
Alvin masih berada di tepi pantai di atas batu karang. Ia berdiri memfokuskan pandangannya pada hamparan gelap laut malam.
Ia yakin apa yang baru saja dilihatnya adalah sebuah ekor yang besar berwarna merah muda dan berkilau, namun hanya beberapa detik saja ia melihatnya karena setelah itu ekor berwarna merah muda yang berkilau itu kembali masuk ke dalam air.
"apa aku sedang berhalusinasi karena terlalu memikirkan kejadian di masa lalu ku? tidak.... aku yakin aku benar-benar melihatnya, tetapi kali ini berbeda, yang aku lihat dulu adalah ekor yang berwarna biru sedangkan sekarang aku melihat ekor berwarna merah muda yang berkilau apa mungkin mereka benar-benar ada dengan jumlah yang banyak? apa di bawah sana memang ada kehidupan lain yang tidak banyak orang tahu?" batin Alvin dalam hati.
Alvin kemudian kembali duduk dengan mengacak-acak rambutnya kasar, ia merasa dirinya sedang kacau saat itu.
"tidak mungkin.... bisa jadi ini hanya halusinasiku karena aku terlalu stress memikirkan pekerjaanku di kantor," batin Alvin kemudian beranjak dan turun dari atas batu karang yang besar.
Alvin kembali berjalan di bibir pantai membiarkan kakinya tersentuh oleh belaian ombak.
Saat Alvin membawa pandangannya ke bawah batu karang besar, ia teringat Nerissa yang sering ia temui di sana.
Alvin kemudian membawa langkahnya ke bawah batu karang besar dan begitu terkejut saat melihat sesuatu
Alvin kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Nerissa untuk meyakinkan apa yang ada dipikirannya saat itu.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Suara dering ponsel terdengar dari tas yang ada di hadapan Alvin saat itu. Di samping tas itu juga ada 2 pasang sepatu yang ia duga adalah milik Nerissa dan Marin.
Alvin kembali menghubungi Nerissa untuk benar-benar meyakinkan kecurigaannya saat itu.
Setelah beberapa kali menghubungi Nerissa dan suara dering ponsel terdengar dari tas yang ada dihadapannya, Alvin pun yakin jika tas dan salah satu sandal itu adalah milik Nerissa.
Alvin kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Nerissa dan Marin. Namun ia tidak dapat melihat siapapun disana kecuali dirinya.
"Kenapa tas dan sepatu Nerissa ada disini? tapi ke mana dia sekarang? kenapa aku tidak melihatnya sama sekali?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.
"Nerissa kau di mana?" panggil Alvin dengan berteriak.
"Nerissa, keluar lah jangan membuatku khawatir!" ucap Alvin kembali berteriak namun sama sekali tak ada jawaban ataupun tanda-tanda keberadaan Nerissa di sana.
"Dia sangat suka berendam di sini, tetapi dia tidak bisa berenang dan sekarang barang-barangnya masih berada di sini sedangkan dia tidak ada, apa mungkin dia......"
Alvin menggelengkan kepalanya berusaha untuk tetap berpikir positif meski dalam hatinya ia benar-benar mengkhawatirkan Nerissa saat itu.
Ia takut terjadi hal buruk pada Nerissa, mengingat Nerissa tidak bisa berenang dan Nerissa sangat suka berendam di laut saat malam hari.
Alvin kemudian menghubungi Daniel sekedar memastikan apakah Daniel bersama Nerissa atau tidak.
"Halo Daniel, di mana kau sekarang?" tanya Alvin pada pada Daniel setelah Daniel menerima panggilannya.
"Aku sedang di rumah, mengerjakan beberapa pekerjaan kantor papa, kenapa?" jawab Daniel sekaligus bertanya.
"Tidak, lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Alvin kemudian mengakhiri panggilan nya.
Alvin kemudian berlari menyisir seluruh bibir pantai untuk mencari keberadaan Nerissa. Namun ia masih tidak juga mendapati tanda-tanda keberadaan Nerissa di sana.
