Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bintang Jatuh



Waktu berlalu, malam yang panjang telah terlewati mentari pagi telah menyambut hari yang baru.


Nerissa bangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa dia merasa penuh semangat pagi itu. Setelah mandi dan berganti pakaian Nerissa segera membuka toko bunga Marin sebelum Marin bangun.


Setelah merapikan toko bunga, tak lama kemudian Marin datang ke toko bunganya dan terkejut melihat Nerissa yang sudah merapikan setiap sudut di toko bunganya.


"Apa kau yang mengerjakan semua ini Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Iya, aku sangat bersemangat hari ini jadi aku bangun lebih pagi dan merapikan toko bunga," jawab Nerissa.


"Baguslah kalau begitu itu artinya keadaanmu memang sudah benar-benar membaik sekarang, aku sangat senang melihatnya!" ucap Marin.


"Segera buat buket bunga pesanan, aku akan membantumu menyiapkannya lalu segera mengantarnya sekarang juga!" ucap Nerissa pada Marin.


"Siap," balas Marin sambil memberi hormat.


Nerissa dan Marin kemudian menyiapkan beberapa bunga yang akan digunakan untuk membuat buket bunga sesuai pesanan yang sudah Marin dapatkan.


Setelah beberapa buket bunga selesai, Nerissa segera menaruhnya di keranjang sepedanya nya lalu mengantarnya ke alamat tujuan.


Setelah mengantar seluruh pesanan buket bunga, Nerissa segera kembali ke toko.


Tak lama setelah Nerissa sampai di toko, sebuah mobil berhenti di depan toko bunga Marin dan si pemilik mobil segera keluar dari dalam mobilnya.


"Pagi Nerissa, bagaimana keadaanmu?" sapa Alvin sekaligus menanyakan keadaan Nerissa.


"Pagi Alvin, aku sudah baik-baik saja sekarang, aku sudah kembali sehat, terima kasih sudah menjagaku kemarin," balas Nerissa.


"Aku ke sini ingin memberikan ini padamu, aku rasa ini milikmu!" ucap Alvin sambil memberikan sebuah penjepit rambut pada Nerissa.


"Aahh iya ini milikku, Marin yang membuatnya untukku, dari manakah mendapatkannya?"


"Aku melihatnya terjatuh saat aku menggendongmu setelah kau tenggelam kemarin!" jawab Alvin.


"Terima kasih Alvin, tidak hanya karena telah mengembalikan penjepit rambut ku tapi juga karena sudah menolongku saat itu, aku benar-benar tidak tahu bagaimana keadaanku jika tidak ada dirimu saat itu, aku sangat berterima kasih padamu," ucap Nerissa.


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi Nerissa, jangan sampai hal itu terulang lagi," balas Alvin.


"Iya, lain kali aku akan lebih berhati-hati, mmmm..... apa kau ada waktu luang nanti malam?" tanya Nerissa.


"Sepertinya aku senggang nanti malam, kenapa?" jawab Alvin sekaligus bertanya.


"Aku ingin mengajakmu makan malam sebagai ucapan terima kasih karena sudah banyak membantuku," jawab Nerissa.


"Baiklah, aku akan menjemputmu nanti malam!" balas Alvin.


Nerissa menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Alvin kemudian keluar dari toko bunga Marin dan mengendarai mobilnya kearah tempat kerjanya.


Marin yang saat itu berada tak jauh dari Nerissa hanya tersenyum melihat kedekatan Nerissa dan Alvin.


"Apa kau akan mengajaknya makan malam Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Iya Marin, bukankah aku harus berterima kasih padanya karena sudah banyak menolongku?"


"Iya kau benar, memang itu yang harus kau lakukan," balas Marin.


Nerissa kemudian kembali membantu Marin untuk menyiapkan buket bunga pesanan yang lain dan segera mengantar nya setelah selesai membuat buket bunga itu.


Sepanjang hari Nerissa memikirkan kemana dia akan mengajak Alvin makan malam. Ia sudah berusaha mencari tempat untuk makan malam di internet namun ia belum juga mendapatkan tempat yang sesuai dengan keinginannya.


