
Cordelia tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memojokkan Alvin saat itu. Ia sangat mengenal Alvin dengan baik, selama ini tidak ada perempuan yang dekat dengan Alvin selain dirinya.
Alvin selalu bersikap dingin pada semua perempuan terkecuali dirinya. Setidaknya itulah yang selama ini Cordelia tau.
Dengan kedatangan Nerissa yang tiba tiba dan sikap Alvin yang tiba tiba berubah, membuat Cordelia yakin jika Alvin memiliki perasaan lain pada Nerissa dan itu sangat mengganggunya.
"Katakan apa yang sebenarnya Alvin, katakan bahwa kau memang menyukai perempuan yang disukai oleh Daniel!" ucap Cordelia.
"Apa perempuan yang kau maksud itu Nerissa?" tanya Daniel pada Cordelia.
"Tentu saja, itu kenapa Alvin memperkerjakan dia di rumahnya agar Alvin bisa mendekatinya tanpa sepengetahuanmu, benar kan Alvin?"
"Tunggu tunggu.... sepertinya ada kesalahpahaman disini!" ucap Daniel.
"Kesalahpahaman apa maksudmu?" tanya Cordelia.
"Bukan aku yang meminta Nerissa untuk bekerja di rumahku Delia, kau jangan mengarang cerita hanya karena kau tidak suka Nerissa bekerja di rumahku!" ucap Alvin pada Cordelia.
"Aku tidak mengarang cerita, aku....."
"Kau salah paham Delia, bukan Alvin yang meminta Nerissa untuk bekerja di rumahnya, tapi aku!" ucap Daniel.
"Apa maksudmu? kenapa kau...."
"Aku sengaja meminta Alvin untuk mempekerjakan Nerissa di rumahnya, kenapa? kau tidak perlu tau alasannya hahaha....."
"Kalian benar benar aneh, persahabatan kalian memang gila!" ucap Cordelia kesal kemudian keluar dari ruangan Alvin begitu saja.
Sedangkan Daniel hanya tertawa menertawakan kesalahpahaman Cordelia.
"Dia berpikir kau menyukai Nerissa hanya karena kau membiarkan Nerissa bekerja di rumahmu, dia belum tau saja bagaimana usahaku untuk memaksamu hahaha...." ucap Daniel yang hanya dibalas senyum canggung oleh Alvin.
"Oh iya, aku kesini untuk memberi tahumu kalau aku nanti akan menjemput Nerissa jadi tolong jangan memberiku banyak pekerjaan, oke?" lanjut Daniel.
"Baiklah, selesaikan saja laporanmu yang kemarin!" balas Alvin.
"Siap bos!" ucap Daniel dengan memberi hormat lalu keluar dari ruangan Alvin.
Alvin menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya di kursi sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
"maafkan aku Daniel," batin Alvin dalam hati.
Waktu berlalu, jam berganti menggeser posisi matahari yang semakin turun. Daniel masuk ke ruangan Alvin dengan membawa sebuah map dan memberikannya pada Alvin.
"Aku sudah selesai, apa aku sudah bisa pulang?" tanya Daniel pada Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tetap fokus pada komputer di hadapannya, sedangkan Daniel segera keluar dari ruangan Alvin.
Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin untuk menjemput Nerissa.
Saat sedang berada di jalan raya, ia melihat seseorang yang tampak tidak asing di matanya. Daniel menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas menyala merah.
Benar saja, seseorang yang ia lihat adalah Marin yang sedang bersama pegawai barunya.
"Kemana mereka akan pergi?"
Saat Daniel baru saja menurunkan kaca mobilnya, lampu lalu lintas menyala hijau membuat laki laki yang merupakan pegawai baru Marin itu segera melajukan motornya.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Daniel saat itu, ia melajukan mobilnya bukan ke arah rumah Alvin, melainkan mengikuti laki laki yang membonceng Marin.