"Nerissa, dimana kau? apa kau mendengarku? jawablah!" ucap Alvin dengan berteriak.
Alvin kemudian melepas kemejanya dan membawa langkahnya semakin jauh dari bibir pantai.
Kini tidak hanya kakinya yang yang tersentuh oleh ombak di lautan malam, namun ombak itu berhasil menyentuh sampai ke pinggang Alvin dan semakin naik membuat Alvin akhirnya berenang untuk mencari keberadaan Nerissa.
Entah apa yang ada dipikirannya saat itu ia hanya menghawatirkan keadaan Nerissa tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.
Tanpa sadar Alvin terlalu memaksakan dirinya, yang membuatnya kehabisan nafas di dalam air sehingga membuat kemampuan berenangnya pun menurun hingga akhirnya ia pun tenggelam dengan perlahan.
Nerissa yang saat itu akan kembali ke daratan begitu terkejut saat melihat Alvin yang sudah lemas dan tenggelam.
Dengan cepat Nerissapun berenang untuk menolong Alvin yang saat itu semakin jatuh ke dalam lautan.
Nerissa berhasil meraih Alvin dan membawa Alvin kembali ke daratan. Karena terlalu gugup, tanpa sadar Nerissa terantuk batu karang yang membuat keningnya berdarah.
Setelah membaringkan Alvin di daratan Nerissapun segera memutar gelangnya 7 kali sehingga dua pasang kaki pun terlihat menggantikan ekor merah mudanya yang berkilau.
Nerissa menepuk kedua pipi Alvin dan memanggilnya nya untuk membuat Alvin segera tersadar.
"Alvin bangunlah aku mohon," ucap Nerissa yang semakin khawatir melihat keadaan Alvin yang masih terpejam dengan wajah yang begitu pucat.
Tak lama kemudian Marin pun datang dan segera memutar gelang mutiara nya 7 kali agar ekornya berubah menjadi kaki.
Marin segera berlari menghampiri Nerissa dan Alvin saat melihat Alvin yang terbaring dengan mata terpejam di tepi pantai.
"Kenapa Alvin ada di sini Putri? apa yang terjadi padanya?" tanya Marin pada Nerissa.
"Aku melihatnya tenggelam Marin, sekarang dia masih terpejam sejak tadi, apa yang harus aku lakukan Marin? aku sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya," jawab Nerissa dengan bergetar karena takut terjadi sesuatu yang buruk pada Alvin.
Marin kemudian menggeser posisi duduk Nerissa. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada Alvin dan menekannya beberapa kali hingga akhirnya Alvin tersedak dan memuntahkan air laut beberapa kali dari mulutnya.
Alvin membuka matanya dan begitu terkejut karena melihat Nerissa dan Marin di hadapannya.
Alvin segera bangun dan memeluk Nerissa yang duduk disampingnya.
"Nerissa, aku sangat mengkhawatirkanmu, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu," ucap Alvin sambil memeluk Nerissa dengan erat.
"Aku baik-baik saja Alvin, justru aku yang sangat mengkhawatirkanmu," ucap Nerissa dengan dengan membalas pelukan Alvin.
Alvin kemudian melepaskan pelukannya pada Nerissa dan memegang kedua pipi Nerissa lalu menatap kedua matanya dengan penuh kekhawatiran.
"Apa kau baik-baik saja? apa sesuatu terjadi padamu? aku mencarimu kemana-mana dan aku tidak bisa menemukanmu, aku benar-benar takut Nerissa, aku benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu!"
"Aku baik-baik saja Alvin, maaf karena sudah membuatmu khawatir," balas Nerissa.
"Tidak, kau tidak baik-baik saja, keningmu berdarah Nerissa, apa ini sangat sakit?" tanya Alvin sambil menyibakkan rambut di kening Nerissa.
"Aaaahhhh ini...... ini hanya luka kecil Alvin, aku bahkan tidak merasakan sakit sama sekali," jawab Nerissa.
