Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Kesempatan untuk Memilih



Di Seabert.


Cadassi tiba tiba pulang ke rumahnya dengan membanting pintu, membuat Chubasca dan Marin yang ada di dalam rumah begitu terkejut.


"Ada apa ayah? kenapa ayah....."


"Apa yang sudah kau lakukan Chubasca? apa kau gila?" tanya Cadassi dengan penuh emosi sambil mencengkeram leher Chubasca dengan kuat.


"Ayah, lepaskan, dia bisa mati!" ucap Marin yang berusaha melepaskan tangan sang ayah dari leher Chubasca.


"Biarkan saja dia mati, memang itu yang dia inginkan!" ucap Cadassi lalu melepaskan leher Chubasca dari cengkeramannya dengan kasar


"Apa maksud ayah kenapa ayah, berkata seperti itu?" tanya Marin tak mengerti dengan membawa pandangannya pada Chubasca dan Cadassi bergantian.


"Apa yang sudah kau lakukan Chubasca? apalagi masalah yang kau perbuat kali ini?" tanya Marin pada Chubasca karena sang ayah hanya diam tidak menjawab pertanyaan Marin.


"Aku hanya ingin membantumu," jawab Chubasca yang membuat Marin mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Membantu apa? berbicaralah yang jelas agar aku mengerti!" tanya Marin.


"Anak bodoh ini sudah berniat untuk mencuri gelang mutiara milik Ratu Nagisa, walaupun dia belum melakukannya tapi dia sudah mempunyai niat itu dan Ratu Nagisa mengetahuinya, kalian berdua pasti tahu hal itu sama saja dengan menjadi penghianat istana dan kaupun pasti bisa menyimpulkannya sendiri Marin apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Cadassi yang berusaha menahan emosinya saat itu.


"Nyawanya yang akan menjadi taruhannya," ucap Marin dengan membawa pandangannya pada Chubasca yang hanya diam dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau melakukan hal itu Chubasca? apakah lupa bawa kau sudah mengikat perjanjian darah dengan Ratu Nagisa?" tanya Marin pada Chubasca.


"Aku ingat, aku tidak pernah melupakan hal itu, aku melakukannya karena aku tahu kau sangat ingin kembali ke daratan dan bertemu dengan manusia itu, aku hanya ingin membantumu Marin, aku hanya ingin kau bahagia dan ceria seperti dulu meskipun aku tahu nyawaku taruhannya," jawab Chubasca yang membuat Marin terdiam.


Marin tidak menyangka Chubasca akan melakukan hal yang membahayakan itu hanya untuk dirinya. Kakak yang selama ini selalu bersikap menyebalkan dan membuatnya marah nyatanya begitu peduli dan menyayanginya dengan tulus.


"Kau bodoh sekali, kau benar-benar sangat bodoh!" ucap Marin sambil memukul dada Chubasca dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih terlalu lama Marin dan aku rasa hanya ini yang bisa aku lakukan," ucap Chubasca lalu membawa Marin ke dalam dekapannya.


"Kau akan benar-benar mati bahkan sebelum kau mendapatkan gelang mutiara itu, apa kau sebodoh itu sampai kau tidak memikirkan hal itu? kau hanya akan mati sia-sia Chubasca!" ucap Marin dengan terisak di dalam dekapan Chubasca.


Marin yang selama ini selalu kesal pada sang kakak tiba-tiba saja luluh pada sikap Chubasca yang berani mempertaruhkan nyawanya demi kebahagiaan Marin.


Seorang kakak yang tampak tidak peduli padanya nyatanya adalah seorang kakak yang menomorsatukan adiknya, tak peduli apapun yang akan terjadi setelahnya.


"Aku mohon jangan melakukan hal ini lagi, jangan bertindak bodoh atau aku akan benar-benar sangat marah padamu," ucap Marin pada Chubasca.


Chubasca hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang tersisa di pipi Marin.


"Apa kau menangis karena laki-laki itu atau kau menangis karena aku?" tanya Chubasca yang membuat Marin segera memukul dada Chubasca dengan kuat, membuat Chubasca terkekeh lalu kembali memeluk Marin, adik yang sangat ia sayangi.


