Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kesempatan untuk Alvin



Hujan deras yang tiba-tiba turun membuat Alvin seketika mengingat hal buruk yang terjadi pada Amanda.


Tanpa berpikir panjang Alvin segera beranjak dari duduknya untuk menemui Amanda dan meninggalkan Daniel begitu saja.


Alvin mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya menuju ke arah rumah Amanda. Sesampainya disana, hanya ada satpam yang memberitahu jika Amanda belum pulang ke rumah.


Alvin kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Amanda berkali-kali, Alvin menghubungi Amanda namun tidak pernah ada jawaban.


Alvin kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan Amanda.


Sesekali Alvin kembali menghubungi Amanda hingga akhirnya seseorang menjawab panggilan Alvin, namun bukan suara Amanda yang ia dengar melainkan suara seorang laki-laki.


"Selamat malam, pemilik ponsel ini sedang berada di rumah sakit sekarang, jika Anda mengenalnya sebaiknya Anda segera pergi ke rumah sakit untuk menemuinya," ucap seseorang itu.


Setelah mengetahui dimana Amanda berada, Alvinpun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit yang dimaksud seseorang yang menerima panggilannya.


Sesampainya di rumah sakit, Alvinpun segera mencari keberadaan Amanda dan mendapati Amanda yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


"Kami menemukannya terbaring di trotoar jalan raya, menurut penjelasan dokter dia pingsan karena alergi yang dideritanya dan sepertinya tidak ada tanda-tanda kekerasan ataupun perampokan yang terjadi padanya tetapi kami akan tetap menunggu dia tersadar untuk memastikan kebenarannya," ucap seorang polisi yang menemukan Amanda pingsan di trotoar, sekaligus polisi yang menerima panggilan Alvin beberapa waktu yang lalu.


Alvin menganggukkan kepalanya dan berterima kasih karena sudah membawa Amanda ke rumah sakit.


Alvin kemudian masuk ke dalam ruangan Amanda dan duduk di samping ranjang Amanda, matanya menatap gadis cantik di hadapannya yang tengah terpejam.


"perasaanku padamu mungkin memang sudah berubah Amanda, tapi melihatmu seperti ini bukanlah hal yang aku inginkan, aku memang ingin kau pergi dariku, tapi bukan dengan cara seperti ini," ucap Alvin dalam hati.


Setelah berapa lama menunggu, perlahan kedua mata Amanda mengerjap, Amandapun membuka matanya dan mendapati Alvin yang tengah duduk di samping ranjangnya.


"Alvin....."


"Bagaimana keadaanmu? apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Alvin pada Amanda yang terlihat pucat saat itu.


"Sedikit pusing dan gatal," jawab Amanda.


"Kenapa kau melakukan hal ini? kau tahu ini sangat berbahaya untukmu!"


"Hanya ini yang bisa aku lakukan agar kau mau berbicara padaku Alvin," jawab Amanda.


"Berhenti melakukan hal bodoh Amanda, apa yang kau lakukan ini tidak akan merubah apa yang sudah kau perbuat pada Nerissa dan bibi," ucap Alvin.


"Aku tahu aku salah, maafkan aku."


"Nerissa dan bibi yang seharusnya mendengar permintaan maafmu Amanda, bukan aku!"


"Aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin kau pergi dariku Alvin, aku tidak ingin ada perempuan lain dalam hidupmu selain aku!"


"Kenapa? apa karena kau merasa masa depanmu bisa terjamin bersamaku? apa kau merasa masa depanmu akan baik-baik saja saat kau bersamaku meskipun kau tidak mencintaiku?"


Amanda membulatkan matanya terkejut dengan pertanyaan Alvin.


"Apa maksudmu Alvin? kenapa kau berpikir seperti itu? aku bukan perempuan serendah itu Alvin!"


"Apa kau lupa tentang temanmu yang menghubungimu saat ponselmu ada di tanganku? itu yang dia katakan saat itu!"


