
Alvin yang baru saja keluar dari kamarnya begitu terkejut saat melihat akuariumnya terjatuh di lantai bersama ikan-ikan yang menggelepar di sekitarnya.
Tanpa pikir panjang Alvin segera membawa langkahnya untuk membantu Nerissa menyelamatkan ikan-ikan itu.
Sedangkan Amanda yang terduduk disana hanya bisa kesal melihat Alvin yang mengabaikannya.
Saat melihat pecahan kaca di sekitarnya, Amandapun dengan sengaja menaruh telapak tangannya disana lalu menekannya, membuat darah segar mengucur di telapak tangannya.
Setelah semua ikan itu terselamatkan, Amandapun berdiri dengan darah yang menetes dari telapak tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini? kenapa akuarium itu bisa jatuh?" tanya Alvin dengan membawa pandangannya pada Amanda dan Nerissa.
"Aku tidak melakukan apapun pada akuarium itu Alvin, aku hanya memperbaiki saluran oksigennya saja tapi Amanda....."
"Dia mendorongku ke arah akuarium itu Alvin, membuatku terjatuh dan tanganku berdarah seperti ini!" ucap Amanda memotong ucapan Nerissa.
"Tidak Alvin, dia berbohong!" ucap Nerissa membela diri.
"Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh yang akhirnya melukaiku seperti ini Nerissa," balas Amanda.
Alvin mengacak acak rambutnya kasar lalu mengambil kotak P3K dan mengobati luka Amanda setelah membersihkannya.
"Jujurlah Nerissa, kau pasti tidak menyukai kedatanganku disini bukan? kau pasti berpikir jika Alvin yang memesan buket bunga itu dan...."
"Hentikan Amanda!" ucap Alvin memotong ucapan Amanda.
"Aku pikir kau hanya egois, tapi kau juga sangat licik!" ucap Nerissa pada Amanda.
"Pergilah Nerissa!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Alvin, aku tidak mendorong Amanda sama sekali, dia menjatuhkan dirinya sendiri ke arah akuarium itu, kau percaya padaku bukan?" ucap Nerissa pada Alvin.
"Lupakan saja, itu sudah tidak penting lagi," ucap Alvin lalu berjalan pergi meninggalkan Nerissa dan Amanda.
Namun Nerissa segera berlari menghentikan langkah Alvin. Nerissa berdiri tepat di hadapan Alvin dengan menatap kedua mata Alvin.
"Kau bisa memeriksa CCTV jika kau tidak percaya padaku, aku benar benar tidak melakukan apa yang Amanda tuduhkan padaku!" ucap Nerissa.
"Tidak perlu, pulanglah!" balas Alvin singkat.
"Tidak Alvin, kau harus percaya padaku, kau harus lihat yang sebenarnya terjadi!" ucap Nerissa bersikeras.
"Aku setuju, kita lihat saja apa yang sebenarnya terjadi!" sahut Amanda.
Meskipun Alvin merasa tidak perlu memeriksa CCTV, pada akhirnya ia tetap memeriksa rekaman CCTV di ruang tamunya karena desakan Nerissa dan Amanda.
Dalam rekaman CCTV yang terlihat, Nerissa dan Amanda tampak mengobrol untuk beberapa saat sebelum Nerissa melangkah pergi namun tiba tiba berbalik dan tampak mendorong Amanda ke arah akuarium.
Akuarium itupun jatuh dari tempatnya dan pecah berceceran dengan Amanda yang jatuh terduduk disana.
"Bagaimana? apa kau masih bisa menyangkalnya Nerissa?" tanya Amanda pada Nerissa dengan senyum penuh kemenangan.
Tanpa Nerissa tau, Amanda sudah menyiapkan hal itu sebelum Nerissa datang. Ia sudah mencari posisi paling tepat agar Nerissa tampak seperti mendorongnya saat dilihat dari CCTV.
"Alvin, ini tidak benar, dia mengeluh kepalanya pusing jadi aku berbalik dan....."
"Jangan membuat alasan konyol Nerissa, dari CCTV itu sudah jelas terlihat kau mendorongku, kenapa kau masih tidak mengakuinya?"