Walaupun ia tau laki laki itu adalah pegawai baru Marin, tapi ia merasa khawatir jika laki laki itu melakukan hal yang buruk pada Marin, mengingat betapa polosnya Marin saat itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, motor laki laki itu memasuki sebuah gang kecil yang membuat Daniel semakin curiga.
"Apa mereka memang mengantar bunga kesini?" tanya Daniel pada dirinya sendiri.
Ia kemudian mencoba untuk menghubungi Marin. Namun karena sedang membawa buket bunga, Marin tidak bisa mengambil ponselnya yang ada di sakunya.
Tak lama kemudian motor itu berhenti di depan sebuah rumah. Daniel melihat Marin dan laki laki itupun turun dari motor.
Namun mereka tampak tengah berdebat saat itu, hingga akhirnya Daniel melihat laki laki itu menarik tangan Marin dengan kasar dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Tanpa banyak berpikir lagi Daniel segera turun dari mobilnya dan berlari ke arah rumah itu. Dilihatnya laki laki itu sedang berusaha membuka pintu rumah dengan satu tangannya yang mencengkeram tangan Marin dengan kuat.
Marin yang saat itu diancam menggunakan pisau yang disembunyikan laki laki itu hanya bisa diam tanpa berani melawan.
Ia berusaha untuk tidak menangis meski ia ketakutan saat itu.
Sebelum pintu terbuka, Daniel datang dan menendang laki laki itu, membuat cengkeraman tangannya pada Marin terlepas.
"Daniel!" ucap Marin terkejut.
Daniel segera meraih tangan Marin dan menarik Marin agar berdiri di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan padanya? siapa kau sebenarnya?" tanya Daniel pada laki laki itu.
Laki laki itu tersenyum sinis lalu mengeluarkan pisau kecil yang disimpannya.
"Kau mau membiarkanku pergi atau kau mau mati disini?" tanya laki laki itu sambil mengarahkan pisau itu pada Daniel.
Daniel tersenyum tipis kemudian menarik tangan laki laki itu dengan cepat dan memelintirnya, membuat pisau kecil itu terjatuh ke lantai.
Daniel kemudian mengunci pergerakan laki laki itu dengan menahan tangannya. Saat Daniel akan mengambil ponsel di sakunya untuk menghubungi polisi, laki laki itu berhasil menggeser pisau di lantai dengan kakinya kemudian melepaskan tangannya dari Daniel dengan cepat saat Daniel lengah.
Laki laki itu lalu menggores bagian perut Daniel dengan pisau miliknya kemudian segera berlari saat Daniel meringis kesakitan.
Dengan memegangi perutnya, Daniel segera berdiri hendak mengejar laki-laki itu, namun Marin menahannya.
"Kau terluka Daniel, kita harus segera ke rumah sakit!" ucap Marin yang mengkhawatirkan Daniel.
"Tapi Marin.... aaahhh....."
Daniel jatuh terduduk dengan memegangi perutnya yang sudah basah karena darah. Marin kemudian mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghentikan darah Daniel yang terus keluar.
Marin kemudian mengambil beberapa daun dari tanaman lalu meremasnya.
"Berbaringlah!" ucap Marin pada Daniel.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daniel yang melihat Marin meremas beberapa lembar daun daunan.
"Berbaringlah Daniel!" ucap Marin dengan berteriak karena ia begitu mengkhawatirkan keadaan Daniel saat itu.
Daniel pun berbaring di lantai, Marin kemudian melepas satu per satu kancing kemeja Daniel, membersihkan darah di sekitar luka Daniel lalu menutup lukanya dengan daun yang sudah Marin remas remas sebelumnya.
Marin kemudian melepaskan dasi yang dipakai Daniel dan mengikatnya di bagian luka Daniel.
"Ini akan menghentikan darah yang keluar untuk sementara, kau harus segera ke rumah sakit sekarang!" ucap Marin dengan mata berkaca-kaca karena mengkhawatirkan keadaan Daniel saat itu.
