Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Memaksakan Perasaan



Cordelia masih berada di rumah Nerissa untuk meminta Nerissa melepaskan Alvin, dengan begitu ia bisa menolak tanpa ragu tiket yang Ricky berikan padanya karena sebenarnya ia pun ragu untuk menerima tiket itu jika dia harus menggagalkan rencana peragaan busana yang sudah Alvin persiapkan dengan matang.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Nerissa berdering, sebuah panggilan dari Alvin membuat Nerissa segera menerima panggilan itu.


"Halo Alvin," ucap Nerissa, membuat Cordelia segera membawa pandangannya pada Nerissa.


"Halo Nerissa, apa Marin sudah menutup toko bunganya? aku sudah menghubunginya beberapa kali tapi dia tidak menerima panggilanku," tanya Alvin.


"Kita baru saja menutup toko bunga, ada apa Alvin?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Apa aku bisa membeli buket bunga untuk aku ambil sekarang?"


"Tentu saja bisa, buket bunga seperti apa yang kau inginkan?"


"Aku sudah mengirim pesan pada Marin, minta dia untuk membaca pesanku, aku akan segera sampai disana beberapa menit lagi," jawab Alvin.


"Baiklah aku akan memberitahu Marin," balas Nerissa.


Panggilanpun berakhir, Nerissa kembali menaruh ponselnya di meja.


"Delia, aku....."


"Pikirkan baik-baik Nerissa, aku akan memberimu waktu satu hari," ucap Cordelia memotong ucapan Nerissa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah Nerissa begitu saja.


Nerissa hanya menghela nafasnya lalu beranjak dari duduknya untuk memberi tahu Marin tentang pesanan buket bunga dari Alvin.


Setelah memberitahu Marin, Nerissapun membantu Marin untuk menyiapkan buket bunga pesanan Alvin.


"Apa yang Delia bicarakan denganmu Putri? dia tidak menyakitimu bukan?" tanya Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun sambil memetik beberapa helai daun yang akan dipakai untuk membuat buket bunga.


"Apa dia mengatakan sesuatu yang mengganggumu Putri?" tanya Marin khawatir.


Nerissa kemudian meletakkan bunga di tangannya dan membawa pandangannya pada Marin.


"Marin, jika kau dipaksa untuk meninggalkan orang yang kau cintai demi kebaikan orang yang kau cintai itu, apa kau akan tetap meninggalkannya?" tanya Nerissa yang membuat Marin seketika menghentikan kegiatannya.


"Apa Delia memaksamu untuk meninggalkan Alvin?" terka Marin.


Nerissa hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun sambil kembali memetik daun yang ada di hadapannya.


"Aku sudah menduga, setelah dia berhasil menyingkirkan Amanda dia juga pasti akan menyingkirkanmu Putri," ucap Marin lalu kembali melanjutkan merangkai buket bunga pesanan Alvin.


"Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan untuk bersama Alvin walaupun hanya sesaat," ucap Nerissa.


"Kenapa kau berbicara seperti itu Putri? aku tahu kau mencintai Alvin dan Alvin pun juga memiliki perasaan yang sama sepertimu!"


"Terlalu banyak masalah yang terjadi di antara kita berdua Marin, seolah takdir memberikan isyarat bahwa kita berdua memang tidak seharusnya bersama," balas Nerissa.


"Menurutku itu bukan isyarat, itu adalah sebuah ujian untuk meyakinkan perasaan kalian masing-masing dan untuk membuktikan seberapa dalam perasaan kalian berdua," ucap Marin.


Nerissa menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di sofa yang ada disana.


"Entahlah Marin, aku bingung, saat aku merasa aku bisa bersama Alvin tiba-tiba datang masa lalu Alvin, saat masa lalu Alvin sudah pergi datang lagi masalah baru yang memaksaku untuk menjauh dari Alvin, lalu sekarang apa yang harus aku lakukan Marin?" ucap Nerissa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau mendengarkan Delia, kau tidak harus meninggalkan Alvin hanya demi Delia, Putri," balas Marin


"Tapi ini bukan demi Delia, tapi demi Alvin," ucap Nerissa.


