Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Memori Marin



Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Alvin berjalan cepat ke arah lift untuk segera meninggalkan kantor karena ia harus segera menjemput Nerissa di rumah sakit.


Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba Daniel menahan pintu lift lalu masuk.


"Aku akan ikut bersamamu," ucap Daniel pada Alvin.


"Menjemput Nerissa?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


Alvin dan Daniel kemudian berjalan ke arah tempat parkir.


"Pakai mobilmu saja, aku akan meminta seseorang untuk mengambil mobilku nanti," ucap Daniel pada Alvin.


"Baiklah," balas Alvin kemudian masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Daniel.


Alvinpun mengendarai mobilnya meninggalkan kantor ke arah rumah sakit tempat Nerissa dirawat. Sesampainya disana Alvin dan Daniel segera mencari ruangan Nerissa dan mendapati Nerissa yang sedang duduk di ranjangnya bersama Marin yang menemani disampingnya.


Nerissa tersenyum senang saat melihat Alvin masuk ke dalam ruangannya.


"Apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Iya, kau boleh pulang, ini obat yang harus kau minum agar tekanan darahmu kembali normal," jawab Alvin sambil memberikan obat yang baru saja dibelinya atas resep dokter.


"Terima kasih Alvin," ucap Nerissa kemudian beranjak dari ranjangnya.


"Apa kau yakin kau sudah baik-baik saja Nerissa? jika tidak kau masih bisa dirawat disini sampai beberapa hari," tanya Daniel pada Nerissa.


"Aku baik-baik saja Daniel, jangan khawatir," balas Nerissa.


Nerissa dan Marinpun berjalan keluar diikuti oleh Alvin dan Daniel yang berjalan di belakang mereka.


"Jangan menghindarinya lagi Alvin, aku benar-benar tidak ingin dia bersedih apalagi sakit seperti ini," ucap Daniel pelan pada Alvin.


Alvin hanya membawa pandangannya pada Daniel, tanpa mengucapkan apapun. Dalam hatinya ia berjanji untuk tidak akan mengabaikan Nerissa lagi.


Sesuai dengan apa yang Daniel ucapkan padanya, ia akan menunggu sampai Nerissa memutuskan jika memang ada salah satu diantara mereka berdua yang Nerissa pilih untuk menjadi pasangannya.


"Kalaupun Nerissa memilih salah satu diantara kita, aku harap kita masih bisa berteman seperti sebelumnya tanpa harus ada yang berubah," ucap Daniel.


"Apa kau yakin kau akan baik-baik saja jika ternyata pilihan Nerissa tidak sesuai dengan yang kau inginkan?" tanya Alvin.


"Bukankah persahabatan kita lebih penting dari yang lainnya? lagi pula kau jangan terlalu percaya diri Alvin, dia juga hanya menganggapmu teman hahaha....."


"Kau benar, dia memang hanya ingin berteman dengan kita berdua," balas Alvin sambil terkekeh.


"Aku dan Putri akan menunggu disini," ucap Marin pada Alvin dan Daniel.


"Baiklah aku akan mengambil mobil dulu," balas Alvin kemudian berjalan ke arah ia memarkirkan mobilnya, sedangkan Daniel duduk menghampiri Nerissa dan Marin.


"Wajah cantikmu itu seperti bunga yang sedang layu saat kau sedang sakit seperti ini," ucap Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa yang masih tampak pucat.


"Maaf sudah membuatmu khawatir Daniel, aku janji akan lebih menjaga diri dengan baik," balas Nerissa.


"Jaga kesehatanmu dengan baik Nerissa, jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu stress, kau mempunyai Marin, aku dan Alvin yang akan selalu ada untukmu!"


"Terima kasih Daniel, aku sangat beruntung karena memiliki kalian semua," ucap Nerissa sambil memegang tangan Daniel dan Marin yang berada di samping kanan dan kirinya.


"Kita semua menyayangimu Putri," ucap Marin sambil memeluk Nerissa.


"Aku juga menyayangimu Marin," balas Nerissa.