Namun di sisi lain, Daniel hanya diam dan tersenyum memperhatikan Marin.
"Ini hanya luka kecil Marin, jangan khawatir!" ucap Daniel kemudian beranjak dari lantai.
Marin hanya diam lalu membantu Daniel berjalan ke arah Daniel memarkirkan mobilnya.
"Apa kau masih bisa menyetir?" tanya Marin pada Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya bersama Marin.
Dengan menahan rasa sakit karena luka di perutnya, Daniel mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.
"Apa kau baik baik saja? apa dia menyakitimu?" tanya Daniel pada Marin.
"Aku baik baik saja... aku... aku hanya takut," jawab Marin dengan menundukkan kepalanya dan berkali kali menghapus air matanya agar tidak sampai lolos dari pipinya.
"Jangan takut, ada aku disini," ucap Daniel dengan menggenggam tangan Marin.
Marin hanya diam saat Daniel menggenggam tangannya. Entah kenapa genggaman tangan Daniel membuat ketakutannya sedikit mereda.
Saat mereka sampai di rumah sakit, Daniel segera masuk ke ruang UGD. Setelah Dokter memeriksa dan mengobati lukanya, ia segera dipindahkan ke ruang rawat.
Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa berbicara.
"Aku akan pastikan dia tidak akan menggangumu lagi Marin," ucap Daniel.
"bukan itu yang membuatku sedih, tapi keadaanmu, kau terluka karena menolongku," ucap Marin dalam hati.
"Apa kau bersedih karena mengkhawatirkanku?" tanya Daniel dengan tersenyum menggoda Marin.
"Tidak, aku tidak peduli padamu," jawab Marin dengan mengalihkan pandangannya.
Daniel hanya tertawa kecil melihat sikap Marin.
**
Di tempat lain, Alvin baru saja meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah, dengan langkah yang tak bersemangat Alvin masuk ke rumahnya.
Saat membuka pintu, ia begitu terkejut karena melihat Nerissa yang sedang duduk di samping akuarium.
"Kenapa kau masih disini? bukannya Daniel menjemputmu?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Mungkin dia lupa," jawab Nerissa.
"lupa? tidak mungkin, dia pulang cepat karena ingin menjemput Nerissa, kenapa dia belum sampai?" batin Alvin bertanya tanya.
Alvin kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Daniel.
"Halo, kau dimana?" tanya Alvin saat Daniel sudah menerima panggilannya.
"Aku di rumah sakit bersama Marin," jawab Daniel.
"Kenapa kau di rumah sakit bersama Marin? apa yang terjadi?"
"Aku akan menceritakannya padamu nanti, apa kau bisa mengantar Nerissa pulang? sepertinya aku tidak bisa menjemputnya hari ini!"
"Aku dan Nerissa akan menemuimu, berikan alamat rumah sakitnya sekarang!" ucap Alvin lalu mengakhiri panggilannya.
"Ada apa Alvin?" tanya Nerissa khawatir.
"Aku juga tidak tau Nerissa, ambil tasmu dan ikut aku ke rumah sakit untuk melihat keadaan Daniel dan Marin!"
Nerissa menganggukan kepalanya kemudian berlari kecil ke kamar untuk mengambil tasnya. Setelah mendapat alamat rumah sakit dari Daniel, Alvin dan Nerissa segera bergegas menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di sana mereka segera mencari keberadaan Daniel dan Marin.
"Marin, apa yang terjadi? apa kau baik baik saja?" tanya Nerissa saat ia sudah menemukan Marin dan Daniel.
"Aku baik baik saja Putri, Daniel yang menyelamatkanku," jawab Marin.
"Apa yang terjadi Daniel? kenapa kau bisa terluka?" tanya Alvin pada Daniel.
Daniel kemudian menjelaskan apa yang sudah terjadi padanya, mulai dari saat ia melihat Marin di jalan raya sampai akhirnya ia terkena luka goresan pisau di perutnya. Beruntung goresan pisau itu tidak melukainya terlalu dalam.