"Dia pasti hanya bercanda Alvin, kau tahu aku mencintaimu, kau tahu aku......"


"Tidak, aku tidak bisa merasakan bahwa kau mencintaiku seperti aku mencintaimu, jika kau memang mencintaiku kau tidak akan pernah meninggalkanku apalagi demi laki-laki lain yang baru kau kenal," ucap Alvin memotong ucapan Amanda.


"Tapi aku sekarang mencintaimu Alvin, kaupun juga mencintaiku, tidak ada keraguan dalam hubungan kita bukan?"


"Maafkan aku karena sepertinya aku sudah salah paham pada perasaanku sendiri, aku memang sangat mencintaimu dulu, tetapi kau meninggalkanku dengan rasa kecewa yang sangat dalam dan sekarang saat kau kembali bukan lagi cinta seperti dulu yang ada di hatiku melainkan hanya rasa senang karena aku bisa melihatmu lagi."


"Tidak mungkin, jika kau memang tidak mencintaiku kau tidak akan mungkin menghampiriku kesini, kau tidak akan mungkin mengkhawatirkanku seperti ini!"


"Tolong jangan salah paham Amanda, aku kesini bukan karena aku masih mencintaimu, aku kesini memang untuk melihat keadaanmu sekaligus mengingatkanmu bahwa jangan pernah lagi melakukan hal bodoh seperti ini karena ini adalah terakhir kalinya aku mengkhawatirkanmu, karena setelah ini aku tidak akan peduli lagi padamu, jadi aku harap kau lebih menyayangi dirimu sendiri dan berhenti melakukan hal bodoh yang hanya akan sia-sia!"


"Tidak... kau pasti bercanda, katakan padaku bahwa kau hanya bercanda Alvin, kau pasti masih mencintaiku karena kau datang kesini dan mengkhawatirkan keadaanku!"


Alvin menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya.


"Jaga dirimu baik-baik Amanda, kau gadis yang cantik, kau pasti bisa menemukan seseorang yang bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Alvin lalu melangkah pergi keluar dari ruangan Amanda.


"Alvin tunggu!" teriak Amanda namun tidak dihiraukan oleh Alvin.


Di luar ruangan Amanda, Alvin memberitahu polisi bahwa Amanda sudah sadar dan siap untuk menjelaskan apa yang terjadi padanya.


Alvin kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam mobil lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit.


"apa aku sudah melakukan hal yang benar?" tanya Alvin dalam hati.


Sesampainya di rumahnya Alvin begitu terkejut karena Daniel masih ada disana, Alvinpun membawa langkahnya untuk menghampiri Daniel.


"Kenapa kau masih ada disini?" tanya Alvin pada Daniel yang sedang duduk santai di teras rumahnya.


"Kenapa kau sudah pulang? aku pikir kau akan menginap di rumah Amanda!"


"Aku sudah memutuskan untuk menjauhinya Daniel, setelah semua fakta yang aku tahu tidak ada alasan bagiku untuk tetap bersamanya," ucap Alvin.


"Apa yang kau maksud fakta tentang rekaman yang kuberikan padamu?" tanya Daniel.


"Tidak hanya itu, aku bahkan tidak menyangka jika dia kembali hanya untuk memanfaatkanku," jawab Daniel.


"Apa maksudmu?" tanya Daniel tak mengerti.


"Dia meninggalkanku karena aku hanya seorang pegawai biasa diantara Atlanta Group, karena dia berpikir aku tidak bisa memberinya masa depan yang dia harapkan dan sekarang dia kembali padaku setelah dia dicampakkan oleh laki-laki yang dipilihnya dan dia berpikir dengan apa yang aku miliki sekarang aku bisa memberi masa depan yang baik untuknya meskipun dia tidak benar-benar mencintaiku," ucap Alvin dengan menundukkan kepalanya.


"Menyedihkan sekali," ucap Daniel sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Kesalahpahaman tentang perasaanku membuatku bimbang Daniel dan pada akhirnya aku memilih jalan yang salah dan kau benar sekarang, aku adalah seseorang yang paling menyesal di dunia ini karena apa yang sudah aku pilih."