"Apa kau juga menyayangiku?" sahut Daniel bertanya dengan tersenyum.


Nerissa hanya terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Daniel.


"Aku....."


Tiiiiinnnn tiiiiinnnn......


"Itu mobil Alvin, ayo kita pulang!" ucap Marin kemudian beranjak dari duduknya dengan menarik tangan Nerissa.


Nerissa dan Marinpun berjalan ke arah mobil Alvin, diikuti oleh Daniel yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Nerissa dan Marin duduk di belakang sedangkan Daniel duduk di samping Alvin. Alvin kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit menuju ke arah rumah Marin dan Nerissa.


Sesampainya disana mereka semuapun turun dari mobil.


"Kalian pulanglah, Putri harus beristirahat sekarang," ucap Marin pada Alvin dan Daniel.


"Apa kau memang selalu jahat seperti ini? aku baru saja bertemu Nerissa dan kau sudah mengusirku? balas Daniel.


"Keberadaanmu disini hanya akan mengganggu Putri, jadi cepatlah pergi!" ucap Marin yang sengaja membuat Daniel kesal.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang Alvin, Daniel, sepertinya aku harus beristirahat dulu, kau bisa datang lagi besok Daniel," ucap Nerissa.


"Baiklah, sepertinya aku memang harus pulang," balas Daniel tak bersemangat.


"Jangan lupa minum obatmu Nerissa dan jaga kesehatanmu," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.


Alvin dan Daniel pun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah Marin dan Nerissa.


"Antar aku kembali ke kantor!" ucap Daniel pada Alvin.


"Ke kantor? kenapa? bukankah kau bisa meminta seseorang untuk mengantar mobilmu pulang?" tanya Alvin tak mengerti.


"Aku meninggalkan ponselku di ruanganku hehehe......" balas Daniel terkekeh.


Alvin hanya menghela nafasnya kemudian mengubah arah tujuannya ke arah kantor.


Sesampainya di kantor Daniel segera turun dari mobil Alvin.


"Terima kasih sudah mengantarku, sekarang cepatlah pulang, ikan-ikanmu sudah menunggumu hahaha......" ucap Daniel kemudian pergi begitu saja.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah sudah ada Cordelia yang menunggunya di teras. Dengan langkah yang malas Alvin berjalan ke arah pintu rumahnya.


"Kenapa kau baru pulang? apa Ricky memberimu terlalu banyak pekerjaan?" tanya Cordelia pada Alvin.


Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan kemudian membuka pintu dan masuk begitu saja.


"Apa kau masih marah padaku? aku minta maaf Alvin, aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang mahkota itu," ucap Cordelia sambil menahan tangan Alvin.


"Berhenti membuat masalah Delia, aku tahu kau berbeda dari kakakmu, jadi jangan membuatku berfikir bahwa kau sama dengannya!"


"Tentu saja aku berbeda, aku tidak semenyebalkannya, kau pun tahu kalau aku sangat menyukaimu!"


"Aku minta maaf Alvin, aku juga akan minta maaf pada Nerissa dan Marin."


"Benarkah?"


Cordelia menganggukkan kepalanya penuh keyakinan, demi mendapatkan maaf dari Alvin ia harus meminta maaf pada Nerissa dan Marin.


"Baguslah kalau begitu, aku harap kau tidak akan membuat masalah lagi!"


"Tentu saja sekarang cepat mandi dan berganti pakaian, aku akan menyiapkan makan malam untukmu!" ucap Cordelia kemudian berjalan ke arah dapur.


Setelah Alvin selesai mandi dan berganti pakaian, ia pun keluar dari kamar dan menghampiri Cordelia yang sedang menyajikan makan malam di meja makan.


"Aku sudah lama tidak membuatkan pasta kesukaanmu, kau pasti sudah merindukannya bukan?"


Alvin hanya tersenyum tipis tanpa mengucapkan apapun kemudian menikmati makan malam yang sudah Delia buat untuknya.


