
Marin dan Daniel masih berada di pinggir jalan raya. Marin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Daniel. Ia hanya berpikir jika Daniel tidak sedang baik baik saja saat itu.
"apa aku harus menghubungi Alvin menggunakan ponsel Daniel? tapi.... aku pasti akan mengganggunya nanti, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Daniel kemudian berdiri dari duduknya, ia menarik tangan Marin dan membawanya berjalan ke arah mobilnya.
Namun Marin menarik tangannya dari Daniel, membuat Daniel menghentikan langkahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Daniel.
"Tidak, kau tidak bisa mengendarai mobil dengan keadaan seperti ini!" balas Marin.
"Aku bisa, jangan khawatir!" ucap Daniel yang hendak meraih tangan Marin namun Marin menghindar.
Daniel memejamkan matanya dan memijit keningnya untuk berusaha membuat dirinya tetap tersadar.
Daniel kemudian kembali duduk di trotoar, memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Jumlah alkohol yang diminumnya malam itu memang sedikit lebih banyak daripada yang dia minum biasanya.
Itu kenapa dia tidak benar benar bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"Apa kau kesakitan?" tanya Marin khawatir.
Daniel menggelengkan kepalanya dengan tertunduk lemah.
Setelah beberapa lama kemudian taksi yang dipesan Marinpun datang, membuat Marin semakin bingung kemana harus mengantar Daniel.
Akhirnya Marin memutuskan untuk membawa Daniel pulang ke rumahnya. Marin juga meminta tolong pada kurir yang biasa membantunya untuk membawa mobil Daniel ke rumah Marin.
"Temannya mabuk ya neng?" tanya si supir taksi.
"Mabuk?" balas Marin bertanya sambil memperhatikan Daniel yang bersandar di sampingnya.
"Iya itu mabuk, bau alkohol!" ucap si supir taksi.
Marin kemudian mengambil ponsel Daniel lagi dan menulis kata "mabuk" di mesin pencarian.
Mabuk adalah suatu keadaan fisik dan mental yang tidak nyaman dan biasanya muncul setelah konsumsi alkohol baik dalam jumlah besar maupun sedikit. Tanda-tanda dari mabuk antara lain: Merasa sangat lelah, sakit kepala......
"aaahhh iya, sepertinya dia sedang mabuk," ucap Marin dalam hati.
Sepanjang perjalanan, Daniel memejamkan matanya sambil bersandar di bahu Marin.
Beberapa lama kemudian, merekapun sampai. Marin membangunkan Daniel yang tertidur di sampingnya dan meminta Daniel agar keluar dari mobil.
Namun bukannya keluar, Daniel malah merebahkan badannya di kursi penumpang, membuat Marin terpaksa menarik kaki dan tangan Daniel dibantu dengan supir taksi.
"Terima kasih pak," ucap Marin pada si supir taksi.
"Terima kasih pak," ucap Daniel mengikuti ucapan Marin.
"Kali ini aku akan baik padamu karena kau sedang mabuk!" ucap Marin dengan menatap tajam mata Daniel yang merah karena mabuk.
Daniel hanya tersenyum kemudian meraih tangan Marin dan digenggamnya. Marin kemudian membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam rumah bersama Daniel.
"Duduklah, aku akan membuatkan air lemon untukmu!" ucap Marin pada Daniel.
Daniel kemudian duduk di sofa, ia mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga.
Setelah membuat air lemon, Marinpun memberikannya pada Daniel. Daniel menerimanya dan meminumnya sampai habis.
"Terima kasih Marin, sekarang aku akan mengantarmu pulang!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya.
"Pulang kemana? ini rumahku!" balas Marin dengan mendorong Daniel agar tetap duduk.
"Aaaahhh iya, ini rumahmu hehe...."
Marin hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Daniel. Ia kemudian masuk ke kamarnya, berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.
Namun ia tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan Daniel yang berada di ruang tamunya. Ia pun keluar dari kamar dan begitu terkejut saat melihat Daniel yang tertidur di lantai di belakang pintu.
"Daniel, apa yang kau lakukan? bangunlah!"
