
Saat jam makan siang kantor Alvin keluar dari kantor untuk menemui seseorang di kafe. Sesampainya disana ia segera menghampiri seseorang yang sudah menunggunya.
"Bagaimana kabarmu Alvin? sudah lama kita tidak bertemu!" tanya Dokter Jessica pada Alvin.
"Baik Dok, bagaimana kabar dokter?"
"Baik, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi Alvin, ternyata hari ini aku kembali bertemu denganmu," jawab dokter Jessica
"Apa Alvin mengganggu waktu dokter?"
"Tidak Alvin, aku tahu kau menghubungiku karena ingin menyampaikan sesuatu padaku, benar bukan?"
Alvin hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan Alvin, jika kau mau aku akan melonggarkan jadwalku untukmu seperti dulu," ucap dokter Jessica.
"Terima kasih dok, tapi Alvin ragu apa Alvin harus menyampaikan hal ini pada dokter karena apa yang Alvin pikirkan saat ini tidak bisa dilogika sama sekali," ucap Alvin.
"Kau bisa menceritakan apapun padaku Alvin, tetapi aku tidak akan memaksamu jika memang kau tidak ingin menceritakannya padaku, tetapi seperti yang kau tahu pikiran buruk yang terus ada dalam kepalamu tidak akan mudah hilang jika kau sendiri tidak berusaha untuk mengatasinya!" balas dokter Jessica.
"Alvin mengerti dok," ucap Alvin sambil menganggukkan kepalanya.
Dokter Jessica adalah dokter spesialis kedokteran jiwa yang Alvin kenal dari beberapa tahun yang lalu.
Alvin mengenal dokter Jessica saat Alvin merasa benar-benar terpuruk karena masalah yang dihadapinya saat itu.
Masalah yang membuat ia kesulitan untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, masalah yang membuatnya terpuruk dan kehilangan semangat hidupnya.
Namun berkat bantuan dokter Jessica, Alvin bisa mengatasi semua masalah kejiwaannya. Ia kembali bangkit menjalani hari-harinya dengan jauh lebih baik setelah keterpurukan yang ia rasakan saat itu.
Dari sanalah Alvin mengenal Dokter Jessica dan menjalin hubungan yang cukup dekat, tidak hanya sebagai Dokter dan pasien, tapi juga sebagai teman.
Sekarang saat ia merasa pikirannya benar-benar kacau, ia ingin menemui dokter Jessica untuk mendapatkan jawaban atas apa yang harus ia lakukan untuk menormalkan kembali pikirannya yang kacau.
"Jika kau senggang, besok datanglah ke rumah sakit setelah pulang bekerja, aku akan mengosongkan jadwalku untukmu!" ucap dokter Jessica pada Alvin.
"Baik dok, Alvin akan datang ke rumah sakit besok," balas Alvin.
Setelah makanan pesanan mereka datang mereka pun menikmati makan siang mereka kemudian segera meninggalkan kafe untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Alvin mengendarai mobilnya ke arah kantornya lalu segera masuk ke ruangannya setelah ia sampai di sana.
Alvin menghempaskan dirinya di kursi kerjanya, memijit keningnya yang terasa pening karena semua pikiran yang mengganggu di kepalanya.
"mutiara, mahkota, gambar mermaid, laut, ekor, semua itu seperti saling terhubung satu sama lain, kenapa gadis yang ada dalam mimpiku sangat mirip sepertimu Nerissa, walaupun aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas tetapi gerai rambutnya sangat mirip denganmu, kenapa aku merasa jika gadis dengan ekor merah muda itu adalah dirimu, siapa kau sebenarnya Nerissa, apa memang benar ada dunia lain di bawah sana yang tidak aku tahu?" batin Alvin bertanya-tanya yang membuat kepalanya semakin terasa pusing.
Alvin kemudian membaringkan kepalanya di meja kerjanya ia menutup matanya berusaha untuk mengurangi rasa pusing yang ia rasakan saat itu.
"aku yakin aku tidak bermimpi saat itu, aku benar-benar melihat seorang perempuan dengan ekor birunya menjauh dariku setelah ombak besar menghantam kapal yang aku naiki bersama mama dan papa, tapi......"
