
Malam masih ditemani oleh kerlip bintang dan cahaya bulan. Di sebuah restoran mewah, Marin sedang makan malam bersama Daniel dan keluarganya.
Daniel dan keluarganya seperti keluarga yang hangat dan harmonis bagi siapapun yang melihatnya, namun Marin sangat tau bagiamana sebenarnya keadaan keluarga Daniel.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel papa Daniel berdering, papa Daniel membawa pandangannya pada sang istri sebelum menerima panggilan itu.
Mama Daniel yang mengerti hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum, papa Daniel pun menerima panggilan itu di hadapan sang istri, Daniel dan Marin.
"Apa? kecelakaan? cepat kirimkan alamat rumah sakitnya, aku akan kesana sekarang!"
Melihat papa Daniel yang tampak panik dan cemas, semuanyapun membawa pandangan ke arah papa Daniel yang segera beranjak dari duduknya.
"Daniel, antarkan mama pulang, papa harus pergi!" ucap sang papa pada Daniel lalu segera membawa langkahnya pergi begitu saja.
Daniel bahkan belum mengiyakan ucapan sang papa, namun sang papa sudah pergi tanpa berpamitan pada sang mama.
"Sepertinya ada masalah mendesak yang membuat papa pergi, ayo kita lanjutkan makan malam kita!" ucap mama Daniel dengan tersenyum.
Marin hanya menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan makan malamnya yang kini terasa canggung.
"Tante, Marin berniat untuk membuat parfum dari ekstrak bunga, bagaimana menurut tante?" ucap Marin sekaligus bertanya pada mama Daniel, berniat untuk memecah keheningan diantara mereka bertiga sejak kepergian papa Daniel.
"Ide yang bagus Marin, apa kau sudah mempelajarinya?" balas mama Daniel antusias.
"Marin masih baru mempelajarinya tante, Marin masih mencari tau aroma bunga apa saja yang banyak orang suka," jawab Marin.
"Kau juga bisa memadupadankan aroma dari beberapa bunga menjadi satu Marin, asalkan kau tau komposisinya dengan tepat itu akan menghasilkan aroma wangi yang unik," ucap mama Daniel.
"Iya tante, jika tante tidak keberatan, Marin ingin mendiskusikannya bersama tante."
"Benarkah? tentu saja tante akan sangat senang, kau bisa datang ke rumah kapanpun kau senggang, Daniel yang akan menjemput dan mengantarmu!"
Marin menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang lalu membawa pandangannya pada Daniel.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, merekapun meninggalkan restoran itu.
"Apa kau bisa mengantar mama terlebih dulu sebelum mengantar Marin, Daniel?" tanya sang mama pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang mama. Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.
Setelah mengantar sang mama pulang, Danielpun mengantar Marin pulang.
"Ada apa denganmu Daniel? kenapa kau hanya diam?" tanya Marin pada Daniel yang lebih banyak diam sejak sang papa meninggalkan restoran.
"Sepertinya aku tidak bisa menyelamatkan keluargaku lagi Marin," jawab Daniel.
"Jangan berbicara seperti itu Daniel, kau harus terus berusaha sampai tante Yasmin atau om Rama memberikan keputusan yang pasti tentang hubungan mereka," ucap Marin.
Mendengar ucapan Marin, Daniel membawa pandangannya sekilas pada Marin dan tersenyum.
"Kenapa?" tanya Marin yang merasa Daniel melihat ke arahnya dengan tersenyum.
"Aku akan berusaha Marin, demi keluargaku," jawab Daniel.
"Good boy," ucap Marin sambil mengacungkan ibu jarinya pada Daniel, membuat Daniel tersenyum tipis melihat sikap Marin.
"Terima kasih sudah mencairkan suasana yang canggung tadi, kalau tidak ada kau mungkin aku dan mama hanya akan diam sampai kita pulang," ucap Daniel pada Marin.
"Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan saja," balas Marin.
Sesampainya di rumah Marin, Daniel dan Marinpun keluar dari mobil.
"Sepertinya itu mobil Alvin!" ucap Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
"Ayo masuk!" ajak Marin.
