
Masih di malam yang sama, Nerissa masih bersama Daniel di rumahnya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya sejak Daniel memberitahunya rekaman percakapannya bersama bi Sita.
Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu Alvin tentang isi rekaman itu dan melihat bagaimana reaksi Alvin setelahnya.
Namun tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal pikirannya tentang isi dari rekaman itu.
"Daniel, apa bibi akan baik-baik saja jika Amanda tahu bahwa bibi sudah mengatakan yang sebenarnya pada kita?" tanya Nerissa khawatir.
"Tidak perlu mencemaskan bibi Nerissa, jika memang bibi tidak bisa lagi bekerja di rumah Alvin, bibi bisa bekerja di rumahku ataupun di rumah Delia," jawab Daniel.
"Tapi bibi tidak ingin meninggalkan Alvin, Daniel!"
"Kau benar, Alvin dan bibi memang sangat dekat, mereka sudah seperti seorang ibu dan anak, jadi jika Alvin mengetahui apa yang Amanda katakan pada bibi sudah bisa dipastikan Alvin akan membela bibi, jadi kau tidak perlu khawatir pada bibi," balas Daniel menjelaskan.
Nerissa menggangguk anggukkan kepalanya mendengar ucapan Daniel.
"Beristirahatlah Nerissa, tidurlah yang nyenyak karena sebentar lagi masalahmu akan selesai," ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya.
"Sekali lagi terima kasih Daniel, aku berhutang banyak padamu," ucap Nerissa yang hanya dibalas senyum oleh Daniel.
Danielpun meninggalkan rumah Nerissa, saat ia akan berjalan masuk ke dalam mobil, tiba tiba........
"Sssstttttttt......"
Daniel segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati Cordelia yang masih berada disana.
Danielpun berjalan menghampiri Cordelia yang berada di dalam mobil saat itu.
"Kenapa kau masih ada disini? bukankah kau sudah pulang dari tadi?" tanya Daniel.
"Aku sengaja menunggumu karena ada yang harus aku katakan padamu," jawab Cordelia.
"Tentang Alvin?" terka Daniel yang dibalas galengan kepala Cordelia.
"Tentang Marin," ucap Cordelia yang membuat Daniel mengernyitkan keningnya.
"Ada apa dengan Marin? apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Daniel.
"Kau memang bodoh atau berpura-pura bodoh Daniel, kau tahu bukan bahwa Marin menyukaimu?"
Daniel tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Aku bisa melihat dengan jelas saat dia menahan kecemburuannya ketika melihatmu bersama Nerissa," ucap Cordelia.
"Sepertinya kau salah paham Delia, aku dan Marin bahkan jarang akur karena sering bertengkar untuk hal-hal yang sepele," ucap Daniel.
"Cara orang memperlihatkan rasa cintanya itu berbeda-beda Daniel, bisa jadi itu cara yang dia lakukan untuk menarik perhatianmu tapi dengan bodohnya kau hanya melihat ke arah Nerissa yang jelas-jelas lebih menyukai Alvin!"
Daniel hanya terdiam mendengar ucapan Cordelia.
"Aku memang tidak menyukai mereka berdua tapi aku akui mereka berdua memang perempuan yang baik," ucap Cordelia lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan Daniel begitu saja.
Daniel masih berdiri di tempatnya, menatap mobil Cordelia yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.
"aku tidak bisa meminta kepada siapa aku jatuh cinta, jika bisa tentu saja aku tidak akan memilih untuk jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah mencintaiku," ucap Daniel dalam hati lalu berjalan ke arah mobilnya.
Daniel masuk ke dalam mobilnya namun tidak segera menyalakan mesin mobilnya, dia terdiam di balik kemudi dengan matanya yang menatap ke arah kamar Marin.
"maafkan aku Marin, mungkin memang lebih baik seperti ini," ucap Daniel dalam hati lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Marin dan Nerissa.
"kita tunggu saja ke mana takdir akan membawa kita berlabuh," ucap Daniel dalam hati
**
Hari telah berganti, pagi datang dengan sinar terik sang mentari.
