Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Strategi Ricky



Chubasca segera berenang mengejar Marin untuk menanyakan apa maksud dari ucapan Marin.


"Apa maksudmu? kenapa jawabannya ada disana?" tanya Chubasca tak mengerti.


Marin menghembuskan napasnya kesal kemudian masuk ke kamarnya diikuti oleh Chubasca.


"Pergilah, aku sedang sibuk!" ucap Marin pada sang kakak.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku tau apa yang membuatmu bertengkar dengan Putri Nerissa," balas Chubasca.


"Putri Nerissa sudah keterlaluan, aku membencinya," ucap Marin yang membuat Chubasca begitu terkejut.


Ia tidak mengerti apa yang membuat Marin begitu marah hingga membenci Nerissa.


"Ceritakan dulu padaku apa masalahmu? mungkin kau hanya salah paham pada Putri!"


"Tanyakan saja padanya!" jawab Marin sambil mendorong Chubasca keluar dari kamarnya.


Chubasca pun keluar dari kamar Marin, ia berenang kesana dan kemari berusaha memikirkan apa yang membuat sang adik bertengkar dengan Putri Nerissa.


Chubasca kemudian berhenti di depan kamar sang ayah, menatap ke dalam kamar dan memikirkan tentang ruangan kecil yang ada di dalamnya.


"jawabannya ada di ruangan itu? apa maksud Marin sebenarnya? kenapa jawabannya ada di ruangan itu? kenapa ia nekat untuk memasuki ruangan itu?" batin Chubasca bertanya tanya.


Chubasca kemudian keluar dari rumah untuk memastikan jika sang ayah masih berada di istana.


Ia sangat mengenal Marin, ia juga tau seperti apa kedekatan Marin dan Putri Nerissa. Selama ini mereka tidak pernah bertengkar seperti itu, hanya terkadang salah satu dari mereka kesal, namun tak butuh waktu lama mereka kembali bercanda seperti biasa.


Ia juga tau jika Marin tidak akan pernah membantah larangan sang ayah. Jika sudah seperti ini, ia yakin terjadi sesuatu yang tidak biasa antara Marin dan Putri Nerissa. Sesuatu yang membuat pertemanan mereka merenggang


"apa pertengkaran mereka ada hubungannya dengan ayah? itu kenapa Marin berkata jika jawabannya ada di ruangan rahasia ayah!" batin Chubasca menerka nerka.


Sesampainya di istana, Chubasca segera mencari keberadaan sang ayah, namun ia tidak menemukannya.


Saat akan kembali pulang, Chubasca melihat sang ayah yang tampak sedang berbicara serius dengan mermaid yang tidak ia kenal.


"Siapa dia? kenapa dia terlihat seperti memarahi ayah?"


Chubasca pun segera berenang mendekati sang ayah, namun mermaid yang ia kenal segera berenang menjauh dan pergi saat menyadari kedatangan Chubasca.


"Siapa dia ayah? kenapa dia memarahi ayah?" tanya Chubasca pada sang ayah.


"Tidak, dia tidak memarahi ayah, kau hanya salah paham, ayo pulang!"


"Ayah belum menjawab pertanyaanku, dia siapa?"


"Hmmmm.... kau tau Putri Nerissa akan segera menikah kan? dia adalah Pangeran Merville yang akan menikahi Putri Nerissa," jawab Cadassi menjelaskan.


"Pangeran Merville? kenapa ayah bertemu dengannya di luar istana?" tanya Chubasca penasaran.


"Sudahlah, kau terlalu banyak bertanya, apa kau sudah bertemu Putri Nerissa?"


"Sudah, aku segera menemuinya setelah Marin menjemputku," jawab Chubasca.


Mereka kemudian berenang menuju ke rumah.


"Ayah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ucap Chubasca pada sang ayah.


"Tanyakan saja!"


"Tentang ruangan di kamar ayah, apa ayah sangat membutuhkan tali yang mengikat pintu di ruangan kecil itu?"


"Kenapa kau menanyakan itu? apa kau masuk ke kamarku tanpa izin?"


