Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Bahagia



Marin yang pada awalnya begitu antusias untuk mengikuti Nerissa berlibur bersama Alvin tiba-tiba menjadi malas saat melihat Cordelia yang akan ikut berlibur bersamanya.


"Apa aku boleh ikut berlibur bersama kalian?" tanya Cordelia dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin bergantian.


"Jika aku mengatakan tidak apa kau akan pulang sekarang?" balas Marin bertanya dengan ketus.


"Tentu saja aku tidak keberatan untuk pulang jika memang aku tidak diperbolehkan untuk ikut," jawab Cordelia.


"Bagaimana denganmu Nerissa? apa kau mengizinkan Cordelia ikut berlibur bersama kita?" tanya Alvin pada Nerissa.


"Aku tidak keberatan, semakin banyak yang ikut semakin seru bukan?" balas Nerissa sambil membawa pandangannya pada Marin.


"Akan seru jika dia tidak membuat masalah," ucap Marin dengan membawa pandangannya pada Cordelia.


"Aku tidak akan membuat masalah Marin, aku janji," ucap Cordelia meyakinkan Marin.


"Aku bukan anak kecil yang gampang kau bodohi Delia, kau....."


"Sudah Marin, jangan dilanjutkan, lebih baik kita berangkat sekarang sebelum semakin siang," ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


Marin hanya menghela nafasnya lalu memasukkan beberapa barang yang dibawanya ke dalam bagasi mobil Alvin.


Saat Nerissa membuka pintu belakang mobil Alvin, Cordelia menahan Nerissa agar tidak masuk.


"Kau di depan saja, aku dan Marin yang akan duduk di belakang," ucap Cordelia pada Nerissa.


"Baiklah," balas Nerissa lalu duduk di depan bersama Alvin yang sudah siap di balik kemudinya.


"Kita akan menjemput Daniel dulu, apa ada yang keberatan?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada semua yang ada di dalam mobilnya.


"Tidak," jawab Nerissa, Marin dan Cordelia kompak.


Alvinpun mengendarai mobilnya menuju rumah Daniel. Sesampainya disana, Danielpun sudah bersiap dan segera masuk ke dalam mobil Alvin.


"Apa kau mau duduk di depan?" tanya Nerissa pada Daniel yang duduk di kursi belakang di dekat Marin.


"Tidak Nerissa, kau saja," balas Daniel.


"Aku pikir hanya kita berempat, aku tidak tahu kalau Delia ikut," ucap Daniel.


"Alvin yang mengajakku," balas Cordelia.


"Alvin yang mengajakmu atau kau yang merengek untuk ikut?" tanya Daniel mencibir.


"Kalau kau tidak percaya padaku kau bisa bertanya pada Alvin," balas Cordelia kesal.


"Aku yang mengajaknya ikut, apa ada masalah?" sahut Alvin.


"Kita lihat saja nanti apa ada masalah atau tidak," balas Daniel.


"Sudahlah jangan terlalu mempermasalahkannya, kita akan berangkat berlibur sekarang, apa kalian tidak bisa bersenang-senang saja?" sahut Nerissa.


"Baiklah, ayo kita bersenang-senang hari ini, aku juga perlu keluar dari rutinitasku yang sangat membosankan," ucap Daniel.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Alvinpun memperlambat laju mobilnya karena mereka sudah sampai di tujuan.


Mereka semua membawa peralatan piknik mereka, mencari tempat berteduh di bawah pohon yang ada di tepi pantai.


"Waaahh cuaca hari ini cerah sekali," ucap Nerissa setelah mereka semua duduk sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka bawa.


"Sepertinya langit mendukung liburan kita hari ini," ucap Alvin.


"Iya kau benar," balas Nerissa.


Alvin kemudian beranjak dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Nerissa yang masih duduk.


Nerissapun tersenyum lalu menerima uluran tangan Alvin dan beranjak dari duduknya.


Alvin menggenggam tangan Nerissa, menggandengnya berlari ke arah tepi pantai untuk membasahi kaki mereka dengan air laut yang menyapu pasir putih pantai Pasha.