Sampai malam tiba Nerissa belum juga mendapatkan jawaban kemana dia harus mengajak Alvin makan malam.


Dengan rambut coklat terang yang tergerai panjang dan gaun sederhana membuat nerissa terlihat begitu cantik malam itu.


Nerissa menyambar high heels nya kemudian mengenakannya saat Alvin sudah menunggunya di depan rumah.


Alvin yang melihat Nerissa berjalan kearahnya hanya bisa terdiam melihat betapa cantik gadis dihadapannya saat itu.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Alvin saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Mmmmm..... sebenarnya aku belum tahu kemana kita akan pergi, apa kau ada ide?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


Alvin tertawa kecil mendengar ucapan Nerissa. Ia tidak mengerti kenapa Nerissa mengajaknya makan malam saat Nerissa sendiri tidak tahu kemana tujuan makan malamnya.


"Aku belum pernah mengajak siapapun untuk makan malam sebelumnya jadi aku harap kau bisa memaklumiku," ucap Nerissa yang mengerti isi pikiran Alvin saat itu.


"Apa kau mau aku yang menentukan tempatnya?" tanya Alvin pada Nerissa.


Nerissa menganggukkan kepalanya cepat karena ia benar-benar tidak tahu kemana seharusnya ia mengajak Alvin untuk makan malam berdua.


Alvin kemudian mengajak Nerissa untuk pergi ke restoran cepat saji namun bukannya turun Alvin malah membawa Nerissa kearah drive thru.


Alvin memesan beberapa makanan dan minuman kemudian mengendarai mobilnya ke arah yang sudah bisa Nerissa tebak.


"Apa kita akan pergi ke pantai?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Iya, apa kau keberatan?" jawab Alvin sekaligus bertanya.


"Tidak, aku memang sangat suka pergi ke pantai setiap malam," jawab Nerissa.


Alvin menganggukkan kepalanya senang karena Nerissa bersedia untuk diajaknya ke pantai.


Dengan gaun yang Nerissa kenakan dan pakaian formal yang Alvin kenakan saat itu memang bukanlah waktu yang tepat untuk pergi ke pantai.


Namun Alvin tidak mempermasalahkan hal itu karena berdua dengan Nerissa di pantai adalah hal yang paling menyenangkan baginya.


Ia selalu mengingat bagaimana pertemuan pertamanya bersama Nerissa di tepi pantai dan pertemuan-pertemuan selanjutnya yang selalu membuatnya bahagia.


Meski begitu Alvin masih merahasiakan hal itu dari Nerissa, ia sengaja berbohong pada Nerissa bahwa ia tidak mengingat semua tentang hal itu demi menjaga perasaan Daniel yang menyukai Nerissa.


Sesampainya mereka di pantai mereka segera melepaskan alas kaki mereka dan berlari kecil ke arah tepi pantai.


"Waaah..... lihat malam ini bulan bersinar sangat terang!" ucap Nerissa sambil menunjuk ke arah bulan di antara gelapnya langit malam dan taburan kerlip bintang.


"Iya, cahayanya sangat cantik sama seperti dirimu," balas Alvin sambil membawa pandangannya kearah Nerissa di akhir kalimatnya.


Nerissa pun membawa pandangannya pada Alvin saat mendengar ucapan Alvin. Mereka saling menatap untuk beberapa saat namun sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


Alvin kemudian tersenyum tipis dan mengajak Nerissa untuk semakin mendekat ke arah tepi pantai.


Alvin melepas kemeja yang dipakainya lalu memakaikannya pada Nerissa.


"Tidak perlu Alvin, kau akan kedinginan nanti!" ucap Nerissa yang hendak melepas kemeja Alvin yang ia pakai.


"Tidak, aku memang suka menikmati angin pantai," balas Alvin


Alvin kemudian membuka makanan yang sudah dibelinya dan memberikannya pada Nerissa, sebuah burger, kentang goreng dan minuman soda sudah ada dihadapan mereka saat itu.


Di bawah langit malam bertabur bintang itu Alvin dan Nerissa menghabiskan waktu mereka dengan banyak bercerita bercanda dan tertawa bersama.