"Amanda, tolong jangan seperti ini, kau sudah mendapatkan Alvin, kau tidak perlu melakukan hal ini padaku!" ucap Nerissa pada Amanda.
"Aku memang senang karena bisa berteman denganmu Nerissa, aku pikir kau teman yang baik untukku, tapi setelah kau tau Alvin adalah masa laluku kau jadi bersikap seperti ini padaku," ucap Amanda.
"Amanda, kau......"
"Pergilah Nerissa!" ucap Alvin dengan pandangan kosong ke arah layar monitor.
"Apa kau tidak percaya padaku Alvin? kau tau aku tidak mungkin melakukan hal itu bukan?" tanya Nerissa pada Alvin.
"aku percaya padamu Nerissa, aku percaya padamu sebelum aku melihat rekaman CCTV ini dan sekarang aku sangat ingin percaya padamu, tapi apa yang aku lihat sangat berbeda dengan apa yang aku pikirkan," ucap Alvin dalam hati.
"Alvin, aku yakin kau mengenalku dengan baik, aku akan buktikan kalau aku tidak melakukan hal itu pada Amanda," ucap Nerissa lalu berjalan pergi meninggalkan Alvin dan Amanda.
Nerissa mengentikan langkahnya saat ia berada di ruang tamu. Setidaknya ia ingin memastikan ikan ikan yang sempat menggelepar di lantai kini sudah baik baik saja.
"Aku pergi, mungkin aku tidak akan bisa melihat kalian lagi, tapi sebelum itu tolong katakan pada Alvin bahwa aku tidak bersalah, apa kalian bisa membantuku?" tanya Nerissa sambil menatap ikan ikan di akuarium.
Nerissa kemudian tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku pasti sudah gila," ucap Nerissa lalu berjalan keluar dari rumah Alvin.
"aku akan buktikan padamu bahwa aku tidak bersalah, jika memang takdir mengharuskanmu pergi dariku, setidaknya aku tidak akan membiarkanmu membenciku Alvin," ucap Nerissa dalam hati.
Nerissapun kembali pulang dengan menaiki bus. Sepanjang perjalanan ia memikirkan bagaimana caranya agar Alvin bisa mempercayainya.
"CCTV itu hanya menunjukan rekaman tanpa suara, siapapun bisa berspekulasi hanya dengan melihat tanpa mendengar apa yang sebenarnya terjadi, dan liciknya Amanda sudah berdiri di tempat dimana wajahnya tidak terlihat oleh CCTV," ucap Nerissa dalam hati.
"jika CCTV tidak bisa membantuku, siapa dan apa yang bisa membantuku untuk mengungkapkan yang sebenarnya terjadi?" tanya Nerissa dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nerissapun sampai. Nerissa turun dari bus lalu berjalan beberapa meter ke arah rumahnya.
Nerissa berjalan sambil memikirkan masalah yang sedang dihadapinya. Ia bersikeras untuk membuktikan pada Alvin bahwa dia tidak bersalah.
TIIIIINNNNN TIIIIINNNN TIIIIINNNN
Suara klakson membuat Nerissa begitu terkejut, iapun segera menghentikan langkahnya.
Sebuah mobil berhenti di samping Nerissa, seseorang yang berada di balik kemudi hanya memamerkan senyumnya pada Nerissa lalu meminta Nerissa masuk ke dalam mobilnya.
Nerissapun masuk dan duduk di samping Daniel.
"Apa kau baru saja mengantar buket bunga?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Iya, aku mengantar buket bunga ke rumah Alvin," jawab Nerissa.
"Ke rumah Alvin? kenapa kau tidak memberi tahuku Nerissa? aku bisa mengantarmu kesana!"
"Bukan Alvin yang memesan buket bunga itu, tapi Amanda, dia ada di rumah Alvin sekarang," ucap Nerissa.
"Apa kau bertemu Alvin disana?"
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu keluar dari mobil setelah Daniel menghentikan mobilnya di depan toko bunga Marin.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Daniel berjalan mengikuti Nerissa.
Nerissa menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di toko bunga.
"Apa terjadi sesuatu disana?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Kau tau Daniel, Amanda ternyata lebih jahat daripada Delia," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Daniel.