"Kenapa kau bisa ada di sini Alvin? dan apa yang membuatmu tenggelam di lautan malam hari seperti ini?" tanya Marin pada Alvin.
"Aku hanya datang kesini seperti biasa Marin, tapi aku melihat......."
"melihat ekor mermaid, tidak...... aku tidak mungkin mengatakan hal itu pada Marin dan Nerissa," lanjut Alvin dalam hati.
"Kau melakukan hal gila itu hanya untuk menyelamatkan putri? kau bahkan tidak tahu apakah Putri benar-benar tenggelam atau tidak!" ucap Marin dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku sangat mengkhawatirkannya Marin, kau tahu dia tidak bisa berenang bukan? tetapi dia suka berendam di bawah batu karang, bagaimana aku tidak mengkhawatirkannya saat aku melihat barang-barangnya di sini tetapi aku tidak melihat keberadaannya disini!" balas Alvin membela diri.
"Apa sebegitu besar perasaanmu untuk Putri Nerissa, Alvin?" tanya Marin yang membuat Alvin dan Nerissa terdiam.
Nerissa segera membawa pandangannya pada Alvin, menunggu jawaban seperti apa yang akan Alvin berikan pada Marin.
"Aku....... aku hanya mengkhawatirkannya, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya seperti kemarin, bukankah kita semua berteman?" balas Alvin yang membuat Nerissa tersenyum tipis.
"Tapi kau sudah mengorbankan nyawamu untuk Putri Nerissa, Alvin, aku rasa itu bukan alasan seorang teman!" ucap Marin yang membuat Alvin semakin tersudut.
"Sudahlah Marin, jangan dilanjutkan lagi, Alvin baru saja sadar jangan membuatnya kembali pingsan!" sahut Nerissa.
"Baiklah, tapi sepertinya kita harus segera pergi dari sini, ombak semakin besar sebentar lagi laut akan pasang!" ucap Marin yang dibalas anggukan kepala oleh Nerissa dan Alvin.
Setelah mengenakan alas kaki mereka, mereka pun meninggalkan pantai. Nerissa membantu Alvin berjalan karena ia melihat Alvin masih sedikit lemah.
"Apa kau yakin bisa mengendarai mobilmu Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin.
"Aku masih bisa mengendarainya Nerissa, jangan khawatir, aku akan mengantar kalian berdua pulang!" balas Alvin.
"Rumahku terlalu jauh Alvin, kau pulang saja, aku bisa memesan taksi untuk pulang bersama Marin," ucap Nerissa.
"Tidak Nerissa, aku akan mengantar kalian pulang, tolong jangan menolakku!" ucap Alvin.
"Baiklah jika itu keinginanmu," balas Nerissa menyerah dan menerima permintaan Alvin untuk mengantarnya pulang.
Akhirnya Nerissa dan Marin pun pulang dengan diantar oleh Alvin.
Sesampainya di depan rumah, Nerissa dan Marin pun keluar dari mobil Alvin.
"Bagaimana kalau kau menginap di sini, kau bisa pulang ke rumahmu besok pagi sebelum berangkat ke kantor!" ucap Nerissa pada Alvin.
Sebelum menjawab, Alvin membawa pandangannya pada Marin, seolah meminta persetujuan Marin atas ucapan Nerissa.
"Aku setuju," ucap Marin yang seolah mengerti isi pikiran Alvin.
Alvin tersenyum senang kemudian memarkirkan mobilnya dan ikut masuk ke dalam rumah bersama Nerissa dan Marin.
"?au bisa tidur di kamarku, aku akan tidur di kamar Marin!" ucap Nerissa pada Alvin.
"Terima kasih Nerissa Marin, terima kasih karena telah menyelamatkanku," ucap Alvin dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin.
"Aku melakukannya karena kau juga sudah menyelamatkan putri, anggap saja itu balas budi karena kebaikan yang sudah kau lakukan pada Putri," balas Marin.
"Sekarang kau tidur lah, aku akan mengambil beberapa pakaianku terlebih dahulu di kamarku!" ucap Nerissa pada Alvin.
