
Alvin berdiri di tempatnya beberapa saat sebelum akhirnya membawa langkahnya mendekat pada gadis yang terbaring di ranjang rumah sakit di hadapannya.
Kedua pasang mata manusia itu hanya saling menatap terdiam tanpa mengucapkan apapun, seperti ada sebuah cerita dari masa lalu yang masih membekas dan belum menemukan akhir yang diharapkan oleh keduanya.
"Maaf sudah mengganggu waktumu."
Suara yang sudah lama tidak Alvin dengar kembali menggema di telinganya, bahkan sang pemilik suara itu kini ada di hadapannya.
Alvin kemudian berdiri di samping ranjang Amanda tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari gadis cantik berambut panjang yang kini sedang duduk di ranjangnya.
"Sejak kapan kau kembali?" tanya Alvin dengan masih menatap gadis di hadapannya.
"Sudah beberapa bulan aku kembali Alvin," jawab Amanda.
Alvin kembali terdiam, ia seperti terhipnotis oleh gadis yang ada di hadapannya saat itu. Rasa yang dulu pernah ada, rasa yang ia pikir telah hilang dari hatinya, kini seolah kembali merangkak menyeruak dan memenuhi ruang hatinya.
"Kau masih sama seperti dulu, memandangku dengan tatapan seperti itu," ucap Amanda yang membuat Alvin segera tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Amanda.
"Maafkan aku, bagaimana keadaanmu? apa yang Dokter katakan?" tanya Alvin setelah ia lebih bisa menguasai keadaannya saat itu.
"Dokter bilang cedera kepala ringan, tapi aku baik-baik saja hanya terkadang tiba-tiba merasa pusing," jawab Amanda.
"Ini bukan kecelakaan yang pertama kali Amanda, kenapa bisa terjadi lagi sekarang? jika kau tidak bisa mengemudi dengan baik lebih baik jangan membawa mobil sendiri!"
"Aku baru saja pulang dari makam mama dan papa, aku sangat merindukan mereka Alvin, sepertinya itu yang membuatku tidak fokus mengendarai mobil dan berakhir seperti ini," ucap Amanda menjelaskan.
"Dimana suamimu? apa dia tahu kau disini sekarang?" tanya Alvin yang membuat Amanda seketika menundukkan kepalanya.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Alvin yang menyadari jika Amanda tidak sedang baik-baik saja saat itu.
"Kau benar Alvin, dia memang laki-laki brengsek," ucap Amanda dengan suara bergetar.
Alvin yang mendengar hal itupun bisa memahami apa maksud Amanda sebenarnya. Alvin kemudian meraih Amanda, membawanya ke dalam dekapannya.
Seketika Amanda menumpahkan air matanya dalam dekapan Alvin. Masa lalu yang telah dijalaninya menyisakan penyesalan dalam hidupnya.
Pilihan yang ia pikir paling realistis nyatanya memberikan kesedihan dan penyesalan dalam dirinya.
"Dia brengsek Alvin, dia meninggalkanku begitu saja, aku menyesal karena telah memilihnya, aku benar-benar menyesal Alvin," ucap Amanda di tengah isak tangisnya.
Mendengar hal itu Alvin hanya terdiam, tangannya mengusap kepala dan punggung Amanda. Tak ada satu patah kata pun yang mampu ia katakan saat itu.
Ucapan Amanda seperti membawa Alvin pada masa lalu buruk yang sempat menghancurkan dirinya.
Rasa kecewa, marah dan emosi yang pernah ia rasakan seperti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa yang dia sebut cinta.
Rasa yang dinamakan cinta itu seolah telah mengubur logikanya dan melemahkan akal sehatnya begitu saja.
"Maafkan aku Alvin, aku benar-benar minta maaf," ucap Amanda dengan erat memeluk Alvin.
Alvin kemudian melepaskan Amanda dari pelukannya, kedua tangannya membawa wajah Amanda menatap matanya.