"Lalu bagiamana dengan laki laki itu?" tanya Alvin.
"Aku masih membiarkannya saat ini, tapi aku bisa pastikan besok dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan!" jawab Daniel.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan Marin, Daniel," ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala Daniel.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjemputmu Nerissa, aku juga tidak sempat menghubungimu!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Tidak masalah, yang penting kau dan Marin baik baik saja sekarang," balas Nerissa.
"Kalian pulang saja, aku baik baik saja disini!" ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada Alvin, Nerissa dan Marin bergantian.
"Kapan kau akan pulang?" tanya Alvin pada Daniel.
"Besok pagi aku sudah boleh pulang," jawab Daniel.
"Baiklah, aku akan mengantar Nerissa dan Marin pulang setelah itu aku akan kembali kesini!" ucap Alvin pada Daniel.
Alvin kemudian mengantarkan Nerissa dan Marin pulang. Sedangkan Daniel segera menghubungi seseorang yang ia percaya agar berjaga di dekat rumah Marin untuk sementara sampai ia bisa menangkap laki laki yang sudah melukainya.
Sesampainya Alvin di rumah Marin, Alvin meminta Nerissa dan Marin untuk lebih berhati hati terlebih pada orang lain yang baru mereka kenal.
"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
Setelah Alvin pergi, Nerissa dan Marin segera masuk ke dalam rumah.
Biiiippp Biiiiiipppp biiiipppp
Ponsel Marin berdering, sebuah panggilan dari Daniel.
"Apa kau sudah sampai di rumah?" tanya Daniel.
"Sudah," jawab Marin singkat.
"Apa kau masih takut?" tanya Daniel.
"Sedikit," jawab Marin.
"Jangan takut, aku sudah meminta seseorang untuk mengawasi rumahmu, laki laki itu tidak akan berani mendatangimu lagi," ucap Daniel.
"Terima kasih Daniel," ucap Marin.
"Aku akan menunggu ucapan terima kasihmu secara langsung," ucap Daniel menggoda Marin.
Marin hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan apapun.
"Istirahatlah dan jangan memikirkan apapun, anggap saja kejadian hari ini adalah mimpi buruk dan akan hilang setelah kau bangun tidur besok pagi," ucap Daniel.
Panggilan berakhir, namun Marin masih tersenyum karena ucapan manis Daniel padanya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? apa yang Daniel katakan?" tanya Nerissa penasaran.
"Tidak, dia tidak mengatakan apa apa," jawab Marin kemudian berjalan ke kamarnya.
Saat Marin akan membuka pintu kamarnya, ia berbalik dan memanggil Nerissa.
"Putri, apa kau bisa menemaniku tidur malam ini?"
"Tentu saja," balas Nerissa lalu berlari kecil ke arah kamar Marin.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Nerissa dan Marin merebahkan badan mereka di ranjang.
"Besok aku akan berhenti bekerja di rumah Alvin, aku akan membantumu di toko bunga seperti biasanya agar kejadian ini tidak terulang lagi!" ucap Nerissa pada Marin.
"Tapi Alvin membutuhkanmu Putri," ucap Marin.
"Kau lebih membutuhkanku Marin, aku akan merasa sangat bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu!" ucap Nerissa.
"Tapi bagaimana dengan Alvin?"
"Alvin pasti mengerti, aku akan coba berbicara padanya besok!" jawab Nerissa.
"Terima kasih Putri, aku sangat menyayangimu," ucap Marin sambil memeluk Nerissa.
"Bagaimana dengan Daniel? dia laki laki yang baik bukan?" tanya Nerissa yang membuat Marin segera melepaskan pelukannya pada Nerissa.
"Iya, dia laki laki yang baik, walaupun kadang menyebalkan," jawab Marin dengan tertawa kecil.
"Apa kau menyukainya?" tanya Nerissa yang membuat Marin terdiam.