Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kedatangan Cadassi



Mama Daniel begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Daniel. Selama ini mama Daniel berpikir jika hubungan Daniel dan Marin memang hanya sebatas teman meski salah satu dari mereka menyimpan perasaan pada yang lain.


Namun semakin lama melihat kedekatan Daniel dan Marin, mama Daniel bisa mengerti bahwa Marin menyukai Daniel dan ternyata Danielpun mengetahui hal itu meski hingga saat itu tidak ada kejelasan dalam hubungan mereka berdua.


"Kau mengetahuinya?" tanya mama Daniel memastikan.


"Iya Daniel tahu, tapi tolong jangan memberitahu Marin tentang hal ini karena Marin memang ingin merahasiakan tentang perasaannya pada Daniel, jadi Daniel tidak ingin Marin tahu bahwa Daniel sudah mengetahuinya."


"Kenapa begitu?" tanya mama Daniel tak mengerti.


"Susah untuk menjelaskannya ma, yang terpenting tolong rahasiakan hal ini dari Marin," ucap Daniel tanpa menjawab pertanyaan sang mama dengan jelas.


"Jika kau memang tahu Marin menyukaimu seharusnya kau memberikan kejelasan pada hubungan kalian berdua, apakah kau juga menyukainya atau tidak, jangan memberikan harapan palsu padanya Daniel, kau hanya akan menyakitinya jika kau bersikap seperti itu!" ucap Mama Daniel.


Daniel hanya menghela nafasnya panjang tanpa mengatakan apapun. Selama ini dia memang tahu tentang perasaan Marin padanya karena pada saat ia bersembunyi di dalam lemari Marin ia mendengar percakapan Marin dan Nerissa dengan jelas dan dari sikap Marin padanya ia bisa mengerti jika Marin memiliki perasaan yang lain padanya.


Tidak bisa dipungkiri dirinyapun sering berdebar ketika ia sedang bersama Marin, namun ia masih ragu karena ia merasa masih mencintai Nerissa dan ia tidak ingin menyakiti Marin jika ia memaksakan dirinya untuk mencintai Marin.


"Dia gadis yang baik Daniel, tidak seharusnya kau menyakitinya," ucap Mama Daniel.


"Daniel tahu ma, itu kenapa Daniel tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, Daniel tidak ingin keputusan Daniel nantinya menyakiti Marin, hubungan kita yang seperti ini saja sudah menyenangkan buat Daniel dan Marin, jadi......"


"Apa kau yakin Marin juga merasa senang dengan hubungan kalian yang seperti ini?" tanya Mama Daniel memotong ucapan Daniel.


Daniel hanya terdiam dengan menatap sang mama.


"Entah sejak kapan dia menyimpan perasaannya padamu Daniel dan entah berapa kali dia harus menahan cemburu saat melihatmu dekat dengan Nerissa, apa kau pikir dia senang dengan apa yang dia rasakan?" tanya Mama Daniel.


Daniel masih terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.


"Mama tahu kau tidak bermaksud menyakiti Marin, tapi cobalah untuk memahami posisi Marin, pasti berat baginya untuk menjalani hubungan yang tidak pasti denganmu seperti ini," ucap Mama Daniel.


Tanpa Daniel dan mamanya tahu, Marin mendengar semua percakapan Daniel dan mamanya dari depan pintu ruangan mama Daniel


Marin terdiam dengan memegang dadanya yang berdebar kencang, pada kenyataannya Daniel mengetahui apa yang selama ini dia sembunyikan dari Daniel.


"dia tahu..... dia sudah mengetahui semuanya, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? dia pasti tidak memberitahuku karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku, dia hanya tidak ingin mengecewakanku....dia hanya tidak ingin menyakitiku dengan penolakannya padaku," ucap Marin dalam hati dengan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.


"kenapa rasanya menyakitkan sekali, bagaimana jika dia menyatakan penolakannya padaku..... pasti lebih menyakitkan lagi...." batin Marin sambil menghapus air mata yang sudah menetes di pipinya.