"Sekarang ikutlah denganku, Ratu Nagisa manggilmu untuk menghadap ke istana!" ucap Cadassi pada Chubasca.


"Baik ayah," balas Chubasca.


"Aku ikut!" sahut Marin.


"Tidak, kau di rumah saja," balas Chubasca.


"Aku harus ikut denganmu, aku tidak akan membiarkan Ratu Nagisa memberikan hukuman padamu!"


"Apa kau sekarang mengkhawatirkanku? hahaha......"


"Diamlah ini bukan waktunya untuk bercanda!" ucap Marin.


"Kau tidak perlu ikut Marin, aku akan menghadap Ratu Nagisa sendirian, aku akan menerima hukuman apapun yang Ratu Nagisa berikan padaku karena memang aku bersalah, mungkin aku akan kembali mendekam di penjara kegelapan," ucap Chubasca.


Marin hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berenang dengan cepat keluar dari rumah mendahului Cadassi dan Chubasca.


Chubasca memang melakukan kesalahan, tapi apa yang dia lakukan itu demi Marin, membuat Marin bertekad untuk tidak akan membiarkan sang kakak masuk ke dalam penjara kegelapan untuk yang kesekian kali.


Marinpun tiba di istana lebih dulu sebelum Cadassi dan Chubasca datang.


"Kenapa kau yang datang kemari Marin?" tanya Ratu Nagisa yang sedikit terkejut melihat kedatangan Marin di hadapannya.


"Marin datang untuk menemui Ratu Nagisa, Marin ingin memohon agar Ratu Nagisa memaafkan Chubasca, dia melakukan hal itu hanya untuk membuat Marin bahagia, agar Marin bisa kembali ke daratan dan bertemu dengan laki-laki yang Marin cintai," ucap Marin menjelaskan.


"Laki-laki yang kau cintai? apa maksudmu manusia?" tanya Ratu Nagisa.


Marin hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani menatap wajah Ratu Nagisa yang sudah pasti terlihat murka saat itu.


"Jadi selama ini kau dan Nerissa diam-diam jatuh cinta pada manusia di daratan?" tanya Ratu Nagisa yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Marin.


"Apa kau tidak tahu bahwa itu adalah kesalahan Marin? kenapa kau bisa melakukan hal itu?"


"Maafkan Marin Ratu, Marin tidak bisa mengendalikan apa yang ada di hati Marin, bahkan saat Marin berusaha menjauhpun Marin tetap memikirkannya, jika memang apa yang Marin rasakan ini adalah sebuah kesalahan Marin bersedia menerima hukuman apapun yang Ratu Nagisa berikan," ucap Marin dengan masih menundukkan kepalanya.


"Bagaimana jika aku memasukkanmu ke penjara kegelapan?" tanya Ratu Nagisa yang membuat Marin hanya terdiam dengan menggigit bibirnya karena takut jika Ratu Nagisa akan benar-benar memasukkannya ke dalam penjara kegelapan.


"Jangan Ratu," ucap Chubasca yang tiba-tiba datang membuat Marin dan Ratu Nagisa segera membawa pandangan mereka ke arah Chubasca dan Cadassi.


"Kesalahan yang saya buat tidak ada hubungannya dengan Marin, saya akan menerima apapun hukuman yang Ratu Nagisa berikan pada saya," ucap Chubasca.


"Kalian benar-benar menguji kesabaranku," ucap Ratu Nagisa sambil memijit keningnya.


"Saya mohon maaf atas kegaduhan yang Marin dan Chubasca lakukan Ratu, saya pun akan menerima hukuman jika apa yang Marin dan Chubasca lakukan adalah sebuah kesalahan yang besar," ucap Cadassi.


"Tidak ayah, ini sepenuhnya kesalahan Chubasca," ucap Chubasca pada sang ayah.


"Apa aku harus memasukkan kalian semua ke dalam penjara kegelapan?" tanya Ratu Nagisa yang membuat Marin, Chubasca dan Cadassi hanya terdiam dengan menundukkan kepala mereka.


"Nerissa, sejak kapan kau berada disana?" tanya Ratu Nagisa.


"Nerissa sudah mendengar semuanya Bunda, Nerissa tidak setuju jika Bunda memasukkan mereka ke dalam penjara kegelapan, tidak ada satupun dari mereka yang melakukan kesalahan dengan niat berkhianat," ucap Nerissa.