Dengan lembut tangannya menghapus air mata yang tersisa di kedua pipi Amanda. Ia tidak ingin melihat gadis di hadapannya menangis karena penyesalan akibat dari pilihan masa lalunya.
"Maafkan aku," ucap Amanda dengan menatap kedua mata Alvin.
"Berhenti meminta maaf padaku Amanda, aku mengerti bagaimana kesulitanmu menjalani hari-harimu beberapa bulan ini," balas Alvin.
"Berjanjilah padaku jangan meneteskan air matamu karena masa lalu yang sudah terjadi, berusahalah untuk keluar dari penyesalan yang kau rasakan saat ini, kau bisa menjalani hidupmu dengan lebih baik lagi Amanda!" lanjut Alvin.
Amanda menganggukkan kepalanya dengan tersenyum kemudian kembali memeluk Alvin dengan erat.
"Terima kasih Alvin, terima kasih," ucap Amanda senang.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Waktupun berlalu, Alvin dan Amanda banyak mengobrol tentang banyak hal.
"Kenapa kau bisa mendapatkan kontakku Amanda?" tanya Alvin pada Amanda.
"Sebenarnya aku sudah lama mempunyai kontakmu, aku mendapatkannya dari resepsionis tempatmu bekerja," jawab Amanda
"Resepsionis? jadi kau pernah datang ke Atlanta Group?"
"Iya, aku bahkan sering menitipkan sesuatu pada resepsionis untukmu," jawab Amanda.
"Bunga mawar?" terka Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Amanda.
"Kenapa kau tidak memberikannya secara langsung padaku?"
"Jangankan untuk menemuimu, aku bahkan ragu untuk menghubungimu Alvin!"
"Kenapa?"
"Aku..... aku takut kau akan menghindar dariku, karena aku tahu aku pernah sangat mengecewakanmu," jawab Amanda dengan kembali menundukkan kepalanya.
"Jangan membicarakan hal itu lagi, anggap saja itu masa lalu yang tidak pernah terjadi," ucap Alvin sambil mengusap kepala Amanda.
"Kenapa kau masih bertahan di Atlanta group Alvin? kau bisa meraih karirmu lebih baik jika kau keluar dari sana!"
"Kau tahu ada yang aku perjuangkan di Atlanta group, aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkannya," balas Alvin.
"Ricky dan keluarganya adalah orang-orang yang licik Alvin, apa kau tidak lelah berjuang untuk sesuatu yang mungkin akan berakhir sia-sia?"
"Aku memperjuangkan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku Amanda, kedua orang tuaku sudah bersusah payah untuk membangun Atlanta group dari nol, aku tidak mungkin membiarkan Ricky dan keluarganya menikmati hasilnya dengan mengkhianati mama dan papa," jawab Alvin.
"Kau benar-benar masih sama seperti Alvin yang dulu, tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang kau yakini menjadi milikmu," ucap Amanda dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Kau juga sama seperti yang dulu, masih tetap cantik, secantik bunga mawar merah," balas Alvin yang membuat Amanda tersipu.
"Apa kau masih sering bersama Daniel, Alvin?" tanya Amanda.
"Iya seperti yang kau tahu dia selalu mengikutiku kemanapun, dia bahkan menolak tawaran papanya untuk bekerja di perusahaan papanya," jawab Alvin yang membuat Amanda terkekeh.
Waktupun berlalu, tak terasa matahari semakin turun bersiap untuk pulang ke peraduannya. Tak lama kemudian Dokter masuk ke ruangan Amanda untuk memeriksa keadaan Amanda.
Dokter menjelaskan jika besok pagi keadaan Amanda semakin membaik, maka Amanda sudah bisa meninggalkan rumah sakit besok pagi.
"Hubungi aku jika kau sudah bisa pulang, aku akan mengantarmu!" ucap Alvin pada Amanda setelah dokter keluar dari ruangan Amanda.
"Tapi aku akan sangat senang jika aku bisa mengantarmu pulang," ucap Alvin.