Alvin dan Nerissa tampak bercanda dan tertawa berdua, mereka berlari kesana dan kemari seolah dunia hanya milik mereka berdua.


Saat Alvin tengah mengejar Nerissa ia segera mendekap Nerissa dan mengangkat tubuh Nerissa lalu berputar-putar beberapa kali sampai akhirnya Alvin menjatuhkan dirinya di atas pasir pantai bersama Nerissa.


Alvin dan Nerissa saling pandang di bawah langit biru bersama belaian angin laut yang menyapa kebersamaan mereka.


"Apa kau bahagia Nerissa?" tanya Alvin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Sangat bahagia, entah kapan terakhir kali aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini," ucap Nerissa.


Alvin kemudian meraih tangan Nerissa dan menggenggamnya, dengan kedua mata yang masih menatap Nerissa yang terbaring di sampingnya.


"Akan aku pastikan agar kau selalu bahagia bersamaku Nerissa," ucap Alvin lalu menarik tangan Nerissa dan mengecupnya untuk beberapa saat.


Nerissa hanya tersenyum dengan degupan jantungnya yang tidak berirama dengan baik namun ia bisa menikmati melodi indah yang ia rasakan dalam hatinya saat itu.


"Apa kau ingat pertemuan kita yang pertama kali Alvin?" tanya Nerissa pada Alvin.


"Tentu saja aku mengingatnya, kau berendam di bawah batu karang saat malam hari dan beberapa kali aku melihatmu seperti itu," jawab Alvin.


"Apa kau yakin itu pertemuan kita yang pertama kali?" tanya Nerissa yang membuat Alvin mengernyitkan keningnya.


"Aku yakin itu pertemuan kita yang pertama kali, apa sebelumnya kau sudah pernah melihatku?" jawab Alvin sekaligus bertanya.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun karena bagi Nerissa pertemuannya yang pertama kali dengan Alvin adalah saat pertama kali ia datang ke daratan bersama Marin.


Saat itulah ia melihat Alvin yang duduk di atas batu karang di bawah cahaya bulan purnama yang menyinari wajah tampan Alvin malam itu.


Nerissa tidak akan pernah melupakan malam yang istimewa baginya itu karena selain untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Alvin, pada malam hari itu untuk pertama kalinya ia kehilangan mahkotanya dan menyadari salah satu kekuatan yang dimilikinya saat ia kembali ke istana.


"Dimana kau pertama kali bertemu denganku Nerissa?" tanya Alvin penasaran.


"Disini, aku melihatmu melempar batu-batu kecil ke arah laut saat kau sedang berdiri di atas batu karang yang besar itu," jawab Nerissa.


"Benarkah? tapi kenapa aku tidak melihatmu?"


"Karena kau hanya diam melamun, seperti ada sesuatu yang sedang kau pikirkan saat itu," jawab Nerissa.


"Apa mungkin saat itu kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Alvin yang membuat Nerissa segera mengalihkan pandangannya dari Alvin karena malu.


Baginya sangat memalukan jika Alvin mengetahui bahwa sebenarnya Nerissa sudah menyukainya sejak saat itu.


"Kenapa kau mengalihkan pandanganmu? apa benar yang aku tanyakan itu?" tanya Alvin yang beranjak untuk melihat raut wajah Nerissa.


"Tidak," jawab Nerissa yang lagi-lagi mengalihkan pandangannya dari Alvin.


Alvin kemudian menundukkan wajahnya dan memegang kedua pipi Nerissa agar Nerissa berhenti mengalihkan pandangannya dari Alvin.


Alvin hanya diam tanpa mengatakan apapun, begitu juga Nerissa yang terdiam dengan menatap Alvin tanpa mengatakan sepatah katapun. Namun dari sorot mata keduanya sudah menyiratkan rasa cinta yang teramat dalam.


"Tidak, apa yang kau pikirkan itu salah," ucap Nerissa yang segera beranjak dan berlari meninggalkan Alvin sedangkan Alvin segera berlari untuk mengejar Nerissa.


Daniel, Marin dan Cordelia yang melihat hal itu hanya terdiam dan tersenyum. Mereka merasa diabaikan oleh Alvin dan Nerissa yang tampak sedang dimabuk asmara saat itu.


