
Alvin masih berada di rumah sakit bersama dokter Jessica. Ia tidak mengerti kenapa dokter Jessica mengatakan jika dirinya mencintai Nerissa.
"Alvin, yang saat ini dia butuhkan adalah rasa nyaman dan aman jadi sebaiknya bantu dia untuk berdamai dengan masa lalunya tanpa menanyakan apapun tentang masa lalu yang bisa jadi begitu buruk untuk dia ingat!" ucap dokter Jessica pada Alvin.
Alvin menganggukkan kepalanya mengerti maksud ucapan dokter Jessica.
"Aku akan memberikan beberapa resep obat untukmu, hanya untuk berjaga-jaga jika kau kesulitan tidur, kau pasti tahu hanya kau sendiri yang bisa mengelola emosi dan apa yang ada dalam pikiranmu!" ucap dokter Jessica sambil menulis resep obat untuk Alvin.
"Terima kasih dok!" ucap Alvin yang hanya dibalas yang bukan kepala dokter Jessica.
Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter Jessica, Alvin pun keluar dari ruangan dokter Jessica, tak lupa ia menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter Jessica apa adanya.
Saat Alvin akan keluar dari rumah sakit tanpa ia sadar ia menjatuhkan obat yang baru saja dibelinya.
Tepat saat itu juga Nerissa keluar dari salah satu ruangan setelah mengantarkan buket bunga pada salah satu pasien yang ada di rumah sakit itu.
Nerissa yang melihat Alvin menjatuhkan sesuatu segera mengambilnya berniat untuk mengembalikannya pada Alvin.
Namun saat ia berlari mengejar Alvin ia sudah tidak melihat Alvin di hadapannya.
"Cepat sekali dia pergi!" ucap Nerissa sambil membawa pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Alvin.
Nerissa kemudian mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Alvin, namun sayangnya ponselnya lowbat saat itu, membuatnya tidak bisa menghubungi Alvin.
Setelah beberapa lama mencari Alvin, Nerissa pun memutuskan untuk membawa obat itu pulang karena ia tidak bisa menemukan Alvin disana.
"Obat apa ini? apa dia sedang sakit?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri kemudian mengayuh sepedanya kembali ke toko bunga.
Sesampainya di toko bunga, Nerissa menaruh sepedanya dan segera masuk ke rumah karena Marin sudah menutup toko bunganya.
Nerissa menghampiri Marin yang sedang duduk di depan TV untuk menanyakan tentang obat milik Alvin yang ia temukan.
"Marin, apa kau tahu obat ini untuk apa?" tanya Nerissa sambil memperlihatkan beberapa obat yang dibawanya saat itu.
"Apa kau yang membeli obat ini Putri?" balas Marin bertanya sambil mengambil ponselnya untuk mencari tahu tentang obat yang Nerissa bawa.
"Tidak, ini bukan milikku, aku melihat Alvin menjatuhkannya di rumah sakit tetapi saat aku akan mengembalikannya aku sudah tidak melihat Alvin di sana, jadi aku memutuskan untuk membawanya pulang," jawab Nerissa menjelaskan.
Marin mengangguk-anggukkan kepalanya sambil membaca artikel tentang obat yang ada di hadapannya.
"Obat itu membuat seseorang yang mengkonsumsinya mengantuk dan cepat tertidur, biasanya seseorang mengkonsumsi obat itu saat dia susah tidur," ucap Marin pada Nerissa.
"Apa Alvin sedang ada masalah yang membuatnya susah untuk tidur?" tanya Nerissa.
"Jika kau ingin tahu jawabannya temui dia dan kembalikan obat itu padanya, dia pasti sangat membutuhkan obat itu jika memang dia kesulitan untuk tidur," jawab Marin.
"Aku akan mengembalikan obat ini padanya nanti malam, apa kau mau ikut denganku?" ucap Nerissa sekaligus bertanya pada Marin.
"Tidak Putri, kau saja," jawab Marin.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang!" ucap Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya untuk mandi.
Waktu berlalu, malam pun tiba. Setelah berpamitan pada Marin, Nerissa keluar dari rumah untuk menunggu taksi yang sudah dipesannya.