Daniel hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
"Bagiamana kau bisa mengendarai mobil dengan keadaan seperti ini? tidak hanya membahayakanmu, tapi kau juga membahayakan banyak orang!" ucap Marin kesal.
Marin kemudian berbalik hendak meninggalkan Daniel, tapi Daniel menahan tangannya.
"Apa aku sudah menyakiti perasaanmu?" tanya Daniel yang membuat Marin kembali membawa pandangannya pada Daniel.
"Kau....."
"Aku minta maaf Marin, tolong maafkan aku," ucap Daniel dengan menatap mata Marin.
Marin hanya diam menatap laki laki yang tampak lemah di hadapannya. Laki laki yang terbaring di lantai dengan menggenggam tangannya.
"Aku sangat kacau hari ini, mama dan papa bertengkar lagi, aku terlambat sampai kantor, Ricky memarahiku di depan banyak orang, mama meninggalkan rumah dan aku.... aku sudah menyakiti perasaanmu dengan kata kataku yang kasar, maafkan aku Marin," ucap Daniel dengan mata berkaca-kaca, entah karena efek alkohol atau karena ia memang sangat bersedih.
"Mama dan papa dulu saling mencintai, kita dulu keluarga yang harmonis, tapi sepertinya cinta mama dan papa sudah pudar seiring dengan berjalannya waktu, kenapa bisa seperti itu Marin? apa cinta memang bisa pudar dan hilang? apa mereka tidak bisa saling mencintai selamanya?" tanya Daniel dengan suara parau.
"Daniel....."
"Marin, apa suatu saat nanti aku juga akan seperti papa dan mama? hanya saling mencintai di awal saja dan akan saling membenci saat cinta itu sudah pudar?"
Marin hanya diam membiarkan Daniel meluapkan semua yang dirasakannya.
"Aku takut Marin, aku takut seperti mama dan papa, aku tidak ingin menyakiti perempuan yang aku cintai, tapi aku takut jika suatu saat nanti cinta yang kita miliki akan pudar dan berubah menjadi benci," ucap Daniel.
Daniel kemudian menarik tangan Marin, membuat Marin terjatuh dengan kepala yang terbaring di atas dada Daniel.
Daniel masih menggenggam tangan Marin dengan satu tangannya membelai lembut rambut Marin.
"Kau tau Marin, kau perempuan tercantik yang pertama kali aku temui," ucap Daniel yang membuat Marin mengernyitkan keningnya.
"Bukankah Putri Nerissa yang lebih cantik?"
"Iya, dia sangat cantik, tapi aku lebih dulu bertemu dirimu sebelum Nerissa, apa kau lupa?"
"Aku ingat, di depan toko bunga di dekat pantai," jawab Marin.
"Iya, kau pikir kenapa aku menghampirimu?"
"Kenapa?"
"Karena kau bodoh hahahaha....."
Marin kemudian memukul dada Daniel karena ucapan Daniel.
"Hahahaa.... tidak, tidak hanya itu, tapi karena kau cantik, gadis cantik yang bodoh, malam itu kau terlihat bersinar seperti cahaya bulan yang jatuh tepat di depan mataku, membuatku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja," ucap Daniel dengan kembali membelai rambut Marin.
Marin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan manis Daniel. Ia tidak menyangka Daniel yang menyebalkan bisa bersikap semanis itu padanya saat sedang mabuk.
"Marin, kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku sepuasmu asalkan kau mau memaafkanku, lebih baik kau berteriak padaku dan memarahiku daripada kau hanya diam dan menangis di depanku," ucap Daniel.
Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan. Berada dalam dekapan Daniel membuatnya nyaman, hingga tanpa sadar ia pun tertidur.
Saat Marin terbangun, ia segera melepaskan tangan Daniel yang menggenggamnya. Marin kemudian beranjak dengan hati hati agar tidak membangunkan Daniel.
"apa yang aku lakukan disini? aku pasti sudah gila!" batin Marin dalam hati.
