
Nerissa masih berada di dalam sebuah gedung bersama Alvin. Meskipun ia tidak tau pasti tempat apa yang ia datangi saat itu, tapi melihat Alvin yang begitu antusias membuat Nerissa yakin jika ia juga akan menyukai tempat itu.
Mereka kemudian berjalan memasuki lorong yang kanan dan kirinya terdapat berbagai macam gambar hewan laut beserta penjelasannya.
Setelah melewati lorong, Nerissa begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat itu. Matanya membelalak tak percaya saat melihat dinding kaca di sekitarnya.
Ya, Nerissa sedang melihat akuarium raksasa saat itu. Di dalam akuarium yang sangat besar itu terdapat banyak hewan laut yang hidup di dalamnya, di lain sisi ia juga bisa melihat paus yang berenang bersama temannya.
Alvin kemudian menarik tangan Nerissa, membawa Nerissa mendekat ke arah dinding kaca akuarium itu.
Saat Nerissa mendekat, ikan ikan kecil mulai menghampiri Nerissa dan bergerombol di hadapan Nerissa.
"Lihatlah, sepertinya mereka sangat menyukaimu!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Melihat akuarium yang sangat besar dan ikan ikan kecil yang sangat banyak, membuat Nerissa merindukan ekornya.
Ia ingin masuk ke dalam dan berenang bersama ikan ikan cantik itu.
Alvin kemudian menarik tangan Nerissa, membawanya ke sisi paus.
"Lihatlah, bukankah dia begitu menakjubkan?" ucap Alvin pada Nerissa.
"Iya, semua yang ada disini sangat menakjubkan Alvin!" balas Nerissa.
Setelah menghabiskan waktu beberapa lama disana, Alvin mengajak Nerissa melanjutkan perjalanan mereka.
Alvin mengajak Nerissa untuk duduk di salah satu kursi yang ada di salah satu ruangan. Di hadapannya ada seperti akuarium besar dan tinggi yang juga terdapat banyak ikan kecil kecil di dalamnya.
"Siapkan dirimu, kau akan terkejut setelah ini!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alvin. Benar saja apa yang Alvin ucapkan, tak lama kemudian Nerissa membelalakkan matanya melihat apa yang ada di hadapannya.
Ia melihat mermaid dengan ekor biru berenang diantara ikan ikan yang ada di dalam akuarium. Mermaid itu tampak bersenang senang dengan ikan yang ada di dalamnya. Dengan senyum cantiknya ia melambaikan tangannya pada pengunjung yang duduk rapi di depannya.
"kenapa ada mermaid disini? kenapa dia bisa bersikap seperti itu di dunia manusia? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa manusia....."
"Nerissa, apa yang kau pikirkan?" tanya Alvin membuyarkan lamunan Nerissa.
"Dia..... mermaid?" tanya Nerissa dengan menunjuk mermaid yang ada di dalam akuarium besar.
"Apa kau melihatnya seperti mermaid sungguhan?" balas Alvin bertanya.
"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Nikmati saja dulu, setelah pertunjukan ini selesai, aku akan menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"ada apa sebenarnya? apa manusia dan mermaid bisa hidup berdampingan?" tanya Nerissa dalam hati.
Setelah beberapa lama pertunjukan mermaid berlangsung, Alvin mengajak Nerissa ke sebuah ruangan khusus yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
Namun karena Alvin mengenal dengan baik pengelola tempat itu, ia bisa memasuki ruangan khusus itu.
"Lihatlah!" ucap Alvin pada Nerissa.
Nerissa membawa pandangannya ke arah jari Alvin menunjuk. Dilihatnya mermaid yang berada di akuarium besar sedang duduk di tangga, kemudian hal yang mengejutkan Nerissapun terjadi.
Mermaid itu menarik sesuatu di bagian pinggangnya lalu seseorang menarik ekornya dengan kencang dan ekor itupun terlepas dari tubuhnya, memperlihatkan dua pasang kaki manusia.
"Dia... manusia?" tanya Nerissa.
"Iya, itu hanya kostum mermaid yang memang digunakan untuk pertunjukan, apa kau belum pernah melihatnya?"