"Kenapa kau meninggalkan Alvin demi Alvin? bukankah itu akan membuat Alvin bersedih?" tanya Marin tak mengerti.


Nerissa kemudian menceritakan apa yang Cordelia katakan padanya, membuat Marin terdiam untuk beberapa saat setelah ia mendengar cerita dari Nerissa.


"Apa Delia tidak menceritakan dengan pasti kejadian yang sebenarnya? apa yang membuat Alvin bersedih dan impian apa yang harus Delia korbankan demi Alvin?" tanya Marin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah Nerissa, membuat Nerissa segera beranjak dari duduknya.


"Aku akan masuk Marin, aku akan memikirkan ini baik baik," ucap Nerissa kemudian masuk ke dalam rumah.


Marin hanya menghela nafasnya lalu membawa buket bunga yang baru selesai dikerjakannya dan memberikannya pada Alvin yang sudah menunggunya di depan rumah.


"Terima kasih Marin, maaf sudah merepotkanmu," ucap Alvin setelah ia menerima buket bunga pesanannya.


"Tidak apa, jika bukan kau aku tidak mungkin menerima pesanan buket bunga mendadak seperti ini," balas Marin.


"Sekali lagi terima kasih Marin, lain kali aku tidak akan memesannya mendadak seperti ini," ucap Alvin.


Marin hanya menganggukkan kepalanya namun saat Alvin akan kembali masuk ke dalam mobil Marin memanggilnya.


"Alvin, tunggu!" ucap Marin yang membuat Alvin menghentikan langkahnya dan mengembalikan badannya ke arah Marin.


"Apa kau tahu Delia baru saja menemui Putri?" tanya Marin yang membuat Alvin mengernyitkan keningnya.


"Tidak, aku tidak tahu, kenapa Delia menemui Nerissa?" balas Alvin bertanya.


"Aku juga tidak tahu karena mereka hanya berbicara berdua, tapi sepertinya obrolan mereka cukup serius," jawab Marin.


"Dimana Nerissa? apa aku bisa berbicara dengannya sekarang?" tanya Alvin.


"Putri tidak ingin menemuimu Alvin, aku rasa ini ada hubungannya dengan obrolannya bersama Cordelia beberapa waktu yang lalu," jawab Marin.


"Aaaahhh masalah apa lagi ini?" ucap Alvin sambil mengacak acak rambutnya kesal.


Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"Marin, tolong hubungi aku jika Nerissa menceritakan sesuatu padamu, aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi antara aku dan Nerissa, aku akan coba bertanya pada Delia walaupun aku tidak yakin jika dia mau menjawab pertanyaanku dengan jujur," ucap Alvin pada Marin.


"Iya aku mengerti," balas Marin.


"Terima kasih Marin," ucap Alvin lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Marin.


Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit untuk menemui dokter Jessica yang sedang dirawat di rumah sakit saat itu.


Sesampainya disana, iapun segera masuk ke ruangan dokter Jessica.


"Maaf karena Alvin baru sempat menjenguk dok, Alvin baru tahu jika dokter Jessica dirawat disini," ucap Alvin sambil memberikan buket bunga pada dokter Jessica.


"Tidak apa Alvin, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk," balas dokter Jessica.


Hubungan Alvin dengan dokter Jessica memang sangat dekat, lebih dekat dari sekedar pasien dan dokter karena Alvin sudah banyak bercerita tentang masalahnya pada dokter Jessica.


"Alvin tidak akan menjawab pertanyaan dokter karena Alvin ke sini untuk menjenguk dokter Jessica, bukan untuk berkonsultasi," jawab Alvin yang membuat dokter Jessica terkekeh.