Marin kemudian masuk ke kamarnya dan merebahkan badannya di ranjang, namun ia masih memikirkan Daniel dan semua ucapan Daniel yang baru saja di dengarnya.
Marin kemudian membawa selimutnya keluar dari kamar dan memakaikannya pada Daniel.
"Kau sangat merepotkan!" ucap Marin pelan kemudian kembali masuk ke kamarnya.
Sebelum ia tertidur, ia teringat Nerissa.
"apa yang dilakukan Putri dan Alvin sekarang? semoga saja Alvin tidak membawa Putri pulang malam ini!"
**
Di tempat lain, saat Marin baru saja meninggalkan pantai, Alvin berlari kecil menghampiri Nerissa.
"Nerissa!" panggil Alvin.
Mendengar suara laki laki yang dikenalnya, Nerissapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara.
"Alvin, kau..... dimana Marin?"
"Marin? aku tidak melihat Marin," jawab Alvin.
"Iya, tidak ada siapapun disini kecuali dirimu," jawab Alvin.
"Kemana dia pergi?" tanya Nerissa sambil berjalan meninggalkan Alvin untuk mencari Marin.
"Apa kau datang kesini bersama Marin?" tanya Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Apa mungkin dia meninggalkanmu?" tanya Alvin.
"Tidak, itu tidak mungkin," jawab Nerissa yakin.
Nerissa berjalan kesana kemari mencari keberadaan Marin, tapi ia tidak menemukan tanda tanda adanya Marin disana.
Saat Nerissa merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya, ia malah mengambil ponsel Marin dari tasnya.
"Aaahhh hp nya ada di tasku, bagaimana ini Alvin? aku takut terjadi sesuatu pada Marin!"
"Tenanglah Nerissa, pasti dia masih ada di sekitar sini," jawab Alvin berusaha menenangkan Nerissa.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Marin berdering, sebuah pesan dari kurir di toko bunga Marin.
"Mobilnya sudah saya amankan!"
Saat Nerissa membaca pesan beserta foto yang kurir itu kirim, ia seperti tidak asing dengan mobil yang ada di foto itu.
"Bukankah ini mobil Daniel?" tanya Nerissa pada Alvin yang berdiri di sampingnya.
"Iya, itu mobil Daniel," jawab Daniel yang juga mengenali plat mobil Daniel.
"Kenapa kurir Marin mengirim pesan seperti ini?" tanya Nerissa sambil menunjukkan pesan itu pada Alvin.
Alvin terdiam beberapa saat sambil berpikir.
"Aku akan coba menghubungi Daniel!" ucap Alvin.
Alvin kemudian segera menghubungi Daniel. Sampai lima kali panggilan, Daniel baru menerimanya.
"Kau menggangguku!" ucap Daniel dengan masih terpejam.
"Dimana kau sekarang?" tanya Alvin tanpa basa basi.
"Aku..... aku di rumah Marin," jawab Daniel sambil menatap Marin yang saat itu masih tertidur di dadanya, sebelum Marin terbangun.
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Sambungan berakhir. Daniel sengaja mengakhiri panggilan Alvin lalu kembali memeluk Marin.
Alvin yang saat itu bersama Nerissa hanya tersenyum tipis kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Kenapa kau tersenyum? apa Daniel sedang bersama Marin?" tanya Nerissa.
"Iya, Daniel sedang berada di rumah Marin sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi!" jawab Alvin.
Nerissapun bernapas lega karena Marin baik baik saja bersama Daniel.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau mau berendam?" tanya Alvin.
"Tidak, aku hanya..... aku...."
"Apa pipimu sudah baik baik saja?" tanya Alvin sambil menyentuh lembut pipi Nerissa, membuat Nerissa terdiam dengan menatap laki laki di hadapannya itu.
"Apa kau benar benar terjatuh? atau ada seseorang yang sengaja menamparmu? aku tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi karena hari ini CCTV di rumahku sedang bermasalah!"
Nerissa kemudian mengalihkan pandangannya dan membalikkan badannya.
"Ada apa Nerissa?" tanya Alvin.
"Aku baik baik saja, pergilah!" jawab Nerissa kemudian berjalan kembali ke arah bibir pantai.