"Aku pikir dia.... dia memang...."
"Apa kau percaya ada mermaid sungguhan di dunia ini?" tanya Alvin berbisik pada Nerissa.
Nerissa kemudian membawa pandangannya pada Alvin. Ia teringat buku yang pernah ia baca bahwa manusia menganggap mermaid adalah makhluk mitologi yang keberadaannya belum bisa dipastikan kebenarannya.
Manusia hanya mendengar nama "mermaid" dari kisah kisah mitologis, legenda ataupun fabel dan juga banyak film yang bercerita tentang mermaid, tanpa manusia sendiri tau apa dan bagaimana "mermaid" yang sebenarnya.
"Nerissa, apa yang kau pikirkan?" tanya Alvin yang melihat Nerissa hanya terdiam.
"Aaahhh tidak... apa kita bisa pergi ke tempat lain?"
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian mengajak Nerissa melihat pertunjukan lumba lumba.
"Dia memang sangat cerdas!" ucap Nerissa sambil bertepuk tangan saat melihat lumba lumba itu memasuki lingkaran satu per satu.
Setelah pertunjukan selesai, semua yang ada disana mendapat satu voucher yang bisa mereka gunakan untuk menikmati makanan laut yang tersedia disana.
Alvin dan Nerissa kemudian saling pandang saat menerima voucher itu.
"Apa kau mau makan disana?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Aku.... aku tidak bisa memakan makanan laut," jawab Nerissa.
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian mengajak Nerissa meninggalkan tempat itu
"Aku akan mengajakmu ke tempat lain!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
Alvin mengendarai mobilnya ke arah kafe yang tak jauh dari tempat sebelumnya. Sesampainya disana, ia segera mengajak Nerissa masuk dan naik ke lantai dua.
Ia sengaja memilih lantai dua karena disana ia bisa melihat pemandangan yang indah. Taman hiburan dengan berbagai wahana bermain terlihat dari tempat Alvin dan Nerissa duduk.
Di sisi yang lain mereka bisa melihat danau dengan perahu kecil di sekitarnya.
"itu adalah tempat yang sangat ingin aku kunjungi, aku harus bisa kesana bersama Marin!" batin Nerissa senang yang tanpa sadar membuatnya tersenyum.
"Tempat itu belum dibuka," ucap Alvin yang mengetahui arah pandangan Nerissa ke arah taman bermain.
"Kenapa?"
"Itu tempat wisata baru, mungkin satu atau dua bulan lagi tempat itu akan segera dibuka, apa kau mau kesana?"
Nerissa menganggukan kepalanya penuh semangat. Ia sangat ingin menaiki satu per satu wahana permainan yang ada disana.
"Wahana apa yang akan kau coba pertama kali?" tanya Alvin pada Nerissa.
"Tentu saja bianglala itu, aku sangat ingin berada di titik paling atas dan melihat pemandangan dari sana!" jawab Nerissa bersemangat.
"Kau belum pernah menaikinya?" tanya Alvin yang hanya dibalas gelengan kepala Nerissa.
"Kau pasti sudah pernah menaiki semua yang ada disana, apa sangat menyenangkan seperti yang ada di tv?" tanya Nerissa penasaran.
"Iya, bermain disana memang sangat menyenangkan, tapi aku hanya pernah satu kali bermain di wahana permainan bersama mama dan papa," jawab Alvin.
"Kenapa? kalau aku jadi kau, aku akan sesering mungkin bermain disana!"
"Karena mama dan papa sudah meninggal sejak aku masih kecil," jawab Alvin yang membuat Nerissa terdiam.
"Maafkan aku," ucap Nerissa yang merasa bersalah.
"Tidak apa, walaupun aku hanya punya waktu sebentar untuk hidup bersama mama dan papa, tapi aku selalu menyimpan mereka di dalam hatiku, dengan begitu aku tidak akan merasa kehilangan mereka," ucap Alvin dengan tersenyum.
Nerissa hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Alvin. Beruntung, tak lama kemudian makanan pesanan Alvin datang dan memecahkan kecanggungan diantara mereka berdua.
