Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Alvin, Nerissa dan Amanda



Alvin masih berdiri di depan kafe bersama Nerissa, pesan dari Amanda membuatnya berpikir untuk beberapa saat.


Tanpa menunggu lama Alvinpun meraih tangan Nerissa dan menggandengnya begitu saja.


"Lepaskan aku Alvin!" ucap Nerissa sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Alvin.


"Ikut aku menemui Amanda," ucap Alvin yang membuat Nerissa menari tangannya dengan kuat dari genggaman Alvin.


"Kau baru saja mengatakan bahwa kau tidak akan membiarkan Amanda kembali dalam hidupmu," ucap Nerissa dengan menundukkan kepalanya.


Alvin kembali mendekat pada Nerissa lalu meraih kedua tangan Nerissa dan menggenggamnya dengan hangat.


"Aku mengajakmu untuk menemui Amanda agar dia tahu bahwa aku sungguh-sungguh sudah melupakannya," ucap Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.


"Aku tidak bisa," ucap Nerissa sambil menarik tangannya dari genggaman Alvin.


"Kenapa? apa kau masih tidak mempercayaiku?" tanya Alvin.


"Aku tidak bisa meninggalkan Daniel, dia masih menungguku disini," jawab Nerissa.


Alvin kembali meraih tangan Nerissa lalu membawa Nerissa berjalan ke arah Daniel yang menunggu di dalam mobil.


"Daniel aku harus menemui Amanda bersama Nerissa, hanya satu kali ini saja tolong izinkan aku menyelesaikan semua masalah ini," ucap Alvin pada Daniel.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Namun saat Alvin mengajak Nerissa pergi, Nerissa kembali melepaskan tangannya dari Alvin.


"Tidak Alvin, aku tidak bisa ikut denganmu," ucap Nerissa yang ragu untuk meninggalkan Daniel.


"Pergilah Nerissa, cepat selesaikan masalah kalian bertiga," ucap Daniel.


"Tapi Daniel....."


"Jangan membiarkan masalah ini berlarut-larut Nerissa, selesaikan semuanya dengan kepastian yang jelas," ucap Daniel sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Kau akan mengantar Nerissa pulang bukan?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Baiklah aku pergi dulu," ucap Daniel lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.


"aku baik baik saja, memang ini yang seharusnya terjadi," ucap Daniel dalam hati.


Nerissa terdiam menatap mobil Daniel yang sudah berlalu jauh meninggalkannya, sedangkan Alvin kembali meraih tangan Nerissa, membawa Nerissa masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa kau mengajakku untuk bertemu Amanda? dia pasti akan sangat marah saat melihatku nanti," tanya Nerissa pada Alvin yang sudah mengendarai mobilnya keluar dari area kafe.


"Amanda harus tahu bahwa aku sudah melupakannya dan kaupun harus tahu bahwa sudah tidak ada hubungan lagi antara aku dan Amanda," jawab Alvin sambil sesekali membawa pandangannya pada Nerissa.


"Aku harap setelah ini hubungan kita bisa membaik Nerissa, walaupun aku tahu kita tidak akan bisa sedekat dulu karena ada Daniel yang sudah menjadi milikmu sekarang," ucap Alvin dalam hati.


"Apa setelah ini hubungan kita bisa seperti dulu lagi Alvin? apa kau tidak akan menyakitiku seperti yang sudah kau lakukan padaku? apa kau akan benar-benar melupakan Amanda?" tanya Nerissa dalam hati.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit tidak banyak yang Alvin dan Nerissa bicarakan karena mereka berdua masih canggung untuk memulai pembicaraan.


Namun Alvin bisa bernafas lega karena setidaknya Nerissa memberinya kesempatan untuk membuktikan ucapannya.


"Kemana kita akan pergi? sepertinya ini bukan jalan menuju rumah Amanda," tanya Nerissa.


"Kita akan menemui Amanda di rumah sakit," jawab Alvin yang membuat Nerissa sedikit terkejut.


"Di rumah sakit? apa yang terjadi padanya?" tanya Nerissa.


