Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pengakuan Alvin



Di bawah langit malam yang tak berbintang Nerissa masih berada di depan rumahnya bersama Alvin.


Nerissa masih terdiam tak percaya saat Alvin mengatakan bahwa Alvin mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ada manusia yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang mermaid, terlebih manusia itu adalah Alvin, seorang laki-laki yang disukainya.


"Maaf karena telah berbohong padamu Nerissa, aku sengaja berbohong karena aku tahu Daniel sangat menyukaimu," ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Alvin.


"Apa sebenarnya yang kau ucapkan Alvin? jangan membuatku bingung!"


Alvin menghela nafasnya kemudian menggeser posisi duduknya menghadap ke arah Nerissa.


"Aku tahu siapa dirimu yang sebenarnya Nerissa, aku tahu kita pernah bertemu sebelum Daniel membawamu ke rumahku malam itu, aku tahu dan aku ingat kita pernah saling mengenal sebelum Daniel memperkenalkan kita malam itu, aku ingat semua yang sudah kita lakukan di tepi pantai sebelum kau datang ke rumahku, aku mengingat semuanya Nerissa, aku tidak pernah melupakanmu!" ucap Alvin menjelaskan.


Mendengar penjelasan Alvin, Nerissa sedikit bernafas lega karena Alvin belum mengetahui jika dirinya sebenarnya adalah mermaid.


Tanpa sadar Nerissa tersenyum tipis karena sudah berpikiran terlalu jauh tentang maksud ucapan Alvin yang sebenarnya.


"Kenapa kau tersenyum Nerissa? kau tidak marah padaku?" tanya Alvin yang heran melihat Nerissa tersenyum.


"Tentu saja aku marah padamu, dasar pembohong!" jawab Nerissa dengan raut wajah yang berubah seketika.


"Aku berbohong karena aku tahu Daniel sangat menyukaimu Nerissa, aku tidak ingin Daniel tahu bahwa aku sudah mengenalmu lebih dulu daripada dirinya," ucap Alvin pada Nerissa.


"Jadi kau benar-benar masih mengingatku?" tanya Nerissa memastikan.


"Tentu saja aku mengingatmu, kita sering bertemu di pantai saat malam hari, aku juga pernah melihatmu menangis di sana, kau bukan gadis yang mudah dilupakan Nerissa, jadi tidak mungkin aku melupakanmu!" jawab Alvin meyakinkan.


"Tapi kau sudah berbohong padaku, kau bahkan bersikap dingin dan jahat padaku saat kita baru bertemu!" ucap Nerissa dengan menundukkan kepalanya mengingat sikap Alvin padanya saat mereka baru pertama kali bertemu.


"Aku pikir aku akan bisa melupakanmu jika aku bersikap seperti itu padamu, tapi ternyata tidak, aku semakin ingin mengenalmu lebih dekat padahal aku tahu bahwa Daniel menyukaimu dan sudah seharusnya aku menjauh darimu, aku minta maaf atas semua sikap dan ucapanku yang menyakitimu Nerissa," ucap Alvin pada Nerissa.


"Kenapa kau harus menjauh dariku hanya karena Daniel menyukaiku? aku juga ingin berteman denganmu Alvin, aku juga ingin mengenalmu lebih dekat!"


"Daniel menyukaimu Nerissa, aku tidak ingin dia menjadi salah paham atas kedekatan kita berdua, dia sahabatku aku dan aku tidak ingin dia marah padaku," ucap Alvin mencoba membuat Nerissa memahami posisinya saat itu.


"Bukankah itu tidak adil buatmu juga buatku? apa jika Daniel menyukaiku itu artinya aku hanya harus dekat dengannya? aku ingin berteman dengan semua orang Alvin, aku ingin mengenal semua orang di dekatku dengan baik, apa aku salah?"


"Tidak Nerissa, aku hanya....."


"Aku tahu kau bersahabat dengan Daniel, tetapi bukan berarti aku juga tidak bisa bersahabat denganmu bukan?"


