
Nerissa sudah kembali setelah mengantar 2 buket bunga pesanan. Marin kemudian memberi tahu Nerissa jika Daniel baru saja datang mencarinya.
"Kenapa dia mencariku?" tanya Nerissa.
"Entahlah, hubungi saja dia Putri!" jawab Marin.
Nerissa menganggukkan kepalanya kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Daniel.
"Halo Daniel, apa kau baru saja mencariku?" tanya Nerissa saat Daniel menerima panggilannya.
"Iya, aku menunggumu dari tadi, apa kau sudah pulang dari mengantar buket bunga?"
"Sudah, kenapa kau menungguku Daniel? ada apa?"
"Aku hanya ingin memberi tahumu untuk ikut bersamaku nanti malam, apa nanti malam kau senggang?"
"Iya, aku senggang, tapi kemana kau akan mengajakku?"
"Ke pesta ulang tahun Delia, aku akan menjemputmu nanti malam!"
Nerissa diam beberapa saat. Mendengar jawaban Daniel membuatnya ragu untuk mengiyakan ajakan Daniel, mengingat bagaimana sikap Cordelia padanya.
"Halo Nerissa, apa kau masih disana?" tanya Daniel membuyarkan lamunan Nerissa.
"Aaahhh... iya.... aku.... aku sepertinya tidak bisa ikut," ucap Nerissa ragu.
"Kenapa? apa karena sikap Delia padamu?" tanya Daniel menerka.
"Sepertinya dia tidak akan suka dengan kedatanganku, aku tidak ingin mengacaukan acaranya," jawab Nerissa.
"Ada Alvin yang menemaninya, dia tidak akan menghiraukan hal lain jika sudah ada Alvin bersamanya, jadi jangan khawatir, aku akan selalu menjagamu disana," ucap Daniel menjelaskan.
Nerissa kembali terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan, menolak ajakan Daniel atau menerimanya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu, kalau kau mau ikut bersamaku, aku akan menjemputmu, kalau kau tidak ingin ikut tidak apa, aku juga tidak akan datang ke acara itu," ucap Daniel.
"Kenapa begitu?"
"Karena aku ingin datang bersamamu Nerissa," jawab Daniel.
"Baiklah, aku akan ikut, jam berapa kau akan menjemputku?"
"Aku akan menjemputmu jam 7 malam," jawab Daniel bersemangat.
"Baiklah, aku akan menunggumu," balas Nerissa.
"Terima kasih Nerissa," ucap Daniel.
Panggilan berakhir, Nerissa duduk menyandarkan punggungnya di kursi di dekat Marin.
"Kenapa kau terlihat lesu seperti itu Putri?" tanya Marin yang melihat Nerissa tampak tak bersemangat.
"Daniel mengajakku ke acara ulang tahun Delia nanti malam," jawab Nerissa.
"Ulang tahun Delia? apa kau menerima ajakannya?"
Nerissa menganggukkan kepalanya tanpa berbicara.
"Apa kau yakin Putri? sepertinya Delia tidak akan suka dengan kedatanganmu di acaranya!"
"Itulah yang aku pikirkan, tapi aku juga tidak mungkin menolak ajakan Daniel," ucap Nerissa.
"Kenapa? karena dia sudah baik pada kita?"
"Tidak hanya itu Marin, rasanya aku sangat jahat jika aku menolak permintaannya," ucap Nerissa.
"Kau tidak bisa beralasan seperti itu Putri, kau harus tegas padanya, jangan membuatnya salah paham karena sikapmu ini!" ucap Marin.
"Apa maksudmu Marin? aku hanya ingin membalas kebaikannya saja, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatnya salah paham!"
"Tapi sikapmu memang bisa membuatnya salah paham Putri, apa jika dia memintamu untuk menikah dengannya, kau juga akan menerimanya?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? kau terlalu berlebihan Marin!" balas Nerissa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari toko bunga Marin.
Nerissa berjalan ke rumah dengan kesal karena ucapan Marin padanya.
"Salah paham tentang apa? aku hanya membalas kebaikannya karena dia sudah sangat baik padaku, apa aku salah?" gerutu Nerissa kesal.
Nerissa kemudian menghempaskan dirinya di ranjang dengan memeluk gulingnya. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Marin mengenai Daniel. Ia beranggapan jika Marin sudah berpikir terlalu jauh tentang hubungannya dengan Daniel.
Waktu berlalu, Nerissa mengenakan gaun terbaik yang ia punya malam itu. Nerissa menyisir rambut panjangnya di depan cermin riasnya.
Tiba tiba pintu kamarnya terbuka, Marin berdiri di depan pintu kamar Nerissa tanpa berani masuk.
"Kenapa kau berdiri disana? masuklah!" ucap Nerissa.
Marin kemudian melangkahkan kakinya masuk dan menghampiri Nerissa.
"Putri, apa kau marah padaku?" tanya Marin pada Nerissa.
"Bukankah kau yang marah padaku? dari kemarin kau berpikir terlalu jauh tentang Alvin dan Daniel!" balas Nerissa.
"Maafkan aku Putri, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Marin sambil memeluk Nerissa dari belakang.
