
Di Seabert.
Cadassi baru saja keluar dari istana. Saat dalam perjalanan pulang, Cadassi diberi tahu pengawal Pangeran Merville jika pangeran Merville sudah menunggu kedatangannya.
Cadassi pun berenang mengikuti mermaid pengawal itu untuk menemui pangeran Merville.
"kenapa pangeran ingin aku menemuinya di istana?" tanya Cadassi dalam hati.
Sesampainya di istana, Cadassi berenang menghampiri pangeran Merville yang sudah menunggunya.
"Apa kau terkejut karena aku memintamu datang kesini?" tanya Pangeran Merville pada Cadassi.
Cadassi hanya menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.
"Cadassi, apa kau tau kesalahanmu?"
Cadassi diam beberapa saat, pertanyaan pangeran Merville membuatnya berpikir kesalahan apa yang diperbuat sehingga membuat pangeran Merville memintanya datang ke istana secara langsung.
"Kau tidak tau?" tanya pangeran Merville membuyarkan lamunan Cadassi.
"Maaf pangeran," ucap Cadassi dengan menundukkan kepalanya.
"Kau benar benar keterlaluan Cadassi, kau menyembunyikan hal besar dariku selama ini, kenapa kau tidak memberi tahuku tentang keadaan Ratu Nagisa?"
"Maafkan aku pangeran, aku hanya ingin menyelesaikan masalah itu sendiri sebelum kau mengetahuinya," balas Cadassi.
"Menyelesaikannya sendiri? memangnya seperti apa cara yang kau gunakan untuk menyelesaikan masalah itu? kau bahkan tidak bisa membuat ramuan yang tepat untuk melumpuhkan Ratu!"
"Aku sudah membuatnya dengan tepat pangeran, aku juga sedang mencari tau kenapa Ratu bisa terlihat sehat padahal selalu meminum ramuan buatanku setiap hari!"
"Berapa lama kau tau tentang keadaan Ratu yang sebenarnya?" tanya pangeran Merville.
"Baru beberapa hari ini pangeran, beberapa hari setelah Ratu menugaskan Putri Nerissa dan Marin keluar istana," jawab Cadassi.
"Kau benar benar bodoh Cadassi, kau membiarkan hal itu terjadi sampai beberapa hari tanpa memberi tahuku? sekarang katakan padaku hal apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak ada Pangeran, aku tidak menyembunyikan apapun darimu!" jawab Cadassi.
"Apa aku bisa mempercayaimu?"
"Tentu saja, kau tau darahku akan membeku jika aku berkhianat padamu," jawab Cadassi meyakinkan.
Pangeran Merville menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Cadassi. Cadassi memang sudah mengucapkan sumpah setianya pada pangeran Merville.
Melalui pengukuhan di atas darahnya sendiri, Cadassi sudah memberikan hidupnya untuk melayani Pangeran Merville tanpa sepengetahuan Ratu Nagisa ataupun Marin dan Chubasca.
Cadassi melakukan hal besar itu agar dirinya bisa menjadi Raja di Seabert seperti yang sudah pangeran Merville janjikan padanya.
Sudah berpuluh puluh tahun Cadassi tinggal di istana. Kedua orangtuanya dulu adalah Galenia, mermaid penyembuh yang bertugas untuk mengobati anggota istana yang sakit.
Cadassi belajar tentang pengobatan dari kedua orangtuanya. Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia diangkat menjadi penasihat istana oleh Raja Zale karena kepercayaan Raja terhadap kesetiaan dan kebijakan Cadassi dalam menghadapi beberapa masalah yang terjadi di istana.
Berpuluh puluh tahun lamanya Cadassi masih menjadi penasihat istana. Hingga akhirnya ia mempunyai istri dan dua anak.
Hal yang membuat Cadassi goyah pada kesetiannya untuk istana adalah saat Raja Zale menjatuhkan hukuman pada sang istri yang dianggap lalai dalam menjaga anak satu satunya Raja dan Ratu, Putri Nerissa.
Saat itu Putri Nerissa yang masih sangat kecil sedang dijaga oleh istri Cadassi, tanpa sengaja Putri Nerissa tersengat belut listrik yang membuatnya terbaring di ranjang selama beberapa bulan.