"Apa ini tentang Nerissa?" tanya Dokter Jessica yang membuat Alvin pada akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Dia tiba-tiba tidak ingin menemui Alvin setelah dia membicarakan sesuatu dengan Delia, Alvin tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan dan jika Alvin bertanya pada Delia Alvin tidak yakin Delia akan menjawabnya dengan jujur," ucap Alvin.


"Bisa jadi apa yang Delia katakan pada Nerissa membuat Nerissa tidak ingin menemuimu, tapi kau jangan terlalu banyak berpikir Alvin mungkin Nerissa tidak ingin menemuimu karena dia masih memikirkan sebuah keputusan yang harus diambil tentangmu," ucap dokter Jessica.


"Keputusan? keputusan apa maksud dokter?" tanya Alvin.


"Yang tahu jawabannya hanya Delia dan Nerissa, tapi sepertinya apa yang Delia katakan pada Nerissa membuat Nerissa ragu tentang hubungannya denganmu, itu kenapa dia tidak ingin menemuimu," jawab dokter Jessica.


Alvin menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia memikirkan segala macam kemungkinan tentang apa yang Cordelia katakan pada Nerissa.


"Jangan terlalu menjadikannya beban untukmu Alvin, kau hanya perlu membicarakannya baik-baik, kau juga sangat mengenal Delia bukan?" ucap dokter Jessica pada Alvin.


"Iya dok, Alvin mengerti," balas Alvin.


Alvin mengusap wajahnya kasar lalu tersenyum hambar. Kedatangannya untuk menjenguk dokter Jessica malah membuat dokter Jessica memikirkan tentang masalahnya.


"Maaf dok kedatangan Alvin malah mengganggu dokter Jessica," ucap Alvin.


"Tidak Alvin, kau tidak menggangguku, aku senang karena kau menjengukku," balas dokter Jessica.


Setelah mengobrol beberapa lama, Alvinpun berpamitan untuk pulang.


Sepanjang perjalanan, Alvin memikirkan ucapan dokter Jessica padanya.


"tapi sepertinya apa yang Delia katakan pada Nerissa membuat Nerissa ragu tentang hubungannya denganmu, itu kenapa dia tidak ingin menemuimu,"


Alvin menghembuskan nafasnya kasar, setelah masalahnya dengan Amanda selesai, Cordelia kembali membuat masalah.


"Apalagi yang kau lakukan sekarang Delia, aku pikir kau sudah berubah lebih baik," ucap Alvin kesal.


Saat Alvin baru saja sampai di rumahnya, sudah ada Cordelia yang menunggunya disana.


Dengan langkah yang tak bersemangat Alvin berjalan menghampiri Cordelia yang duduk di teras rumahnya.


"Apa yang kau lakukan disini Delia?" tanya Alvin sambil membuka pintu rumahnya.


"Tentu saja menunggumu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu," jawab Cordelia.


"Tidak perlu, aku sudah memesan makanan dari luar," balas Alvin berbohong.


"Kau tidak perlu memesan makanan dari luar Alvin, selama bibi belum kembali aku akan selalu memaksaku untukmu," ucap Cordelia sambil berjalan mengikuti Alvin.


Namun tiba-tiba Alvin menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Cordelia, membuat Cordelia begitu terkejut dan seketika menghentikan langkahnya.


"Ke.... kenapa?" tanya Cordelia yang merasa mendapat tatapan tajam dari Alvin.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Alvinpun keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Apa kau akan bekerja lagi?" tanya Cordelia mengikuti langkah Alvin menaiki tangga.


"Jangan mengikutiku," balas Alvin tanpa membawa pandangannya pada Cordelia.


"Aku akan menunggumu di depan ruang kerjamu," ucap Cordelia yang membuat Alvin tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Pulanglah Delia, jangan menggangguku!" ucap Alvin lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Saat Alvin akan membuka pintu ruang kerjanya, Cordelia menarik tangan Alvin.


"Ada apa denganmu Alvin? apa Nerissa mengatakan sesuatu padamu?" tanya Cordelia kesal karena sikap dingin Alvin padanya.


