Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menemani



Di rumah Nerissa.


Nerissa beranjak dari ranjangnya tak lama setelah Marin keluar dari kamarnya. Nerissa mengambil kertas dan menulis pesan untuk Marin lalu menaruhnya di meja.


Jangan mencariku Marin, aku ingin menghabiskan waktuku di pantai sendirian malam ini, aku akan kembali besok pagi jangan menghawatirkanku, aku pasti baik-baik saja


Nerissa kemudian memesan taksi dan menaruh ponselnya di meja setelah taksi yang dipesannya datang, Nerissapun keluar dari rumah diam-diam agar tidak diketahui oleh Marin karena ia tau Marin akan mencegahnya jika Marin melihatnya saat itu.


Nerissa pergi ke pantai taksi yang sudah dipesannya, sesampainya di pantai Nerissapun berjalan ke arah pantai.


Nerissa duduk termenung di atas hamparan pasir pantai, menatap nanar hamparan gelap dihadapannya.


"maafkan Nerissa bunda, maaf karena tidak bisa menjadi putri yang baik untuk bunda, maaf karena Nerissa sudah berbohong pada bunda tentang mahkota pemberian bunda dan ayah, maafkan Nerissa, bunda......" ucap Nerissa dengan mata yang berkaca-kaca.


Nerissa menghapus air matanya yang membasahi pipinya, ia tidak ingin air matanya menjadi mutiara yang tercecer di pasir pantai yang pada akhirnya akan membuat gaduh manusia yang menemukannya.


Nerissa kemudian mendekat ke arah bibir pantai, membuat kakinya menyentuh ombak yang menyapu pantai.


Nerissa kemudian duduk membiarkan separuh badannya basah oleh ombak. Nerissa lalu memegang gelang mutiaranya dan memutarnya namun saat putaran kelima, ia menghentikannya.


Nerissa mengurungkan niatnya untuk merubah kakinya menjadi ekor, Nerissa kemudian berjalan di bawah batu karang yang besar.


Dengan hati-hati Nerissa menuruni tumpukan batu karang dan merendam dirinya disana.


Nerissa membaringkan kepalanya di atas batu karang sambil meratap sedih, ia menuntaskan rindunya pada sang bunda yang sudah lama tidak ditemuinya.


Berkali-kali Nerissa menghapus air mata di pipinya agar tidak terjatuh dan menjadi mutiara.


Tanpa Nerissa tahu Alvin sedang berjalan ke arah pantai dan mendengar suara isak tangis Nerissa saat Alvin semakin mendekat ke bibir pantai.


Alvin yang saat itu mendengar suara tangis seorang perempuan tanpa ragu mendekat ke arah sumber suara dan benar saja ia melihat seseorang yang tidak asing lagi di matanya.


Dengan rambut coklat terang yang tergerai panjang Alvin bisa dengan mudah menebak siapa perempuan yang sedang bersedih di hadapannya saat itu.


Alvin pun berjalan mendekat ke arah Nerissa membuat Nerissa segera menyadari kehadiran seseorang yang mendekat ke arahnya.


Alvin Nerissapun saling memandang untuk beberapa saat sebelum akhirnya ria ombak membasahi Alvin yang berdiri di atas batu karang di hadapan Nerissa.


Nerissa tersenyum tipis melihat Alvin yang basah, begitu juga Alvin yang tersenyum saat melihat senyum cantik Nerissa.


Alvinpun semakin mendekat dan duduk di atas batu karang yang berada di dekat Nerissa.


"Apa kau sendirian?" tanya Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


"Apa aku mengganggumu atau mungkin aku tidak seharusnya menghampirimu?" tanya Alvin yang melihat Nerissa sedang tidak baik-baik saja saat itu.


"Tidak, kau tidak menggangguku, apa yang kau lakukan disini malam hari Alvin?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku, tapi ternyata aku mendengar isak tangis yang sangat memilukan dari bawah batu karang, apa yang terjadi denganmu Nerissa? apa yang membuatmu sangat bersedih seperti ini?"