Alvin hanya diam dengan menghela nafasnya. Ia tahu tidak seharusnya ia berada dekat dengan Nerissa karena ia tidak ingin membuat Daniel menjadi salah paham, tetapi apa yang Nerissa ucapkan memang benar, apa yang ia lakukan seperti tidak adil untuknya dan juga Nerissa.


"Dia sudah menyatakan perasaannya padaku tetapi aku tidak bisa menerimanya," ucap Nerissa pada Alvin.


"Kenapa? bukankah dia laki-laki yang baik?" tanya Alvin.


"Dia memang laki-laki yang baik, tetapi itu tidak cukup untuk membuatku jatuh cinta padanya, aku menyukainya sebagai teman baikku, hanya itu saja," jawab Nerissa.


"Dia akan tetap menunggumu Nerissa, dia akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padanya!" ucap Alvin.


"Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak menungguku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun padanya, aku tidak ingin dia menyesal dan kecewa atas harapan yang dia ciptakan sendiri!"


"Aku sangat mengenal Daniel dengan baik, dia tidak akan mudah menyerah dengan apa yang dia inginkan!" ucap Alvin.


"Aku tidak bisa memaksanya untuk melepasku ataupun menungguku, tetapi dia juga tidak bisa memaksaku untuk jatuh cinta padanya karena sejauh yang aku tahu aku hanya menyukainya sebatas teman baik," balas Nerissa.


"Semua keputusan ada padamu Nerissa, tidak ada yang bisa memaksa kamu!" ucap Alvin.


"Itu artinya tidak ada alasan bagimu untuk menjauhiku Alvin!" ucap Nerissa pada Alvin dengan menatap wajah Alvin dari samping.


Alvin hanya diam menatap kosong ke hadapannya. Ia memikirkan ucapan Nerissa baik baik.


"Kau baru saja mengatakan bahwa kau sudah berbohong padaku Alvin dan setelah kau jujur padaku kau akan menjauhiku? apa kau memang selalu seperti ini Alvin? datang dan pergi sesukamu!"


"Tidak Nerissa, aku tidak seperti itu, tolong jangan salah paham padaku!" balas Alvin dengan membawa pandangannya pada Nerissa.


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Daniel, aku juga tidak mempunyai perasaan lebih padanya, hanya karena Daniel menyukaiku apa aku harus menjadi jauh darimu Alvin?"


Alvin menggelengkan kepalanya pelan, ucapan Nerissa seolah mengartikan jika Nerissa tidak ingin jauh darinya. Meski tidak mengatakannya secara langsung, Alvin bisa memahami makna dari ucapan Nerissa yang sebenarnya.


Nerissa menghembuskan nafasnya kasar kemudian beranjak dari duduknya.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, kalau kau memang mau menjaga jarak denganku terserah kau saja Alvin, anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal dan lupakan semua yang sudah kita lakukan berdua!" ucap Nerissa dengan mata berkaca-kaca kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Alvin.


Entah kenapa hatinya terasa sakit saat ia mengatakan hal itu pada Alvin. Matanya terasa perih, membuatnya tidak bisa membendung air mata dari kedua sudut matanya yang sudah menggenang.


Sedangkan Alvin segera berdiri dari duduknya namun enggan untuk mengejar Nerissa. Ia bimbang apa yang harus ia lakukan saat itu.


Ia tidak ingin menjauhi Nerissa, tetapi ia juga tidak ingin membuat Daniel salah paham dengan kedekatan mereka berdua.


Tetapi melihat Nerissa dengan mata yang berkaca-kaca membuatnya merasa sangat bersalah.


Alvin kemudian mengacak-ngacak rambutnya kasar karena kesal lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah Nerissa untuk segera pulang ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan ia masih memikirkan Nerissa, sesekali ia mencoba untuk menghubungi Nerissa namun tidak pernah ada jawaban.


"aaarrrgghhh kenapa kau bodoh sekali Alvin! kau sudah memintanya untuk menjadi perempuan yang lebih kuat tetapi kau sendiri yang menyakiti hatinya dan membuatnya bersedih.... aaaarrrghhhhh menyebalkan!!" batin Alvin kesal pada dirinya sendiri.


Di sisi lain Nerissa segera masuk ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang.


