Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Nerissa dan Amanda



Hari telah berganti, seperti biasa Marin dan Nerissa sudah berada di toko bunga pagi itu.


"Ada apa Putri? kenapa kau terlihat tidak bersemangat?" tanya Marin pada Nerissa yang duduk termenung menatap bunga-bunga di hadapannya.


"Entahlah Marin, aku tidak tahu apa aku harus bersedih atau bahagia saat ini," jawab Nerissa.


"Bukankah Alvin sudah kembali padamu Putri? lalu apa yang membuatmu bersedih?" tanya Marin.


"Aku merasa sangat jahat jika aku bisa tersenyum senang padahal aku tahu ada seseorang yang sedang bersedih saat ini," jawab Nerissa.


"Siapa yang kau maksud Putri?"


"Daniel, aku dan dia sudah bersepakat untuk mengakhiri sandiwara kita tapi....."


"Jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada Daniel?" tanya Marin memotong ucapan Nerissa membuat Nerissa segera membawa pandangannya pada Marin.


Nerissa tersenyum lalu menarik tangan Marina agar duduk di sampingnya.


"Apa benar kau sudah jatuh cinta padanya? aaaah..... aku sudah menduganya, walaupun terkadang menyebalkan, tetapi sikapnya sangat manis, dia selalu pandai membuat hati perempuan berdebar," ucap Marin dengan tersenyum hambar.


"Dari mana kau tahu kalau sikapnya membuat hati perempuan berdebar? apa kau termasuk salah satu dari perempuan itu?" tanya Nerissa yang membuat Marin segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku ...... aku hanya menebaknya saja hehe......" ucap Marin gugup.


"Kau benar Marin, Daniel memang sangat baik, dia juga sering bersikap manis padaku tetapi hatiku tidak pernah berdebar karenanya, kau tahu kenapa...... karena aku tidak jatuh cinta padanya," ucap Nerissa.


"Benarkah? apa kau benar-benar tidak jatuh cinta padanya?" tanya Marin yang tiba-tiba bersemangat.


"Kau tahu sudah ada seseorang di hatiku bukan? aku tidak bisa jatuh cinta pada seseorang hanya karena dia baik padaku," balas Nerissa.


Marin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, tanpa sadar segaris senyum tergambar di bibirnya.


"Jadi jangan khawatir, masih ada kesempatan untukmu mendapatkan Daniel," ucap Nerissa sambil menyenggol lengan tangan Marin.


"Apa maksudmu Putri, aku tidak mengerti," balas Marin sambil mengalihkan pandangannya dari Nerissa untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Walaupun kita tahu kita tidak bisa bersama mereka untuk selamanya, setidaknya kita bisa menikmati waktu kita disini bersama mereka, setelah kita menyelesaikan tugas kita disini aku akan menghapus memori mereka tentang kita, bagaimana menurutmu?"


"Aku setuju," jawab Marin sambil menggangguk anggukan kepalanya.


"Tentang Daniel kau tidak perlu terlalu memikirkannya, dia pasti baik-baik saja, walaupun berat aku yakin dia pasti bisa melewati masa-masa menyakitkan ini," lanjut Marin.


"Terkadang dunia memang terasa tidak adil Marin, tapi ini adalah jalan yang sudah dewa gariskan untuk kita," ucap Nerissa.


"kau benar putri, dunia memang terasa tidak adil untukku, hatiku berdebar untuk seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkanku, hatiku berdebar untuk seseorang yang sudah menyimpan orang lain dalam hatinya," ucap Marin dalam hati.


"dunia memang terasa tidak adil untukku, saat dua hati saling mencintai namun dunia kita yang berbeda seolah memberikan jarak yang begitu jauh, membuat dinding tinggi memisahkan kita meski tidak ada keraguan pada dua hati yang saling mencintai," ucap Nerissa dalam hati.


Nerissa dan Marin kompak menghela nafas lalu saling memandang dan tersenyum kemudian tertawa bersama.


"Dunia ini cukup indah selagi aku masih bisa melewatinya bersamamu Putri," ucap Marin pada Nerissa.


"Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, terima kasih karena selalu menemaniku Marin," balas Nerissa lalu memeluk Marin.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Nerissa baru saja kembali dari mengantar buket bunga.


"Walaupun sandiwara kalian sudah selesai kau tidak akan mengembalikan sepeda itu pada Daniel bukan?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tentu saja tidak, tapi jika Daniel ingin mengambilnya maka aku akan memberikannya," jawab Nerissa.


"Tidak mungkin Daniel seperti itu," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Sebuah panggilan di ponsel Marin dari sebuah nomor yang tak dikenalnya.


"Selamat siang dengan Marin Florist, ada......"


"Aku ingin memesan bunga mawar merah," ucap seseorang yang menghubungi Marin, membuat Marin seketika terdiam saat dia mengingat dengan jelas siapa pemilik suara itu.


"Aku sudah bilang aku tidak ingin menjual bunga mawar merahku untukmu," ucap Marin dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah.


"Aku akan membayar berapapun yang kau mau, aku hanya ingin bunga mawar merah itu diantar oleh Nerissa ke rumahku!"


"Aku......"


"Halo ada yang bisa saya bantu?" tanya Nerissa setelah Nerissa merebut ponsel Marin.


"Aku memesan bunga mawar merah, antarkan ke rumahku sekarang juga!" jawab seseorang itu lalu mematikan sambungan ponselnya begitu saja.


Nerissa terdiam beberapa saat lalu mengembalikan ponsel Marin.


"Abaikan saja Putri, padahal aku sudah memblokir kontaknya, tetapi dia menghubungiku menggunakan nomor yang lain," ucap Marin pada Nerissa.


"Siapkan saja bunganya Marin, aku akan mengantarnya," balas Marin.


"Tidak Putri, kau tidak perlu mengantar bunga itu kesana, lagi pula sejak dia datang kesini bersama Alvin aku sudah menolak untuk menjual bungaku padanya!"


"Jangan ikut membenci Amanda hanya karena apa yang dia lakukan padaku Marin, bisa jadi dia sebenarnya perempuan yang baik hanya saja dia sedikit egois untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Nerissa.


"Jangan terlalu berpikir positif tentang manusia putri, kau tahu banyak jenis manusia disini dan tidak semua manusia itu baik," ucap Marin memperingati Nerissa.


"Aku tahu, itu kenapa aku tidak ingin kita menjadi manusia yang tidak baik, kita hanya sementara di daratan jadi aku tidak ingin membuat masalah disini!"


"Masalah datang bukan hanya karenamu Putri tapi juga karena orang-orang di sekitarmu, jadi....."


"Siapkan saja bunga pesanan Amanda, aku akan mengantarnya sekarang juga," ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


"Tidak Putri, aku tidak ingin dia menyakitimu, aku takut dia akan melakukan hal yang lebih jahat padamu," ucap Marin menolak.


"Jangan mengkhawatirkanku Marin, kau tahu mahkota ini akan melindungiku bukan?"


"Aku tau, tapi......"


"Amanda boleh membenciku tapi aku tidak akan membencinya Marin, jika aku membalas kebenciannya hal itu hanya akan membuatnya semakin membenciku dan aku tidak ingin itu terjadi," ucap Nerissa yang membuat Marin hanya bisa menghela nafasnya.


Marinpun menyiapkan pesanan Amanda lalu memberikannya pada Nerissa.


"Apa kau sudah membawa ponselmu?" tanya Marin.


"Sudah, berhentilah mengkhawatirkanku Marin, aku hanya akan mengantar bunga ke rumahnya."


"Aku tidak akan mengkhawatirkanmu jika kau tidak pergi ke rumah Amanda, Putri!"


"Aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu, aku pergi dulu!" ucap Nerissa lalu menaruh bunga mawar di keranjang sepedanya kemudian mengayuh sepedanya meninggalkan toko bunga ke arah rumah Amanda.


Sesampainya di rumah Amanda, Nerissa membawa langkahnya masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali.