**


Di tempat lain, Marin sedang menemani Nerissa di kamarnya. Saat Marin akan menutup jendela kamar Nerissa, Marin melihat sinar bulan yang menerangi langit malam.


"Beristirahatlah Putri, aku harus membuat ramuan yang harus aku berikan pada Chubasca dan Beetna, sepertinya besok bulan akan bersinar penuh," ucap Marin pada Nerissa.


"Benarkah? sepertinya baru kemarin mereka berdua kesini!"


"Iya Putri, aku juga merasakan hal yang sama, semoga besok Chubasca dan Beetna datang dengan membawa kabar baik."


"Semoga saja Marin," balas Nerissa sambil membawa pandangannya ke arah bulan yang masih terlihat dari kaca jendela kamarnya.


Marin kemudian menarik selimut dan menutup tubuh Nerissa dengan selimut tebal kemudian keluar dari kamar Nerissa.


Marin membawa langkahnya ke arah toko bunganya untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat ramuan.


"Semoga dengan ramuan ini Ratu Nagisa selalu terjaga dari niat buruk siapapun," ucap Marin sambil memetik beberapa bunga dan daun yang ada di toko bunganya.


Saat sedang memetik salah satu bunga, tiba-tiba sebuah memori singkat terlintas di kepalanya.


Sebuah memori ketika dirinya memetik bunga bersama dengan mermaid cantik yang ia panggil ibu.


Marin diam beberapa saat, ia berusaha untuk menggali ingatannya tentang mermaid dengan ekor biru yang ia panggil ibu.


Marin kemudian duduk di kursi dengan memejamkan kedua matanya, berharap memori singkat yang baru saja melintas dalam kepalanya kembali terulang.


Marin hanya terdiam, dalam gelap pandangnya ia melihat dirinya yang sedang berenang di taman bunga bersama mermaid cantik yang dipanggilnya ibu.


"Bunga ini tidak hanya cantik Marin, tetapi bunga ini juga memberikan banyak manfaat untuk kita," ucap mermaid cantik itu pada Marin yang saat itu masih sangat kecil.


Untuk beberapa saat Marin bisa mengulas memori masa kecilnya bersama sang ibu, beberapa hal yang ia lakukan bersama sang ibu seolah nyata ada di hadapannya saat itu.


Tanpa sadar kedua tangan Marin bergetar, dengan mata yang masih terpejam Marin bisa merasakan kehangatan pelukan ibunya, kasih sayang dan perhatian sang ibu meninggalkan rasa rindu yang menyesakkan dadanya.


Tiba tiba sebuah cahaya silau dari mobil yang berhenti di depan toko bunga Marin membuat Marin membuka matanya.


Beberapa butir mutiara sudah tercecer di lantai di toko bunganya, membuat Marin segera mengambilnya satu persatu sambil menghapus air mata yang masih tersisa di pipinya.


Marin kemudian menyembunyikan mutiara yang terjatuh di lantai lalu berjalan ke arah rumah dan membuka pintu rumahnya yang sudah diketuk beberapa kali oleh Daniel.


"Hai," sapa Daniel dengan tersenyum pada Marin yang membuka pintu.


Marin hanya tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kesedihan yang masih ia rasakan saat itu.


"Masuklah," ucap Marin kemudian berbalik hendak berjalan masuk, namun Daniel menahan tangan Marin, membuat Marin kembali berbalik menghadap Daniel.


"Ada apa denganmu? apa kau baru saja menangis?" tanya Daniel yang menyadari jika kedua mata Marin tampak memerah.


Marin hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


Daniel kemudian menarik tangan Marin, mendudukkan Marin di kursi yang ada di depan rumah.


"Kenapa duduk disini? bukankah kau ingin menemui Putri?" tanya Marin yang hendak beranjak dari duduknya ,namun Daniel lagi lagi menahan tangan Marin dan memaksa Marin untuk kembali duduk.


"Nerissa pasti sudah tidur, aku hanya ingin mengantarkan ini untuk Nerissa," ucap Daniel sambil memberikan satu box besar rumput laut kering.