Nerissa kembali terdiam, pertanyaan Alvin membuatnya kembali merasa sangat sedih. Kedua matanya kembali berkaca-kaca menahan kerinduan yang teramat sangat pada sang Bunda.


Melihat hal itu Alvinpun merasa bersalah karena membuatnya Nerissa kembali bersedih setelah Nerissa sempat tersenyum saat riak ombak membasahi dirinya.


"Maaf jika pertanyaanku membuatmu semakin bersedih," ucap Alvin pada Nerissa.


Tiba-tiba ombak besar kembali datang menghantam tubuh Nerissa yang saat itu berada di bawah batu karang besar, membuat tubuhnya sedikit terhentak ke arah batu karang.


"Naiklah Nerissa, sepertinya laut sedang pasang!" ucap Alvin sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.


Karena sadar jika dirinya tidak bisa berenang dengan menggunakan kakinya, Nerissa pun memutuskan untuk menerima uluran tangan Alvin.


Saat Nerissa sudah berada di atas batu karang dan berdiri di hadapan Alvin, ombak kembali datang. Ketika Nerissa ingin menghindari riak ombak yang menerpanya, tanpa sadar membuatnya semakin mendekat pada Alvin.


Badan mereka saling menyentuh tanpa jarak dengan kedua tangan yang masih saling menggenggam.


Nerissa kemudian mendongakkan kepalanya bersamaan dengan itu Alvin menundukkan kepalanya membuat mereka berdua saling menatap dengan dalam.


Di bawah taburan bintang di langit dan cahaya bulan Nerissa dan Alvin masih saling menatap satu sama lain hingga ombak kembali datang dan Alvinpun menggeser posisi Nerissa untuk menghalau ria ombak agar tidak kembali membasahi tubuh Nerissa meski saat itu tubuh mereka berdua sudah sama sama basah.


Nerissapun tertawa kecil melihat sikap Alvin.


"Aku sudah sangat basah Alvin, apa yang kau lakukan itu sama sekali tidak berguna!" ucap Nerissa sambil tertawa kecil.


Alvinpun tersenyum karena melihat tawa Nerissa. Alvin kemudian menggandeng tangan Nerissa, mengajaknya turun dari batu karang dan duduk di atas hamparan pasir yang cukup jauh dari bibir pantai.


"Kau sangat cantik saat tersenyum dan tertawa Nerissa, jadi jangan terlalu lama menghabiskan waktumu untuk bersedih!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.


Alvin dan Nerissa duduk berdua berdampingan menatap deburan ombak yang menyapu pantai diantara kegelapan malam.


"Kenapa kau disini sendiri nerissa? kenapa kau tidak mengajak marin? sangat berbahaya jika kau berendam di laut sendirian saat malam seperti ini!"ucap Alvin pada Nerissa


"Aku hanya ingin menikmati kesendirianku Alvin, sebenarnya..... aku...... aku sedang merindukan Bunda," ucap Nerissa dengan suara yang parau di akhir kalimatnya.


"Dimana bundamu sekarang? apa kau tidak bisa menemuinya?"


Nerissa menggelengkan kepalanya pelan tanpa menjawab pertanyaan Alvin.


"Aku juga sering merindukan mama dan papa, saat aku merindukan mereka aku akan berusaha untuk tetap kuat dan menahan kesedihanku karena aku tidak ingin mereka berdua menyesal karena telah meninggalkanku sendirian, aku percaya semua ini sudah ditakdirkan untukku tapi walaupun begitu pada akhirnya aku akan tetap menangis saat aku benar-benar sangat merindukan mereka," ucap Alvin bercerita.


"Aku tidak akan menahan kesedihanku lagi, aku akan menuntaskan semua kesedihanku untuk beberapa saat, setelah itu aku akan kembali bangkit menjadi seseorang yang lebih kuat lagi, aku ingin mereka bangga padaku Nerissa!" lanjut Alvin bercerita.


Nerissa hanya diam memperhatikan setiap cerita yang Alvin ucapkan. Ia baru tersadar jika Alvin sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak Alvin masih kecil.


Nerissa tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya, hidupnya pasti sudah sangat hancur dan ia tidak akan bisa menjadi sekuat Alvin saat itu.