"Apa maksudmu Nerissa?" tanya Ratu Nagisa.


"Awal dari permasalahan ini adalah karena Nerissa yang mengajak Marin pergi ke daratan dan karena hal itu Marin bertemu dengan manusia yang membuatnya jatuh cinta, jika jatuh cinta pada manusia adalah sebuah kesalahan maka yang patut untuk dipersalahkan disini adalah Nerissa, karena Nerissa yang sudah membuat Marin bertemu dengan manusia itu, jadi sudah sepatutnya Nerissa yang mendapat hukuman dari Bunda," ucap Nerissa panjang yang membuat semua yang ada di sana begitu terkejut.


"Kalian semua benar-benar membuatku pusing," ucap Ratu Nagisa yang kesal pada semua yang ada di hadapannya saat itu.


"Nerissa dan Marin tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, tapi takdir begitu jahat karena membiarkan kita jatuh cinta pada manusia yang tidak akan pernah bisa bersanding bersama kita, takdir ini sangat menyakitkan untuk Marin dan Nerissa, takdir ini sudah seperti hukuman bagi Nerissa dan Marin, Bunda," ucap Nerissa dengan kedua mata berkaca kaca.


Ratu Nagisa terdiam mendengarkan apa yang Nerissa katakan. Dalam hatinya ia merasa sedih mendengar apa yang Nerissa katakan. Bagaimanapun juga sebagai bunda ia bisa merasakan kesedihan seperti apa yang tengah Nerissa rasakan saat itu.


Ratu Nagisa menghela nafasnya panjang lalu meminta Marin, Cadassi dan Chubasca untuk pergi.


"Kalian pergilah, aku tidak akan memberikan hukuman pada siapapun, tetapi jika kau melakukan hal itu lagi Chubasca, maka tidak akan ada maaf lagi untukmu," ucap Ratu Nagisa.


Marin, Chubasca dan Cadassipun pergi dari hadapan Ratu Nagisa. Kini hanya ada Nerissa yang terdiam dengan kedua mata yang berkaca-kaca di hadapan Ratu Nagisa.


Saat Ratu Nagisa akan menghampiri Nerissa, ia segera berenang pergi meninggalkan bundanya begitu saja.


Ratu Nagisa hanya bisa menghela nafasnya panjang melihat sikap Nerissa. Ia masih memberi waktu untuk Nerissa memikirkan tentang perasaannya pada manusia yang tidak seharusnya ada.


Namun seiring dengan berjalannya waktu Nerissa semakin jarang terlihat keluar dari kamarnya. Ia bahkan bisa menghabiskan satu hari di dalam kamar tanpa pernah sekalipun keluar.


Ratu Nagisapun semakin mengkhawatirkan Nerissa lalu masuk ke dalam kamar Nerissa dan mendapati Nerissa yang hanya terdiam di tepi ranjangnya.


"Apa kau tidak ingin keluar menemui teman-temanmu Nerissa?" tanya Ratu Nagisa yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.


"Apa kau marah pada Bunda?" tanya Ratu Nagisa.


"Nerissa tidak marah Bunda, Nerissa hanya tidak ingin mendengar Bunda mengatakan takdir buruk yang sedang Nerissa alami saat ini," jawab Nerissa.


"Maafkan Bunda sayang," ucap Ratu Nagisa.


Nerissa kemudian mendekat pada sang Bunda lalu memeluk bundanya dengan erat.


"Nerissa bahagia bisa tinggal bersama bunda di sini, Nerissa hanya membutuhkan waktu untuk melupakan Alvin dan Nerissa tidak tahu kapan Nerissa bisa melupakannya," ucap Nerissa pada sang bunda.


"Bagaimana jika dia tidak mencintaimu Nerissa? kau pasti akan semakin terluka!"


"Kita saling mencintai Bunda, jika bukan karena takdir yang memisahkan kita, kita pasti masih bisa bersama sekarang," jawab Nerissa yakin.


Ratu Nagisa kemudian meninggalkan kamar Nerissa. Diam-diam Ratu Nagisa keluar dari istana, berenang jauh ke arah timur hingga akhirnya Ratu Nagisa sampai di depan sebuah batu karang yang besar.