"Amanda, apa kau ada di dalam?" tanya Nerissa namun tidak ada jawaban.


Terdengar suara yang cukup keras dari salah satu kamar yang ada di rumah itu, Nerissapun segera membawa langkahnya ke arah kamar itu dan mendapati Amanda yang tengah bergulat dengan tali yang mengikat lehernya sedangkan di bawahnya ada sebuah kursi yang terjatuh.


Nerissapun segera mengembalikan kursi itu lalu menaiki kursi itu untuk membantu Amanda melepaskan tali yang mengikat leher Amanda.


"Apa yang kau lakukan Amanda? kenapa kau melakukan hal ini?" tanya Nerissa pada Amanda yang sudah terpejam dengan wajah yang sangat pucat.


Setelah berhasil melepaskan tali dari leher Amanda, Nerissa dan Amandapun terjatuh di atas ranjang.


"Amanda bangunlah, jangan membuatku takut," ucap Nerissa sambil menggoyangkan badan Amanda namun tidak ada respon apapun dari Amanda.


"Tidak..... ini tidak boleh terjadi, Amanda tidak boleh meninggal," ucap Nerissa panik.


Tanpa pikir panjang Nerissa memegang pergelangan tangan Amanda, berusaha untuk membuat Amanda kembali tersadar.


Nerissa memejamkan matanya saat ia merasa seluruh tenaganya seperti sudah terkuras habis. Ia merasa sesuatu menarik tenaganya dengan sangat kuat hingga tanpa sadar Nerissa sudah membahayakan dirinya hanya untuk menyelamatkan nyawa Amanda.


Tak berselang lama kemudian Nerissa bisa merasakan aliran darah Amanda yang kembali mengalir dengan baik di dalam tubuhnya, detak jantung Amandapun kembali berdetak normal.


Bersamaan dengan itu, Nerissa membuka matanya dan menyadari hidungnya yang tengah berdarah saat itu.


Tak lama kemudian Amandapun mengerjapkan matanya dan begitu terkejut karena ada Nerissa yang duduk di dekatnya dengan hidung yang berdarah.


"Nerissa, kau...."


"Bagaimana keadaanmu Amanda? apa kau baik-baik saja?" tanya Nerissa memotong ucapan Amanda.


Amanda hanya menganggukkan kepalanya, ia merasa linglung dan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.


Di sisi lain, Marin yang melihat Alvin masuk ke toko bunganya segera memberitahu Alvin bahwa Nerissa sedang mengantar buket bunga ke rumah Amanda.


"Aku tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba aku sangat gelisah memikirkan Putri," ucap Marin pada pada Alvin.


"Aku akan segera kesana," ucap Alvin lalu kembali masuk ke dalam mobilnya dan segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Amanda.


"kenapa kau pergi kesana Nerissa? aku sudah memutus hubungan dengannya, seharusnya kaupun melakukan hal itu," ucap Alvin dalam hati sambil mempercepat laju mobilnya.


Sesampainya di rumah Amanda, Alvin segera berlari masuk tanpa mengetuk pintu. Saat baru saja memasuki rumah Amanda, Alvin begitu terkejut saat melihat Nerissa yang keluar dari kamar Amanda dengan terhuyung.


"Nerissa, apa yang terjadi padamu?" tanya Alvin sambil memegang kedua bahu Nerissa.


"Aku.... hanya sedikit pusing," jawab Nerissa sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Aku tidak melakukan apapun padanya Alvin, aku......"


"Berhenti disana dan jangan mendekat!" ucap Alvin memotong ucapan Amanda.


"Percayalah padaku Alvin, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya," ucap Amanda berusaha meyakinkan Alvin.


"Alvin, aku...."


Seketika Nerissa kehilangan kesadarannya sebelum ia melanjutkan ucapannya. Alvinpun segera membopong Nerissa keluar dari rumah Amanda dan membawa Nerissa masuk ke dalam mobilnya.


"Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nerissa," ucap Alvin pada Amanda yang hanya berdiri di depan pintu rumahnya.