"Sepertinya dia hanya ingin mencari perhatianku, memanfaatkan rasa kasihanku agar aku menghampirinya," jawab Alvin.


"Apa maksudmu Alvin, aku tidak mengerti," tanya Nerissa yang tidak mengerti maksud ucapan Alvin.


"Kau akan mengetahuinya nanti," jawab Alvin dengan tersenyum tipis.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah sakit tempat Amanda dirawat. Alvin dan Nerissa berjalan masuk untuk mencari ruangan Amanda.


Sesampainya disana Nerissa menghentikan langkahnya sebelum ia masuk ke dalam ruangan Amanda, ia ragu apakah ia harus mengikuti Alvin untuk masuk ke dalam ruangan itu karena ia tidak ingin apa yang dilihatnya akan menyakiti hatinya nantinya.


"Kenapa Nerissa?" tanya Alvin yang melihat Nerissa hanya terdiam di depan pintu ruangan Amanda.


"Sepertinya aku tidak bisa masuk," jawab Nerissa.


"Jangan khawatir, tidak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Alvin meyakinkan Nerissa lalu membuka pintu ruangan Amanda dan masuk dengan menggenggam tangan Nerissa.


Amanda yang sedang terbaring di ranjang begitu terkejut karena Alvin datang bersama Nerissa.


"Kenapa kau datang bersamanya Alvin?" tanya Amanda yang segera beranjak dan duduk di ranjangnya.


"Aku memang sedang bersama Nerissa di kafe lalu kau mengirim pesan padaku," jawab Alvin.


"Bagaimana keadaanmu Amanda?" tanya Nerissa sambil memperhatikan Amanda dari atas sampai bawah, berniat untuk menyembuhkan Amanda saat itu juga.


"Tidak perlu berbasa-basi padaku Nerissa, bukankah kau senang karena aku terbaring disini?" balas Amanda kesal.


"Jaga ucapanmu Amanda, aku sengaja mengajak Nerissa kesini agar dia percaya padaku bahwa sudah tidak ada hubungan apapun diantara kau dan aku," sahut Alvin.


"Tapi kau masih mencintaiku bukan? jujurlah Alvin kau tidak mungkin datang kesini jika kau memang sudah tidak mencintaiku lagi!"


"Aku datang kesini bukan karena aku mengkhawatirkan keadaanmu, aku kesini hanya untuk memperingatkanmu agar kau tidak melakukan hal bodoh lagi yang bisa menyakiti dirimu, karena apapun yang akan kau lakukan nanti aku sudah tidak akan peduli lagi padamu dan apapun yang kau lakukan hanya akan menyakiti dirimu sendiri jadi jangan pernah menghubungiku lagi hanya untuk memperlihatkan kebodohanmu itu," ucap Alvin dengan tegas.


"Tapi Alvin........"


"Kau cukup cantik untuk menarik perhatian banyak laki-laki kaya raya di luar sana, jadi kau tidak perlu menungguku yang masih berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku, jadi berhentilah berharap padaku Amanda karena aku tidak akan pernah menjadi milikmu," ucap Alvin memotong ucapan Amanda.


"Kenapa kau jahat sekali Alvin? kenapa kau sangat tega padaku?" tanya Amanda dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Jangan selalu menyalahkan orang lain hanya karena mereka meninggalkanmu Amanda, seharusnya kau tahu apa kesalahan yang sudah kau buat sehingga seseorang meninggalkanmu," ucap Nerissa.


Amanda tersenyum tipis dengan menatap Nerissa yang berdiri di samping Alvin.


"Apa perempuan ini yang membuatmu meninggalkanku Alvin? apa perempuan ini yang membuatmu melupakan masa lalu indah diantara kita berdua?" tanya Amanda dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Kau benar, Nerissa adalah perempuan istimewa itu, dia yang membuatku bisa melupakan kenangan burukku bersamamu, dia yang bisa membawa duniaku lebih indah setelah keterpurukan yang kau tinggalkan padaku, dia perempuan yang Tuhan kirim untuk menyembuhkan luka yang sudah kau berikan padaku," jawab Alvin yang membuat Amanda semakin kesal.