Dengan penuh semangat Nerissa berjalan ke arah toko bunga lalu menghampiri Marin yang sedang membuat buket bunga.
"Senyummu hari ini cerah sekali Putri," ucap Marin pada Nerissa.
"Tentu saja aku sudah tidak sabar melihat bagaimana respon Alvin saat dia mengetahui bahwa perempuan yang dipilihnya bukanlah perempuan yang baik," balas Nerissa.
"Jika nanti Alvin dan Amanda kembali menjauh dan Alvin datang padamu, apa kau akan menerimanya begitu saja Putri?"
"Alvin yang lebih dulu menjauh dariku Marin, jadi jika dia datang kembali untuk berteman denganku maka tidak ada alasan bagiku untuk tidak menerimanya kembali," jawab Nerissa.
"Bagaimana jika lebih dari sekedar teman?" tanya Marin yang membuat Nerissa membawa pandangannya pada Marin.
"Aku sangat tahu bagaimana kau menyukai Alvin, aku juga bisa melihat bahwa Alvin sebenarnya menyukaimu hanya karena kebimbangan yang tiba-tiba datang Alvin jadi meninggalkanmu, mungkin setelah Alvin keluar dari kebimbangannya ia yakin jika dia benar-benar mencintaimu Putri," ucap Marin.
"Aku belum memikirkan hal itu Marin, aku hanya akan sangat senang jika bisa dekat dengan Alvin seperti dulu, apapun hubungan kita berdua," balas Nerissa.
"Lalu bagaimana dengan Daniel, bagaimana dengan hubungan kalian berdua?" tanya Marin.
"Tentu saja aku dan Daniel akan mengakhiri sandiwara ini karena dari awal tujuan kita hanyalah untuk membuat Alvin keluar dari kebimbangannya," jawab Nerissa.
"Bagaimana jika Daniel menolaknya? kita sama-sama tahu bahwa Daniel menyukaimu dan hubungan sandiwara ini adalah hubungan yang paling diharapkan oleh Daniel!"
"Kenapa kau berbicara seperti itu Marin, apa kau tidak mempercayai Daniel? dia melakukan hal ini bukan hanya untukku tapi juga untuk Alvin!"
"Itu hanya alasannya agar dia bisa berhubungan denganmu Putri!"
"Tidak Marin, Daniel tidak mungkin melakukan hal itu hanya untuk kesenangannya sendiri," balas Nerissa.
"Sepertinya kau sangat mengenalnya sekarang," ucap Marin lalu berjalan masuk ke dalam rumah namun ditahan oleh Nerissa.
"Apa kau sedang cemburu sekarang?" tanya Nerissa pada Marin.
"Apa? cemburu? tentu saja tidak, tidak ada alasan yang membuatku cemburu pada hubungan kalian berdua," balas Marin lalu melepaskan tangan Nerissa yang menahannya dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Nerissa begitu saja.
"aku tahu kau sedang cemburu saat ini, aku akan segera mengakhiri sandiwara ini agar kau tidak semakin salah paham Marin," ucap Nerissa dalam hati.
Sedangkan di sisi lain, Marin hanya duduk terdiam di tepi ranjangnya, ia memikirkan apa yang baru saja ia katakan pada Nerissa.
"Kenapa kau bodoh sekali Marin? kenapa kau mengatakan hal itu pada Putri, kau hanya akan membuat Putri menjadi salah paham dengan ucapanmu itu," ucap Marin merutuki kebodohan dirinya sendiri.
Marin memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar, entah kenapa hanya memikirkan Daniel saja sudah membuatnya berdebar.
"Aku harus menenangkan pikiranku, semakin lama aku semakin tidak bisa mengendalikan diriku sendiri dan ini bukanlah hal yang baik untukku," ucap Marin sambil memegang dadanya.
Marin kemudian beranjak dari duduknya, berdiri di tepi jendela kamarnya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.
Marin melakukan hal itu beberapa kali sampai ia merasa lebih tenang.
