Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Piknik



Hari hari telah berlalu, Nerissa dan Marin semakin dekat dengan Alvin dan Daniel. Mereka bahkan sering menghabiskan waktu bersama, entah hanya berdua atau berempat.


Hari itu, Nerissa dan Marin baru saja bersiap untuk menunggu Alvin dan Daniel. Mereka akan pergi piknik ke pantai pagi itu.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan rumah Nerissa. Alvin dan Danielpun turun dari mobil untuk membantu Nerissa dan Marin membawa perlengkapan piknik mereka.


"Cuaca hari ini sangat mendukung sekali!" ucap Nerissa bersorak senang.


"Iya, langit hari ini sangat cerah," balas Marin.


"Tapi tidak secerah senyummu," sahut Daniel dengan membawa pandangannya pada Marin.


Marin hanya tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya mendengar ucapan Daniel.


Sedangkan Nerissa dan Alvin hanya tertawa kecil mendengar gombalan Daniel pada Marin.


Sesampainya di pantai, mereka segera menggelar tikar dan menata makanan serta minuman mereka.


Mereka menikmati makanan dan minuman yang mereka bawa sebelum mereka bermain main di pantai.


"Kenapa kau tidak mengajak Delia, Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin.


Ya, Nerissa sudah bertemu Cordelia. Sikap Cordelia sangat jauh berbeda dengan saat Cordelia pertama kali bertemu Nerissa dulu.


Cordelia yang kini menganggap Alvin sebagai kakaknya, kini bisa menerima hadirnya Nerissa dalam kehidupan Alvin.


Nerissa, Marin dan Cordelia bahkan berteman dekat.


"Dia sedang ada pemotretan," jawab Alvin.


Setelah puas menikmati makanan mereka, Alvinpun mengajak Nerissa untuk berdiri. Nerissa dan Alvinpun berjalan ke arah tepi pantai. Membiarkan gelombang kecil membelai kaki mereka.


Hingga tiba tiba seseorang datang dengan memanggil nama Alvin.


"Alvin!" panggilannya sambil berlari menghampiri Alvin dan segera memeluk Alvin.


Nerissa yang melihat hal itu hanya bisa terdiam, ia begitu terkejut dengan kedatangan Amanda yang tiba tiba dan memeluk Alvin begitu saja.


Dalam hatinya ia hanya bisa berharap agar Alvin tidak terpengaruh lagi oleh Amanda.


"Lepaskan Amanda, kau membuatku malu!" ucap Alvin sambil berusaha melepaskan tangan Amanda yang melingkar di lehernya.


"Akhirnya kita bertemu lagi, aku senang sekali!" ucap Amanda yang sudah melepaskan pelukannya pada Alvin.


"Siapa dia Alvin? apa kau kesini bersamanya?" tanya Amanda dengan menunjuk Nerissa.


"Bukan urusanmu, ayo kita pergi," ucap Alvin lalu meraih tangan Nerissa dan mengajak Nerissa pergi meninggalkan Amanda.


"Alvin tunggu, dia siapa? apa dia yang membuat sikapmu berubah padaku?" tanya Amanda sambil berlari mengejar Alvin.


"Jangan hiraukan dia Nerissa!" ucap Alvin sambil terus berjalan dengan menggandeng tangan Nerissa.


Namun tiba tiba Nerissa mengentikan langkahnya, membuat langkah Alvin ikut terhenti.


"Ada apa Nerissa?" tanya Alvin.


"Siapa dia?" tanya Nerissa berpura pura tidak mengenal Amanda.


Nerissa sengaja menanyakan hal itu agar ia tau apakah Alvin akan segera menjelaskan semuanya padanya ataukah Alvin akan menyembunyikan semuanya darinya.


"Aku akan menjelaskannya padamu, tapi...."


Alvin kemudian menggenggam tangan Nerissa lalu menciumnya begitu saja di hadapan Amanda, membuat Amanda dan Nerissa begitu terkejut dengan apa yang Alvin lakukan.


"Apa kau masih mau bertanya lagi?" tanya Alvin pada Amanda.


"Tidak mungkin dia kekasihmu bukan? kau pasti hanya berpura pura karena kesal padaku bukan?" tanya Amanda tak percaya.