"Tidak Marin, aku harus segera pulang untuk menemani mama, terima kasih untuk malam ini," ucap Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan melambaikan tangannya pada Daniel yang sudah masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil Daniel menjauh pergi, Marinpun masuk ke dalam rumahnya. Disana sudah ada Nerissa dan Alvin yang sedang mengobrol di ruang tamu.
"Kau sudah pulang Marin? dimana Daniel? apa dia tidak mengantarmu?" tanya Nerissa pada Marin.
"Dia mengantarku, tapi segera pulang karena harus menemani mamanya di rumah," jawab Marin lalu duduk di samping Nerissa.
"Bagaimana makan malam kalian? Delia tidak melakukan hal yang buruk bukan?" tanya Marin dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Alvin bergantian.
"Tentu saja tidak, bagaimana denganmu? apa semuanya berjalan lancar?" balas Nerissa bertanya.
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Aku sudah mengantuk Putri, aku tidur dulu," ucap Marin.
Setelah Marin masuk ke kamarnya, Alvinpun beranjak dari duduknya.
"Aku juga harus pulang Nerissa, kau beristirahatlah!"
"Iya, kau juga harus beristirahat!" balas Nerissa.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari rumah Nerissa. Setelah Alvin pergi, Nerissapun masuk ke kamarnya, berganti pakaian lalu merebahkan badannya di ranjang.
Bagiku pernikahan itu sakral, hanya dilakukan satu kali seumur hidup, jadi aku hanya akan menikah dengan seseorang yang benar benar aku cintai, seseorang yang bisa membawa kedamaian dalam hidupku, seseorang yang aku yakini bisa membawaku ke dalam kebahagiaan yang sempurna
Nerissa tiba tiba teringat ucapan Alvin padanya.
"pernikahan sakral, sekali seumur hidup dengan seseorang yang membawa kebahagiaan yang sempurna, siapakah perempuan itu Alvin? tentu saja bukan aku,"
Nerissa menghela nafasnya kemudian memejamkan matanya dan tertidur.
**
Hari telah berganti, Marin sudah berada di toko bunganya pagi itu. Tak lama setelah Marin membuka tokonya, Daniel datang menjadi pelanggan pertamanya hari itu.
"Ini masih pagi sekali dan kau sudah datang?" tanya Marin sambil merapikan pot bunga.
"Itu artinya aku adalah pelangganmu yang pertama Marin, seharusnya kau menyambutku dengan ramah!"
"Pelangganku membeli bunga, bukan mencari putri!"
"Hahaha..... dimana dia? apa dia masih di rumah?"
"Dia masih di rumah, mungkin sebentar lagi datang," jawab Marin.
"Kalau begitu buatkan aku buket bunga yang paling cantik dan berikan padanya, aku harus segera berangkat ke kantor!" ucap Daniel pada Marin.
"Bunga apa yang kau inginkan?"
"Mmmmm..... bunga matahari, karena dia adalah matahari dalam hidupku hehehe....." jawab Daniel.
"Tapi....."
"Aku akan mentransfer uangnya nanti, aku harus berangkat sekarang, bye!" ucap Daniel lalu keluar dari toko bunga begitu saja.
Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Daniel. Setelah merapikan toko bunganya, Marinpun membuat buket bunga yang akan ia berikan pada Nerissa sesuai dengan pesanan Daniel.
Tak lama kemudian Nerissapun datang.
"Waaahhh pesananan pertama pagi ini, kemana aku harus mengantarnya?"
"Ini milikmu, Daniel yang memesannya untukmu," jawab Marin.
"Benarkah? dimana dia sekarang? apa dia sudah pergi?"
"Dia kesini hanya untuk memesan bunga ini lalu berangkat ke kantor," jawab Marin.
Nerissa hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Marin.
**
Sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin, seorang perempuan cantik turun dan masuk ke dalam toko bunga.
"Selamat siang, selamat datang di Marin Florist," sapa Nerissa dengan ramah meski ia sedikit kesal pada perempuan itu.
"Hai Nerissa, aku ingin memesan buket bunga," ucap Cordelia.
"Bunga apa yang kau inginkan?" sahut Marin bertanya.