Marin kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, berusaha mengatur emosinya saat itu.


"tenanglah Marin, tenang..... sembunyikan hal ini dari Daniel untuk selamanya sampai pada akhirnya Daniel menyatakan penolakannya dan saat itu tiba aku harus benar-benar melupakannya, jika perlu aku akan meminta Putri untuk membuatku menghapus semua memori tentang Daniel dalam kepalaku," ucap Marin dalam hati lalu membawa langkahnya meninggalkan rumah sakit itu.


Marin berjalan di lorong panjang rumah sakit dengan membawa hatinya yang terasa perih, berkali-kali ia menyeka air mata di pipinya agar tidak terjatuh.


"sejak kapan aku menjadi lemah seperti ini..... ayolah Marin jangan seperti ini..... kau benar-benar memalukan!" ucap Marin merutuki dirinya sendiri.


Marin kemudian mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Daniel.


"Maaf Daniel aku harus pulang, tolong sampaikan salamku pada tante Yasmin dan maaf karena tiba-tiba pulang tanpa berpamitan."


Tak butuh waktu lama, Danielpun membalas pesan Marin.


"Aku akan mengantarmu, di mana kau sekarang?"


Marin hanya tersenyum tipis membaca pesan dari Daniel.


"perhatianmu yang seperti ini memang membuatku senang, tapi setelah apa yang aku tahu tentangmu rasa senang itu seolah datang bersama luka, entah aku sedang senang atau sedang terluka saat ini," ucap Marin dalam hati sambil mendongakkan kepalanya menahan agar air mata di kedua matanya tidak tumpah.


Marin sengaja tidak membalas pesan Daniel, namun tiba-tiba Daniel menghubunginya tapi Marin sengaja mengabaikannya sampai beberapa kali Daniel menghubunginya dan Marin tetap saja mengabaikan panggilan itu.


Saat Marin berdiri di pinggir jalan raya untuk menunggu taksi, tiba-tiba seseorang memanggil nama Marin, membuat Marin segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggilnya.


"Marin!"


Marin begitu terkejut saat ia melihat siapa yang memanggilnya, untuk beberapa saat ia terdiam membeku di tempatnya berdiri.


Namun saat seseorang itu semakin mendekati Marin, perlahan Marin membawa langkahnya mundur lalu berlari.


Seseorang yang memanggilnya itupun ikut berlari mengejar Marin dan tak butuh waktu lama bagi seseorang itu untuk berhasil menangkap Marin.


"Katakan pada ayah kenapa kau bisa ada disini!" ucap Cadassi sambil mencengkeram tangan Marin dengan erat.


"Marin.... Marin hanya berjalan-jalan ayah," ucap Marin berbohong sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman sang ayah.


"Jangan berbohong Marin, kau disini bersama Putri bukan?"


"Tidak ayah, Marin hanya disini sendirian, Marin tidak bersama putri," jawab Marin ketakutan karena melihat sang ayah yang tampak penuh emosi saat itu.


"Baiklah jika kau masih berbohong, ikut ayah sekarang!" ucap Cadassi lalu menarik Marin ke dalam taksi yang berhenti di samping mereka.


"Tidak ayah, Marin tidak ingin ikut," ucap Marin yang berusaha menolak namun dengan satu kali dorongan Cadassi berhasil memaksa Marin untuk masuk ke dalam taksi.


Di sisi lain Daniel yang baru saja keluar dari rumah sakit melihat apa yang terjadi pada Marin. Ia pun segera menghentikan taksi yang lewat untuk mengikuti taksi yang membawa Marin pergi bersama laki-laki yang tak dikenalnya.


Setelah beberapa lama mengikuti Marin, taksi itupun berhenti di dekat pantai Pasha. Daniel melihat Marin keluar dari taksi itu bersama laki-laki yang memaksanya berjalan masuk ke dalam gubuk kecil yang berada tak jauh dari hutan bakau.


