Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Nerissa dan Alvin



Daniel masih berada di rumah Alvin, ia tidak menyerah untuk membuat Alvin menuruti permintaannya.


"Alvin, ayolah, aku tau kau laki laki yang baik," ucap Daniel dari depan pintu kamar Alvin.


"Pergilah Daniel, aku tidak akan berubah pikiran sedikitpun," balas Alvin tanpa membuka pintu kamarnya.


"Mereka berdua adalah gadis gadis cantik yang polos Alvin, aku takut terjadi sesuatu yang buruk jika membiarkan mereka pulang berdua selarut ini," ucap Daniel yang masih berusaha membujuk Alvin.


"Aku tidak peduli, lagipula aku tidak mengenal mereka, kau juga tidak tau apakah mereka gadis yang baik atau tidak," balas Alvin.


"Mereka gadis yang baik Alvin, salah satu dari mereka terluka kakinya, jadi aku mohon biarkan mereka menginap disini semalam saja!"


Hening, tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Alvin.


"Alvin, ayolah, aku menyukai salah satu dari mereka dan aku rasa aku benar benar jatuh cinta padanya," ucap Daniel dengan tersenyum saat mengingat wajah cantik Nerissa.


Tiba tiba pintu terbuka, Alvin berdiri di depan Daniel.


"Kau jatuh cinta?" tanya Alvin pada Daniel.


"Mungkin, tapi yang pasti aku sangat menyukainya," jawab Daniel.


"Pada seseorang yang baru kau kenal?" tanya Alvin memastikan.


"Iya, cinta bisa datang kapan saja Alvin, bahkan sebelum kau mengenalnya, kau tau teman perempuanku banyak tapi tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuatku jatuh cinta," jawab Daniel meyakinkan.


"Kau harus berjanji untuk membawanya pergi dari sini besok pagi!" ucap Alvin.


"Iya, aku janji, dia sedang terluka Alvin, aku tidak mungkin membiarkannya pulang malam ini, aku yang akan mengantarnya pulang besok pagi," balas Daniel.


"Baiklah, hanya satu malam," ucap Alvin menyerah.


"Yeessss!!! terima kasih Alvin, aku tau kau memang laki laki yang baik," balas Daniel lalu segera berlari keluar untuk menemui Nerissa dan Marin.


Daniel berjalan ke arah mobilnya lalu meminta Nerissa dan Marin untuk turun.


"Ini rumah temanku, kalian bisa bermalam disini, besok pagi aku akan mengantar kalian pulang!" ucap Daniel pada Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marin kompak menganggukan kepala mereka.


Karena Nerissa terlihat kesulitan untuk berjalan, Danielpun membantu Nerissa. Ia berpikir jika Nerissa kesulitan berjalan karena kakinya yang terluka.


"Ngomong ngomong, siapa namamu? Putri? Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Panggil saja Nerissa," jawab Nerissa.


"Baiklah Nerissa, namaku Daniel dan mulai sekarang akan ku pastikan kalau kau akan sering bertemu denganku," ucap Daniel yang membuat Nerissa terkekeh.


"Ciiihhh, dia bahkan tidak menanyakan namaku," ucap Marin pelan, namun cukup terdengar jelas oleh Daniel dan Nerissa.


"Ini temanku, namanya Marin," ucap Nerissa memperkenalkan Marin pada Daniel.


"Hai Marin," sapa Daniel dengan tersenyum mengejek.


Marin hanya memutar kedua bola matanya karena kesal.


Saat Daniel akan membuka pintu rumah Alvin, pintu tiba tiba terbuka dan Alvin berdiri dengan memegang gagang pintunya.


Alvin terdiam tak percaya melihat siapa yang ada di depannya. Gadis cantik dengan rambut coklat terang yang ingin ditemuinya sekarang ada di hadapannya.


Sama seperti Alvin, Nerissapun terkejut karena bisa bertemu Alvin di rumah itu.


"Kau....."


"Kau...." Ucap Nerissa dan Alvin bersamaan.


"Apa kalian saling kenal?" tanya Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Alvin bergantian.


"Iy....."


"Tidak," jawab Alvin.


Nerissa mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Alvin. Saat ia akan mengiyakan pertanyaan Daniel, Alvin malah menyangkal pertanyaan itu.