"Alvin!" panggil Daniel tiba-tiba dengan membuka pintu ruangan Alvin tanpa mengetuknya, membuat Alvin begitu terkejut.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu Daniel?" ucap Alvin dengan kesal.
"Maaf aku terlalu bersemangat saat aku tahu kau sudah kembali, aku....."
Daniel menghentikan ucapannya saat ia melihat Alvin yang begitu pucat saat itu.
"Ada apa denganmu Alvin? apa kau sedang sakit?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Alvin.
"Tapi kau seperti tidak sedang baik-baik saja Alvin, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Alvin hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Daniel.
"Aku ke sini karena ingin memberitahumu sesuatu tentang Nerissa dan Marin, apa kau tahu kalau mereka tidak memiliki identitas sama sekali?"
"Apa maksudmu Daniel?"
"Aku sudah mencari tahu dari mana sebenarnya Nerissa dan Marin berasal, tetapi tidak ada satupun data yang berisi tentang identitas mereka berdua, bahkan rumah yang mereka tempati saat ini masih atas nama pemilik sebelumnya yang sama sekali tidak mengenal Nerissa dan Marin!" jawab Daniel menjelaskan.
"Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan rumah itu?"
"Pemilik rumah itu tidak memberitahuku dengan pasti, hanya saja pemilik rumah itu mengatakan bahwa Nerissa dan Marin memberikan harga yang sangat mahal untuk rumah itu tanpa si pemilik rumah tahu siapa Nerissa dan Marin sebenarnya," jawab Daniel.
Alvin hanya diam mendengar semua penjelasan Daniel. Ia semakin tidak mengerti tentang siapa sebenarnya Nerissa dan Marin.
"Bagaimana menurutmu Alvin?" tanya Daniel pada Alvin.
"Bagaimana dengan izin toko bunga marin? apa kau sudah memeriksanya?"
"Sudah, toko bunga itu juga terdaftar atas nama si pemilik rumah, aku sama sekali tidak mengerti kenapa Nerissa dan Marin melakukan hal itu, kenapa mereka seolah menyembunyikan identitas mereka pada semua orang!"
Alvin kembali diam karena kepalanya terasa semakin pusing memikirkan tentang siapa sebenarnya Nerissa.
"Apa menurutmu aku harus menanyakannya langsung pada Nerissa dan Marin?" tanya Daniel pada Alvin.
"Aku pikir kau tidak perlu menanyakan hal itu pada mereka berdua, Nerissa dan Marin sudah berusaha sejauh itu untuk merahasiakan tentang identitas mereka yang sebenarnya, jika kau menanyakan hal itu pada mereka itu hanya akan membuat mereka semakin tidak nyaman padamu!" jawab Alvin.
"Kau benar, tetapi aku harus tahu dengan pasti siapa sebenarnya Nerissa dan Marin!"
"Apa itu sangat penting untukmu Daniel?"
"Tentu saja, bagaimana jika ternyata dia adalah putri dari sebuah kerajaan yang jauh dari sini, bagaimana jika ternyata mereka berdua bukan manusia biasa seperti kita, bagaimana jika ternyata......"
"Jika ternyata semua yang kau ucapkan itu adalah benar, lalu apa kau akan menjauhi Nerissa karena hal itu?"
"Mmmmm.... aku rasa tidak," jawab Daniel.
Alvin hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Daniel yang terdengar ragu.
"Kalau kau memang mencintainya kau pasti akan menerima siapapun dia sebenarnya," ucap Alvin pada Daniel.
"Bagaimana jika mereka berdua ternyata alien yang berpura-pura menjadi manusia? apa aku harus menerima jika istriku ternyata seorang alien?" tanya Daniel yang membuat Alvin tertawa.
"Hahaha...... pikiranmu jauh sekali Daniel, apa kau benar-benar percaya tentang adanya alien di luar bumi kita?"
"Tentu saja aku percaya, dunia ini sangat luas Alvin banyak hal yang tidak kita ketahui, apa yang belum kita lihat bukan berarti mereka tidak ada," jawab Daniel sambil beranjak dari duduknya.