"Apa kalian tidak merasa mereka berdua sangat dekat?" tanya Cordelia pada Daniel dan Marin.


"Sepertinya sudah terjadi sesuatu yang tidak aku tahu," ucap Marin.


"Aku sudah menduganya," sahut Daniel.


Daniel Marin dan Cordeliapun saling pandang untuk beberapa saat seolah menyamakan persepsi mereka tentang apa yang terjadi pada Nerissa dan Alvin.


"Mereka berpacaran!" ucap Daniel, Marin dan Cordelia dengan kompak.


Merekapun tertawa karena pemikiran mereka yang sama tentang hubungan Alvin dan Nerissa.


"Lalu bagaimana dengan kalian berdua? apa kalian tidak akan mengikuti jejak Nerissa dan Alvin?" tanya Cordelia pada Daniel dan Marin.


"Itu adalah hal paling mustahil yang pernah ada di dunia ini," ucap Marin.


"Bukankah kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti? sama seperti aku yang tidak pernah menyangka jika pada akhirnya aku menganggap Alvin sebagai kakakku bukan kekasihku!"


"Aku setuju denganmu Delia, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti, bisa jadi Marin yang sangat membenciku tiba-tiba sangat mencintaiku," sahut Daniel yang membuat Marin seketika melempar kacang ke arah Daniel.


"Kalau Marin memang mencintaimu, apa kau juga mencintainya?" tanya Cordelia yang membuat Daniel terdiam seketika.


Marin yang mendengar pertanyaan Cordeliapun terdiam, dalam hatinya ia menunggu jawaban Daniel.


"Aaahh cuaca hari ini sangat panas, aku akan membeli minuman dingin lagi," ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya, menghindar dari pertanyaan Cordelia.


Cordelia hanya tersenyum tipis karena ia tahu Daniel sedang menghindari pertanyaannya.


"Daniel memang baik pada semua orang, tapi pasti ada sesuatu yang membuatmu menjadi perempuan istimewa di mata Daniel," ucap Cordelia pada Marin.


"Apa maksudmu?"


"Mungkin sekarang dia belum menyadari perasaannya padamu, tapi aku yakin suatu saat nanti Daniel akan menyadarinya," jawab Cordelia.


"Aku dan Daniel hanya berteman, tidak lebih dari itu," ucap Marin.


"Kau bisa menyembunyikan perasaanmu pada semua orang tapi aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa kau menyukainya dan aku tahu Daniel juga menyukaimu," ucap Cordelia.


"Kau salah, Daniel hanya baik padaku karena aku adalah teman Putri, perempuan yang dia sukai," ucap Marin.


"Tapi Daniel....."


"Berhenti membicarakan tentang hal itu Delia, kau membuat liburan ini menjadi tidak menyenangkan," ucap Marin memotong ucapan Cordelia lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Cordelia.


Tanpa Marin tahu, diam-diam Daniel mendengarkan percakapan Cordelia dan Marin.


"kau salah Marin, apa yang aku lakukan padamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nerissa," ucap Daniel dalam hati lalu membawa langkahnya mengikuti Marin yang berjalan menyusuri pepohonan kelapa.


Danielpun berlari dan dengan sengaja menyenggol lengan Marin dengan pelan, bermaksud agar Marin mengejarnya. Namun Marin tak bergeming, bukannya mengejar Daniel, Marin malah berbalik dan berjalan ke arah lain, membuat Daniel kembali berlari mengikuti Marin.


"Apa kau marah padaku? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Daniel sambil berjalan mundur di hadapan Marin.


"Tidak," jawab Marin singkat.


"Lalu kenapa kau mengabaikanku? kau seperti sedang marah padaku!"


"Aku hanya ingin menikmati angin disini, kau hanya menggangguku saja," balas Marin.


"Apa kau ingin aku pergi?" tanya Daniel namun Marin hanya diam tanpa mengatakan apapun.