"Bunga apapun terserah kau Marin, yang pasti kau harus membuatnya dengan sangat cantik karena aku akan memberikannya pada Alvin," jawab Cordelia.
"Kau mau menunggu disini atau aku yang mengantarnya?" tanya Nerissa.
"Tentu saja aku akan menunggunya, aku akan memberikannya sendiri pada Alvin," jawab Cordelia.
"Baiklah," balas Nerissa.
"Apa kau tau Nerissa kenapa aku memberikan buket bunga untuk Alvin?" tanya Cordelia yang hanya dibalas gelengan kepala Nerissa.
"Alvin memenangkan proyek besar, jadi aku memberikan bunga ini sebagai ucapan selamat untuknya, apa dia tidak menceritakan hal itu padamu?"
"Tidak," jawab Nerissa singkat.
"Aaahhh iya.... tentu saja dia tidak menceritakannya padamu, mungkin dia tau jika kau tidak akan mengerti tentang masalah perusahaan hehehe....."
"Iya, kau benar, aku memang sama sekali tidak mengerti masalah perusahaan yang Alvin hadapi, karena dia tidak pernah menceritakannya padaku, kau tau kenapa? karena dia tidak ingin aku mengkhawatirkannya!" balas Nerissa.
"Hahaha.... terserah kau saja, yang pasti aku adalah perempuan pertama yang memberikan selamat untuknya dan aku akan makan siang bersamanya nanti," ucap Cordelia.
Nerissa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Setelah buket bunga selesai dibuat, Marinpun memberikannya pada Cordelia.
"Terima kasih Marin, aku pergi dulu!" ucap Cordelia setelah membayar kemudian pergi dari toko bunga Marin.
"Apa kau kesal dengannya Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Tidak ada hal yang membuatku kesal padanya Marin," balas Nerissa.
"Aku bisa membuatmu tau siapa perempuan yang lebih penting bagi Alvin, apakah dirimu atau Delia, apa kau mau tau caranya?"
Nerissa mengernyitkan keningnya sambil membawa pandangannya pada Marin.
"Perusahaan tempat Alvin bekerja memesan buket bunga padaku Putri, kau harus mengantarnya kesana!"
"Benarkah? kapan aku harus mengantarnya?"
"Tentu saja sekarang, aku sudah memesan taksi yang akan mengantarmu kesana," jawab Marin.
"Lalu apa maksud ucapanmu tadi, membuatku tau siapa perempuan yang lebih penting untuk Alvin?"
"Aku tadi mendengar ucapan Delia padamu, dia akan makan siang bersama Alvin bukan? bagaimana jika kau juga mengajak Alvin makan siang? aku yakin Alvin akan lebih memilih makan siang bersamamu daripada bersama Delia!"
"Aaahhh tidak Marin, aku tidak bisa melakukan hal itu, aku seperti perempuan jahat jika aku melakukan hal itu," balas Nerissa menolak ide Marin.
"Kau tidak jahat putri, lagipula Alvin bisa saja menolakmu," ucap Marin.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya!" ucap Nerissa.
Tak lama kemudian taksipun datang. Nerissa membawa buket bunga dan masuk ke dalam taksi yang sudah Marin pesan.
Sesampainya di Atlanta Grup, Nerissa segera berjalan ke arah resepsionis. Saat Nerissa baru saja melewati pintu utama, ia melihat Cordelia yang berlari kecil ke arah Alvin lalu memberikan buket bunga sambil memeluknya.
"Jaga sikapmu Delia," ucap Alvin sambil melepaskan pelukan Cordelia.
"Kau sudah membawa perusahaan kita kembali naik Alvin, kau bahkan pantas mendapatkan lebih dari sekedar pelukanku hehehe....." ucap Cordelia sambil mengedipkan satu matanya pada sang papa yang berdiri di samping Alvin.
"Delia benar, kau memang selalu bisa dibanggakan Alvin, ayo kita makan siang bersama, Delia sudah memesan tempat untuk kita makan siang bersama," ucap Johan, papa Delia.