"Nagisa datang Bunda," ucap Ratu Nagisa di hadapan batu karang besar itu.


Tak lama kemudian terlihat ekor berwarna merah muncul dari balik batu karang besar itu.


Ratu Nagisa tersenyum senang saat melihat si pemilik ekor merah itu berenang mendekatinya.


"Sudah sangat lama kau tidak datang kesini," ucap mermaid tua yang merupakan penjaga persimpangan dunia laut dan dunia manusia.


"Banyak masalah yang terjadi di Seabert Bunda, tapi sekarang semuanya sudah selesai karena bantuan Nerissa," balas Ratu Nagisa.


"Aku tau, dia sudah banyak berkorban untuk Seabert, sudah selayaknya dia mendapatkan kehidupannya yang bahagia, tapi sepertinya aku tidak pernah melihatnya bahagia sekarang!"


"Bunda benar, dia bersedih karena dia harus meninggalkan manusia di daratan yang dicintainya," balas Ratu Nagisa.


"Mereka memang sudah berada dalam garis takdir mereka Nagisa, mereka berdua saling terikat bahkan setelah Nerissa menghapus memori manusia itu."


"Saling terikat? apa maksud bunda?" tanya Ratu Nagisa tak mengerti.


"Cinta di antara mereka berdua yang membuat mereka berdua saling terikat, memang akan ada banyak hal buruk yang terjadi pada manusia itu jika dia menjalin hubungan dengan Nerissa, tapi itu tidak akan terjadi jika Nerissa bersedia menukar kehidupan abadinya," jawab mermaid tua yang merupakan ibu dari ratu Nagisa.


"Menukar kehidupan abadi? maksud bunda Nerissa harus meninggalkan kehidupan lautnya?" tanya Ratu Nagisa memastikan.


"Iya kau benar, Nerissa memiliki mutiara merah muda dari ratu Baruna, jika dia bersedia menukarnya dengan kehidupan abadinya maka dia akan menjalani kehidupannya sebagai manusia seutuhnya dan hubungannya dengan manusia itu tidak akan memberikan dampak yang buruk pada manusia itu karena Nerissa sudah menjadi manusia seutuhnya," jawab mermaid tua menjelaskan.


"Apa itu artinya Nagisa tidak akan pernah bisa bertemu Nerissa lagi?" tanya Ratu Nagisa.


"Tentu saja bisa, kau bisa menemuinya di tepi pantai setiap bulan bersinar penuh, tapi dia tidak akan pernah bisa kembali ke Seabert jika dia sudah menukar kehidupan abadinya."


Ratu Nagisa terdiam beberapa saat, sebagai seorang ibu ia merasa sangat bersedih ketika melihat Nerissa yang tampak tidak bersemangat menjalani hidupnya di dalam istana.


Namun ia juga berat untuk melepaskan Nerissa ke daratan yang bukan merupakan tempat tinggalnya.


"Aku juga akan memberikan hadiah untuk temannya, Marin," ucap mermaid tua yang membuat Ratu Nagisa mengernyitkan keningnya.


"Marin benar-benar tulus menyayangi Nerissa, dia bahkan mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi Nerissa saat Nerissa menemui Ran," ucap mermaid tua menjelaskan.


"Apa yang akan Bunda berikan pada Marin?" tanya Ratu Nagisa.


Mermaid tua itu kemudian mengulurkan genggaman tangannya pada Ratu Nagisa lalu membukanya dan terlihatlah sebuah mutiara berwarna merah muda di tangannya.


"Apa bunda akan memberikan mutiara merah muda ini pada Marin?" tanya Ratu Nagisa memastikan.


"Iya, sama seperti Nerissa, dia juga sudah terikat dengan manusia di daratan, mereka sama-sama saling mencintai dan aku akan memberikan kesempatan Marin untuk membuat pilihan dengan mutiara merah muda ini," jawab mermaid tua yang kemudian memberikan mutiara merah muda itu pada Ratu Nagisa.


"Berikan mutiara merah muda ini padanya dan minta dia untuk menemuiku, maka aku akan menjelaskan semuanya padanya," ucap mermaid tua pada Ratu Nagisa sebelum ia kembali berenang ke balik batu karang besar di belakangnya.