
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 12 dini hari, Daniel masih bersama papanya bermain catur di ruang tengah.
Mereka lebih banyak mengobrol tentang pekerjaan daripada hal lain. Sejak 1 tahun terakhir hubungan Daniel dengan sang papa memang semakin berjarak karena kemarahan Daniel pada sang papa yang suka membentak mamanya.
Namun setelah Daniel mengerti masalah yang sebenarnya ia tidak lagi memendam amarah pada sang papa walaupun ia juga tidak membenarkan sikap sang papa yang sering mengabaikan mamanya.
Perlahan Daniel berusaha untuk kembali dekat dengan sang papa, tidak hanya untuk masalah pekerjaan tetapi juga dekat sebagai keluarga.
Daniel percaya ia pasti bisa membawa keluarganya ke dalam jalan keharmonisan keluarga yang selama ini terasa jauh darinya.
Meski ia membiarkan sang mama untuk menyerah tetapi ia sendiri tidak akan menyerah demi mempertahankan keluarganya.
"Ada sesuatu yang ingin Daniel katakan pada papa, tetapi ini rahasia di antara kita berdua jadi Daniel harap papa tidak menceritakan hal ini pada siapapun termasuk mama," ucap Daniel pada sang papa.
"Rahasia apa yang ingin kau katakan Daniel?"
"Mmmm..... sepertinya Daniel sedang jatuh cinta," ucap Daniel sambil menundukkan kepalanya.
"Jatuh cinta? pada siapa? apa gadis yang pernah kau bawa kesini?" tanya sang papa yang sedikit terkejut karena Daniel menceritakan masalah pribadinya tiba-tiba.
"Bukan, dia hanya teman Daniel, ada gadis lain yang Daniel sukai pa, tetapi sepertinya dia tidak menyukai Daniel, menurut papa apa yang harus Daniel lakukan sekarang?"
"Tentu saja kau tidak boleh menyerah, papa tidak pernah mengajarimu untuk berhenti berusaha sampai titik darah penghabisan sekalipun, kau tahu itu bukan?"
"Walaupun sudah jelas dia tidak menyukai Daniel?"
"Kau memang tidak bisa mengendalikan hati seseorang untuk menyukaimu, tetapi dengan usaha yang kau lakukan bisa jadi hati seseorang itu akan luluh karena usahamu, daripada hanya berdiam diri dan menyerah lebih baik berusaha meskipun nanti hasilnya tidak seperti yang kau inginkan, setidaknya kau bukan pecundang yang menyerah tanpa berusaha!" ucap sang papa.
Daniel tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Ia merasa sudah sangat lama tidak mengobrol santai seperti itu dengan sang papa, apalagi mendengar nasihat dari sang papa.
"Papa tahu kau tidak akan mudah menyerah Daniel!" ucap papa Daniel sambil menepuk bahu Daniel, kemudian beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar.
Daniel kemudian membereskan papan caturnya lalu masuk ke dalam kamar dan membaringkan badannya di ranjang.
"Hari yang sangat menyenangkan, hari ini seperti lembaran baru dalam hidupku!" ucap Daniel kemudian mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Marin.
Namun saat ia melihat jam yang sudah menunjukkan lewat tengah malam, ia pun mengurungkan niatnya, ia khawatir akan mengganggu Marin yang sedang tertidur malam itu.
"Aku sudah tidak sabar untuk menceritakan pada Marin tentang apa yang baru saja aku lakukan dengan papa," ucap Daniel sambil tersenyum senang, tidak sabar menantikan hari esok untuk bercerita pada Marin.
Daniel kembali menaruh ponselnya di meja kemudian memejamkan matanya. Dalam gelap pandangnya ia seolah berbicara pada Nerissa yang berada jauh dari hadapannya.
"aku memang tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu Nerissa, tetapi jika memang kebahagiaanmu bersama Alvin maka aku akan merelakannya karena aku tahu Alvin juga mencintaimu," ucap Daniel dalam hati.
**
Waktu berlalu, pagi telah datang. Setelah bersiap-siap Daniel keluar dari kamarnya berjalan ke arah meja makan.