"Luapkan kesedihanmu Nerissa, setelah itu jadikan dirimu lebih kuat dari sebelumnya!" ucap Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.


Nerissa masih terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca, ia semakin merasakan kerinduan yang dalam pada sang Bunda.


Jika saja bisa, ia ingin memeluk sang Bunda dengan erat, membiarkan kehangatan pelukan sang Bunda merasuk ke dalam hatinya.


Tetes air mata pun mulai membasahi pipi Nerissa, namun ia segera mengusap air mata di pipinya agar Alvin tidak melihat air matanya yang berubah menjadi mutiara jika terjatuh dari pipinya.


Melihat Nerissa yang menangis dihadapannya, Alvin pun merengkuh Nerissa ke dalam pelukannya, membenamkan Nerissa kedalam hangat dekapannya, berharap apa yang ia lakukan bisa menenangkan hati Nerissa saat itu.


Nerissa pun menumpahkan tangisnya dalam dekapan Alvin sambil tetap menghapus air mata yang menetes di pipinya.


Hangat dekapan Alvin perlahan membuat Nerissa menjadi tenang, membaurkan semua kesedihan yang menyelimuti hatinya saat itu.


Setelah merasa lebih tenang, Nerissapun melepaskan dirinya dari pelukan Alvin.


Alvin kemudian menatap wajah sendu Nerissa lalu menghapus sisa air mata di pipi Nerissa dengan penuh kelembutan.


"Setelah ini jadikan dirimu lebih kuat dari sebelumnya Nerissa, aku yakin kau bisa menjalani hari-harimu dengan lebih baik lagi, jadilah gadis cantik yang selalu bahagia Nerissa!" ucap Alvin sambil memberikan senyumnya pada Nerissa.


Nerissapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia merasa lega karena sudah menuntaskan semua kesedihannya malam itu.


"Terima kasih Alvin, terima kasih sudah menemaniku malam ini!" ucap Nerissa pada Alvin.


"Apa kau sudah merasa membaik sekarang?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Nerissa.


"Good girl!" ucap Alvin sambil menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Nerissa.


"Apa kau mau pulang sekarang? aku akan mengantarmu pulang!" lanjut Alvin bertanya.


"Tidak Alvin, aku tidak ingin pulang malam ini, aku sudah memberitahu Marin bahwa aku akan pulang besok pagi aku.... aku masih ingin menikmati waktuku sendiri!" jawab Nerissa.


"Kau pulang saja jika kau memang ingin pulang!" lanjutnya.


"Tidak, aku akan menemanimu disini," balas Alvin.


Alvin kemudian merebahkan badannya di atas hamparan pasir diikuti oleh Nerissa yang juga berbaring di sampingnya, menatap hamparan bintang-bintang di atas gelapnya langit malam.


"Melihat kerlip bintang seperti ini adalah hal yang sangat membahagiakan untukku Alvin, bagaimana denganmu?" ucap Nerissa sekaligus bertanya.


"Kesunyian adalah surga bagiku Nerissa, berdiam diri disini seorang diri dengan pemandangan seperti ini adalah surga yang sempurna bagiku," jawab Alvin.


"Apa aku mengganggu surgamu sekarang?" tanya Nerissa.


"Tentu saja tidak, justru kau yang membuatnya semakin indah," jawab Alvin sambil membawa pandangannya pada Nerissa dengan tersenyum.


Nerissapun tersenyum mendengar jawaban Alvin yang membuatnya tersipu.


"kenapa bukan kau yang menyatakan perasaanmu padaku Alvin? kenapa harus Daniel? aku tahu dunia kita memang berbeda tetapi tidak ada salahnya bukan jika aku menyukaimu dan berharap untuk memilikimu walaupun hanya sesaat," ucap Nerissa dalam hati.


"Daniel pasti sangat mengkhawatirkanmu sekarang, dia mengatakan padaku bahwa kau mengabaikan panggilannya dari tadi!" ucap Alvin membuyarkan lamunan Nerissa.


"Apa dia marah padaku?" tanya Nerissa.