Hal itu tentu membuat Raja dan Ratu bersedih. Sebagai penasihat istana, Raja meminta Cadassi untuk menentukan hukuman apa yang layak untuk sang istri.
Namun karena ia sangat mencintai istrinya, ia tidak tega jika harus memasukkan sang istri ke dalam penjara kegelapan.
"Hukum dia di ruang isolasi sampai Putri Nerissa sadar Raja, tapi jika sampai 2 bulan Putri Nerissa belum sadar, maka keputusan selanjutnya ada di tangan Raja," ucap Cadassi saat itu.
Raja dan Ratu pun setuju. Sayangnya, sampai lebih dari dua bulan Putri Nerissa yang masih sangat kecil itu belum juga sadar.
Akhirnya Raja memerintahkan Morgan untuk membawa istri Cadassi ke penjara kegelapan dimana siapapun yang masuk kesana akan mendapatkan siksaan sampai ajal menjemputnya.
Dengan berat hati Cadassi menerima keputusan Raja dengan syarat agar Raja dan Ratu merahasiakan hal itu dari kedua anaknya, Chubasca dan Marin.
Sejak saat itu, kesetiaan Cadassi pada istana perlahan memudar. Hingga akhirnya ia bertemu Pangeran Merville dan menerima tawaran terbaik yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Dengan menjadi Raja di Seabert, ia bisa membalas dendam pada Raja Zale dan Ratu Nagisa serta Putri Nerissa atas apa yang terjadi pada sang istri di masa lalu.
Tak ada siapapun yang tau jika dibalik kebijaksanaan Cadassi, tersimpan dendam dari masa lalu yang membuatnya gelap mata.
"Kita memiliki tujuan yang sama Pangeran, jadi jangan pernah meragukan kesetiaan ku padamu!" ucap Cadassi pada pangeran Merville.
"Baiklah, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? kau tidak bisa membiarkan Ratu sehat seperti ini bukan?"
"Aku akan pergi ke daratan untuk mencari bahan ramuan yang lain Pangeran, aku akan membuat ramuan yang jauh lebih baik kali ini," jawab Cadassi.
"Tapi kau juga harus ingat Cadassi, jangan melewati batas, kau tau kita masih membutuhkan Ratu bukan?"
"Iya, aku tau, aku akan melakukan yang terbaik untukmu Pangeran," jawab Cadassi.
"Baiklah, sekarang pergilah!"
"Baik pangeran," ucap Cadassi lalu berenang pergi meninggalkan pangeran Merville.
Cadassi berenang pulang ke arah rumahnya. Sesampainya di rumah, ia merasa ada sesuatu yang aneh pada rumahnya.
"Apa ayah baru pulang dari istana?" tanya Chubasca pada sang ayah.
Cadassi hanya menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Istana mana yang ayah maksud? istana pangeran sombong dan angkuh itu?" lanjut Chubasca bertanya yang membuat Cadassi segera menghampiri Chubasca.
"Apa maksudmu? kenapa kau berkata seperti itu?"
"Aku baru saja datang ke istana untuk mencari ayah, tapi Morgan berkata jika ayah sudah meninggalkan istana sejak lama," jawab Chubasca.
"Apa kau pikir pekerjaanku hanya berjaga di istana? aku juga mempunyai kesibukan lain, tidak sepertimu yang hanya bisa bermain dan mengacaukan banyak hal!"
"Sebenernya ada hubungan apa antara ayah dan pangeran Merville? kenapa kalian sangat dekat?"
"Itu bukan urusanmu Chubasca," jawab Cadassi lalu berenang ke arah kamarnya.
"Ayah, kau tau siapa pangeran Merville bukan? dia bukan pangeran yang baik, banyak desas desus yang mengatakan seburuk apa kepribadiannya, tapi kenapa kau malah meminta Putri Nerissa untuk menikah dengannya? apa yang......."
"Diam Chubasca, jangan ikut campur masalah ini, aku tau betul siapa pangeran Merville, dia anak tunggal di istana yang besar, dia adalah pewaris tahta tunggal, sama seperti Putri Nerissa, mereka akan menjadi pasangan yang sempurna jika bersatu!"
"Sejak kapan ayah melihat hal itu sebagai acuan untuk memberi penilaian? bukankah kepribadian dan sifatnya lebih penting daripada sekedar...."