"Ada apa Putri? siapa yang jahat padamu?" sahut Marin bertanya sambil berlari kecil ke arah Nerissa lalu duduk di samping Nerissa.
Nerissapun menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Amanda saat Nerissa mengantar buket bunga kesana.
"Tidak ada alasan bagi Alvin untuk tidak mempercayai Amanda karena jika dilihat dari CCTV memang aku seperti mendorong Amanda saat itu," jawab Nerissa.
"Waaahhh dia benar benar licik sekali, kenapa dia melakukan hal ini padamu Putri? bukankah dulu dia sangat dekat denganmu?"
"Aku juga tidak tau Marin, sepertinya dia tidak menyukaiku karena dia cemburu padaku, sama seperti Delia," jawab Nerissa.
"Dia sudah mulai terang terangan menunjukkan ketidasukaannya padamu Nerissa, jadi kau harus lebih berhati hati pada Amanda," ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Bagaimana bisa kau berteman dengan perempuan seperti itu Daniel? kau bahkan membuatnya dekat dengan Alvin!" tanya Marin pada Daniel.
"Dulu dia tidak seperti ini, dia baik dan mudah bergaul, kalau aku tau akhirnya seperti ini tidak mungkin aku membuatnya dekat dengan Alvin!" balas Daniel.
"Sudahlah lupakan saja, lebih baik jangan menemui mereka berdua lagi Putri!" ucap Marin pada Nerissa.
"Tidak Marin, aku harus menemui Alvin lagi, aku harus membuktikan padanya bahwa aku tidak bersalah," balas Nerissa.
"Bagaimana caranya Putri? Alvin bahkan sudah tidak mempercayaimu sekarang dan CCTV yang ada di rumahnya juga menunjukkan hal yang salah!"
"Pasti ada cara Marin, setidaknya aku tidak akan membiarkan Alvin membenciku karena hal ini," ucap Nerissa.
"Apa saat kejadian itu hanya ada kau dan Amanda disana?" tanya Daniel.
"Iya, aku tidak tau Alvin dimana waktu itu, setelah akuarium itu pecah Alvin baru datang," jawab Nerissa.
"Bagaimana dengan bibi? apa bibi tidak ada disana?" tanya Daniel yang membuat Nerissa terdiam beberapa saat.
Nerissa mencoba menggali ingatannya tentang kejadian itu.
"Aaahhh iya aku ingat, ada bibi disana, waktu aku datang bibi sedang membersihkan ruang tamu, tapi aku tidak tau apa saat kejadian itu bibi masih ada disana atau tidak," ucap Nerissa.
"Kalau begitu kita harus menemui bibi dan menanyakannya langsung pada bibi," ucap Daniel yang membuat Nerissa menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Apa kita harus menemui bibi sekarang?" tanya Nerissa.
"Tentu saja, ayo berangkat!" jawab Daniel yang segera beranjak dari duduknya.
"Marin, aku pergi sebentar, aku akan segera pulang setelah menemui bibi," ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala Marin.
Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin bersama Nerissa yang duduk di sampingnya.
Sesampainya di rumah Alvin, Daniel segera mengetuk pintu beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
saat bi Sita melihat Daniel dan Nerissa, tiba-tiba bi Sita berlari masuk tanpa mempersilakan Daniel dan Nerissa untuk masuk.
Daniel dan Nerissa saling memandang untuk beberapa saat ketika melihat sikap bi Sita yang terlihat aneh.
"Kau kesini lagi Nerissa? ada perlu apa?" tanya Amanda yang tiba-tiba datang menghampiri Daniel dan Nerissa.
"Aku kesini untuk menemui bibi," jawab Nerissa.
"Bibi sedang sibuk di belakang dan tidak bisa diganggu," jawab Amanda lalu berbalik meninggalkan Daniel dan Nerissa.
Nerissapun berjalan cepat mengejar Amanda dan meraih tangan Amanda untuk menghentikan langkah Amanda.
"Aaaaawwwww kau menyakitiku Nerissa, luka ini bahkan belum sembuh dan sekarang kau sudah menyakitinya lagi!" ucap Amanda sambil menarik tangannya dari Nerissa.
"Berhenti bersandiwara Amanda, aku sama sekali tidak memegang luka di tanganmu," balas Nerissa kesal.