"Aaahh iya, ini kesukaan Putri," balas Marin dengan tersenyum.


"Apa tidak ada yang ingin kau ceritakan padaku Marin? kau bisa bercerita apapun padaku," tanya Daniel pada Marin yang tampak berusaha menyembunyikan kesedihannya saat itu.


"Tidak ada Daniel, kau pulang saja jika memang tidak ingin bertemu Putri," ucap Marin kemudian beranjak dari duduknya.


Seketika Danielpun ikut beranjak dari duduknya lalu memeluk Marin begitu saja.


"Aku tahu kau gadis yang kuat Marin, aku tahu kau tidak seperti gadis lainnya yang mudah menangis, aku tahu kau lebih kuat dari itu, tetapi dengan menangis tidak menjadikanmu menjadi gadis yang lemah," ucap Daniel sambil memeluk Marin dengan erat.


Marin hanya terdiam beberapa saat karena terkejut dengan apa yang Daniel lakukan padanya.


"Aku mungkin bukan laki-laki yang baik, aku juga bukan teman yang baik untukmu, tetapi aku akan menjadi pendengar yang baik yang selalu siap untuk mendengar semua ceritamu, percayalah padaku Marin, jangan memendam kesedihanmu terlalu lama karena aku tahu itu sangat menyakitkan," ucap Daniel yang membuat kedua mata Marin berkaca-kaca


Marin memejamkan matanya, tanpa sadar tangannya bergerak memeluk Daniel. Bayangan kenangannya bersama sang ibu kembali melintas dalam ingatannya.


Memori masa kecil Marin bersama sang ibu yang baru saja Nerissa kembalikan membuat Marin bisa mengingat kenangannya bersama ibunya yang sudah lama terhapus.


Sudah bertahun-tahun lamanya Marin tidak pernah bisa mengingat apalagi merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu, namun tiba-tiba saja memori tentang sang ibu melintas dalam ingatannya, membuatnya benar-benar merindukan sang ibu yang tidak akan pernah bisa ia temui.


Bagi Marin kenyataan paling menyakitkan adalah saat kita merindukan seseorang yang bahkan tidak bisa kita temui lagi.


Rasa rindu yang menyesakkan itu membuat Marin semakin tenggelam dalam rasa bersedihnya, membuat matanya tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah terbendung di kedua matanya.


Meski begitu Marin berusaha untuk tetap menjaga air matanya agar tidak menetes ke lantai dan berubah menjadi mutiara di hadapan Daniel.


Daniel yang saat itu memeluk Marin dengan erat hanya bisa mengusap punggung Marin, berusaha untuk menenangkan Marin yang tampak sangat bersedih malam itu.


Gadis cantik yang selalu terlihat ceria itu kini bahkan terisak dalam pelukan Daniel, badannya terasa bergetar menahan kesedihan yang menyayat hatinya.


Daniel sengaja membiarkan Marin menangis dalam pelukannya ia membiarkan Marin menuntaskan semua kesedihan dalam tangisannya, karena ia tidak ingin Marin menahan kesedihan yang hanya akan membuatnya semakin tersakiti.


Di bawah langit malam dengan bulan yang hampir bersinar sempurna, Daniel yang biasanya selalu menyebalkan kini menjadi seseorang yang memeluk Marin dengan hangat.


Tangannya mengusap punggung Marin dan sesekali mengusap rambut Marin dengan lembut, berusaha untuk menenangkan Marin yang semakin terisak dalam pelukannya.


Melihat Marin yang seperti itu entah kenapa membuat Daniel ikut merasakan kesedihan yang Marin rasakan saat itu.


Ada sebuah rasa yang membuat dadanya sesak, ada sebuah rasa yang membuatnya tidak nyaman melihat gadis dalam dekapannya itu menangis tersedu-sedu.


Tanpa sadar, ada sebuah rasa yang perlahan menyelinap masuk ke dalam hatinya, entah akan tinggal selamanya atau hanya sebuah perasaan simpati yang sebentar lagi hilang.