"Apa yang kau sesalkan Alvin? apa kau menyesal karena sudah meninggalkan Nerissa atau kau menyesal karena sudah memberikan Amanda kesempatan kedua?"


"Aku menyesal karena terlambat menyadari perasaanku yang sesungguhnya, aku tidak benar-benar mencintai Amanda seperti dulu, aku hanya merasa iba atas apa yang terjadi padanya dan di saat yang bersamaan aku merasa senang karena dia datang padaku, aku pikir aku tetap mencintainya seperti dulu tapi ternyata tidak."


"Berhentilah menyesali apa yang sudah terjadi, itu tidak akan merubah apapun jika tidak ada yang kau lakukan setelahnya," ucap Daniel yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Aku akan membantumu untuk bertemu Nerissa, jadi gunakan kesempatan itu dengan baik sebelum kau benar-benar kehilangan Nerissa untuk selamanya," ucap Daniel yang membuat Alvin begitu terkejut.


"Kenapa kau melakukan itu untukku Daniel?"


"Aku tidak berpikir Nerissa benar benar bahagia saat ini, meskipun dia tersenyum tetapi aku bisa melihat kesedihan di wajahnya, kau sudah menyakiti hatinya Alvin kau sudah merenggut senyum cerianya," jawab Daniel yang membuat Alvin semakin merasa bersalah.


"Aku akan memperbaiki semuanya Daniel, aku janji, walaupun nanti hubunganku dengan Nerissa tidak akan sedekat dulu tapi setidaknya hubunganku dengan dia baik-baik saja," ucap Alvin.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.


Setelah mengobrol beberapa lama Danielpun berpamitan pulang. Bersama rintik hujan yang membasahi mobilnya Daniel mengendarai mobilnya pulang ke arah rumahnya.


"anggap ini kesempatan terakhirmu Alvin, setelah ini aku benar-benar tidak akan melepaskan Nerissa untukmu jika kau masih belum bisa tegas pada Amanda," ucap Daniel dalam hati.


**


Haripun berganti, Daniel sedang mengerjakan pekerjaannya di ruangannya. Tak lama kemudian Alvin masuk memberikan beberapa berkas yang harus Daniel kerjakan.


"Nanti malam datanglah ke kafe biasa, aku akan mengajak Nerissa untuk ke sana, anggap itu adalah kesempatan terakhir bagimu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Nerissa karena jika kau menyakitinya lagi aku benar-benar tidak akan membiarkan Nerissa bertemu denganmu lagi," ucap Daniel pada Alvin.


"Apa dia mau bertemu denganku?" tanya Alvin.


"Tergantung bagaimana usahamu nanti," jawab Daniel.


"Baiklah, aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," ucap Alvin penuh keyakinan.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Daniel sampai di rumah Nerissa.


Daniel dan Nerissapun berangkat menuju ke kafe tanpa Nerissa tahu bahwa dirinya akan bertemu Alvin disana.


Sesampainya di kafe Daniel dan Nerissa duduk di sudut ruangan yang berdinding kaca.


"Aku ke toilet sebentar Nerissa," ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.


Tak lama setelah kepergian Daniel, seseorang berdiri di hadapan Nerissa tanpa mengatakan apapun.


Nerissa yang melihat Alvin berdiri di hadapannya hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu Nerissa," ucap Alvin.


"Aku sedang bersama Daniel disini, aku tidak ingin dia salah paham jika kau tiba-tiba ada disini," balas Nerissa dengan mengalihkan pandangannya dari Alvin.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Nerissa berdering, sebuah pesan masuk dari Daniel


"Selesaikan masalah kalian berdua dengan baik, aku akan menunggumu di depan!" -isi pesan Daniel-


"Daniel......" ucap Nerissa pelan.


Nerissa kemudian beranjak dari duduknya, berniat untuk menghampiri Daniel yang sengaja meninggalkannya bersama Alvin.