"Baiklah, besok pagi aku akan menghubungimu jika dokter sudah memperbolehkanku pulang!" ucap Amanda yang membuat Alvin tersenyum senang.
**
Di sisi lain, Daniel sedang berada di rumah Alvin saat itu. Ia sengaja menunggu Alvin dari beberapa jam yang lalu karena sudah berkali-kali ia menghubungi Alvin namun tidak bisa tersambung sama sekali.
"sebenarnya kemana kau Alvin? kenapa aku tidak bisa menghubungimu sama sekali? kau benar-benar menyusahkanku!" ucap Daniel dalam hati karena kesal sudah lama menunggu Alvin yang tak kunjung pulang.
Sinar senjapun mulai tergores di ujung langit barat, perlahan bulan mulai muncul di atas hamparan gelap langit malam.
Daniel masih duduk di teras rumah Alvin hingga akhirnya gerbang rumah Alvin terbuka dan terlihat mobil Alvin memasuki halaman rumah lalu masuk ke dalam garasi.
"Kau sudah membuat Nerissa lama menunggumu, kau akan habis di tanganku malam ini Alvin!" ucap Daniel pelan sambil menggenggam kedua tangannya.
Sedangkan di sisi lain Alvin yang baru saja keluar dari mobil berjalan masuk ke rumah dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Sepertinya kau sedang bahagia sekali," ucap Daniel pada Alvin yang sudah duduk di sampingnya.
"Tentu saja, aku sudah mendapatkan 10% saham yang selama ini sangat susah untuk aku dapatkan," ucap Alvin yang masih tidak menyadari kesalahannya.
"Saham? apa itu lebih penting sehingga membuatmu mengabaikan Nerissa yang sudah lama menunggumu?" tanya Daniel yang membuat Alvin seketika membawa pandangannya pada Daniel.
"Kau sudah membuatnya menunggu sangat lama Alvin, dia bahkan membiarkan dirinya basah kuyup karena hujan hanya untuk menunggumu!" ucap Daniel yang membuat Alvin tersadar bahwa dirinya sudah melupakan janjinya pada Nerissa.
Alvin segera mengambil ponselnya dari dalam saku celananya, namun ternyata ponselnya kehabisan daya baterai.
Alvinpun segera beranjak dari duduknya, berniat untuk pergi menemui Nerissa saat itu juga.
"Kau mau kemana lagi Alvin?" tanya Daniel setengah berteriak.
"Aku harus menemui Nerissa," jawab Alvin tanpa menghentikan langkahnya lalu segera masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya keluar dari rumah.
Daniel hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian berjalan ke arah mobilnya dan meninggalkan rumah Alvin untuk kembali pulang ke rumahnya.
Sedangkan Alvin mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah Nerissa. Ia benar-benar merasa bersalah karena sudah membiarkan Nerissa menunggunya sangat lama.
"maafkan aku Nerissa," ucap Alvin dalam hati.
Sesampainya di rumahnya Risa Alvin segera turun dari mobilnya berjalan ke arah pintu dan mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Aku pikir kau sudah lupa alamat rumah ini," ucap Marin dengan raut wajah yang tidak suka dengan kedatangan Alvin.
"Maaf Marin, ada sesuatu yang mendadak harus aku selesaikan, aku tahu aku salah dan aku datang kesini untuk minta maaf pada Nerissa," ucap Alvin yang menyadari kesalahannya saat itu.
"Masuklah!" ucap Marin lalu berjalan masuk untuk memanggil Nerissa.
Tak lama kemudian Nerissapun keluar dari kamarnya lalu menghampiri Alvin yang duduk di ruang tamu.
"Nerissa maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menunggu lama, aku tidak tahu jika ponselku kehabisan daya baterai, aku......."
"Apa ada sesuatu yang sangat penting?" tanya Nerissa memotong ucapan Alvin.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia merasa bersalah karena sudah mengabaikan Nerissa demi menemui Amanda di rumah sakit.