"Minggirlah Daniel, kau menghalangi jalanku," ucap Marin sambil mendorong Daniel dengan pelan, namun kaki Daniel tersandung batu, membuat Daniel seketika menarik tangan marin agar tidak terjatuh.


Karena Marin yang tidak siap dengan hal itu, ia malah ikut terjatuh bersama Daniel. Marin jatuh tepat di atas badan Daniel yang terlentang, membuat Marin segera beranjak namun Daniel menahan punggung Marin agar tetap pada posisinya.


Marin dan Danielpun saling menatap dalam diam untuk beberapa saat. Hembusan angin yang bertiup lembut membuat rambut Marin menari-nari menghalangi wajah cantik Marin.


Daniel kemudian menyibakkan rambut Marin, membawanya ke belakang telinga Marin agar wajah cantik dihadapannya tidak terhalang oleh sehelai rambutpun.


"Kau sangat cantik jika dilihat dari jarak yang sangat dekat," ucap Daniel dengan tersenyum yang membuat Marin segera beranjak dan berdiri lalu mengalihkan pandangannya dari Daniel.


Degup jantungnya seolah kembali bergemuruh tanpa bisa ia kendalikan.


Daniel kemudian memegang bahu Marin dan menariknya agar Marin menghadap ke arahnya. Saat Marin akan melangkah pergi Danielpun menahan tangan Marin dan menatap kedua mata Marin dengan dalam.


"Apa yang aku lakukan padamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Nerissa, aku memang menyukai Nerissa, tapi bukan berarti aku hanya memanfaatkanmu untuk mendekati Nerissa," ucap Daniel bersungguh-sungguh.


"Aku.... aku tidak peduli," balas Marin lalu segera berlari pergi meninggalkan Daniel untuk menyelamatkan jantungnya yang terus berdetak tak beraturan.


Marinpun kembali ke tempat Cordelia duduk seorang diri. Tak lama kemudian Alvin dan Nerissapun datang, begitu juga Daniel yang sudah duduk di atas tikar piknik mereka.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian," ucap Alvin dengan membawa pandangannya pada Daniel Marin dan Cordelia.


"Baiklah katakan saja, kita akan berpura-pura terkejut," balas Daniel.


"Apa maksudmu?" tanya Alvin yang tidak mengerti maksud ucapan Daniel.


"Tidak ada, katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku Marin dan Cordelia akan sangat terkejut setelah mendengarnya," jawab Daniel.


"Apa kalian semua sudah tahu apa yang ingin Alvin katakan?" tanya Nerissa.


Daniel Marin dan Cordeliapun kompak menganggukkan kepala mereka dengan menahan senyum.


"Benarkah? kalian tahu apa yang akan aku katakan?" tanya Alvin memastikan.


"Kau tidak bisa menyembunyikannya lagi Alvin, apa kalian tidak sadar kalian berdua sudah menunjukkannya pada kita sebelum kalian mengatakannya!" ucap Daniel.


"Marin, kau....." Nerissa menghentikan ucapannya saat ia melihat Marin yang menahan tawanya karena sudah mengetahui rahasia Nerissa.


Marin kemudian berdiri dari duduknya lalu memeluk Nerissa.


"Selamat Putri, aku sangat senang jika kau bisa bahagia bersama Alvin, aku harap setelah ini tidak akan ada lagi kesedihan dalam hidupmu," ucap Marin.


"Terima kasih Marin," balas Nerissa.


Danielpune ikut beranjak dari duduknya lalu hendak memeluk Nerissa namun ditahan oleh Alvin.


"Aahh kau prosesif sekali, aku hanya ingin memberinya selamat," protes Daniel.


"Kau harus melewatiku dulu!" ucap Alvin lalu memeluk Nerissa diikuti Daniel yang ikut memeluk Alvin.


Melihat Cordelia yang hanya berdiri di tempatnya, Alvinpun mengulurkan tangannya pada Cordelia, membuat Cordelia melangkahkan kakinya mendekat dan ikut berpelukan bersama Nerissa Marin Alvin dan Daniel.


Merekapun tertawa bersama dengan masih berpelukan di tepi pantai, dimana Nerissa dan Alvin pertama kali bertemu dan saling jatuh cinta.