Namun, bukannya pergi, Alvin malah mengikuti Nerissa.
"Aku tidak akan bertanya lagi jika itu membuatmu tidak nyaman," ucap Alvin.
"Alvin, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Nerissa.
"Tanyakan saja!" jawab Alvin.
"Sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan Delia?" tanya Nerissa.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?" balas Alvin bertanya.
"Kau tidak perlu menjawabnya jika kau tidak mau menjawab, aku tidak akan memaksamu," ucap Nerissa.
"Dia adikku," ucap Alvin.
"Bohong!" balas Nerissa cepat.
Walaupun ia baru mengenal Alvin dan Cordelia, ia yakin jika mereka bukan kakak beradik.
"Hahaha.... kenapa? apa karena aku tidak mirip dengan Delia?" tanya Alvin.
Nerissa hanya diam dengan memanyunkan bibirnya karena kesal pada Alvin yang jelas jelas berbohong padanya.
"Aku hanya menganggapnya sebagai adikku karena kedua orangtuanya sudah merawatku sejak aku kecil," ucap Alvin.
"Apa itu artinya kalian tinggal bersama sejak kecil?" tanya Nerissa.
"Iya, hanya sampai aku lulus SMA, setelah itu aku memutuskan hidup mandiri sambil melanjutkan kuliah," jawab Alvin.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Alvin.
"Apa kau cemburu padanya?" tanya Alvin.
"Tidak, dia yang cemburu padaku," jawab Nerissa.
"Apa dia mengganggumu? apa dia yang....."
"Tidak, aku hanya membaca tatapan matanya saja, sepertinya dia tidak menyukaiku!" ucap Nerissa.
"Dia memang seperti itu, selama dia tidak menyakitimu abaikan saja, tapi jangan hanya diam jika dia berani menyakitimu!" ucap Alvin yang membuat Nerissa membawa pandangannya pada Alvin.
"Aku tidak ingin ada seorangpun yang menyakitimu Nerissa, aku tau kau perempuan yang baik, tapi kau juga harus jadi perempuan yang tangguh yang tidak mudah ditindas!" ucap Alvin dengan menatap perempuan cantik di hadapannya.
"Terkadang dunia ini begitu kejam Nerissa, kebaikan memang hal yang baik, tapi terkadang seseorang memanfaatkan kebaikan yang diterimanya untuk berbuat jahat," lanjut Alvin.
"Apa ada seseorang yang memanfaatkan kebaikanmu?" tanya Nerissa.
"Apa aku laki laki yang baik di matamu?" balas Alvin bertanya.
Nerissa menghela nafasnya panjang.
"Kau selalu bertanya sebelum menjawab pertanyaanku!" ucap Nerissa kesal.
"Hahaha.... ayo pulang, ini sudah sangat larut!" ucap Alvin.
"Apa Daniel masih berada di rumah Marin?" tanya Nerissa.
"Mungkin saja, lebih baik kau tidak pulang malam ini, biarkan Marin dan Daniel menyelesaikan masalah mereka!"
"Masalah apa?"
"Sepertinya mereka salah paham tentang suatu hal, apa Marin tidak bercerita padamu?"
"Aaahhh iya, aku ingat, pasti masalah yang terjadi saat pertemuan mereka yang pertama kali!" ucap Nerissa setelah dia mengingat cerita Marin.
"Lalu kemana aku harus pergi jika aku tidak pulang malam ini?" lanjut Nerissa bertanya
"Pulanglah ke rumahku, besok pagi aku akan mengantarmu!" ucap Alvin.
"Delia pasti akan sangat marah kalau dia tau aku menginap di rumah Alvin," batin Nerissa dalam hati.
"Kau tidak ingin menggangu Daniel dan Marin bukan?"
"Iya..... tapi ...."
"Ayo, ini sudah sangat malam, anginnya semakin kencang dan dingin," ucap Alvin sambil menarik tangan Nerissa.
Nerissapun berjalan mengikuti Alvin. Alhasil malam itu Nerissa kembali bermalam di rumah Alvin.