"Maaf aku harus pergi," ucap Nerissa yang hendak berjalan pergi namun segera ditahan oleh Alvin.


"Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita nerissa," ucap Alvin dengan menggenggam tangan Nerissa.


"Hubungan kita baik-baik saja, hanya saja tidak seperti dulu lagi," balas Nerissa sambil melepaskan tangan Alvin yang menggenggamnya lalu berjalan cepat meninggalkan Alvin.


Karena tidak ingin terjadi keributan disana, Alvin hanya bisa mengikuti langkah Nerissa dengan cepat dan kembali meraih tangan Nerissa saat ia sudah bisa menjangkau Nerissa tepat di depan pintu kafe.


"Aku minta maaf Nerissa, aku tahu aku salah karena sudah tidak mempercayaimu, aku benar-benar minta maaf karena......."


"Aku sudah memaafkanmu jadi tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, tolong lepaskan tanganku, kau membuat tanganku terasa sakit," ucap Nerissa memotong ucapan Alvin.


Alvinpun melepaskan tangannya dari Nerissa, membuat Nerissa melangkah pergi meninggalkannya. Namun Alvin tidak kehilangan akal, ia kembali berlari mengejar Nerissa lalu dengan tiba-tiba bersimpuh di hadapan Nerissa, membuat Nerissa menghentikan langkahnya.


"Apa yang kau lakukan Alvin?" tanya Nerissa sambil membawa pandangannya ke sekitarnya.


"Apapun akan aku lakukan untuk bisa memperbaiki hubungan kita," jawab Alvin dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Nerissa yang sudah sangat dirindukannya.


"Berdirilah, berhenti melakukan hal bodoh seperti ini," ucap Nerissa sambil memegang kedua bahu Alvin, membuat Alvin berdiri tepat di hadapan Nerissa.


Alvin tersenyum dengan menatap wajah cantik Nerissa yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Jika ada yang ingin kau katakan cepat katakan karena aku tidak ingin Daniel menungguku terlalu lama," ucap Nerissa dengan mengalihkan pandangannya dari Alvin.


"Maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu Nerissa, maaf karena sudah mengecewakanmu, sekarang aku menyesali semua perbuatanku yang sudah menyakiti dan mengecewakanmu, apa terlalu berlebihan jika aku ingin hubungan kita kembali lagi seperti dulu?"


Nerissa terdiam beberapa saat tanpa mengatakan apapun.


"Aku tahu kau sudah menjadi milik Daniel sekarang, akupun tidak berhak untuk berharap apapun darimu, aku hanya ingin kita kembali berteman baik seperti dulu walaupun mungkin akan ada jarak diantara kita berdua," ucap Alvin.


"Bagaimana dengan Amanda? kau tahu dia tidak menyukaiku!" tanya Nerissa.


"Aku sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya, dia hanya bagian dari masa laluku Nerissa, aku memang sempat bimbang karena kedatangannya yang tiba-tiba tapi sekarang aku yakin bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi," jawab Alvin.


"Apa kau yakin?" tanya Nerissa memastikan.


"Aku yakin Nerissa, aku tidak akan membiarkannya kembali masuk dalam kehidupanku lagi, aku tidak akan membiarkannya menguasaiku lagi seperti dulu," ucap Alvin meyakinkan.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Amanda namun Alvin mengabaikannya hingga kemudian sebuah pesan masuk yang berisi foto dari Amanda.


Foto itu menunjukkan bagian pergelangan tangan Amanda yang sudah berlumuran darah dengan pisau yang ada di dekat tangannya.


"Hidupku benar-benar sudah berakhir, andai kau tahu Alvin kau adalah satu-satunya harapan hidupku saat ini dan sekarang kau sudah meninggalkanku, maka tidak ada alasan lagi untuk aku tetap hidup di dunia ini."


Alvin terdiam menatap foto dan pesan yang Amanda kirimkan padanya, ia tidak menyangka Amanda akan melakukan hal sejauh itu.