"Aku akan melanjutkan pekerjaanku, kau cepat pulang setelah pekerjaanmu selesai dan segera minum obat, aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja!" ucap Daniel kemudian keluar dari ruangan Alvin.
Sedangkan Alvin hanya terdiam mendengar ucapan Daniel yang membuatnya tersadar akan sesuatu.
dunia ini sangat luas Alvin banyak hal yang tidak kita ketahui, apa yang belum kita lihat bukan berarti mereka tidak ada
**
Di tempat lain Nerissa sedang mengayuh sepedanya menuju ke arah rumah Amanda dengan membawa buket bunga mawar merah.
Sesampainya disana Nerissa segera masuk dan disambut oleh Amanda yang menunggu Nerissa di teras rumahnya.
"Ini buket bungamu Amanda!" ucap Nerissa sambil memberikan buket bunga pesanan Amanda.
"Terima kasih Nerissa, beberapa hari yang lalu aku datang ke toko bungamu tetapi aku tidak melihatmu di sana!"
"Benarkah? mungkin aku sedang mengantar bunga saat itu!"
"Iya bisa jadi, apa kau sedang sibuk sekarang?" tanya Amanda.
"Tidak, tidak ada bunga yang harus aku antar setelah ini," jawab Nerissa.
"Baguslah kalau begitu karena aku ingin mengobrol denganmu Nerissa," ucap Amanda.
"Baiklah," balas Nerissa kemudian duduk di samping Amanda.
Amanda menceritakan banyak hal pada Nerissa, Nerissa pun mendengar semua cerita Amanda yang terdengar begitu menarik.
"Bagaimana denganmu Nerissa? apa kau tinggal disini bersama keluargamu?" tanya Amanda pada Nerissa.
"Tidak, aku tinggal di sini bersama temanku, Marin, yang kau temui saat kau membeli bunga!" jawab Nerissa.
"Benarkah? lalu di mana kedua orang tuamu?"
"Mmmmm..... mereka berada di pulau yang cukup jauh dari sini," jawab Nerissa.
Amanda menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa. Ia senang karena memiliki Nerissa yang bisa menjadi temannya untuk berbagi cerita, karena selama ia berada di rumahnya ia tidak memiliki seorang temanpun untuk berbagi cerita dengannya.
"Amanda, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Nerissa pada Amanda.
"Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan Nerissa?"
"Kau bilang bahwa kau berasal dari sini dan pergi ke luar negeri selama beberapa tahun lalu kembali lagi ke sini, apa kau pernah dekat dengan seseorang sebelum kau pergi ke luar negeri?" tanya Nerissa memberanikan diri.
Amanda tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Nerissa.
"Kenapa kau menanyakan hal itu Nerissa? apa kau sedang dekat dengan seseorang sekarang?" balas Amanda bertanya.
"Aah tidak, maaf jika pertanyaanku terlalu lancang, kau tidak harus menjawabnya jika kau keberatan."
"Aku pernah dekat dengan seseorang Nerissa, aku bahkan sudah bertunangan dengannya," ucap Amanda.
"bertunangan? apa laki-laki yang Amanda maksud itu Alvin? apa mereka sudah bertunangan?" tanya Nerissa dalam hati.
"Tapi hubunganku dengannya tidak berjalan lancar, saat aku mengikutinya untuk tinggal di luar negeri banyak pertengkaran yang terjadi di antara kita dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya," ucap Amanda melanjutkan ceritanya.
"bukan, ternyata bukan Alvin" batin Nerissa bernafas lega.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan tunanganmu itu sekarang Amanda?"
"Jangan sebut dia tunanganku Nerissa, dia hanya bagian dari masa laluku yang buruk, aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengannya, sekarang kita menjadi dua sosok yang tidak saling mengenal satu sama lain," jawab Amanda.
"Apa kau masih mencintainya?"
"Tidak aku bahkan ragu apa aku pernah mencintainya," jawab Amanda.
"Jika kau tidak mencintainya, kenapa kau bisa bertunangan dengannya? bukankah tujuan dari suatu pertunangan adalah ikatan pernikahan?"