"Maaf ayah, aku hanya ingin mencari tali yang panjang untuk mengikat hiasan di kamarku, karena aku tidak menemukannya, aku masuk ke kamar ayah dan melihat tali yang mengikat pintu di ruangan itu," jawab Chubasca beralasan.


"Ayah baru saja mengikatnya, kalau kau membutuhkan tali, ayah akan mencarikannya untukmu," ucap Cadassi.


"Kau jadi banyak bertanya setelah keluar dari ruangan isolasi, banyak hal yang sudah berubah Chubasca, jalani saja hidupmu seperti biasa tanpa banyak bertanya," balas Cadassi tanpa menjawab pertanyaan sang anak.


Chubasca hanya diam memperhatikan sang ayah yang masuk ke dalam kamar.


"iya, banyak yang sudah berubah, termasuk ayah," batin Chubasca dalam hati.


**


Di tempat lain, Ricky sudah menandatangani proposal yang diberikan Alvin padanya. Ia akan merubah strateginya agar bisa dengan mudah melunakkan hati para pemegang saham untuk mempercayai keputusannya.


Ia pun menghubungi Alvin, memintanya untuk segera ke ruangannya.


Tak lama kemudian Alvin datang, Rickypun memberikan proposal itu pada Alvin.


"Aku sudah menandatanganinya!" ucap Ricky.


"Terima kasih," balas Alvin lalu berbalik, berniat untuk kembali keluar.


"Tunggu!" ucap Ricky menahan Alvin.


Alvinpun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Ricky.


"Aku melakukan ini untuk menyelamatkan perusahaan ini, kau harus tau itu!" ucap Ricky pada Alvin.


"Tentu saja dan aku sangat berterima kasih untuk itu," balas Alvin lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan Ricky.


"jangan senang dulu Alvin, aku hanya akan menyenangkanmu sesaat sebelum aku benar benar memulai perang yang sesungguhnya," batin Ricky dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Alvin baru saja membereskan meja kerjanya saat seseorang memasuki ruangannya tanpa permisi.


"Berapa kali ku katakan padamu untuk mengetuk pintu sebelum masuk!" ucap Alvin kesal.


"Maaf Alvin, aku terlalu bersemangat!" balas Cordelia dengan memamerkan senyumnya.


Alvin lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya diikuti oleh Cordelia.


"Jadi kapan kita akan memulai persiapan peragaan busana yang kau jelaskan tadi?" tanya Cordelia antusias.


"Acaranya masih bulan depan, tapi minggu depan kita akan mengadakan meeting dengan model lain untuk membagi tema yang akan dikenakan setiap model," jawab Alvin menjelaskan.


"Baiklah, aku akan memberikan satu hariku yang berharga hanya untukmu," ucap Cordelia.


"Bukan untukku, tapi untuk perusahaan," balas Alvin.


"Tapi kalau bukan kau yang meminta aku tidak akan menerima tawaran ini, kau tau aku sangat sibuk!"


"Kalau kau menolaknya itu sama saja kau membiarkan perusahaan ini runtuh!" ucap Alvin.


"Aku tidak peduli, lagipula aku tidak pernah benar benar menikmati hasil dari perusahaan ini, aku mendapatkan apa yang aku mau dari hasil kerja kerasku dari kecil!" balas Cordelia.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Cordelia memang dilahirkan dari keluarga yang cukup kaya. Sebelum merebut perusahaan milik keluarga Alvin, orangtua Cordelia memiliki perusahaan kecil yang cukup sukses.


Namun karena mereka terlalu serakah, mereka meninggalkan perusahaan kecil yang sukses itu demi merebut perusahaan keluarga Alvin yang jauh lebih besar.


Meski begitu, Cordelia sudah memasuki dunia pertelevisian sejak ia masih kecil. Mulai dari menjadi bintang iklan, beberapa acara anak anak, sinteron bahkan dunia host pun sudah ia tekuni.


Hingga sekarang ia memilih untuk fokus menjadi model dan influencer yang memiliki banyak penggemar dan pengikut di akun sosial medianya.


Ia sudah terbiasa menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri meski ia sangat manja pada mama dan papanya.


Status sosial yang dimiliki Cordelia membuatnya dengan mudah memasuki dunia yang ia inginkan.