"Sebenarnya apa salahku padamu Nerissa? kenapa kau melakukan hal ini padaku?" tanya Amanda dengan menundukkan kepalanya.
"Kau benar-benar......."
Nerissa menghentikan ucapannya saat melihat Alvin berjalan ke arahnya.
"Alvin, aku harus menemui bibi, aku yakin bibi tau apa yang sebenarnya terjadi, bibi pasti tahu kalau aku tidak mendorong Amanda sama sekali," ucap Nerissa pada Alvin.
"Pulanglah Nerissa, tidak perlu membahas hal ini lagi, aku sudah melupakannya," balas Alvin lalu meraih tangan Amanda dan pergi dari hadapan Nerissa.
"Setidaknya kau harus mendengar penjelasannya Alvin!" sahut Daniel yang membuat Alvin menghentikan langkahnya.
"Aku mempercayainya sebelum aku melihat rekaman CCTV itu," balas Alvin lalu melanjutkan langkahnya pergi bersama Amanda.
"Lebih baik kita pulang sekarang Nerissa, kita bisa menemui bibi lain kali saat Alvin dan Amanda tidak di rumah," ucap Daniel sambil membawa Nerissa keluar dari rumah Alvin.
"Kau lihat sendiri bukan? aku bahkan tidak memegang luka Amanda sama sekali tapi dia bersikap seolah-olah aku menyakitinya," ucap Nerissa pada Daniel saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Cepat atau lambat Alvin akan mengetahui bagaimana sikap Amanda yang sebenarnya, aku juga tidak akan membiarkan Alvin menghabiskan waktunya bersama perempuan seperti Amanda," balas Daniel.
Daniel kemudian mengendarai mobilnya untuk mengantar Nerissa pulang.
**
Waktupun berlalu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam saat Nerissa dan Marin sedang menonton TV.
"Putri, sepertinya Alvin dan Amanda sedang berada di luar sekarang," ucap Marin pada Nerissa.
"Benarkah? dari mana kau tahu?" tanya Nerissa memastikan.
"Ini adalah sosial media Amanda, dia baru saja memposting foto dirinya dengan Alvin yang sedang berada di restoran," jawab Marin sambil menunjukkan ponselnya pada Nerissa.
"Kalau begitu aku akan ke rumah Alvin sekarang untuk menemui bibi," ucap Nerissa lalu segera beranjak dari duduknya.
"Apa kau akan kesana bersama Daniel?" tanya Marin.
"Tidak, aku akan kesana sendiri," jawab Nerissa.
"Kalau begitu aku ikut, ini sudah sangat larut kau tidak boleh keluar dari rumah sendirian!" ucap Marin lalu beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap.
Setelah memesan taksi, Nerissa dan Marinpun berangkat ke rumah Alvin.
Sesampainya di depan rumah Alvin, Nerissa dan Marin dihentikan oleh satpam yang berjaga disana.
"Kenapa saya tidak boleh masuk Pak? bapak mengenal saya bukan?" tanya Nerissa pada Pak satpam.
"Maaf non ini perintah, bapak hanya menjalankan tugas," jawab Pak satpam.
"Perintah dari Amanda maksud bapak?" tanya Nerissa namun Pak satpam hanya diam dengan menundukkan kepalanya.
"Saya kesini bukan untuk menemui Alvin, saya kesini untuk menemui bibi, jika memang saya tidak boleh masuk apa bapak bisa memanggil bibi kesini?" ucap Nerissa sekaligus bertanya pada Pak satpam.
"Maaf non bi Sita tidak ada disini, bi Sita baru saja pulang kampung," ucap pak satpam yang membuat Nerissa dan Marin begitu terkejut.
"Kenapa tiba-tiba sekali Pak? bapak tidak berbohong bukan?"
"Tidak non, bi Sita memang baru saja pulang kampung dan tidak tahu kapan akan kembali," jawab Pak satpam meyakinkan.
Nerissa dan Marin saling pandang untuk beberapa saat lalu meninggalkan rumah Alvin setelah berterima kasih pada Pak satpam.
"Apa menurutmu bibi benar-benar pulang kampung Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Entahlah Marin, tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak aku tau," jawab Nerissa.