Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bertemu Cordelia



Malam telah berlalu, pagi pagi sekali Nerissa terbangun karena sakit di kakinya yang semakin terasa.


Saat Nerissa melihat ke arah kakinya, ia begitu terkejut dan segera membangunkan Marin.


"Marin bangunlah, cepatlah bangun Marin!" ucap Nerissa dengan menggoyangkan badan Marin.


"Aaahhh Putri, kau mengganggu tidurku saja!" balas Marin dengan masih memejamkan matanya.


"Aaahhhhh...... Marin..... kakiku sakit sekali, lihatlah, sepertinya terjadi sesuatu pada kakiku," ucap Nerissa yang membuat Marin segera membuka matanya lebar lebar.


Marin membelalakkan matanya terkejut melihat kaki Nerissa yang merah dan bengkak.


"Aku akan memanggilnya!" ucap Marin lalu segera beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar.


"Marin, kau mau mau kemana?" tanya Nerissa yang tidak mendapat jawaban dari Marin karena Marin sudah berlari ke arah kamar Alvin.


Semalam Marin melihat Alvin memasuki salah satu kamar, jadi Marin berpikir jika itu adalah kamar Alvin.


Tooook tooookkk tooookkk


Marin mengetuk pintu kamar Alvin dengan keras.


"Hei kau yang ada di dalam, keluarlah dan tolong temanku, dia sedang kesakitan sekarang!" ucap Marin sambil terus mengetuk pintu kamar Alvin.


Alvin yang mendengar hal itu segera membuka pintu kamarnya dan berlari ke arah kamar Nerissa.


Alvin kemudian menghampiri Nerissa dan melihat kaki Nerissa yang saat itu sudah bengkak dan merah.


"Kau pasti terkilir semalam!" ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya diam menatap laki laki di hadapannya. Setelah beberapa kali ia bertemu dengan Alvin, ia begitu bahagia karena bisa berada sedekat itu dengan Alvin.


Nerissa bahkan masih ingat aroma tubuh Alvin saat Alvin menggendongnya semalam.


"Apa kau tidak mengingatku?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Aku akan memanggil Bi Sita untuk membantumu," ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya sedih karena laki laki yang ia temui saat itu begitu berbeda dengan laki laki yang ia temui di tepi pantai.


Tak lama kemudian Bi Sita datang dan melihat keadaan kaki Nerissa kemudian memijitnya. Sesekali Nerissa berteriak karena kesakitan, namun setelah selesai, ia merasa kakinya sedikit membaik karena pijatan bi Sita.


"Jangan dibuat berjalan dulu ya non, nanti bibi pijitin lagi biar cepet sembuh," ucap bi Sita pada Nerissa.


"Terima kasih......." ucap Nerissa menggantung kalimatnya karena tidak mengetahui nama bi Sita.


"Namanya saya bi Sita non, panggil saja bibi," ucap bi Sita yang mengerti apa yang Nerissa pikirkan.


Nerissa menganggukan kepalanya dengan tersenyum.


"Bibi mau lanjut masak dulu ya, Tuan Alvin pasti sudah menunggu di meja makan," ucap bi Sita pada Nerissa.


Nerissa kembali menganggukan kepalanya.


"Tuan Alvin?" batin Nerissa dalam hati.


Marin kemudian duduk di tepi ranjang dengan menyentuh kaki Nerissa.


"Aaawww, sakit Marin!" ucap Nerissa dengan memukul tangan Marin.


"Hehe.... maaf," balas Marin.


Alvin yang sedang berada di meja makan segera menanyakan keadaan Nerissa pada Bi Sita saat bi Sita menyiapakan sarapan untuknya.


"Bagiamana keadaan Nerissa bi?" tanya Alvin pada Bi Sita.


"Kakinya masih sedikit bengkak Tuan, jadi bibi memintanya untuk tidak berjalan sementara waktu, mungkin nanti malam bengkaknya sudah hilang," jawab bi Sita.


"Tolong bawa sebagian makanan ini ke kamarnya Bi," ucap Alvin pada Bi Sita.


"Baik Tuan," balas Bi Sita.


Bi Sita pun membawa makanan itu ke kamar Nerissa dan Marin.


