Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pangeran Untuk Nerissa



Waktu berlalu, entah sudah berapa lama Nerissa berada di ruang baca bersama Marin.


"Putri, apa kau sadar berapa buku yang sudah kau baca? apa kau bisa memahami semuanya hanya dengan sekali baca?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tentu saja aku memahaminya Marin, untuk apa aku membuang waktuku jika aku tidak memahami buku buku yang ku baca," jawab Nerissa.


"Apa kau rajin membaca buku karena tak ingin kalah dari pangeran Merville?" terka Marin.


"Hahaha.... pangeran Merville? aku bahkan tak pernah memikirkannya," balas Nerissa.


"Lalu kenapa kau tiba tiba jadi rajin membaca seperti ini putri? apa yang membuatmu tiba tiba berubah seperti ini?" tanya Marin penasaran.


"Mmmm.... aku hanya ingin mengetahui banyak hal dengan baik Marin," jawab Nerissa.


"Berhentilah putri, kau harus memikirkan masalah yang sedang kau hadapi sekarang, masa depan Seabert ada di tanganmu, kau tau itu!"


"Itu kenapa aku sekarang berada di sini Marin dan aku sekarang tau apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan Ran," balas Nerissa.


"Apa yang akan kau lakukan putri?"


"Tidak ada," jawab Nerissa santai.


"Haaahhh, tidak ada? kau bilang....."


"Tidak ada yang harus aku lakukan untuk menghentikan Ran Marin, baca ini!" ucap Nerissa sambil menunjuk salah satu halaman buku di hadapan Marin.


Marin lalu membacanya beberapa saat dan....


"Itu artinya kau tidak akan pernah menggunakan kekuatanmu demi menghentikan kebangkitan Ran?"


"Benar sekali, kau memang cerdas Marin, dengan tetap menyembunyikan kekuatanku, Ran tidak akan bisa menghancurkan Seabert," jawab Nerissa.


"Apa kau yakin dengan hal itu? apa kau benar benar tidak akan menggunakan kekuatanmu?"


"Tentu saja, aku tidak punya pilihan lain Marin, aku tidak akan menikahi pangeran yang sama sekali tidak ku cintai dan aku juga tidak akan membiarkan Ran datang menghancurkan Seabert!" jawab Nerissa penuh keyakinan.


"Tapi Putri, aku masih penasaran, apa sebenarnya kekuatan yang kau miliki sekarang?"


Nerissa menghela nafasnya lalu mengembalikan buku buku ke tempat asalnya.


"maafkan aku Marin, aku tidak bisa memberitahumu, karena entah kenapa aku sedikit mencurigai ayahmu dan aku tak ingin ada hal yang lebih buruk terjadi saat orang lain mengetahui kekuatanku," batin Nerissa dalam hati.


"Apa kau tidak akan memberitahuku putri?" tanya Marin.


"Maafkan aku Marin, aku masih belum yakin apa sebenarnya kekuatan yang ku punya, aku ingin mencoba untuk mencari tahunya tapi aku takut itu akan kembali membangkitkan Ran, jadi.... aku pikir.... aku akan tetap menjalani hidupku seolah aku tidak memiliki kekuatan itu," jawab Nerissa memberi alasan.


"Hmmmm.... kau sudah menjadi putri yang dewasa ternyata, kau sudah memikirkan banyak hal untuk mempertahankan Seabert, baiklah kalau begitu, aku menerima alasanmu!" balas Marin.


"Kau memang sahabat yang baik Marin," ucap Nerissa dengan memeluk Marin.


"Apa artinya sekarang kau tidak perlu terburu buru menikah dengan pangeran Merville?" tanya Marin.


"Tentu saja, lagipula sepertinya aku sudah menemukan siapa pangeran ku," jawab Nerissa dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Haaahhh.... siapa? siapa pangeran yang sudah berhasil merebut hatimu putri?" tanya Marin antusias.


"Kau ingat saat aku kehilangan mahkotaku Marin?" balas Nerissa bertanya.


"Iya, aku ingat, kenapa?"


"Dan apa kau ingat laki laki yang kita lihat disana?" lanjut Nerissa bertanya.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum menjawab pertanyaan Marin.