Setelah taksi datang, Nerisaapun berangkat ke rumah Alvin.
Sesampainya disana, Nerissa memencet bel beberapa kali hingga akhirnya pintu terbuka.
"Malam Bi, apa Alvin ada?" tanya Nerissa pada Bi Sita yang membuka pintu untuknya.
"Ada non, silakan masuk, bibi panggilkan dulu!" jawab bi Sita sambil mempersilakan Nerissa masuk.
Nerissapun duduk di ruang tamu menunggu Alvin.
Di sisi lain Alvin yang berada di kamarnya tengah mencari obat yang baru saja dibelinya saat di rumah sakit.
"Dimana obat itu? aku yakin aku sudah memasukkannya ke dalam saku!" ucap Alvin sambil merogoh satu persatu satu pakaian yang ia kenakan tadi sore.
Tooookkkk tooookk tooookkk
"Maaf Tuan, ada tamu," ucap bi Sita dari depan pintu kamar Alvin.
"Siapa Bi?" balas Alvin bertanya.
"Non Nerissa Tuan," jawab bi Sita.
Mendengar nama Nerissa, Alvin segera membuka pintu kamarnya untuk memastikan apa yang ia dengar dari bi Sita.
"Nerissa?" tanya Alvin memastikan.
"Iya Tuan, dia sudah menunggu di ruang tamu," jawab bi Sita.
Alvin tersenyum senang kemudian segera menghampiri Nerissa di ruang tamu.
"Nerissa, apa yang membawamu kemari malam-malam seperti ini?" tanya Alvin sambil menghampiri Nerissa dan duduk di sebelahnya.
"Aku ingin memberikan ini padamu, ini milikmu bukan?" balas Nerissa sambil memberikan obat milik Alvin yang terjatuh di rumah sakit.
Alvin pun menerimanya dan memeriksanya, benar saja itu adalah obat miliknya yang baru saja ia cari di seluruh kantong pakaiannya.
"Iya ini milikku, dari mana kau mendapatkannya Nerissa? kenapa bisa ada padamu?"
"Aku melihatmu menjatuhkan obat ini saat di rumah sakit tadi, aku sudah berusaha memanggil dan mengejarmu tetapi sepertinya kau tidak mendengarku dan aku kehilangan jejakmu," jawab Nerissa menjelaskan.
"Benarkah? maaf Nerissa mungkin aku terlalu fokus berjalan tadi!"
Nerissa menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alvin. Tak lama kemudian bi Sita datang dengan membawa minuman dan makanan ringan lalu menaruhnya di meja.
"Terima kasih Bi," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum bi Sita.
"Seharusnya kau menghubungiku saja Nerissa agar aku datang ke rumahmu!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Apa kedatanganku mengganggumu sekarang?" tanya Nerissa.
"Tidak, justru aku senang karena kau datang dan terima kasih sudah mengembalikan obat milikku, aku hanya tidak ingin kau keluar malam sendirian seperti ini," jawab Alvin yang tidak ingin Nerissa menjadi salah paham.
"Aku memang sengaja ingin menemuimu Alvin, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Nerissa.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku Nerissa?"
"Setelah aku menemukan obat milikmu yang jatuh aku berpikir jika kau sedang sakit jadi aku mencoba mencari tahu tentang obat apa yang aku temukan itu dan sekarang aku tahu bahwa obat itu adalah obat yang biasa digunakan untuk membuat seseorang agar mudah tertidur, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu sehingga kau harus mengkonsumsi obat itu Alvin?"
Alvin terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Nerissa. Ia tidak mungkin menjelaskan tentang pikirannya yang kacau beberapa hari terakhir ini.
"Bukankah kita sudah berteman? kau bisa menceritakan apapun masalahmu padaku Alvin, walaupun mungkin aku tidak bisa membantumu setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu!" ucap Nerissa pada Alvin.
"Beberapa hari ini aku kesulitan tidur Nerissa, banyak masalah kantor yang mengganggu pikiranku," balas Alvin beralasan karena ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Nerissa.