"Waaah sepertinya mama memasak sangat banyak hari ini," ucap Daniel yang melihat menu masakan yang lebih banyak daripada biasanya.
"Iya, mama sedang bersemangat memasak pagi ini," balas mama Daniel kemudian menaruh piring untuk Daniel dan sang suami di tempatnya masing-masing.
Tak lama kemudian papa Daniel keluar dari kamarnya lalu menghampiri Daniel dan sang istri di meja makan.
"Apa ada acara penting pagi ini? kenapa mama memasak banyak sekali?" tanya papa Daniel pada sang istri.
"Tidak ada, mama hanya ingin memasak saja," jawab mama Daniel.
"Mama tidak perlu memasak sebanyak ini karena papa harus segera berangkat sekarang!"
"Kalau begitu mama bawakan bekal untuk papa," ucap Mama Daniel yang segera beranjak dari duduknya.
"Tidak perlu!" ucap papa Daniel lalu menyeruput minuman di hadapannya lalu segera berjalan keluar dari rumah.
Mama Daniel hanya menghela nafasnya kemudian duduk di samping Daniel.
"Daniel yang akan menghabiskan semua masakan mama pagi ini!" ucap Daniel dengan tersenyum pada sang mama.
"Terima kasih sayang," ucap sang Mama yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Setelah Daniel menyelesaikan sarapannya, iapun segera berangkat ke kantor.
Daniel mengendarai mobilnya dengan penuh semangat, ia akan memulai hari barunya pagi itu.
Meskipun beberapa kenyataan pahit baru saja ia ketahui tetapi ia berusaha untuk menjalani harinya dengan lebih baik dan menghadapi semua kenyataan yang sebelumnya ia benci.
Ia percaya dan yakin kenyataan yang terasa pahit itu akan berubah menjadi manis jika dia bisa menerima dan menjalaninya dengan baik.
Sesampainya di kantor, Daniel berlari kecil mengejar Alvin yang saat itu berjalan melewati resepsionis.
"Alvin tunggu!" panggil Daniel yang membuat Alvin menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Daniel.
Merekapun berjalan berdua ke arah lift yang akan membawa mereka berdua ke ruangan mereka.
"Kenapa kau terlihat bersemangat sekali? apa ada hal baik yang terjadi pagi ini?" tanya Alvin pada Daniel yang tampak penuh semangat pagi itu.
"Mmmm..... tidak juga, tetapi semalam aku bermain catur bersama papa," jawab Daniel.
"Bermain catur bersama papamu?" tanya Alvin yang sedikit terkejut mendengar ucapan Daniel, karena sejauh yang ia tahu Daniel dan papanya tidak memiliki hubungan yang cukup baik sejak 1 tahun terakhir, sejak hubungan mama dan papanya memburuk karena pertengkaran yang sering terjadi.
"Apa kau tidak percaya?" tanya Daniel yang melihat Alvin seperti meragukan ucapannya.
"Bukan tidak percaya, hanya aneh saja, sejak kapan kau menjadi dekat dengan papamu?"
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti membenci papa, lebih baik aku berdamai dengan papa dan dengan perlahan membuat mama dan papa kembali akur seperti dulu, sepertinya itu lebih baik daripada aku memperkeruh suasana di rumahku yang sudah memburuk!" ucap Daniel.
"Lalu bagaimana dengan papamu? apa papamu sudah tidak mengabaikanmu dan mamamu?"
"Aku sudah bisa mengobrol dengan papa walaupun cuma sebentar dan sikap papa pada mama masih seperti biasanya, tetapi aku yakin pelan-pelan aku akan membuat papa kembali menjadi sosok suami dan papa yang hangat di keluargaku," jawab Daniel penuh keyakinan.
Alvin menganggukkan kepalanya sambil menepuk-nepuk bahu Daniel.
"Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keluargamu Daniel, aku harap semuanya akan kembali jauh lebih baik," ucap Alvin yang dibalas anggukan kepala Daniel.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang, Marin masih berada di rumahnya bersama Nerissa.
