya. Namun mbak Tina tidak tau apa yang terjadi pada Nerissa, ia juga tidak melihat siapapun datang ke rumah Alvin karena saat Cordelia datang, mbak Tina sedang berada di luar rumah.
"apa dia benar benar terjatuh? atau ada seseorang yang menyakitinya?" tanya Alvin dalam hati.
**
Malam telah datang bersama kerlip bintang yang memenuhi gelapnya langit. Nerissa dan Marin baru saja sampai di pantai Pasha.
"Apa kau yakin mahkotamu ada disini Putri?" tanya Marin.
"Aku tidak tau Marin, ini adalah tempat dimana aku menghilangkan mahkota itu, jadi aku akan berusaha untuk menemukannya disini," jawab Nerissa.
Nerissa kemudian melepas sepatunya dan berjalan ke arah bibir pantai bersama Marin.
"Aku akan melepas sepatuku sebentar!" ucap Marin kemudian berjalan menjauh dari Nerissa.
Saat akan melepas sepatunya, Marin melihat Alvin. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melepas sepatunya. Ia bersembunyi dan diam diam meninggalkan pantai agar Nerissa dan Alvin bisa berdua di pantai.
Marin sengaja melakukan hal itu dengan harapan Alvin akan segera mengingat Nerissa saat mereka bertemu di pantai, karena Marin tau jika Nerissa tampak begitu menyukai Alvin.
"maafkan aku Putri, biarkan Alvin yang akan membantumu kali ini," ucap Marin dalam hati saat ia melihat Alvin yang berjalan menghampiri Nerissa.
Marin tersenyum tipis kemudian berjalan keluar dari area pantai.
"Aaahhh sial, HP ku ada di tas yang Putri bawa!" ucap Marin dengan menepuk keningnya.
Marinpun hanya berdiri di tepi jalan raya menunggu kendaraan lewat karena ia tidak bisa memesan taksi.
Di sisi lain, Daniel menghabiskan waktunya di bar setelah ia meninggalkan kantor. Masalah bertubi tubi yang dihadapinya membuatnya melampiaskan semuanya dengan minum minuman keras.
Saat ia sedang mengendari mobilnya untuk pulang, ia melihat seorang gadis cantik yang berdiri di tepi jalan raya.
Daniel mengernyitkan keningnya dan menatap lekat lekat seseorang yang tampak tidak asing di matanya.
"Apa aku terlalu mabuk?" tanya Daniel sambil menggelengkan kepalanya agar tetap fokus.
Daniel memperlambat laju mobilnya dan menghentikannya tepat di depan Marin.
Daniel kemudian keluar dari mobilnya dan menghampiri Marin.
Marin yang melihat Daniel menghampirinya segera berjalan menjauh dari Daniel.
"Tunggu Marin, jangan pergi lagi!" ucap Daniel dengan menahan tangan Marin.
"Lepaskan aku!" ucap Marin dengan menarik tangannya sekuat tenaga.
Bersamaan dengan terlepasnya tangan Marin dari Daniel, Danielpun terjatuh dan keningnya membentur tiang.
Marin yang melihat hal itu segera berjongkok untuk melihat keadaan Daniel.
"Kepalaku sakit Marin," ucap Daniel dengan memegangi kepalanya.
"Aku pinjam ponselmu, aku akan memesan taksi untukmu," ucap Marin.
Daniel kemudian memberikan ponselnya pada Marin.
"Dimana alamat rumahmu?" tanya Marin pada Daniel.
Karena efek dari alkohol yang diminumnya, Daniel sedikit linglung saat itu. Ia hanya menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Marin meski Marin berulang kali bertanya padanya.