"Kalau itu tentang masalah pekerjaanmu sudah pasti aku tidak bisa membantumu Alvin hehehe...." ucap Alvin sambil terkekeh.
"Tidak Nerissa, dengan adanya dirimu disini saja sudah membantu mengurangi tekanan yang aku terima dari kantor," balas Alvin dengan tersenyum.
"Benarkah? apa seharusnya aku bekerja di sini saja?" tanya Nerissa bergurau.
"Aku hanya bercanda Alvin, aku tidak mungkin membiarkan Marin bekerja sendiri, aku tidak ingin apa yang Marin alami dulu kembali terulang."
"Iya aku mengerti memang seharusnya kau selalu bersama Marin," balas Alvin.
"Apa weekend nanti kau ada kegiatan Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Tidak, kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu berlibur untuk menghilangkan tekanan pekerjaan yang mengganggu pikiranmu, bagaimana menurutmu?"
"Aku setuju, kemana kita akan berlibur?" balas Alvin menyetujui dengan cepat tanpa berpikir panjang.
"Bagaimana kalau kau saja yang menentukan tempatnya hehehe....." balas Nerissa yang kembali terkekeh karena ia yang mengajak Alvin berlibur tetapi ia tidak bisa menentukan tujuan berliburnya.
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti setelah aku menemukan tempat yang cocok untuk kita berlibur," ucap Alvin.
Setelah mengobrol cukup lama, Nerissapun berpamitan pulang.
"Maaf Alvin aku harus pulang, aku tidak bisa lama-lama meninggalkan Marin sendirian di rumah!" ucap Nerissa pada Alvin.
"Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu pulang!" balas Alvin lalu segera beranjak dari duduknya untuk mengambil kunci mobil di kamarnya.
Nerissapun pulang dengan diantar oleh Alvin.
Sepanjang perjalanan mengantar Nerissa pulang, Alvin dan Nerissa banyak mengobrol, bercerita, bercanda dan tertawa.
Sesampainya di depan rumah, Nerissa melihat mobil Daniel yang terparkir di depan rumahnya.
"Sepertinya ada Daniel di sini!" ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
Alvin dan Nerissa kemudian turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah.
Saat masuk ke dalam rumah mereka melihat Daniel yang sedang duduk di ruang tamu bersama Marin.
"Akhirnya kau pulang Putri aku sudah tidak betah berlama-lama bersama laki-laki menyebalkan ini!" ucap Marin pada Nerissa yang baru saja masuk bersama Alvin.
"Itu karena kau tidak memberitahuku kemana Nerissa pergi," sahut Daniel membela diri.
"Sudah jangan bertengkar, ada apa kau mencariku Daniel?" tanya Nerissa sambil membawa langkahnya duduk di hadapan Daniel, diikuti Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Apa kalian bertemu secara kebetulan lagi?" tanya Daniel tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"Tidak, aku baru saja kembali dari rumah Alvin lalu dia mengantarku pulang," jawab Nerissa.
"Dia mengembalikan obatku yang terjatuh, hanya itu saja," ucap Alvin memperjelas.
Daniel menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa dan Alvin.
"Aku kesini karena ingin mengajakmu berlibur Nerissa, kali ini tidak akan lama karena aku hanya akan mengajakmu berlibur di dekat sini!" ucap Daniel pada Nerissa.
"Berlibur? kapan?"tanya Nerissa.
"Weekend nanti, kau sedang tidak ada acara bukan?"
Nerissa terdiam mendengar ucapan Daniel, Nerissa lalu membawa pandangannya pada Alvin sedangkan Alvin hanya menundukkan kepalanya seolah membiarkan Nerissa memutuskan sendiri apa yang harus ia pilih.
"aku yang lebih dahulu mengajak Alvin berlibur tidak mungkin aku yang membatalkannya juga bukan? sepertinya Alvin lebih butuh berlibur untuk mengurangi tekanan dari tempat bekerjanya," ucap Nerissa dalam hati.
"Bagaimana Nerissa?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Nerissa.
"Mmmm.... maaf Daniel sepertinya aku tidak bisa, mungkin kita bisa berlibur lain kali," jawab Nerissa.