Amanda hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun karena ia sendiripun tidak tahu apa yang terjadi pada Nerissa saat itu.


Alvin segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit. Namun tiba tiba Nerissa mengerjapkan matanya.


Dengan sisa tenaga yang ada Nerissa meraih tangan Alvin, membuat Alvin segera membawa pandangannya pada Nerissa.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit Nerissa, bertahanlah sebentar lagi," ucap Alvin sambil menggenggam tangan Nerissa.


"Antar aku pulang Alvin," ucapn Nerissa dengan suara yang sangat lirih hampir tidak terdengar oleh Alvin.


"Tidak Nerissa, aku harus membawamu ke rumah sakit!"


"Aku mohon Alvin, aku.... hanya perlu beristirahat," ucap Nerissa dengan kedua mata yang kembali terpejam.


Alvin hanya menghela nafasnya kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.


Sesampainya di depan rumah Nerissa, Alvin segera membuka pintu mobilnya dan membopong Nerissa keluar dari mobil.


Marin yang melihat hal itu segera membuka pintu rumahnya sekaligus membuka pintu kamar Nerissa. Alvinpun membaringkan Nerissa di ranjang kamarnya.


"Ada apa ini Alvin? apa yang terjadi pada putri?" tanya Marin pada Alvin yang juga tampak panik saat itu.


"Aku juga tidak tahu Marin, saat aku sampai di rumah Amanda Nerissa sudah seperti ini," jawab Alvin dengan kedua mata menatap Nerissa yang terpejam di hadapannya.


"Amanda tidak melakukan hal yang buruk pada Putri bukan?" tanya Marin memastikan.


"Kita hanya akan tahu jawabannya setelah Nerissa tersadar, jika memang Amanda yang melakukan ini pada Nerissa aku benar-benar tidak bisa memaafkannya," balas Alvin.


"kalau ini semua karena Amanda, aku akan pastikan kau tidak akan pernah menemui Amanda lagi Putri, cukup sekali ini saja aku membiarkanmu mendatanginya," ucap Marin dalam hati.


TIIIIING TOOOONG!!!!!


Suara bel dari toko bunga membuyarkan lamunan Marin.


"Kembalilah ke toko bunga Marin, aku akan menjaga Nerissa disini," ucap Alvin pada Marin.


"Panggil aku jika terjadi sesuatu pada Putri!" ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Alvin.


Marinpun membawa langkahnya keluar dari kamar Nerissa dan kembali ke toko bunga.


Sedangkan Alvin masih berasa di kamar Nerissa.


"Bangunlah Nerissa, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," ucap Alvin sambil menggenggam tangan Nerissa.


30 menit berlalu, Nerissa masih terbaring di ranjangnya dengan kedua mata yang terpejam.


Tak lama kemudian pintu kamar Nerissa terbuka, Marinpun masuk dan menghampiri Alvin.


"Pergilah Alvin, kau harus kembali ke kantor, aku yang akan menemani Putri disini," ucap Marin pada Alvin.


"Aku tidak bisa meninggalkannya seperti ini Marin, setidaknya aku akan menunggu sampai dia sadar," balas Alvin.


"Kau juga harus bertanggung jawab pada pekerjaanmu Alvin, aku akan menghubungimu jika putri sudah sadar," ucap Marin.


"Baiklah," balas Alvin pasrah lalu beranjak dan berjalan meninggalkan kamar Nerissa.


Dengan langkahnya yang berat Alvin berjalan keluar dari rumah Nerissa. Ia hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Nerissa.


**


Di tempat lain Amanda masih terduduk di ranjangnya, matanya menatap tali panjang yang tergantung di langit-langit kamarnya.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? aku hanya mengingat saat Nerissa memanggilku, setelah itu aku tidak sengaja menjatuhkan kursiku dan tali itu menjerat leherku, leherku terasa sangat sakit dan membuatku kesulitan bernafas lalu semuanya terlihat gelap dan tiba-tiba aku tersadar saat Nerissa sudah ada di sampingku dengan hidungnya yang berdarah!"