Nerissa kemudian membalikkan badannya dan membalas pelukan Marin.
"Kau masih ingat tujuan kita kesini bukan? aku tau kita tidak bisa lepas dari hubungan kita dengan manusia, tapi kita juga harus tetap ingat tujuan kita yang sebenarnya Marin, dunia kita dan mereka berbeda, ingat itu!"
"Iya Putri, aku akan selalu mengingatnya," balas Marin.
Nerissa kemudian melepaskan Marin dari pelukannya dan melanjutkan menyisir rambutnya.
"Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untukmu," ucap Marin lalu berlari keluar dari kamar Nerissa.
Marin masuk ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan untuk Nerissa kemudian segera kembali ke kamar Nerissa.
"Aku membuat ini untukmu, apa kau mau memakainya Putri?" tanya Marin sambil menunjukkan penjepit rambut yang Marin buat sendiri dari mutiara dan bunga yang sudah dikeringkan.
"Bagus sekali, tolong pakaikan di rambutku!" ucap Nerissa senang.
Marin kemudian memakaikan jepit rambut itu di rambut Nerissa.
"Cantik sekali, sangat cocok denganmu!" ucap Marin.
"Terima kasih Marin, kau memang yang terbaik!"
"Tentu saja," balas Marin dengan tertawa kecil.
"Aahhh iya aku harus membawa hadiah untuk Delia, menurutmu apa yang bisa aku berikan padanya Marin?"
"Mmmmm..... tunggu sebentar aku punya sesuatu yang cocok untuknya," jawab Marin kemudian berlari keluar dari kamar nerissa.
Marin mengambil beberapa butir mutiara kemudian menaruhnya ke dalam kotak kecil dan memberikannya pada Nerissa.
"Berikan mutiara ini padanya, dia pasti sangat menyukainya," ucap Marin sambil memberikan kotak kecil yang berisi beberapa butir mutiara pada Nerissa.
"Apa kau yakin dia akan menyukainya? bukankah ini terlihat sangat sederhana?" tanya Nerissa khawatir.
"Kau tahu seperti apa Delia bukan? dia sangat menyukai kemewahan dan kau pun tahu berapa harga mutiara mutiara ini, jadi aku yakin dia pasti akan menyukainya," jawab Marin menjelaskan.
"Baiklah aku akan membawanya, terima kasih Marin!"
Marin hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Nerissa dan Marin kemudian keluar dari kamar untuk menunggu Daniel.
Daniel yang baru saja keluar dari mobilnya hanya bisa terdiam tak berkedip melihat Nerissa yang berjalan anggun ke arahnya.
Gadis cantik dengan gaun berwarna peach dan rambut panjang yang tergerai indah membuat Daniel terpesona tanpa bisa memalingkan pandangannya sedikitpun.
"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Nerissa membangunkan lamunan Daniel.
"Aaaahhh iya, kita berangkat sekarang," jawab Daniel kemudian membukakan pintu mobilnya untuk Nerissa.
Daniel kemudian mengendarai mobilnya ke arah gedung tempat Cordelia menyelenggarakan pesta ulang tahunnya.
Sepanjang perjalanan Daniel tidak berhenti mencuri pandang ke arah Nerissa. Ia tidak bisa berhenti takjub akan kecantikan gadis di sampingnya.
"Daniel kau membuatku tidak nyaman, kenapa kau terus memperhatikanku seperti itu? apa aku terlihat aneh malam ini?"
"Maafkan aku Nerissa, justru kau terlihat sangat cantik malam ini," jawab Daniel.
Nerissa hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Daniel.
"Sepertinya kita akan mendapatkan masalah di sana nanti," ucap Daniel pada Nerissa.
"Kenapa?" tanya Nerissa khawatir.
"Karena Delia akan iri melihat tamunya yang lebih cantik daripada dirinya sendiri," jawab Daniel.
"Kalau begitu aku pulang saja," ucap Nerissa.
"Hahaha...... aku hanya bercanda Nerissa, tenang saja, tidak akan ada yang menyakitimu selama aku ada di sampingmu," ucap Daniel meyakinkan Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis pada Daniel. Ia tahu Cordelia tidak pernah menyukai dirinya, ia hanya bisa berharap malam itu tidak akan terjadi masalah antara dirinya dan Cordelia.
**
Di tempat lain, Cordelia sudah duduk cukup lama di rumah Alvin. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya entah kenapa Alvin seperti enggan untuk menghadiri acara ulang tahun Cordelia.
Di dalam kamarnya Alvin bersiap dengan malas. Jika bukan karena janjinya yang akan datang pada setiap hari ulang tahun Cordelia, ia pasti tidak akan datang malam itu.
Terlebih saat Alvin mengetahui jika Daniel mengajak Nerissa datang, Alvin menjadi sangat malas untuk menghadiri acara ulang tahun itu.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Entah sudah berapa kali pintu kamar Alvin diketuk oleh Cordelia.
"Alvin apa yang sebenarnya kau lakukan didalam sana, kenapa kau lama sekali?" tanya Cordelia yang sudah mulai kesal karena menunggu Alvin terlalu lama.