"Berhenti ikut campur Chubasca, lebih baik kau mencari dimana Marin ditugaskan daripada ikut campur masalah ini!" ucap Cadassi memotong ucapan Chubasca lalu masuk ke kamarnya begitu saja.
Chubasca hanya menghembuskan napasnya kasar kemudian keluar dari rumah.
**
Di daratan.
Seperti biasa pagi itu Nerissa membantu Marin untuk membuka toko bunga. Beberapa lama kemudian seorang gadis cantik turun dari mobilnya dan berjalan memasuki toko bunga Marin.
"Selamat datang di Marin Florist,"
"Selamat datang di Marin Flo...." Ucap Marin dan Nerissa bersamaan, namun Nerissa menghentikan ucapannya saat melihat siapa yang datang.
"Sudah ku duga, toko bunga tempat kalian bekerja pasti sangat kecil," ucap Cordelia sambil membawa pandangannya menyapu seluruh toko bunga Marin.
Meski ia kesal pada Cordelia, ia berusaha untuk tetap menyambut Cordelia seperti customer pada umumnya.
Namun sikap Delia membuat Marin menyesali keramahan yang baru saja dilakukannya.
"Kenapa kau tidak ramah sama sekali? dimana bosmu? aku akan membuat kalian dipecat dari toko bunga kecil ini!"
"Bos? kau sedang berhadapan dengannya sekarang, katakan saja apa yang mau kau katakan!" balas Marin.
"Hahaha..... kau pemilik toko bunga ini? apa kau sedang bermimpi? hahaha....."
"Hahaha..... apa kau membutuhkan kaca mata untuk melihat? kau tidak lihat tulisan besar disana? MARIN FLORIST, sudah jelas itu namaku dan yang pasti ini adalah toko bunga milikku!"
Cordelia sedikit terkejut mendengar ucapan Marin, ia kemudian membawa pandangannya ke arah spanduk besar yang bertuliskan Marin Florist.
Bodohnya, ia baru menyadari jika nama gadis di hadapannya adalah Marin karena ia hanya mengingat nama Nerissa.
"Pergilah, aku tidak menerima customer sepertimu!" ucap Marin pada Cordelia.
"Sombong sekali kau, ini hanya toko bunga kecil, aku bahkan bisa membelinya sekarang juga!" balas Cordelia kesal.
"Sudah, jangan bertengkar, sebenarnya apa yang membuatmu kesini Delia? apa kau mencari bunga?"
"Tadinya aku ingin membeli bunga dan memesan banyak bunga untuk acara di agensi ku, tapi karena pelayanannya sangat buruk, aku jadi berubah pikiran," ucap Cordelia.
"Kalau customernya sepertimu, semua toko bunga juga akan menolakmu!" sahut Marin.
"Waaahh waaahhh kau benar benar mau cari masalah denganku, kau...."
"Sebaiknya kau pergi dan mencari toko bunga lain yang bisa memberikan pelayanan yang baik untukmu, maaf jika pelayanan di toko bunga kami tidak membuatmu nyaman, jadi silakan pergi dan jangan membuat kegaduhan lagi disini!" ucap Nerissa dengan senyum cantiknya.
Meski ia juga sangat kesal pada Delia, ia berusaha untuk tetap tenang dan melawan Cordelia tanpa emosi.
"Kalian benar benar keterlaluan dan kau Nerissa, jangan pernah berpikir kalau kau bisa mendapatkan Daniel ataupun Alvin!" ucap Cordelia lalu keluar dari toko bunga Marin.
Saat melewati pintu, dengan sengaja Cordelia menyenggol pot bunga besar yang ada disana, membuat pot bunga itu terjatuh dan pecah.
"Kalau Putri mau, dia bahkan bisa mendapatkan keduanya," sahut Marin setengah berteriak.
Cordelia hanya diam dengan kedua tangannya yang mengepal lalu membuka pintu mobilnya dan pergi meninggalkan toko bunga Marin dengan kesal.
"Waaahh dia benar benar manusia yang jahat, dia kesini hanya untuk merendahkan kita Putri!" ucap Marin dengan menggelengkan kepalanya melihat sikap Cordelia.