Setelah berhasil menenangkan dirinya, Marinpun membawa langkahnya keluar dari kamar untuk kembali ke toko bunga.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Alvin sedang makan siang bersama Amanda di salah satu restoran yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja.
"Alvin, Daniel dan Nerissa sudah serius dengan hubungan mereka, bagaimana dengan kita?" tanya Amanda pada Alvin.
"Apa maksudmu?" tanya Alvin yang berpura-pura tidak mengerti maksud ucapan Amanda.
"Kita sudah sama-sama dewasa Alvin, kita pasti punya tujuan untuk masa depan kita dan saat tujuan kita sama lalu apalagi yang kita tunggu untuk mencapai tujuan itu?"
"Apa kau yakin tujuan kita sama?" tanya Alvin yang membuat Amanda sedikit terkejut.
"Kau tahu bagaimana keadaanku di Atlanta group dan apa yang sedang aku rencanakan terkait Atlanta Group, itu bukan hal yang mudah Amanda, itu akan menyita banyak waktu dan pikiranku, apa kau bisa menerima itu?" ucap Alvin sekaligus bertanya.
"Tentu saja aku bisa menerima itu, aku akan mendukungmu bahkan jika bisa aku akan membantumu untuk mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu," jawab Amanda.
"Prioritasku sekarang hanyalah untuk mencapai tujuanku di Atlanta Grup, aku tidak bisa membagi pikiranku dengan tanggung jawab besar yang lain Amanda."
"Apa itu artinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih serius?" tanya Amanda dengan raut wajah yang kecewa.
"Jika kau mau bersabar untuk menungguku kita bisa bersama-sama berjalan ke arah tujuan yang kau maksud itu," jawab Alvin.
"Sampai kapan aku harus menunggumu Alvin?"
"Aku tidak bisa memberikan jawaban yang tepat Amanda, ini bukan hal mudah buatku, bertahun-tahun aku harus menyusun rencana dengan baik untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku," jawab Alvin.
"Bagaimana jika nanti ada laki-laki lain yang mendekatiku?" tanya Amanda yang membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Amanda.
"Apa maksudmu? apa kau berniat untuk meninggalkanku lagi?"
"Tentu saja tidak, hanya saja kau membuatku menunggu tanpa kepastian!"
Alvin kemudian menaruh sendok di tangannya dan menatap Amanda yang duduk di hadapannya.
"Sebenarnya apa tujuanmu kesini Amanda? apa tujuanmu kembali lagi dalam hidupku dengan tiba-tiba seperti ini?" tanya Alvin.
"Aku sudah mengatakannya padamu, aku menyesali apa yang sudah aku lakukan dulu dan aku ingin memperbaiki semuanya, apa kau tidak mempercayaiku?" balas Amanda.
Alvin menghela nafasnya lalu menyeruput minuman di hadapannya.
"Aku terkadang tidak mengerti dirimu Amanda, terkadang aku seperti tidak mengenalmu lagi," ucap Alvin.
"Apa maksudmu Alvin? apa kau sudah tidak mencintaiku seperti dulu? apa perasaanmu sudah berubah sekarang?"
"Apa kau mencintaiku sekarang?" balas Alvin bertanya.
"Tentu saja aku mencintaimu, tidak ada yang membuatku ragu padamu Alvin, tetapi jika kau meragukanku itu sangat menyakitkan untukku," jawab Amanda penuh keyakinan.
Alvin tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Ayo pergi, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Alvin lalu berjalan keluar dari restoran diikuti oleh Amanda.
"ada apa sebenarnya padamu Alvin? kenapa sikapmu berubah padaku?" tanya Amanda dalam hati.
Sesampainya di rumahnya, Amanda tidak segera turun dari mobil. Amanda melepas sabuk pengamannya lalu meraih tangan Alvin dan memeluknya.
"Aku harus segera kembali ke kantor Amanda," ucap Alvin sambil melepaskan pelukan Amanda di tangan kirinya.
Amanda diam beberapa saat melihat raut wajah dingin Alvin saat itu. Amanda kemudian keluar dari mobil Alvin dan berjalan masuk ke dalam rumah begitu saja.