"Apa kau gila putri? dia manusia, bukan pangeran!" teriak Marin tak percaya dengan apa yang Nerissa pikirkan.


"Sssstttt..... tenanglah Marin, pelankan suaramu!" ucap Nerissa dengan menutup mulut Marin menggunakan tangannya.


"Jangan bilang kalau angka angka di tanganmu itu adalah perbuatan manusia itu!"


Nerissa hanya tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya pada Marin.


"Aaahhh putri, kau benar benar sudah gila!" ucap Marin yang merasa frustrasi pada Nerissa.


"Dia adalah manusia yang baik Marin, bukankah kau sendiri yang bilang kalau di daratan ada banyak manusia yang baik dan...."


"Dan ada lebih banyak yang jahat," lanjut Marin dengan kesal.


Nerissa hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Marin.


**


Di Atlanta Grup.


Johan Airlangga, pemilik perusahaan Atlanta Grup sedang mendatangi ruangan Ricky Airlangga dengan raut wajah yang tampak menahan emosinya.


"Kenapa nilai saham kita terus menurun Ricky? apa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menaikkan nilai saham perusahaan kita?" tanya Johan pada Ricky.


"Ricky baru saja menjabat sebagai presiden direktur di sini saat keadaan perusahaan memburuk pa, kasih waktu Ricky untuk memperbaiki semua ini!" jawab Ricky.


"Jangan membuat papa malu karena sudah memilihmu dibanding Alvin, kau tau semua orang lebih menyukai Alvin dibanding dengan dirimu!"


"Sampai kapan papa akan membandingkan Ricky dengan Alvin? bagaimanapun juga yang berhak melanjutkan kepemimpinan papa adalah anak kandung papa, Ricky, bukan Alvin!"


"Tunjukan pada papa kalau kau memang layak menjadi pemimpin dibanding dengan Alvin!" ucap Johan lalu keluar dari ruangan Ricky.


Sepeninggalan sang papa, Ricky lalu menggebrak mejanya dengan kesal.


Tooookkkk tooookk tooookkk


"Masuk!" ucap Ricky saat mendengar suara ketukan pintu.


Alvin lalu masuk dan memberikan sebuah map pada Ricky.


"Ini adalah update data tentang nilai saham perusahaan kita selama 2 tahun terakhir, aku rasa kita masih bisa memperbaikinya dengan....."


"Hentikan omong kosongmu Alvin dan tinggalkan ruanganku!" ucap Ricky memotong ucapan Alvin.


"Ricky, perusahaan ini akan hancur kalau kau tidak melakukan apapun atau sebenarnya kau memang ingin perusahaan ini hancur?"


"Hahaha.... kau benar, perusahaan ini akan hancur, itu kenapa aku lebih memilih untuk melepaskan perusahaan ini daripada membuatnya semakin rugi lebih besar," jawab Ricky.


"Kalau kau memang tidak ingin mengelola perusahaan ini, kenapa kau menerima keputusan om Johan yang menjadikan mu presiden direktur di sini?"


"Apa kau berharap aku tidak akan menerimanya dan kau yang akan menjadi presiden direktur di sini? jangan berharap Alvin, kau hanya sampah yang sengaja dipungut oleh kedua orangtua ku, jadi jangan bermimpi terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan perusahaan ini!" balas Ricky.


"Sampah? iya, aku memang sampah yang dipungut oleh keluargamu, tapi aku sudah mendaur ulang diriku menjadi jauh lebih bernilai daripada barang murahan sepertimu!" balas Alvin lalu keluar dari ruangan Ricky.


Ricky hanya menatap kepergian Alvin dengan emosi dalam dirinya. Sejak kedatangan Alvin di keluarganya, semuanya lebih memperhatikan Alvin dibanding dirinya dan sejak saat itu ia sangat membenci Alvin.


"kau dan papa sama sampahnya, dia lebih menyayangimu karena kau adalah anak pemilik perusahaan ini dan sekarang aku akan melakukan apapun agar perusahaan ini tidak berakhir di tanganmu ataupun di tangan papa, aku yang akan menguasainya sendiri!" batin Ricky dalam hati.