Ia sengaja tidak membuka toko bunganya karena ingin menemani Nerissa yang saat itu sedang terluka kakinya.
"Seharusnya kau bisa membuka toko bungamu Marin, kau tahu aku tidak merasakan sakit karena lukaku ini bukan? jadi aku masih bisa mengantar buket bunga pesanan!" ucap Nerissa menggerutu karena sudah sangat bosan berdiam diri di rumah.
"Daniel dan Alvin pasti akan memarahiku jika aku melakukan itu Putri, lukamu itu cukup parah jadi wajar jika mereka berdua mengkhawatirkanmu!"
"Kalau saja mereka tidak tahu tentang luka ini pasti aku sudah menyembuhkannya sendiri, sekarang aku cuma bisa duduk diam disini padahal aku sama sekali tidak merasakan sakit pada kakiku!"
"Jika kau bosan disini, apa kau mau ikut denganku?"
"Ke rumah Daniel, mamanya memintaku untuk datang kesana," jawab Marin.
"Kalau itu kau harus datang sendiri Marin!" balas Nerissa.
"Kenapa? bukankah kau sudah bosan di rumah?"
"Tetapi lebih baik aku di rumah daripada aku ikut denganmu, mama Daniel sangat menyukaimu Marin jadi sudah pasti Mama Daniel hanya ingin bertemu denganmu, bukan denganku!"
"Kau selalu saja berkata seperti itu Putri, padahal mama Daniel hanya bersikap seperti itu karena aku dan mama Daniel....."
"Mempunyai hobi yang sama?" ucap Nerissa memotong ucapan Marin.
Marin hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya pada Nerissa.
"Cepat pergilah, mama Daniel pasti akan sangat senang melihatmu ke rumahnya!"
"Lalu bagaimana denganmu? kau pasti akan semakin bosan jika aku meninggalkanmu!"
"Aku akan tidur atau berjalan-jalan ke minimarket untuk membeli banyak rumput laut kering," balas Nerissa.
"Tapi......."
"Jangan mengkhawatirkanku Marin, kau tahu aku baik-baik saja saat ini!"
"Baiklah, aku akan menyiapkan buket bunga untuk mama Daniel sebelum aku pergi!" ucap Marin kemudian beranjak dari duduknya.
Marin kemudian masuk ke dalam toko bunga dan membuat buket bunga yang akan ia berikan pada Mama Daniel.
Setelah buket bunga lili dan Peony sudah selesai Marin buat, ia pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Daniel.
Tak lupa Marin menanyakan alamat rumah Daniel pada Alvin karena ia tidak mungkin bertanya pada Daniel yang sudah pasti tidak akan memberitahunya.
"Putri aku berangkat, jaga dirimu baik-baik dan hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Marin pada Nerissa.
"Nikmati waktumu bersama calon mertuamu Marin hahaha....."
Marin hanya tersenyum tipis kemudian keluar dari rumah dengan membawa buket bunga lili dan Peony.
Marinpun masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di depan rumah. Sepanjang perjalanan, Marin sedikit gugup karena ia harus bertemu mama Daniel seorang diri.
Sesampainya di depan rumah Daniel, Marin membawa langkahnya masuk setelah satpam mengizinkannya untuk masuk.
Marina memencet beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.
"Selamat siang tante," sapa Marin pada mama Daniel yang membuka pintu.
Mama Daniel tersenyum senang melihat kedatangan Marin, mama Danielpun segera mengajak Marin masuk ke dalam rumah.
"Ini buket bunga untuk tante, semoga tante suka," ucap Marin sambil memberikan buket bunga yang di bawanya pada mama Daniel.
"Lili dan Peonny, kebahagiaan dan kemakmuran dalam keluarga, kau sangat tahu apa yang tante butuhkan Marin, terima kasih karena sudah membawanya untuk tante!"
"Wama-sama tante," balas Marin dengan tersenyum senang karena Mama Daniel menyukai buket bunga yang ia bawa.
"Kenapa kau tidak datang bersama Daniel Marin? dia bisa menjemputmu jika kau ingin datang kesini!"