Sedangkan Nerissa hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada Alvin yang berdiri di sampingnya.


"Semua itu terserah padamu Amanda, kau tidak perlu memberitahuku apa yang akan kau lakukan pada dirimu sendiri," ucap Alvin.


Nerissa kemudian melangkahkan kakinya mendekat pada Amanda. Ia memegang tangan Amanda dan menggenggamnya.


"Aku yakin kau adalah perempuan yang baik Amanda, jangan membiarkan keegoisanmu membuatmu kehilangan semua orang terdekatmu," ucap Nerissa yang masih menggenggam tangan Amanda untuk menyembuhkan Amanda.


Amanda yang sangat kesal pada Nerissa segera menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Nerissa.


"Ayo kita pergi Nerissa," ucap Alvin sambil menarik tangan Nerissa untuk keluar dari ruangan Amanda.


Alvin dan Nerissapun meninggalkan rumah sakit itu.


**


Di sisi lain, setelah Daniel meninggalkan kafe ia mengendarai mobilnya untuk menemui Marin.


Saat Daniel sudah sampai di depan rumah Marin, ia tidak segera turun dari mobil melainkan hanya duduk di balik kemudinya untuk beberapa lama.


Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca pintu mobil Daniel, membuat Daniel segera keluar dari mobilnya.


"Kenapa kau disini? apa Putri sudah masuk rumah?" tanya Marin.


"Aku tidak bersama Nerissa," jawab Daniel.


"Kenapa? dimana Putri sekarang?" tanya Marin khawatir.


"Dia sedang bersama Alvin," jawab Daniel.


"Kenapa kau membiarkan Putri berdua bersama Alvin? dimana mereka sekarang? aku akan segera ke sana untuk....."


"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka Marin, kau tidak ingin Nerissa terus menerus bersedih bukan?" ucap Daniel memotong ucapan Marin.


"Justru karena aku tidak ingin Putri bersedih jadi aku tidak akan membiarkan Putri kembali menemui Alvin yang sudah banyak membuatnya bersedih," balas Marin.


"Mereka berdua sudah dewasa Marin, mereka pasti tahu apa yang terbaik untuk mereka berdua, jadi biarkan mereka bertemu untuk menyelesaikan semuanya, entah akan berakhir dengan baik atau tidak setidaknya itulah kesepakatan diantara mereka berdua," ucap Daniel lalu membawa langkahnya duduk di depan rumah Marin.


Marinpun mengikuti langkah Daniel dan duduk di samping Daniel.


"Kenapa wajahmu sangat muram? apa kau sebenarnya tidak ingin membiarkan Putri bersama Alvin?" tanya Marin menerka.


Daniel hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


"Apa kau baru pulang dari minimarket?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku baru saja membeli....."


"Aku sudah berkali-kali memberitahumu Marin, jangan keluar rumah seorang diri saat malam, itu sangat berbahaya!" ucap Daniel dengan nada kesal.


"Aku hanya pergi ke minimarket yang ada di dekat sini, kenapa kau berlebihan sekali?"


"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu Marin, aku hanya mengkhawatirkanmu, aku hanya mempedulikanmu, kenapa kau tidak bisa mendengar ucapanku, kenapa kau selalu meremehkanku, kenapa kau.....".


"Apa kau sedang marah padaku?" tanya Marin memotong ucapan Daniel yang terdengar penuh emosi.


Daniel menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Daniel mendongakkan kepalanya dengan menutup matanya lalu beberapa kali membenturkan kepalanya ke arah dinding.


Namun saat benturan yang terakhir, Marin menaruh tangannya tepat di belakang kepala Daniel membuat kepala Daniel yang akan membentur dinding terhalang oleh tangan Marin.


Daniel yang menyadari hal itu segera meraih tangan Marin, namun Marin menarik tangannya dari Daniel.


"Apa kau sudah puas melampiaskan amarahmu padaku? apa kau sudah puas menyakiti dirimu sendiri seperti itu?" tanya Marin yang membuat Daniel merasa bersalah pada Marin.