"Untuk apa aku harus berpura pura, lagipula aku sudah tidak peduli lagi padamu," balas Alvin.


"Tapi...."


"Aku sudah menjadi miliknya sekarang dan aku sudah memilikinya dalam hidupku, jadi tolong jangan menggangguku lagi!" ucap Alvin memotong ucapan Amanda.


"Tidak, kau pasti berbohong, aku tau kau sangat mencintaiku Alvin!"


"Itu dulu sebelum kau memilih pergi bersama laki laki lain, sekarang aku hanya mencintainya dan aku akan menghabiskan hidupku hanya bersamanya, jadi sekarang pergilah atau aku akan melaporkanmu pada pihak imigrasi karena aku tau kau sudah merubah kewarganegaraanmu dan visamu sudah tidak berlaku lagi disini!" ucap Alvin dengan tegas.


Amanda yang mendengar hal itu hanya terdiam membeku di tempatnya. Sedangkan Alvin segera membawa Nerissa pergi meninggalkan Amanda.


Alvin mengajak Nerissa untuk duduk di salah satu sisi pantai yang cukup jauh dari keramaian. Disana Alvin menjelaskan semuanya tentang Amanda, tentang masa lalunya bersama Amanda dan tentang perasaannya pada Amanda saat itu.


"Entah kau akan percaya padaku atau tidak, tapi aku benar benar sudah melupakannya," ucap Alvin di akhir penjelasannya.


Nerissa hanya diam mendengar semua penjelasan Alvin, dalam hatinya ia mempercayai semua ucapan Alvin padanya.


"Nerissa, aku mungkin bukan laki-laki yang baik terlebih dengan masa laluku yang seperti itu, tapi bolehkah aku berharap untuk memilikimu Nerissa? bolehkah aku mengingkanmu untuk menjadi kekasihku?" tanya Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.


"Tapi kau baru mengenalku Alvin, kau bahkan tidak tau bagaimana masa laluku dan...."


"Aku tidak peduli Nerissa, semua orang memiliki masa lalu mereka masing masing, aku akan menerima bagaimanapun masa lalumu," ucap Alvin berusaha meyakinkan Nerissa.


"Aku mencintaimu Nerissa, entah sejak kapan aku merasakan ini tapi semakin lama aku bersamamu aku semakin jatuh cinta padamu dan aku tidak ingin kehilanganmu jika aku terlambat mengatakan ini padamu," lanjut Alvin.


"Aku..... aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu Alvin, aku..... takut kau akan menyesal saat kau tau bagaimana masa laluku yang sebenarnya," ucap Nerissa.


Meski dalam hatinya ia sangat ingin mengatakan bahwa ia juga mencintai Alvin, tapi bagian lain dalam dirinya seolah menahannya untuk mengatakan hal itu.


"Tidak masalah buatku, yang terpenting saat ini kau sudah tau bahwa aku mencintaimu dan tolong biarkan aku tetap mencintaimu, aku harap suatu saat kau bisa mempercayaiku bahwa aku benar benar menerima dirimu seutuhnya, bagaimanapun masa lalumu," ucap Alvin.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Dalam hatinya ia takut jika suatu saat nanti Alvin akan mengetahui bahwa ia tidak terlahir sebagai manusia seperti pada umumnya.


Ia takut Alvin akan pergi meninggalkannya saat hubungannya dengan Alvin sudah semakin jauh dan saat itu tiba yang tersisa hanyalah luka dan perih yang menyayat hati.


Di sisi lain, Daniel dan Marin baru saja beranjak dari duduk mereka untuk bermain pasir di tepi pantai.


"Aku akan membuat istana untukmu," ucap Daniel sambil membentuk pasir pantai seperti istana.


"Tapi aku tidak ingin tinggal di istana," balas Marin.


"Lalu dimana kau ingin tinggal?" tanya Daniel.


"Di rumah yang sederhana dengan banyak bunga di halamannya," jawab Marin.


"Baiklah, aku akan membuatkannya untuk," balas Daniel.


"Kenapa kau membuatnya untukku?" tanya Marin sambil mengubur kakinya dengan pasir pantai yang basah.


"Tidak hanya untukmu, tapi juga untukku dan anak anak kita nanti," jawab Daniel dengan tersenyum menatap kedua mata Marin.