"Lihatlah Putri, dia sangat baik pada kita, mungkin dia sudah mengingatmu sekarang!" ucap Marin pada Nerissa saat bi Sita sudah meninggalkan kamar mereka.


"Hmmm.... entahlah Marin," balas Nerissa tak bersemangat.


"Mungkin itu Daniel," ucap Marin pada Nerissa.


"Ayo bantu aku berjalan, kita harus menemuinya di bawah," ucap Nerissa.


Marinpun membantu Nerissa untuk berjalan, namun saat mereka berada di tangga paling atas, mereka melihat seorang perempuan yang berlari dan memeluk Alvin.


"Pagi sayang," ucap Cordelia dengan memeluk Alvin manja seperti biasa.


"Sayang?" tanya Alvin.


"Iya, apa kau lebih suka kalau aku memanggilmu honey?"


"Terserah kau saja," balas Alvin dengan tersenyum tipis.


Saat Cordelia akan duduk, ia melihat dua perempuan berdiri di atas tangga.


"Mereka siapa Alvin?" tanya Cordelia dengan menatap tajam pada Nerissa dan Marin.


Alvinpun membawa pandangannya ke arah pandangan Cordelia tertuju.


"Mereka.... mereka teman....."


"Kenapa mereka sudah berada disini pagi pagi seperti ini? apa mereka menginap disini?" tanya Cordelia memotong ucapan Alvin.


"Mereka memang menginap Delia, tapi...."


"Menginap? kau membiarkan mereka menginap disini? siapa mereka? kenapa kau membiarkan mereka menginap disini?" tanya Cordelia penuh emosi.


"Mereka teman teman Daniel, Daniel yang memaksaku untuk menerima mereka menginap disini, lagi pula pagi ini Daniel akan menjemput mereka!" ucap Alvin menjelaskan.


"Teman teman Daniel? apa kau juga mengenal mereka?" tanya Cordelia.


"Aku? tentu saja tidak," jawab Alvin.


"Aku tidak mau melihat mereka berada disini Alvin, jadi pastikan mereka segera meninggalkan rumahmu pagi ini juga!" ucap Cordelia lalu menghempaskan dirinya di kursi dengan kasar.


"Iya, sebentar lagi Daniel akan menjemput mereka," balas Alvin.


Nerissa yang melihat dan mendengar hal itu segera membalikkan badannya dan mengajak Marin untuk masuk ke kamar.


Entah kenapa hatinya terasa sakit saat mendengar ucapan Alvin yang berkata jika dia tidak mengenal Nerissa.


"Kita harus segera pergi dari sini Marin," ucap Nerissa dengan raut wajah sedih.


"Iya Putri, sebentar lagi Daniel akan datang menjemput kita," balas Marin.


Setelah beberapa lama menunggu, Alvin memberi tahu mereka jika Daniel tidak bisa menjemput mereka karena suatu alasan yang mendesak.


Mereka harus menunggu sampai sore setelah Daniel menyelesaikan urusannya.


Nerissapun berdiri dari duduknya dan mengajak Marin untuk segera pergi.


"Tapi kakimu masih sakit Putri," ucap Marin.


"Tidak, aku sudah baik baik saja, kita harus segera pergi dari sini Marin," balas Nerissa.


"Tunggulah sebentar, Daniel akan menjemput kalian nanti sore," ucap Alvin.


Nerissa hanya diam dan tetap berdiri, berniat untuk berjalan keluar dari kamar itu. Namun Nerissa kembali terjatuh dan berhasil ditangkap oleh Alvin.


"Jangan keras kepala, tunggu saja disini!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Tidak, aku akan pergi dari sini sekarang juga!" ucap Nerissa dengan melepaskan dirinya dari Alvin kemudian meraih tangan Marin agar membantunya berjalan.


Saat Nerissa akan melewati Alvin, Alvin menahan tangan Nerissa dan dengan cepat menggendong Nerissa kemudian menjatuhkannya di atas ranjang.


"Kau....."


"Tetap disini sampai Daniel datang!" ucap Alvin dengan tegas.


"Jaga temanmu disini kalau dia masih ingin kakinya sembuh!" ucap Alvin pada Marin kemudian keluar dari kamar itu begitu saja.


Marin hanya diam tidak tau harus berbuat apa. Sedangkan Nerissa hanya menatap Alvin yang pergi dengan emosi dalam dirinya.