Alvinpun mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Amanda.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Suara dering ponsel membuat Alvin menepikan mobilnya lalu mengambil ponselnya di saku jasnya, namun ia tidak mendapati sebuah pesan ataupun panggilan yang masuk pada ponselnya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Suara dering ponsel kembali terdengar, Alvin menajamkan pendengarannya untuk mencari di mana letak ponsel itu.
Alvinpun menemukan ponsel itu di bawah kursi yang ada di sampingnya, Alvin lalu mengambilnya dan menyadari jika itu ponsel milik Amanda.
Biiiipppp biiiiippp biiiipp
Sebuah panggilan masuk pada ponsel Amanda, dengan ragu Alvin menerima panggilan itu.
"Kenapa kau lama sekali Amanda? apa kau sedang bersama Alvin sekarang?"
Alvin hanya terdiam tanpa menjawab apapun, ia begitu terkejut karena seseorang itu mengenal dirinya.
"Aku sangat iri padamu karena bisa mendapatkan Alvin setelah kau ditinggalkan oleh mantan suamimu, sepertinya tujuanmu sebentar lagi akan tercapai kau akan memiliki suami kaya raya seperti yang kau inginkan dan masa depanmu akan terjamin bersama Alvin walaupun kau tidak benar-benar mencintainya," ucap seseorang yang membuat Alvin semakin terkejut.
Alvin kemudian mengakhiri panggilan itu lalu melanjutkan perjalanannya ke arah tempatnya bekerja
Sesampainya di kantor Alvin meminta seseorang untuk mengantarkan ponsel milik Amanda ke alamat rumah Amanda.
**
Waktu telah berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Alvin tengah berada di ruang kerjanya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Alvin berdering, sebuah panggilan dari Daniel. Alvinpun menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan Daniel.
"Aku hanya ingin menanyakan tentang bibi, apa kau tahu kenapa bibi pulang kampung?" tanya Daniel pada Alvin.
"Anak bibi sakit, jadi bibi harus pulang untuk menemaninya," jawab Alvin.
"Apa bibi sendiri yang memberitahumu?"
"Tidak, Amanda yang memberitahuku, bibi tidak berpamitan padaku dan hanya berpamitan pada Amanda," jawab Alvin.
"Apa kau sudah mencoba untuk menghubungi bibi?"
"Belum, sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan Daniel, kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang bibi?"
"Aku akan mengirim sesuatu padamu dan aku rasa kau harus menghubungi bibi setelah ini," ucap Daniel lalu mengakhiri panggilannya.
Tak lama kemudian ponsel Alvin kembali berdering, sebuah pesan masuk yang berisi file rekaman.
Alvinpun segera memutar rekaman itu dan begitu terkejut saat ia sudah mendengar semua percakapan yang ada pada rekaman yang Daniel berikan padanya.
Alvinpun segera menghubungi bibi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Halo Bi....."
"Maaf, ibu sedang keluar, mungkin sebentar lagi akan kembali!" ucap anak bibi yang menerima panggilan.
"Apa kau anak bibi?" tanya Alvin memastikan.
"Iya tuan," jawabnya.
"Dimana kau sekarang dan bagaimana keadaanmu?"
"Saya baik-baik saja tuan, saya sedang di rumah sekarang."
"Baiklah kalau begitu, tolong sampaikan pada bibi bahwa aku baru saja menghubunginya!"
"Baik Tuan."
Alvinpun mengakhiri panggilannya lalu keluar dari ruang kerjanya dengan raut wajah penuh emosi.
"bibi tidak mungkin berbohong padaku, jika bibi tidak berbohong maka Amandalah yang berbohong padaku, tapi kenapa Amanda melakukan itu?" batin Alvin bertanya dalam hati.
Saat Alvin membuka pintu rumah, sudah ada Amanda yang baru saja sampai di rumah Alvin. Dengan senyum di wajahnya tanpa ragu Amanda berjalan mendekat ke arah Alvin yang berdiri di depan pintu.