"Kau benar Nerissa, karena aku berpikir bahwa masa depanku akan terjamin jika aku menjadi istrinya, aku tidak perlu memikirkan hidupku lagi karena dia akan memberikan semua yang aku butuhkan tapi ternyata aku salah, semua itu tidak membuatku bahagia sama sekali dan sekarang aku menyesal dengan pilihanku itu!"
Nerissa kemudian menarik tangan Amanda dan menggenggamnya, berusaha untuk menguatkan Amanda saat itu.
"Pasti akan ada laki-laki lain yang jauh lebih baik dari mantan tunanganmu itu Amanda, jadi jangan terlalu bersedih dan lanjutkan hidupmu dengan lebih baik," ucap Nerissa pada Amanda.
Amanda menganggukan kepalanya lalu memeluk Nerissa yang duduk di sampingnya.
"Terima kasih Nerissa, terima kasih karena sudah menjadi teman baikku, terima kasih karena sudah mendengar cerita masa laluku."
"Kau bisa menceritakan apapun padaku Amanda, hubungi saja aku jika kau membutuhkan tempat untuk bercerita," balas Nerissa.
Amanda menganggukkan kepalanya dengan masih memeluk Nerissa, ia sangat bersyukur karena bisa mengenal Nerissa, gadis cantik yang baik hati.
Nerissa kemudian meninggalkan rumah Amanda untuk segera kembali ke toko bunga.
Nerissa mengayuh sepedanya sambil memikirkan tentang hubungan Amanda dan Alvin
Amanda sama sekali tidak menceritakan hubungannya dengan Alvin, apa mungkin mereka berdua sebenarnya tidak memiliki hubungan apapun? bisa jadi lukisan mawar merah yang ada di gudang adalah lukisan pemberian teman Alvin yang didapat dari Amanda, Alvin juga mengatakan bahwa lukisan itu sudah tidak penting lagi, itu kenapa dia menaruhnya di gudang
Sesampainya di toko bunga, Nerissa menaruh sepedanya kemudian masuk ke dalam toko dan menghampiri Marin.
"Ada apa Putri? kenapa kau tampak sangat senang sekali?" tanya Marin yang melihat Nerissa tampak berseri-seri.
"Aku ingin menceritakan sesuatu padamu Marin!"
"Apa itu? cepat ceritakan padaku!"
"Beberapa hari yang lalu Alvin mengatakan sesuatu padaku, dia berkata bahwa dia sebenarnya masih mengingatku, dia ingat pertemuan kita yang pertama kali, dia tidak melupakanku Marin, dia masih mengingatku," ucap Nerissa bercerita penuh semangat, sedangkan Marin hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak terkejut sama sekali marin? apa kau sudah mengetahuinya?"
"Kau memang tidak peka pada Alvin, aku sudah lama menyadari hal itu, aku hanya mau menunggu sampai kapan Alvin akan merahasiakan hal itu darimu!"
"Benarkah? jadi kau sudah mengetahuinya?"
Marin hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Nerissa.
"Kenapa kau tidak memberitahuku Marin? kau jahat sekali!" ucap Nerissa kesal dengan memanyunkan bibirnya.
"Maafkan aku Putri, aku hanya ingin memastikan dari Alvin secara langsung karena Alvin tidak mau jujur padaku saat aku menanyakan hal itu padanya, jadi aku menunggunya sampai dia berkata jujur padamu!" ucap Marin menjelaskan.
"Kau menyebalkan sekali Marin, seharusnya kau memberitahuku dari dulu!"
"Hahaha...... maafkan aku Putri, seharusnya kau bisa lebih peka pada sekitarmu, terutama Alvin!"
"Lebih peka pada Alvin? tidak..... aku tidak akan melakukan hal itu, aku tidak ingin apa yang aku pikirkan hanya akan memberikan harapan semu untukku!"
"Memangnya apa yang kau harapkan dari manusia seperti Alvin, Putri?" tanya Marin yang membuat nerissa terdiam.
Satu kata yang Marin ucapkan seolah menampar Nerissa dengan keras, bahwa Alvin adalah manusia, berbeda dengan dirinya yang hanya berpura-pura menjadi manusia.