Nerissa yang mendengar percakapan Alvin dengan Cordelia dan papanya segera menaruh buket bunga di resepsionis tanpa mengatakan apapun, lalu berjalan pergi begitu saja.
"bukan hanya Delia yang menyukai Alvin, tapi papanya juga, pemilik perusahaan tempat Alvin bekerja, sudah pasti Alvin akan menerima ajakan mereka untuk makan siang bersama," batin Nerissa dalam hati sambil berdiri menunggu taksi.
Tanpa Nerissa tau, Alvin menolak ajakan makan siang Delia dan papanya dengan sopan. Tanpa mengurangi rasa hormatnya pada papa Cordelia, Alvin menjelaskan jika dirinya sudah ada janji makan siang bersama seseorang.
Alvin kemudian berjalan ke arah resepsionis untuk menanyakan buket bunga miliknya.
"Dimana gadis yang mengantarnya? apa dia sudah pergi?" tanya Alvin pada si resepsionis.
"Dia baru saja pergi, sepertinya masih di depan."
Dengan membawa buket bunga di tangannya, Alvin segera berlari keluar dari kantor untuk mengejar Nerissa.
Beruntung ia tepat waktu saat itu. Ia berhasil menarik tangan Nerissa yang hendak membuka pintu taksi yang berhenti saat itu.
"Alvin, kau....."
"Maaf pak," ucap Alvin pada si supir taksi, membuat taksi itu pergi meninggalkan Alvin dan Nerissa.
"Apa... kau.... sudah makan siang?" tanya Alvin dengan nafas yang tersengal sengal karena baru saja berlari mengejar Nerissa.
"Belum," jawab Nerissa sambil menggelengkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu, ayo makan siang bersamaku," ucap Alvin.
"Bukankah kau akan makan siang bersama Delia dan papanya?" tanya Nerissa.
"Tidak, aku sudah ada janji makan siang bersamamu hari ini," jawab Alvin.
"Sejak kapan kau...."
"Jangan banyak bertanya Nerissa, pegang ini dan tunggu disini, aku akan mengambil mobil sebentar!" ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya, berdiri di tempatnya dengan memegang buket bunga.
"bukankah buket bunga ini yang baru saja aku berikan pada resepsionis?" tanya Nerissa dalam hati.
Setelah Alvin datang bersama mobilnya, Nerissa dan Alvinpun meninggalkan kantor untuk makan siang berdua.
"Kenapa buket bunga ini ada padamu?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tentu saja, aku yang memesannya," jawab Alvin yang membuat Nerissa terkekeh.
"Kenapa? apa ada yang lucu?" tanya Alvin
"Kau lucu sekali, kau memesan buket bunga untuk dirimu sendiri, kau....."
"Tidak, aku memesannya untukmu," ucap Alvin memotong ucapan Nerissa.
"Untukku?" tanya Nerissa memastikan.
"Iya, aku sengaja memesannya dari Marin agar kau mengantarnya ke kantor dan aku bisa bertemu denganmu," jawab Alvin sambil membawa pandangannya pada Nerissa.
"Bagaimana jika ternyata bukan aku yang mengantar buket bunga ini?" tanya Nerissa.
"Aku yakin kau yang akan mengantarnya," jawab Alvin.
"Kenapa kau seyakin itu?"
"Entahlah, hanya yakin saja dan ternyata keyakinanku terbukti benar bukan? kau sendiri yang mengantarnya ke kantor!"
Nerissa hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar jawaban Alvin.
"Kenapa kau menolak ajakan makan siang Delia dan papanya? bukankah papanya pemilik perusahaan tempatmu bekerja? kenapa kau berani sekali menolak ajakan papa Delia?"
"Aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku sebagai pegawai kantor dengan baik Nerissa, papa Delia tidak berhak memaksaku jika itu diluar masalah kantor, di luar jam kerja aku hanyalah Alvin, bukan pegawai apa lagi bawahan papa Delia," jawab Alvin menjelaskan.
"Waaahhh kau tegas sekali tentang hal itu."
"Tentu saja, bagaimanapun juga aku harus memiliki waktu sebagai diriku sendiri tanpa tuntutan perusahaan, tanpa statusku sebagai pegawai perusahaan."