Setelah selesai makan, makanan penutup yang Alvin pesanpun datang. Ice cream vanila dengan lelehan coklat dan taburan almond sudah terhidang di depan Alvin dan Nerissa.
"Ice cream?" tanya Nerissa memastikan.
Selama ia tinggal di darat, ia belum pernah memakan ice cream sebelumnya. Ia hanya pernah melihatnya di tv dan sama sekali tidak tertarik untuk mencobanya karena melihat teksturnya yang dinilainya aneh dan menjijikkan.
"Iya, apa kau tidak menyukainya?"
"Mmmm.... aku.... aku belum pernah mencobanya," jawab Nerissa ragu.
Ia takut Alvin akan tersinggung jika dia berkata tidak menyukainya.
"Kau belum pernah makan ice cream seumur hidupmu?" tanya Alvin tak percaya.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.
Dengan ragu Nerissa menyendok ice cream di hadapannya dan mengarahkannya ke mulutnya.
"Kau akan menyesal jika tidak mencobanya, percaya padaku!" ucap Alvin meyakinkan.
Nerissa kemudian membuka mulutnya dan dengan cepat memasukkan ice cream ke dalam mulutnya dan segera menelannya dengan memejamkan matanya.
Untuk beberapa saat Nerissa terdiam merasakan sensasi luar biasa yang dirasakan lidahnya.
Tidak seperti dugaannya, ice cream yang terlihat menjijikkan itu terasa begitu nikmat. Rasa manis yang tertinggal di lidahnya membuatnya ingin kembali menyendok ice cream di hadapannya.
"Apa aku boleh mencobanya lagi?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tentu saja, itu milikmu!" jawab Alvin.
Nerissapun kembali menyendok ice cream di hadapannya dan menikmatinya dengan mata berbinar karena rasa manis yang memanjakan lidahnya.
Alvin hanya bisa menahan senyumnya, melihat Nerissa yang tampak menggemaskan di matanya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alvin.
"Hmmm...." balas Nerissa dengan menganggukan kepalanya.
Ia bahkan tidak berbicara sama sekali karena sibuk menikmati ice cream di hadapannya.
"Aaaahhhh.... ini sangat enak, aku tidak sadar sudah menghabiskannya dengan cepat!" ucap Nerissa saat ice cream miliknya sudah habis.
"Aku akan memesannya lagi!" balas Alvin sambil membungkukkan badannya, mengulurkan tangannya dan mengusap sisa ice cream di sudut bibir Nerissa menggunakan jarinya.
Nerissa hanya tersenyum malu sambil mengusap bibirnya.
"Apa aku sangat memalukan?" tanya Nerissa berbisik.
"Tidak, kau sangat menggemaskan," jawab Alvin dengan tersenyum senang.
Nerissa tertawa kecil mendengar jawaban Alvin.
Tak lama kemudian ice cream kedua datang. Nerissa menyambutnya dengan bertepuk tangan kecil yang membuat Alvin semakin gemas.
Setelah ice cream kedua habis, Nerissa menyandarkan dirinya di kursinya dengan mengelus perutnya.
"Aku akan memesannya lagi!" ucap Alvin.
"Tidak, jangan!" balas Nerissa cepat.
"Kenapa? apa kau sudah bosan?" tanya Alvin.
"Mmmm.... lebih baik kita pergi dari sini," jawab Nerissa.
"Kenapa?" tanya Alvin tak mengerti.
"Perutku pasti akan meledak karena terlalu banyak makan ice cream," jawab Nerissa.
"Apa kau kenyang karena makan ice cream?"
"Sebenarnya tidak, hehehe....."
Alvin tersenyum tipis kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan kafe bersama Nerissa setelah membayar.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Aku akan mengajakmu berkeliling kota," jawab Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.
Hari itu Nerissa merasa bersemangat dan sangat bahagia karena sudah melihat dan mencoba banyak hal baru bersama Alvin.
**
Di sisi lain, Daniel masih duduk di depan toko bunga Marin karena Marin sama sekali tidak mengizinkannya masuk.