Dunia seperti hanya milik mereka berdua tanpa ada siapapun yang ada di sekitar mereka.


"Nerissa, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Alvin pada Nerissa.


"Apa yang sebenarnya terjadi di malam saat kau tenggelam kemarin? tolong jujur padaku nerissa aku yakin ada sesuatu yang terjadi padamu!" lanjut Alvin.


Nerissa diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Alvin. Entah mengapa ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Alvin, ia hanya tidak ingin Alvin menjadi marah pada Cordelia yang akhirnya hanya membuat Cordelia semakin membenci Nerissa.


"Aku tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke kolam renang, itu saja," jawab Nerissa berbohong.


"Kenapa kau tiba-tiba pergi ke kolam renang? bukankah Daniel masih berada di dalam ruangan?"


"Aku hanya kesal pada Daniel, jadi aku memilih untuk keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah kolam renang dan terjadilah hal yang tidak aku inginkan itu," jawab Nerissa memberi alasan.


"Apa kau masih marah pada Daniel?" tanya Alvin.


"Tidak, aku sudah memaafkannya, aku tahu dia laki-laki yang baik," jawab Nerissa.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa. Entah kenapa sulit rasanya untuk mempercayai ucapan Nerissa tentang apa yang membuat Nerissa tenggelam di kolam renang malam itu.


"Aku pikir kau bisa berenang, karena aku pernah melihatmu berendam di sini sebelumnya," ucap Alvin yang membuat Nerissa sedikit terkejut.


"Mmmm..... aku..... aku memang tidak bisa berenang hehehe...." balas Nerissa canggung.


"Kenapa kau membahayakan dirimu dengan berendam di tepi pantai jika kau tidak bisa berenang Nerissa?"


"Aku...... aku hanya suka menikmati suasana pantai saja, bukan berarti aku bisa berenang, kau pasti mengerti maksudku bukan?"


Alvin menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa.


"Kalau kau senggang, aku akan mengajarimu berenang bagaimana menurutmu?"


"Belajar berenang?"


"Iya, kau sangat suka lautan bukan? aku bisa mengajakmu diving untuk melihat keindahan di dalam laut jadi kau harus bisa berenang untuk bisa melihat keindahan dalam laut," jawab Alvin menjelaskan.


"Mmmmm.... sepertinya aku tidak akan bisa melihat keindahan dalam laut," balas Nerissa.


"Kenapa? bukankah kau sangat suka lautan?"


"Iya aku memang sangat menyukai lautan tapi aku tidak berani belajar berenang, aku takut tenggelam seperti kemarin, rasanya sangat menyakitkan dan..... membuatku sangat takut," jawab Nerissa dengan suara pelan di akhir kalimatnya.


Alvin kemudian menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Nerissa kemudian meraih bahu nerissa dan membawanya mendekat padanya.


"Tenanglah, aku akan menjagamu, tidak akan terjadi hal buruk selama aku ada di dekatmu," kecap Alvin berusaha menenangkan Nerissa dan menghilangkan ketakutan Nerissa.


"Terima kasih Alvin tapi.... aku..... aku....."


"Tidak apa, aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggumu sampai kau siap, kapanpun itu," ucap Alvin yang mengerti isi hati Nerissa saat itu.


"aku tahu kau memang laki-laki yang baik Alvin, tidak hanya tampan, sikap manismu itu yang membuatku semakin menyukaimu tapi ini tidak boleh terjadi kita sangat berbeda, dunia kita berbeda aku tidak mungkin melanjutkan rasa suka ini padamu karena aku takut apa yang aku rasakan ini akan menjadi masalah di antara kita berdua," ucap Nerissa dalam hati.


"Lihat Nerissa ada bintang jatuh!" ucap Alvin sambil menunjuk ke arah langit.


Nerissa terdiam menatap tak percaya bintang jatuh yang ada di hadapannya. Cahaya putih yang berkelip itu tampak jatuh dari hamparan gelap malam tak jauh dari tempatnya duduk bersama Alvin.


Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat hal itu terjadi. Melihat kerlip bintang diatas langit saja sudah cukup membuatnya sangat bahagia apalagi saat melihat bintang itu jatuh kilaunya semakin membuatnya begitu bahagia.


Alvin terdiam dengan memejamkan matanya, dalam hatinya ia berdoa agar bisa kembali bertemu mermaid yang pernah menyelamatkan hidupnya.


Meski itu terdengar tidak masuk akal tapi ia yakin jika ia benar-benar melihat mermaid saat kecelakaan kapal itu terjadi.


"Kenapa kau memejamkan matamu Alvin? apakah takut?" tanya Nerissa dengan polosnya.


"Aku sedang membuat permohonan, apa kau tidak tahu tentang itu?"


"Membuat permohonan? tidak aku tidak tahu apa maksudmu!"


"Ini memang konyol tapi banyak yang mempercayai hal ini dan melakukannya saat mereka masih kecil, saat kau melihat bintang jatuh dan kau mengucapkan permohonanmu maka suatu saat permohonanmu itu akan terkabulkan," ucap Alvin menjelaskan.


"Benarkah? apa aku bisa membuat permohonanku sekarang?"


"Kau hanya dapat mengucapkan permohonanmu dalam hati ketika kau melihat bintang itu terjatuh dan sekarang bintang yang terjatuh itu sudah tidak terlihat lagi jadi....."


"aku terlambat?" terka Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


Nerissa menghela nafasnya, menundukkan kepalanya dan memanyunkan bibirnya dengan kesal.


"Hahaha....... jangan bersedih seperti itu Nerissa, itu hanyalah kepercayaan anak kecil zaman dulu, jangan terlalu dianggap serius!" ucap Alvin dengan mengacak-ngacak pelan rambut Nerissa.


"Tapi kau tadi melakukannya!"


"Aku memang selalu melakukan hal itu hanya untuk menyenangkan diriku saja hehehe...."


"Baiklah lain kali aku akan melakukannya, aku akan mengucapkan permohonan ku dalam hati saat aku melihat bintang jatuh di hadapanku dan aku akan menunggu kapan permohonanku itu akan terkabul," ucapan Nerissa.


Alvin menganggukan kepalanya mendengar ucapan Nerissa.


"Apa aku boleh tahu apa permohonanmu tadi?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Itu rahasia, kau tidak bisa memberitahukan permohonanmu pada orang lain jika ingin permohonanmu cepat terkabul," balas Alvin yang membuat Nerissa mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Manusia memang lucu sekali," ucap Nerissa pelan.


"Apa? manusia?" tanya Alvin memastikan pendengarannya.


"Maksudku manusia sepertimu hehehe," jawab Nerissa dengan tersenyum canggung.


"Apa menurutmu aku lucu?" tanya Alvin.


"Terkadang kau memang lucu terkadang kau menjengkelkan dan terkadang kau..... sangat manis," jawab Nerissa dengan tersenyum malu di akhir kalimatnya.


Alvin pun tersenyum tersipu mendengar jawaban Nerissa dan mengalihkan pandangannya dari Nerissa, mengedarkan matanya ke sekelilingnya untuk menghilangkan kegugupan yang ia rasakan saat itu.


"Nerissa, aku pernah mendengarmu berbicara pada Marin tentang mahkotamu yang hilang, kalau aku boleh tahu di mana kau kehilangan mahkotamu?" tanya Alvin pada nerissa.


Nerissa diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Alvin, ia tidak tahu apakah ia harus menjawab jujur pertanyaan Alvin atau tidak.


ya tidak ingin Alvin tahu siapa dirinya sebenarnya nya sebelum ia menyelesaikan tugasnya di daratan.


Ya sudah memikirkan hal itu sebelumnya saat ia sudah menyelesaikan semua tugasnya di daratan ia akan menemui Alvin Daniel Delia dan orang-orang yang pernah dekat dengannya.


dengan kekuatan yang dimilikinya ia akan membuat mereka semua melupakan semua tentangnya dan juga marine karena ia tahu tempatnya yang sebenarnya bukanlah di daratan tetapi di lautan.