Ia semakin bersedih saat ia menyadari Alvin benar-benar membiarkannya pergi. Tanpa ia sadar rasa yang tidak seharusnya ada dalam hatinya kini kian tumbuh semakin dalam membuatnya merasakan sakit yang tidak seharusnya ia rasakan.


Nerissa membiarkan air matanya mengalir dan berubah menjadi mutiara yang semakin banyak di atas ranjangnya.


Hingga tanpa sadar ia pun tertidur dengan banyak mutiara di sekitarnya.


**


Waktu berlalu, malampun telah pergi berganti dengan cahaya matahari.


Saat Marin baru saja membuka toko bunganya, sebuah mobil berhenti dan si pemilik segera keluar dari dalam mobil.


"Aku ingin mencari bunga Marin, apa kau bisa membuat buket bunga yang berisi bunga anggrek putih dan tulip putih?" jawab Alvin sekaligus bertanya pada Marin.


"Tentu saja bisa, masuk lah!" jawab Marin.


Marin kemudian menyiapkan bahan-bahan dan barang yang digunakan untuk membuat buket bunga pesanan Alvin.


"Apa kau ingin meminta maaf pada seseorang?" tanya Marin pada Alvin.


"Dari mana kau tahu?" balas Alvin bertanya.


"Apa kau lupa aku seorang penjual bunga, tentu saja aku tahu arti dari 2 bunga ini!" jawab Marin terkekeh.


"Aaahh iya kau benar, aku memang ingin meminta maaf pada seseorang walaupun mungkin saja dia tidak akan memaafkanku," ucap Alvin.


"Jangan pesimis Alvin, dia pasti bisa melihat usahamu untuk meminta maaf padanya!" balas Marin.


"Kau bisa menulis surat untuknya, aku akan meletakkannya di dalam buket bunga ini!" ucap Marin pada Alvin sambil memberikan sebuah kertas dan pena


Alvin kemudian beranjak dari duduknya, ia menulis sebuah surat di kertas yang sudah Marin berikan, kemudian melipatnya dan memberikannya pada Marin.


"Aku tidak bisa menunggu buket bunga ini selesai Marin karena aku harus segera ke kantor, tolong berikan buket bunga dan surat ini pada Nerissa dan katakan padanya kalau aku benar-benar meminta maaf padanya!" ucap Alvin kemudian keluar dari toko bunga Marin setelah membayar.


Marin hanya diam melihat Alvin yang keluar dari toko bunganya, ia tidak menyangka jika buket bunga dan surat yang ada di hadapannya adalah buket bunga dan surat untuk Nerissa.


"Apa mereka baru saja bertengkar?" tanya Marin pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian Nerissa datang dan duduk di samping Marin.


"Pesanan pertama pagi ini?" tanya Nerissa pada Marin.


"Iya untukmu!" jawab marin lalu memberikan buket bunga yang baru saja dibuatnya pada Nerissa.


"Untukku? benarkah?" tanya Nerissa memastikan.


"Iya, apa kau tahu arti bunga tulip putih dan anggrek putih ini?"


Nerissa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Marin.


"Permintaan maaf yang tulus, Alvin yang memesannya untukmu!" jawab Marin.


Nerissa menghela nafasnya kemudian menaruh kembali buket bunga yang baru saja Marin berikan padanya.


Raut wajahnya yang beberapa saat lalu tampak antusias tiba-tiba berubah menjadi kesal.


"Dia sengaja datang pagi-pagi ke sini untuk memesannya secara langsung dan menulis surat untukmu Putri, apapun masalah kalian dia benar-benar terlihat menyesal dan meminta maaf padamu dengan tulus!" ucap Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya diam kemudian beranjak dari duduknya.


"Setidaknya kau harus membaca suratnya Putri!" ucap Marin setengah berteriak karena Nerissa yang sudah berjalan keluar dari toko bunganya.


Waktu berlalu, Nerissa baru saja kembali setelah mengantar beberapa pesanan buket bunga. Setelah menaruh sepedanya di depan toko bunga, Nerissapun masuk dan duduk disamping Marin yang saat itu tampak sedang sibuk dengan buku catatannya.


"Apa kau sedang sibuk Marin?" tanya Nerissa pada Marin.