"Maafkan aku," ucap Daniel sambil menundukkan kepalanya.


"Aku tahu kau masih menyukai Putri, bahkan mungkin kau masih mencintainya seperti dulu, jika keputusanmu adalah merelakan Putri bersama Alvin maka kau harus siap dengan segala konsekuensi yang akan kau terima termasuk rasa sakit dan cemburu yang harus kau rasakan," ucap Marin.


Daniel hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia masih berharap untuk bisa memiliki Nerissa, namun di satu sisi ia pun ingin melihat Nerissa bahagia dan ia tahu bahwa kebahagiaan Nerissa hanyalah bersama Alvin.


"Kita memang tidak bisa mengendalikan hati kita Daniel, kita tidak bisa menentukan pada siapa kita memilih untuk jatuh cinta, kita bahkan tidak bisa dengan mudah melupakan seseorang yang tidak ditakdirkan untuk kita, tapi itu semua adalah bagian dari hidup yang harus kita jalani," ucap Marin.


"Apa kau juga pernah merasakan hal itu Marin?" tanya Daniel dengan menatap gadis cantik yang duduk di sampingnya.


Marin tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"aku tidak mungkin memberitahumu bahwa aku juga merasakan hal itu, aku tidak ingin terlalu jauh terlibat dengan permasalahan di dunia yang bukan merupakan tempatku ini," ucap Marin dalam hati.


"Jatuh cinta itu indah Marin, hanya dengan melihatnya saja dadamu akan berdebar, jantungmu seperti terpompa dengan cepat, ada sebuah kebahagiaan yang menyelimuti hatimu dengan tiba-tiba, kebahagiaan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya, kebahagiaan yang membuatmu tersenyum hanya dengan mengingatnya," ucap Daniel dengan membawa pandangannya menatap langit malam yang gelap tak berbintang.


"aku sudah pernah merasakannya Daniel dan akupun tengah merasakannya saat ini, tapi kebahagiaan itu seperti datang bersamaan dengan luka yang perlahan menusuk jauh ke dalam hatiku," ucap Marin dalam hati sambil memperhatikan Daniel dari samping.


Tiba-tiba Daniel beranjak dari duduknya lalu berdiri tepat di hadapan Marin yang masih duduk di kursi.


Daniel kemudian membungkukkan badannya dan memegang kedua bahu Marin.


"Baiklah aku akan berusaha lebih keras untuk berdamai dengan hatiku, apapun yang aku rasakan pada Nerissa tidak akan mempengaruhiku lagi, asalkan dia bahagia itu sudah cukup untukku," ucap Daniel sambil menatap kedua mata Marin.


"Walaupun kebahagiaan Putri tidak bersamamu?" tanya Marin yang dibalas anggukan kepala Daniel.


"Asalkan laki-laki itu baik untuk Nerissa," ucap Daniel.


Marinpun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Daniel yang membuat Marin begitu terkejut.


Marin hanya diam tanpa mengatakan apapun, terlebih saat kedua matanya jatuh tepat pada kedua mata Daniel yang juga tengah menatapnya.


Debaran dalam dadanya kembali bergemuruh dengan hebat, membuat Marin tidak mampu berkata-kata lagi.


Sedangkan Daniel hanya tersenyum lalu kembali duduk di samping Marin dan menjatuhkan kepalanya di bahu Marin.


"Seperti ini saja sudah cukup, terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik untukku Marin," ucap Daniel.


Marin masih terdiam, lidahnya seolah tidak mampu bergerak sedikitpun dan otaknya seakan berhenti bekerja saat itu juga.


"Mungkin ini yang terbaik untuk semuanya," ucap Daniel.


"Apa yang sudah digariskan tidak bisa lagi diubah, seberapa keraspun aku mencoba jika takdir sudah menggariskan Nerissa untuk bersama Alvin maka tidak ada yang bisa aku lakukan selain membiarkan mereka berdua bahagia," ucap Daniel dalam hati.