"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang kau katakan pada Nerissa sehingga membuatnya tidak ingin menemuiku!" tanya Alvin yang membuat Cordelia terdiam.


"Aku pikir kau sudah berubah Delia, ternyata kau tetap sama, kau belum bisa berpikir dewasa," ucap Alvin lalu masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintunya dengan kencang.


Cordelia hanya terdiam di tempatnya berdiri untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia membawa langkahnya duduk di depan ruang kerja Alvin.


"Aku hanya ingin kau mencintaiku Alvin, aku hanya ingin kau menjadi milikku, apa aku tidak boleh menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupmu?" tanya Cordelia pelan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Cordelia menghela nafasnya lalu mengusap air mata yang sudah jatuh di pipinya.


"Jatuh cinta satu pihak memang sangat menyakitkan," ucap Cordelia dengan tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


Waktu berlalu, malampun semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Alvin masih berada di dalam ruang kerjanya, selain memikirkan tentang pekerjaannya ia juga memikirkan tentang hubungannya dengan Nerissa.


"aku tidak akan menyerah dengan mudah Nerissa, aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya, aku tidak akan melepaskan kesempatan yang sudah kau berikan padaku karena aku tidak ingin terjebak dalam lubang penyesalan yang aku gali sendiri," ucap Alvin dalam hati.


Alvin kemudian membereskan meja kerjanya lalu keluar dari ruang kerjanya, saat baru saja membuka pintu, Alvin begitu terkejut karena mendapati Cordelia yang tertidur di kursi yang ada di depan ruang kerjanya.


"kapan kau akan berhenti melakukan hal ini Delia? kau tahu aku tidak bisa membencimu karena kau sudah seperti adik bagiku," ucap Alvin dalam hati lalu membawa langkahnya ke arah Cordelia.


"Delia bangunlah," ucap Alvin sambil memegang lengan tangan Cordelia, membuat Cordelia segera terbangun dari tidurnya.


"Aaahhh aku tertidur rupanya," ucap Cordelia yang segera merapikan rambutnya.


"Tidurlah di kamar jika kau ingin menginap disini," ucap Alvin.


Cordelia hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Alvin segera membawa langkahnya untuk menuruni tangga diikuti oleh Cordelia, namun Cordelia menghentikan langkahnya tepat di bawah tangga di dekat kamar Alvin.


"Apa aku tidak boleh mencintaimu Alvin?" tanya Cordelia saat Alvin akan membuka pintu kamarnya.


Alvin yang mendengar hal itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar, Alvin kemudian menaruh map dan laptopnya di meja lalu membawa langkahnya ke arah Cordelia berdiri.


"Apa salah jika aku mencintaimu?" tanya Cordelia dengan menundukkan kepalanya.


Alvin kemudian memegang kedua bahu Cordelia dengan menundukkan kepalanya, berusaha menatap Cordelia yang tertunduk saat itu.


"Tidak ada yang salah dengan cinta Delia, kau berhak mencintai siapapun tapi kau tidak berhak untuk memaksakan cintamu itu, aku tidak bisa memaksamu untuk mengubur rasa cintamu padaku tapi kau juga tidak bisa memaksaku untuk memiliki perasaan yang sama sepertimu," ucap Alvin.


"Aku sudah bertahan sejauh ini Alvin dan rasanya benar-benar menyakitkan," ucap Cordelia dengan suara bergetar.


"Aku tidak menyalahkanmu atas apa yang kau rasakan padaku tapi kau juga harus tahu bahwa kau tidak bisa memaksakan apa yang tidak ditakdirkan untukmu," ucap Alvin yang membuat Cordelia mendongakkan kepalanya menatap Alvin.


"Aku mencintaimu Alvin, aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini dari hatiku," ucap Cordelia dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Alvin hanya terdiam lalu merengkuh Cordelia ke dalam dekapannya, membuat Cordelia semakin menangis dalam dekapan Alvin.