Nerissa kemudian masuk ke kamarnya untuk mengambil pakaian tidurnya, diikuti oleh Alvin yang juga masuk ke kamar Nerissa.
Saat Nerissa akan keluar dari kamarnya, Alvin menarik tangan Nerissa membuatnya Nerissa berbalik dan menghadap ke arah Alvin.
"Ada apa?" tanya Nerissa.
"Keningmu terluka, aku akan mengobatinya terlebih dahulu sebelum kau tidur!" jawab Alvin.
"Tidak perlu ini hanya luka kecil, aku......"
"Dimana kau menyimpan kotak P3K?" tanya Alvin memotong ucapannya Nerissa.
Nerissa kemudian menunjukkan sebuah kotak yang berisi bermacam-macam obat-obatan yang sudah Marin siapkan.
Alvin kembali menarik tangan Nerissa dan mendudukkan Nerissa di tepi ranjang.
Alvin kemudian duduk di samping Nerissa, menyentuh kedua bahu Nerissa dan menggesernya menghadap ke arah Alvin.
Dengan perlahan dan hati-hati Alvin membersihkan luka di kening Nerissa kemudian mengobatinya dan menutupnya dengan plester.
"Kau harus sering mengganti plester mu agar tidak lukanya tidak iritasi," ucap Alvin sambil merapikan rambut di kening Nerissa.
Nerissa hanya diam menatap laki-laki di hadapannya. Seorang manusia yang penuh dengan kelembutan dan penuh perhatian kini ada di hadapannya, membuat dadanya berdebar, membuat sebuah rasa semakin tumbuh tak terkendali dalam hatinya.
"Sudah selesai, kau bisa tidur sekarang," ucap Alvin membuyarkan lamunan Nerissa.
"Terima kasih Alvin l, kau juga harus segera tidur," ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala dan senyum Alvin.
Nerissa kemudian keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Marin, meninggalkan Alvin yang masih duduk di tepi ranjang Nerissa.
Alvin kemudian merebahkan badannya di ranjang Nerissa. Matanya berkeliling ke setiap sudut kamar Nerissa, memperhatikan setiap detail yang ada di kamarnya Nerissa, gadis yang baru saja membuatnya gila karena terlalu mengkhawatirkanya.
"aku belum menanyakannya ke mana dia tadi, kenapa dia tiba-tiba muncul di pantai bersama marin? padahal aku sudah mencarinya kemana-mana dan aku tidak menemukan keberadaannya di sana!" ucap Alvin dalam hati.
Alvin kemudian memejamkan matanya bersiap untuk menjelajahi alam mimpinya.
Waktu demi waktu berlalu, dalam gelap pandangnya samar-samar Alvin melihat seorang gadis mendekat ke arahnya.
Semakin gadis itu mendekat, Alvin bisa melihat dengan jelas rambut coklat terang yang dimiliki gadis cantik itu.
Namun saat jarak mereka semakin dekat, Alvin baru menyadari sesuatu yang berbeda dari gadis itu.
Gadis cantik yang berenang kearahnya dengan rambut panjang tergerai berwarna coklat terang itu ternyata memiliki ekor berwarna merah muda yang berkilau
Meski hanya samar, Alvin bisa memastikan jika apa yang ia lihat saat itu benar-benar ekor merah muda yang berkilau bukan sepasang kaki seperti yang dimiliki manusia pada umumnya.
Perlahan gadis cantik itu semakin mendekat ke arahnya namun saat itu juga sebuah tangan menepuk pipinya dengan keras.
Alvin pun membuka matanya dan melihat Nerissa di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang, dadanya bergemuruh karena mimpi yang baru saja dilihatnya.
"Ada apa Alvin? apa kau baru saja mimpi buruk?" tanya Nerissa yang melihat Alvin seperti ketakutan, dengan mata yang masih terpejam dan keringat dingin yang mengucur di keningnya.
"Nerissa, kau......"