"Marin tidak ingin merepotkan Daniel tante, lagi pula sekarang Daniel pasti masih berada di kantor," jawab Marin.
"Lain kali kau harus kesini bersama Daniel, biarkan dia menjemput dan mengantarmu!"
"Marin sudah terbiasa ke mana-mana sendiri tante, lagi pula jarak rumah tante dan rumah Marin tidak terlalu jauh, jadi Marin bisa memesan taksi untuk datang ke sini," ucap Marin.
"Kau memang gadis yang baik Marin, tetapi tante tidak akan membiarkanmu datang ke sini seorang diri, Daniel yang harus menjemputmu!" ucap Mama Daniel sambil membelai paras cantik Marin.
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Ia teringat ucapan Daniel padanya saat mereka sedang berada di bianglala.
sepertinya nama akan lebih suka jika kau datang bersamaku, kau akan tahu bagaimana respon mama nanti setelah mama tahu jika kau datang tidak bersamaku
"Bagaimana liburan kalian kemarin? sepertinya Daniel terlihat senang setelah pulang dari berlibur bersamamu!" tanya Mama Daniel.
"Liburan yang menyenangkan tante, kita mencoba banyak wahana bermain di taman bermain," jawab Marin.
Marin dan mama Danielpun membicarakan banyak hal, tidak hanya tentang Daniel tetapi juga tentang bunga dan tanaman hias lainnya.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, mama Daniel menghubungi Daniel, meminta Daniel untuk pulang ke rumah.
"Sepertinya Marin harus pulang sekarang tante, Putri sedang sakit di rumah jadi Marin tidak bisa terlalu lama meninggalkannya," ucap Marin pada Mama Daniel.
"Tunggu sebentar Marin, Daniel akan mengantarmu pulang, tante sudah menghubunginya memintanya untuk segera pulang!"
"Marin terlalu merepotkan jika harus meminta Daniel untuk mengantar Marin pulang tante, Marin tidak ingin mengganggu pekerjaan Daniel di kantor," ucap Marin.
"Tenang saja Marin, Daniel sudah dalam perjalanan pulang sekarang, jadi tunggu saja dia disini!"
Marin pun hanya bisa pasrah mengikuti ucapan Mama Daniel yang memintanya untuk menunggu Daniel.
Setelah beberapa lama menunggu, Daniel pun tiba di rumah.
"Apa kau mau pulang sekarang Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Iya, aku tidak ingin Putri di rumah sendirian terlalu lama," jawab Marin.
"Setidaknya kau harus makan siang sebelum pulang!" ucap Daniel.
"Aku bisa makan siang di rumah, aku......"
"Makan siang tidak akan membutuhkan banyak waktu Marin, ayo!" ucap Daniel memotong ucapan Marin sambil menarik tangan Marin keluar dari rumah.
"Daniel pergi mengantar Marin ma!" ucap Daniel pada sang Mama yang hanya diam dengan senyum di bibirnya melihat kedekatan Daniel dan Marin.
Danielpun mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya bersama Marin. Sebelum mengantar Marin pulang, Daniel mengajak Marin untuk makan siang di salah satu kedai yang tidak jauh dari rumah Marin.
"Bagaimana? apa kau mau datang ke rumah sendirian lagi?" tanya Daniel pada Marin saat mereka sudah sampai di kedai.
"Mmmmmm..... sepertinya aku harus menunggu kau menjemputku jika ingin ke rumahmu lagi," jawab Marin yang membuat Daniel terkekeh.
"Hahaha...... bukankah aku sudah memberitahumu?"
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan apapun.
"Maafkan sikap mama Marin, mama bersikap berlebihan padamu karena kau adalah perempuan pertama yang aku kenalkan pada mama, aku akan memberitahu mama agar mama tidak bersikap berlebihan padamu!" ucap Daniel.
"Aku tidak menganggap Tante Yasmin bersikap berlebihan padaku, lagi pula aku merasa nyaman dekat dengan Tante Yasmin, membuatku bisa merasakan kedekatan seorang anak dengan ibunya," ucap Marin dengan tersenyum tipis namun raut wajahnya tampak sedih.