Di dalam gubuk kecil itu Cadassi menjatuhkan Marin ke lantai kayu dengan kasar.


"Katakan dimana Putri Netissa sekarang berada!" ucap Cadassi pada Marin.


"Marin tidak tahu ayah, Marin pergi ke daratan sendirian karena Marin kabur dari perintah Ratu," jawab Marin beralasan.


"Ayah sangat mengenalmu Marin, kau tidak mungkin seperti itu, apa mungkin ratu memberikan perintah yang lain untukmu?"


"Tidak ayah, Marin benar-benar pergi kesini sendirian tanpa Putri, Marin..."


PLAAAAKKKKK


Air mata Marinpun tumpah bersama rasa perih akibat tamparan dari sang ayah. Ia tidak menyangka ayah yang selama ini menyayanginya dan sangat disayangi olehnya kini mampu menamparnya dengan sangat keras.


"Jawab Marin, jangan membuatku semakin marah padamu!" ucap Cadassi yang sudah kehilangan kesabarannya karena semua rencananya gagal akibat dari perginya Putri Nerissa bersama Marin yang tidak pernah ia tahu tujuan kepergian mereka yang sebenarnya.


Marin hanya terdiam dengan air mata yang sudah menetes melewati pipinya menjadi butiran mutiara yang tercecer di lantai kayu itu.


Hatinya seolah telah tertusuk belati berkali-kali menyisakan rasa sakit yang teramat dalam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Tidak hanya karena tamparan sang ayah tapi juga karena sikap sang ayah yang tiba-tiba berubah padanya.


Cadassi kemudian berjongkok di hadapan Marin, ia memegang kedua pipi Marin dengan satu tangannya tanpa memperdulikan luka dan darah yang menetes dari sudut bibir Marin.


"Kau menghancurkan rencanaku Marin, kau menghancurkan semua rencana yang sudah aku siapkan selama ini," ucap Cadassi dengan menatap tajam kedua mata Marin.


Tiba tiba.....


BRAAAAAAKKKKKKK


Pintu gubuk kayu itu di dobrak dari luar hingga terbuka lebar. Tanpa ragu Danielpun masuk dan mendapati Marin yang bersimpuh di lantai dengan keadaan yang sangat kacau.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Daniel dengan raut wajah penuh emosi saat itu.


"Siapa kau! kenapa kau ikut campur?" tanya Cadassi yang terkejut dengan kedatangan Daniel yang tiba-tiba.


"Daniel pergilah, aku mohon pergilah," ucap Marin pada Daniel.


"Aku tidak mungkin pergi meninggalkanmu seperti ini Marin, siapa laki-laki brengsek ini, apa kau mengenalnya?" balas Daniel bertanya pada Marin.


"Ooohh rupanya kalian saling mengenal, baiklah kalau begitu, sepertinya akan ada mayat baru disini," ucap Cadassi lalu menarik Daniel dengan kasar dan menjatuhkannya di samping Marin.


Daniel merintih kesakitan namun berusaha untuk beranjak dan melawan Cadassi.


"Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan manusia biasa sepertimu!" ucap Cadassi yang membiarkan Daniel untuk berdiri menghadapinya.


"Kau benar, aku hanya manusia biasa yang tidak bisa melawanmu tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Marin dan sebentar lagi polisi pasti akan datang untuk menangkapmu," balas Daniel yang membuat Marin begitu terkejut.


"Ayah pergilah, akan sangat berbahaya jika polisi menangkap ayah disini," ucap Marin pada sang ayah


"Ayah?" tanya Daniel memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Iya Daniel, ini ayahku," jawab Marin.


"Tidak perlu banyak berbahasa basi, kau akan mati di tanganku saat ini juga," ucap Cadassi yang hendak melayangkan tinjunya pada Daniel namun dengan cepat Marin memeluk Daniel untuk menghalangi tangan sang ayah yang akan memukul Daniel.