"Terima kasih Daniel," ucap Nerissa yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala Daniel.


Setelah kepergian Daniel, Alvin masih menatap gadis di hadapannya tanpa berkedip, ia masih tidak percaya gadis yang dirindukannya ada di hadapannya saat itu.


Alvin sengaja mengatakan "tidak" atas pertanyaan Daniel karena Alvin mengingat ucapan Daniel padanya beberapa waktu lalu.


dia sedang terluka Alvin, aku tidak mungkin membiarkannya pulang malam ini, aku yang akan mengantarnya pulang besok pagi


Melihat Daniel yang berjalan dengan memegang bahu Nerissa, Alvin bisa menyimpulkan jika gadis yang membuat Daniel jatuh cinta adalah Nerissa.


Itu kenapa ia berpura pura untuk tidak mengenal Nerissa sebelumnya.


"Apa kita akan berdiri disini sampai besok?" tanya Marin membuyarkan lamunan Alvin.


"Aahh iya... masuklah," ucap Alvin mempersilakan kedua gadis di hadapannya untuk masuk.


Nerissapun berjalan masuk dengan bantuan Marin. Namun saat mereka berada di tangga, Nerissa kelihatan kesulitan untuk menaiki tangga itu, membuat Nerissa dan Marin jatuh bersama.


Alvin yang melihat hal itupun segera melangkah cepat ke arah Nerissa dan Marin, namun mengingat jika Nerissa adalah gadis yang disukai Daniel, ia mengurungkan niatnya untuk membantu Nerissa.


Ia memilih untuk berjalan masuk ke kamarnya. Ia berpikir untuk menjaga jarak dengan Nerissa agar tidak membuat Daniel salah paham.


"Kau baik baik saja Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Kakiku sakit sekali Marin, rasanya aku tidak bisa berdiri lagi," jawab Nerissa dengan memegang kakinya.


"Cobalah berdiri Putri, aku akan memegang tanganmu," ucap Marin.


Saat Nerissa hendak berdiri, ia kembali menjatuhkan badannya karena merasa kakinya terlalu sakit untuk bisa menopang tubuhnya.


"Tidak Marin, kakiku benar benar sakit," ucap Nerissa merintih.


Alvin yang mendengar hal itupun segera keluar dari kamarnya, ia sudah tidak tahan mendengar Nerissa yang sedang kesakitan.


Tanpa basa basi Alvin segera berjongkok di hadapan Nerissa dan membopong Nerissa menaiki tangga satu per satu.


Nerissa yang begitu terkejut hanya diam menatap laki laki tampan yang membopong dirinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sedangkan Marin hanya bisa menahan senyumnya melihat sikap Alvin, kemudian berjalan mengikuti Alvin.


Alvin kemudian membawa Nerissa masuk ke salah satu kamar dan membaringkan Nerissa di atas ranjang.


Tanpa mengucapkan apapun, Alvin keluar begitu saja dan kembali ke kamarnya.


Marin yang baru saja masuk ke dalam kamar segera menutup pintu dan duduk di sebelah Nerissa.


"Aaaahhh dia sangat baik, berbeda sekali dengan Daniel," ucap Marin memuji Alvin.


"Apa dia tidak mengingatku?" tanya Nerissa.


"Dia? siapa?" balas Marin bertanya.


"Laki laki itu, apa dia benar benar tidak mengingatku?"


"Laki laki tampan yang baru saja menggendongmu?" tanya Marin.


"Iya," jawab Nerissa dengan raut wajah sedih.


"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya? apa kau mengenalnya?" tanya Marin penasaran.


"Dia adalah laki laki yang pernah kita temui waktu aku pertama kali ke tepi pantai, apa kau tidak ingat?"


Marin diam beberapa saat untuk mengulas memorinya.


"Aaahhh iya aku ingat, dia yang menulis angka angka aneh di tanganmu bukan?"


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tak bersemangat.


"Mungkin dia lupa, tapi dia pasti akan mengingatmu besok, wajah cantik sepertimu tidak akan mudah untuk dilupakan Putri," ucap Marin berusaha mengembalikan senyum Nerissa.


Nerissa hanya tersenyum tipis kemudian membaringkan dirinya di ranjang bersama Marin.