"Kenapa? apa kau ada acara lain atau kau sudah ada janji dengan seseorang?" tanya Daniel dengan membawa pandangannya pada Alvin di akhir kalimatnya.
"Iya aku sudah ada janji dengan Alvin," jawab Nerissa yang membuat Daniel terdiam.
"Dengan Alvin?" tanya Daniel dengan menekankan setiap perkataannya.
"Kita bisa berlibur lain kali Nerissa, weekend nanti kau bisa berlibur dengan Daniel!" ucap Alvin pada Nerissa.
"Tidak Alvin, aku yang sudah mengajakmu berlibur terlebih dahulu jadi aku tidak bisa membatalkannya begitu saja," balas Nerissa.
"Tapi......"
"Kau sudah berjanji padaku Alvin, kau tidak bisa mengingkarinya!" ucap Nerissa memotong ucapan Alvin dengan tegas.
"Baiklah, kita bisa berlibur lain kali bukan?" sahut Daniel.
"Iya Daniel, asalkan tidak memakan waktu terlalu lama," jawab Nerissa.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, untuk beberapa saat suasana menjadi sedikit canggung.
"Sepertinya aku harus segera pulang Nerissa, terima kasih karena sudah mengembalikan obatku, aku permisi!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan rumah Nerissa.
Sepeninggalan Alvin kini hanya ada Nerissa dan Daniel di ruang tamu karena Marin sudah berada di kamarnya sedari tadi.
"Obat apa yang kau temukan Nerissa? apa Alvin sedang sakit?" tanya Daniel pada Nerissa.
"Sepertinya dia sedang mendapat tekanan berat dari kantor tempatnya bekerja, dia bilang beberapa hari ini dia susah tidur dan obat yang aku temukan tadi adalah obat yang bisa membuatnya cepat tertidur dengan lelap," jawab Nerissa menjelaskan.
Daniel diam beberapa saat mendengar penjelasan Nerissa.
"tekanan berat dari kantor? tekanan berat apa maksud Alvin? bukankah situasi di kantor baik-baik saja? Ricky juga sudah tidak pernah membuat masalah, apa sebenarnya yang kau sembunyikan Alvin?" batin Daniel bertanya dalam hati.
"Aku sengaja mengajak Alvin untuk berlibur saat weekend nanti Daniel karena aku ingin sedikit mengurangi tekanan pekerjaan yang sedang Alvin rasakan saat ini, kau tidak keberatan bukan?" tanya Nerissa pada Daniel.
"Tidak, tapi..... hanya sedikit tidak nyaman saja," jawab Daniel.
"Tidak nyaman? apa maksudnya?"
"Kau tau aku menyukaimu Nerissa, melihatmu dekat dengan Alvin membuatku cemburu, apa aku salah?"
"Tidak, kau tidak salah, tetapi aku tidak bisa menjauhi Alvin hanya karena kau menyukaiku, aku ingin berteman dengan banyak orang Daniel!" jawab Nerissa.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nerissa. Ia tahu ia belum bisa merebut Nerissa saat itu.
Meski Nerissa menilainya laki-laki yang baik namun itu tidak cukup untuk membuat Nerissa jatuh cinta padanya.
Setelah semua yang ia lakukan untuk Nerissa, Nerissa hanya menganggapnya sebagai teman yang baik. Entah sampai kapan Nerissa hanya akan menganggapnya sebagai teman.
"aku masih menunggumu Nerissa, aku masih berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku walaupun aku tidak tahu siapa sebenarnya dirimu," ucap Daniel dalam hati.
"Ini sudah malam, sebaiknya kau beristirahat Nerissa, aku akan pulang!" ucap Daniel pada Nerissa lalu beranjak dari duduknya.
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian mengantar Daniel keluar dari rumahnya.
"Maaf karena tidak bisa ikut berlibur denganmu Daniel," ucap Nerissa yang sedikit merasa bersalah pada Daniel.
"Tidak apa, tapi tolong luangkan waktumu untukku saat weekend selanjutnya!" ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.