"Apa ada yang ingin kau katakan padaku Putri?" balas Marin bertanya.


"Tidak ada," jawab Nerissa tak bersemangat.


Nerissa kemudian membawa padangan pada buket bunga yang ada di atas meja.


dia sengaja datang pagi-pagi ke sini untuk memesannya secara langsung dan menulis surat untukmu Putri, apapun masalah kalian dia benar-benar terlihat menyesal dan meminta maaf padamu dengan tulus


Ucapan Marin kembali terngiang di telinga Nerissa.


"permintaan maaf yang tulus? untuk apa? bukankah dia ingin menjauh dariku? apa dia meminta maaf karena dia harus menjauhiku? aku benar-benar tidak mengerti arah pikiran Alvin ke mana, dia benar-benar menyebalkan!" batin Nerissa dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca.


"seharusnya dia tidak perlu melakukan hal ini jika dia memang ingin menjauhiku, seharusnya dia pergi dan tidak pernah memunculkan wajahnya lagi di hadapanku, jika dia masih seperti ini bagaimana mungkin aku bisa melupakannya, kau memang bodoh Nerissa, kau sudah terlalu jauh melibatkan perasaanmu padahal kau tahu duniamu dan dunianya berbeda!"


"Putri apa yang terjadi padamu? apa kau menangis?" tanya Marin yang melihat Nerissa hanya terdiam dengan kedua sudut mata yang sudah berkaca-kaca.


Nerissa kemudian membawa pandangannya ke arah langit-langit dan mengibaskan kedua tangannya di depan matanya.


"Tidak, aku tidak menangis, tiba-tiba mataku terasa perih!" ucap Nerissa beralasan.


Marin kemudian tersenyum tipis, memegang kedua bahu Nerissa dan membawanya menghadap ke arahnya.


"Apakah Alvin yang membuatmu bersedih Putri?" tanya Marin dengan menatap kedua mata Nerissa, namun Nerissa berusaha menghindari tatapan Marin.


"Aku memang tidak tahu apa masalah kalian berdua, tetapi dia bersungguh-sungguh untuk meminta maaf padamu, entah kau mau memaafkannya atau tidak itu semua terserah padamu, tetapi setidaknya kau baca surat yang sudah dia tulis untukmu Putri!" ucap Marin pada Nerissa.


"Buang saja buket bunga dan suratnya, aku tidak akan menerimanya apalagi membacanya dan jangan pernah menyebut nama Alvin lagi di hadapanku!" balas Nerissa dengan melepaskan kedua tangan Marin dari bahunya kemudian beranjak dari duduknya.


Marin hanya tersenyum tipis melihat sikap Nerissa. Setelah Marin dan Nerissa menutup toko bunga, diam-diam Marin membawa buket bunga dan surat yang sudah Alvin tulis lalu menaruhnya di kamar Nerissa.


Saat Nerissa baru saja masuk ke kamar, matanya segera tertuju pada buket bunga anggrek putih dan tulip putih yang ada di mejanya.


Nerissa kemudian mengambilnya, berniat untuk membuangnya. Namun tiba-tiba sebuah surat terjatuh dari buket bunga itu, Nerissapun mengambilnya dan membacanya.


Maaf, hanya kata itu yang bisa aku ucapkan padamu Nerissa. Aku tidak tahu bagaimana caraku agar kau bisa memaafkan sikap dan ucapanku yang sudah menyakitimu.


Aku sama sekali tidak berniat untuk menyakitimu tetapi ternyata apa yang aku sampaikan sudah membuatmu bersedih.


Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik dan aku sudah mengambil keputusan yang aku harap tidak akan menjadi penyesalan dalam hidupku.


Aku tidak akan menjauhimu Nerissa, meskipun aku tahu Daniel menyukaimu kita tetap bisa berteman seperti sebelumnya.


Jika memang suatu saat nanti Daniel berhasil membuatmu jatuh cinta padanya, maka saat itulah saat yang tepat untuk aku menjauh darimu.


Sekali lagi aku minta maaf, aku harap aku tidak terlambat untuk bisa menjadi teman baikmu.


Alvin.