"Mana mungkin dia bisa marah padamu, justru dia sangat mengkhawatirkanmu," jawab Alvin.


"Aku akan menghubunginya besok," balas Nerissa.


Waktupun berlalu, malam semakin larut hingga pada akhirnya Alvin dan Nerissa pun tertidur di atas hamparan pasir beratapkan kerlip bintang dan cahaya terang sang bulan.


Saat mentari sudah mengintip di ujung langit timur, Alvin mengerjapkan matanya dan menyadari jika dirinya tertidur di tepi pantai bersama Nerissa.


"aaahhh sial.... kenapa aku bisa tertidur di sini? apa Nerissa baik-baik saja? aku khawatir dia akan sakit karena bermalam di sini!"


Alvin kemudian menyentuh tangan Nerissa, berniat untuk membangunkan Nerissa, namun belum sampai Alvin memanggilnya, Nerissa sudah terbangun.


"Aku tertidur rupanya," ucap Nerissa yang segera terbangun dan duduk.


"Waaaah indah sekali mataharinya....... aku baru pertama kali melihatnya," ucap Nerissa yang takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Apa kau belum pernah melihat sebelumnya?" tanya Alvin.


"Belum, aku hanya pernah melihat langit senja sebelumnya, ini benar-benar pemandangan yang indah dan sangat cantik sekali!"


"Memang sangat cantik tetapi tidak secantik dirimu," balas Alvin yang kembali membuat Nerissa tersipu.


Setelah puas menatap lukisan cantik dari mentari, Nerissa dan Alvin pun beranjak dari duduknya.


"Kau harus pulang Alvin, kau harus segera bersiap untuk berangkat ke kantor!" ucap Nerissa pada Alvin.


"Aku akan mengantarmu terlebih dahulu," ucap Alvin.


"Tidak perlu Alvin, aku......"


"Tolong jangan menolakku lagi Nerissa, aku hanya ingin mengantarmu pulang, apa tidak boleh?"


Nerissa tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, antar aku pulang setelah itu kau harus segera pulang, jika tidak kau akan terlambat sampai ke kantor!" ucap Nerissa.


Alvin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.


Setelah mengenakan sepatu mereka masing-masing, Nerissa dan Alvin pun meninggalkan pantai, Alvin mengantar Nerissa pulang ke rumahnya.


"Apakah suasana hatimu sudah membaik Nerissa?" tanya Alvin pada Nerissa saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, berkat bantuanmu," jawab Nerissa.


"Aku tidak membantu apapun, kau sendiri yang sudah berhasil mengalahkan kesedihanmu!" ucap Alvin.


"tetapi kau yang sudah menemaniku semalam Alvin, kau bahkan memelukku, apa itu sama sekali tidak berarti untukmu? apa hanya aku saja yang merasakan kebahagiaan kebersamaan kita semalam?" tanya Nerissa dalam hati.


"Bersiaplah untuk menyambut hari-harimu yang lebih indah Nerissa, aku yakin kau akan lebih bahagia dan lebih kuat dari sebelumnya, semua kesedihan yang kau rasakan akan membuatmu semakin tumbuh lebih baik dalam menjalani hidupmu!" ucap Alvin ada Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"apa kau memang sebaik ini Alvin? apa kau melakukan hal ini pada Delia dan perempuan lainnya juga? apa aku yang terlalu terbawa perasaan karena sikap manismu semalam? apa aku sudah salah paham atas sikap baikmu padaku?" batin Nerissa bertanya-tanya dalam hatinya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Alvin dan Nerissa pun sampai. Alvin menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin.


Saat Alvin dan Nerissa baru saja keluar dari mobil, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di belakang mobil Alvin.


Alvin dan Nerissapun kompak membawa pandangan mereka ke arah mobil yang berhenti di belakang mobil Alvin, sampai si pemilik mobil turun dari mobilnya.


Alvin berusaha untuk tetap menjaga sikapnya dengan tenang meski sebenarnya ia gugup, takut jika Daniel salah paham padanya karena melihat dirinya dan Nerissa yang baru saja turun dari mobil dengan bersamaan.