Untuk beberapa saat Alvin luluh pada masa lalu yang ternyata belum bisa benar-benar lepas darinya, membuatnya tanpa sadar mengabaikan Nerissa yang sudah lama menunggunya.
"Maafkan aku Nerissa, aku janji akan mengganti waktu yang sudah kau habiskan untuk menungguku hari ini," ucap Alvin pada Nerissa.
"Apa kau akan menepati janjimu kali ini Alvin?" tanya Nerissa.
"Pasti, aku pasti akan menepati janjiku Nerissa, kau percaya padaku bukan?"
Nerissa menganggukan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Alvin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.
"Aku mengkhawatirkanmu Alvin, aku tidak bisa menghubungimu sama sekali, aku tidak tahu dimana kau berada dan apa yang terjadi padamu, aku tidak tahu apa aku harus terus menunggumu atau aku harus pergi karena aku sudah sangat lama menunggumu disana!"
Mendengar hal itu Alvin semakin merasa bersalah pada Nerissa, Nerissa yang seharusnya marah padanya malah mengkhawatirkan dirinya.
"Apa kau baru pulang?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Iya, aku takut kau marah dan kecewa padaku karena aku membuatmu menunggu sangat lama," jawab Alvin.
"Aku tidak marah, sekarang pulanglah Alvin, sepertinya kau sangat lelah," ucap Nerissa lalu beranjak dari duduknya.
Meskipun Nerissa mengatakan jika dirinya tidak marah pada Alvin, namun Alvin bisa melihat dengan jelas raut kekecewaan di wajah Nerissa.
"Kau juga beristirahatlah, sekali lagi aku minta maaf," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Alvin kemudian membawa langkahnya keluar dari rumah Nerissa, saat baru saja melangkah keluar dari pintu, Alvin berbalik namun sudah tidak ada Nerissa di belakangnya.
Alvin hanya menghela nafasnya lalu berjalan masuk ke dalam mobil.
"kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku harus memilih mendatangi Amanda daripada mendatangi Nerissa yang sudah jelas-jelas menungguku, aku yang mengajaknya bertemu tetapi aku membiarkannya menungguku sangat lama," ucap Alvin dalam hati merutuki kebodohannya sendiri.
Amanda, gadis cantik yang sempat singgah dalam hati Alvin kini kembali datang menggoyahkan hati Alvin yang mulai terbuka untuk Nerissa.
Meski masa lalunya bersama Amanda sangat menyedihkan, meski Amanda memberinya kekecewaan yang teramat dalam, meski Amanda meninggalkannya bersama rasa sakit yang teramat perih, namun pada kenyataannya Alvin belum benar-benar melupakan Amanda.
Hati kecilnya merasa begitu bahagia saat ia bisa bertemu Amanda, melihat senyumnya dan memeluknya dengan erat.
"tidak...... ini tidak benar, semuanya sudah berubah, tidak akan ada masa lalu yang kembali terulang, Amanda hanyalah bagian dari masa laluku dan aku sudah melupakannya.... iya.... aku sudah melupakannya," ucap Alvin dalam hati.
Alvin tidak ingin usahanya untuk melupakan Amanda menjadi sia-sia hanya karena kembalinya Amanda yang tiba-tiba.
Sesampainya Alvin di rumahnya, ia segera masuk ke dalam kamar mandi, berganti pakaian lalu membuka laci mejanya.
"semuanya sudah berlalu, aku tidak akan menoleh ke belakang lagi," ucap Alvin dalam hati lalu membuka botol obat yang ia pegang saat itu.
Setelah meminum beberapa butir obat di tangannya, Alvin pun merebahkan badannya di ranjang lalu memejamkan matanya.
Dalam keadaan setengah sadarnya, ia melihat Nerissa dan Amanda yang tersenyum padanya. Namun tiba-tiba senyum Nerissa dan Amanda perlahan memudar, berganti menjadi raut wajah yang tampak sedih dengan kedua mata yang berkaca-kaca, hingga akhirnya kedua mata yang layu itu meneteskan air mata yang membasahi pipi mereka berdua.