"Siapa tau dia memang ingin mencari bunga, tapi karena....."
"Putri, stop, jangan berpikir semua manusia itu baik, kau tidak tau apa yang ada dalam pikiran mereka!" ucap Marin memotong ucapan Nerissa.
"Dia bahkan sengaja menjatuhkan pot bunga itu," lanjut Marin kesal.
"Kendalikan emosimu Marin, kita bisa membelinya lagi yang jauh lebih besar!" ucap Nerissa menenangkan Marin.
"Kau harus janji padaku Putri, jangan mudah percaya pada manusia, apa lagi manusia seperti Delia!" ucap Marin yang masih kesal.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum melihat Marin yang masih tampak kesal karena kedatangan Cordelia.
Nerissa kemudian mengambil beberapa buket bunga yang baru selesai Marin rangkai, kemudian menaruhnya di dalam keranjang sepedanya.
"Aku pergi dulu Marin!" ucap Nerissa sambil menyambar topi miliknya.
"Hati hati Putri," balas Marin.
Tak lama setelah Nerissa pergi, seseorang masuk ke dalam toko bunga Marin.
"Selamat pagi," sapanya.
Marin yang mendengar suara itu segera membawa pandangannya ke arah sumber suara.
"Apa kau mencari Putri?" tanya Marin pada Daniel.
"Iya, apa dia sudah berangkat?"
"Dia baru saja berangkat!" jawab Marin sambil memunguti pecahan pot bunga yang tadi dijatuhkan dengan sengaja oleh Cordelia.
Daniel kemudian berjongkok di samping Marin, membantu Marin memunguti pecahan pot bunga.
"Dia benar benar jahat!" ucap Marin.
"Siapa?" tanya Daniel.
"Perempuan yang memecahkan pot bunga ini," jawab Marin.
"Siapa yang memecahkannya?"
"Temanmu!" jawab Marin.
"Temanku? siapa?"
"Memangnya berapa banyak teman perempuanmu sampai kau tidak mengerti maksudku!"
"Hahaha... apa yang kau maksud Delia?"
Marin hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak dan membuang pecahan pot ke tempat sampah.
"Kenapa dia kesini? apa yang dia lakukan disini?" tanya Daniel.
"Dia kesini hanya untuk menghinaku lalu pergi begitu saja sambil menjatuhkan pot bunga itu dengan sengaja!" jawab Marin yang masih kesal.
"Dia memang selalu bersikap berlebihan, aku harap kau bisa melawannya, jangan biarkan dia menindasmu Marin!"
"Tentu saja, aku tidak akan tinggal diam jika ada yang merendahkanku!" balas Marin.
"Bagus!" ucap Daniel sambil mengusap kepala Marin.
Marin hanya diam dengan jantungnya yang kembali berdebar. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan seperti apa debaran yang ia rasakan saat itu.
"Apa Nerissa masih lama? apa dia mengantar banyak buket bunga?" tanya Daniel pada Marin.
"Hanya dua buket, tapi jaraknya memang cukup jauh," jawab Marin.
"Aku akan terlambat jika menunggunya lebih lama," ucap Daniel gelisah.
"Pergilah, aku akan memberi tahu Putri jika kau datang, aku akan memintanya menghubungimu nanti!" ucap Marin.
"Baiklah, aku pergi, jangan lupa memberi tahunya kalau aku menunggunya lama disini!"
Marin hanya menganggukkan kepalanya, membiarkan Daniel keluar dari toko bunganya.
Marin kembali ke belakang mejanya, bersiap untuk membuat buket bunga. Namun tiba tiba, ia teringat sikap manis Daniel padanya.
"kenapa dadaku berdebar lagi? aku sedang tidak mengkhawatirkan siapapun sekarang, tapi kenapa dadaku berdebar? apa ada yang salah denganku? apa aku sakit?" batin Marin bertanya tanya.
Marin menggelengkan kepalanya kemudian menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
"benar kata Putri, sepertinya aku harus lebih bisa menahan emosiku, ini pasti karena aku terlalu emosi pada Delia tadi," ucap Marin dalam hati lalu mengambil minum untuk menenangkan dirinya.
Marin kemudian melanjutkan membuat beberapa buket bunga pesanan yang harus Nerissa kirim sebelum sore.