Beruntung Cadassi bisa menahan tangannya agar tidak sampai memukul Marin karena jika sampai pukulan itu mengenai Marin maka nyawa Marinpun tidak akan selamat.


"Apa yang kau lakukan Marin? kenapa kau melindungi manusia ini?" tanya sang ayah pada Marin.


"Tolong jangan menyakitinya ayah, dia tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ayah," ucap Marin berusaha membela Daniel.


"Apa kau menyukainya?" tanya Cadassi pada Marin.


Marin kemudian bersimpuh di hadapan sang ayah dengan memegang kaki sang ayah.


"Lakukan apapun yang ayah mau asalkan jangan menyakitinya, Marin akan mengikuti semua ucapan ayah asalkan ayah membiarkan dia pergi," ucap Marin memohon pada sang ayah.


Melihat sang anak yang menyukai manusia biasa seperti Daniel, Cadassipun semakin murka, tanpa ragu Cadassi mengayunkan kakinya membuat Marin terdorong cukup jauh dan menghempas dinding kayu gubuk kecil itu.


Marin merintih kesakitan akibat dari tendangan sang ayah padanya.


"Berrtahanlah Marin, polisi akan segera datang," ucap Daniel sambil menyeka darah di sudut bibir Marin.


"Kau manusia biasa, jangan pernah berani untuk menyukainya karena dia berbeda jauh denganmu dan kalian berdua tidak akan pernah bisa bersatu, sebesar apapun rasa suka kalian!" ucap Cadassi pada Daniel.


Daniel kemudian berdiri menatap tajam kedua mata Cadassi yang penuh dengan amarah saat itu.


"Daniel menyukainya, Daniel mencintainya dan Daniel akan mengusahakan apapun agar bisa bersamanya, apapun yang terjadi Daniel tidak akan membuatnya menangis dan terluka seperti yang om lakukan saat ini sebagai ayahnya!"


"Apapun usaha yang akan kau lakukan hanya sia-sia karena kau tidak akan pernah bersamanya, karena dia adalah......"


Cadassi menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara riuh para manusia yang mendekat ke arah gubuk kecil itu.


"Sialan!" umpat Cadassi kesal lalu berjalan ke arah belakang gubuk dan menjatuhkan dirinya ke dalam air.


Saat Daniel akan mengikuti Cadassi, Marin menahan tangan Daniel agar berhenti mengikuti sang ayah.


Danielpun kembali bersimpuh di hadapan Marin, memastikan jika Marin masih bertahan dengan keadaannya saat itu.


Namun tak berapa lama kemudian Marinpun terpejam tak sadarkan diri tepat saat polisi tiba.


Daniel kemudian memberitahu polisi bahwa seseorang yang menyakiti Marin baru saja masuk ke dalam perairan yang ada di belakang gubuk kecil itu.


Dengan dibantu beberapa polisi yang lain Daniel segera membawa Marin ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Marin segera mendapat perawatan dari dokter lalu dipindahkan ke ruangan VIP sesuai dengan permintaan Daniel.


Untuk beberapa lama Daniel hanya terdiam dengan menatap Marin yang masih terpejam di ranjangnya.


Entah kenapa hatinya merasa sakit melihat Marin yang penuh luka saat itu. Meskipun ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Marin dan ayahnya tetapi ia bisa tahu jika hubungan Marin dan ayahnya tidak baik baik saja.


"kau gadis yang hebat Marin, kau gadis yang kuat, di balik senyummu itu ada banyak luka dan kesedihan yang berhasil kau sembunyikan, maafkan aku karena aku harus menjadi bagian dari kesedihan yang kau sembunyikan itu," ucap Daniel dalam hati sambil menggenggam tangan Marin


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari pihak kepolisian yang memberitahu Daniel bahwa pihak kepolisian menemukan beberapa butir mutiara yang ada di dalam gubuk.


Polisi juga memberitahu Daniel bahwa mereka gagal untuk menemukan seseorang yang menyerang Marin tapi mereka akan terus berusaha untuk mencari ke sekitar tempat kejadian.