Ia duduk bersama seseorang yang akan diwawancara oleh Marin. Ya, Marin sedang melakukan wawancara pada beberapa calon pekerjanya saat itu.
Setelah seseorang yang terakhir masuk dan beberapa lama kemudian keluar, Daniel pun masuk seperti mereka yang ingin melamar pekerjaan disana.
"Kenapa kau masih disini? pergilah!"
"Aku akan tetap disini sampai kau mau mendengarkanku!" jawab Daniel.
Marin menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya dan mulai membuat buket bunga pesanan.
"Kemana buket bunga ini harus diantar?" tanya Daniel pada Marin.
Marin hanya diam dan tetap mengabaikan Daniel.
"Marin, aku minta maaf, aku tau ucapanku padamu sudah sangat keterlaluan kemarin, aku benar benar minta maaf," ucap Daniel pada Marin.
Meskipun Daniel selalu kesal pada Marin, entah kenapa melihat Marin yang mengabaikannya begitu menganggu pikirannya.
Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya harus mendapatkan maaf dari Marin.
Waktu berlalu, cahaya matahari semakin tenggelam di ujung langit barat. Saat Marin akan menutup toko bunganya, ia melihat Daniel yang duduk bersandar di depan toko bunganya.
Ada sedikit rasa bersalah dan kasihan saat ia melihat Daniel menunggunya dari pagi sampai malam di depan toko bunganya.
Terlebih saat ia mengingat masalah yang Daniel hadapi saat itu.
"Masuklah!" ucap Marin pada Daniel.
Daniel yang mendengar hal itu segera beranjak dari duduknya.
"Aku...... masuk?" tanya Daniel tak percaya.
Marin hanya diam lalu menutup toko bunganya dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Daniel segera berlari kecil ke arah pintu rumah Marin dan mengetuknya pelan.
Tak lama kemudian pintu terbuka, Danielpun memamerkan senyumnya pada Marin, namun Marin hanya menatapnya dengan raut wajah datar kemudian kembali masuk.
Marin berjalan ke arah dapur untuk memasak, sedangkan Daniel hanya duduk diam di ruang tamu.
Tidak seperti biasanya, hari itu Daniel menjadi laki laki pendiam. Ia hanya duduk diam menunggu Marin mau berbicara padanya.
Tak lama kemudian Marin keluar dengan membawa dua mangkok mie instan yang terlihat masih panas.
"Makanlah, kau belum makan dari tadi!" ucap Marin sambil menggeser mangkok mie ke hadapan Daniel.
"Terima kasih Marin!"
Setelah makanan mereka habis, Marin membawa dua mangkok itu ke dapur lalu mencucinya.
Tiba tiba Daniel datang dan merebut mangkok yang sedang Marin cuci. Marinpun seketika membawa pandangannya pada Daniel.
"Aku yang akan mencucinya!" ucap Daniel dengan menatap kedua mata Marin.
Marin segera mencuci tangannya lalu keluar dari dapur dan mengambil ponselnya yang tadi pagi Nerissa berikan padanya.
"Aku akan memesan taksi untukmu!" ucap Marin pada Daniel.
"Memesan taksi? untuk apa?" tanya Daniel yang segera menghampiri Marin setelah selesai mencuci mangkok.
"Agar kau segera pulang!" jawab Marin.
Daniel kemudian merebut ponsel milik Marin dan membatalkan pemesanan taksi dengan segera.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mau berbicara padaku!" ucap Daniel pada Marin.
"Kembalikan ponselku!" ucap Marin yang berusaha merebut ponselnya dari tangan Daniel.
Daniel lalu mengangkat tangannya yang memegang ponsel Marin. Karena postur tubuh Marin yang pendek, Marin harus melompat di hadapan Daniel agar bisa mengambil ponselnya.
Saat ia baru saja mendaratkan kakinya, tanpa sengaja ia menjatuhkan dirinya pada Daniel, membuat Daniel ikut terjatuh.
Mereka berduapun sama sama terjatuh dengan kepala Marin yang berada di atas dada Daniel. Marin segera mengangkat kepalanya dan seketika mereka saling menatap untuk beberapa saat.