Alvin kemudian membuka pintu kamarnya dan berjalan meninggalkan Cordelia begitu saja. Cordelia pun berlari kecil mengikuti Alvin.
"Apa kau tidak menyiapkan hadiah untukku?" tanya Cordelia pada Alvin dengan senyum manjanya.
"Apa yang kau inginkan?" balas Alvin bertanya.
"Aku tidak menginginkan barang apapun darimu, aku hanya ingin berikan waktumu satu hari untuk berlibur bersamaku," jawab Cordelia penuh semangat.
"Aku tidak ada waktu untuk berlibur Delia, kau tahu seperti apa keadaan perusahaan saat ini," balas Alvin.
"Hmmmm.... aku tahu kau akan menolaknya jadi aku akan meminta hadiah yang lain darimu!"
"Apa itu?" tanya Alvin.
"Kau akan tahu nanti," jawab Cordelia dengan tersenyum misterius.
Alvin hanya diam tanpa bertanya lagi, mereka kemudian berangkat ke gedung pesta ulang tahun Cordelia menggunakan mobil Alvin.
Sesampainya di sana mereka segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung. Di sana sudah ada beberapa teman dekat Cordelia.
Setiap tahunnya Cordelia memang membuat 2 pesta ulang tahun. Satu pesta ulang tahun dengan banyak wartawan yang meliput nya dan satu acara ulang tahun yang hanya dihadiri oleh teman dekatnya.
Teman-teman Cordelia mulai memberikan selamat dan hadiah padanya. Tak lama kemudian sebuah kue yang cukup mewah diantar masuk ke tengah ruangan.
Semuanya pun bersorak meminta Cordelia untuk segera memulai acaranya.
"Tunggu!" ucap Daniel dengan berteriak saat ia baru saja sampai di ruangan itu bersama nerissa.
Semua mata pun tertuju pada Daniel dan Nerissa. Tidak sedikit dari mereka yang memandang takjub pada kecantikan Nerissa malam itu, tak terkecuali Alvin yang hanya diam menatap gadis cantik berambut coklat terang itu.
Daniel kemudian meraih tangan Nerissa dan membawanya menghampiri Cordelia.
Setelah memberikan selamat, Daniel dan Nerissa memberikan hadiah mereka pada Cordelia.
"Apa ini?" tanya cordelia sambil membolak-balikkan kotak kecil yang baru saja Nerissa berikan padanya.
"Maaf karena hanya bisa memberikan hadiah kecil untukmu, aku harap kau akan menyukainya," ucap Nerissa.
Cordelia kemudian membuka kotak kecil itu dan melihat 3 butir mutiara di dalamnya. Cordelia hanya tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada Nerissa.
"Terima kasih karena sudah datang Nerissa dan terima kasih karena sudah memberikan ku barang palsu ini," ucap Cordelia mengejek, membuat semua yang ada di sana melihat ke arah Nerissa, karena berpikir jika Nerissa memberikan barang palsu pada Cordelia.
"Itu mutiara sungguhan Delia," ucap Nerissa membela diri.
"Apa kau pikir aku tidak bisa membedakan mutiara asli dengan mutiara palsu?" tanya Cordelia dengan tertawa kecil.
"Tapi itu......"
"Sudahlah Delia, Nerissa sudah berbaik hati datang ke sini untuk memberikan selamat kepadamu, tidak perlu membesar-besarkan hal kecil seperti itu," sahut Daniel.
"Apa kau juga berpikir kalau mutiara itu palsu?" Nerissa pada Daniel.
"Tentu saja semua orang di sini tahu kalau ini mutiara palsu, gadis penjual bunga sepertimu mana mungkin mempunyai mutiara asli dari lautan," sahut Cordelia sebelum Daniel menjawab.
"Cukup Delia, aku akan pergi jika kau tidak segera memulai acaramu, kalau kau tidak percaya mutiara itu asli kau bisa mengeceknya sendiri setelah acara ini selesai!" ucap Alvin pada Cordelia.
Cordelia kemudian menyimpan kotak kecil yang berisi mutiara itu ke dalam saku bajunya. setelah menyanyikan lagu dan meniup lilin Cordelia pun memotong kue ulang tahunnya dan memberikan potongan pertamanya pada Alvin.
Semua yang ada di sana bertepuk tangan dengan meriah kecuali Nerissa yang hanya bertepuk tangan kecil karena suasana hatinya yang buruk.
Dalam hatinya ia sangat kecewa pada Daniel yang tidak mempercayai ucapannya. Ia berpikir jika Daniel lebih mempercayai ucapan Cordelia yang menilai jika mutiara pemberiannya adalah mutiara palsu.
Di sisi lain cordelia membawa sebuah kotak yang berisi banyak gulungan kertas di dalamnya. Alvin harus mengambilnya satu dan membukanya sebagai hadiah darinya untuk Cordelia.
Saat Alvin membukanya, ia begitu terkejut dengan apa yang ia baca saat itu.
Kiss
Ya, Alvin harus memberikan sebuah ciuman untuk cordelia sebagai hadiah ulang tahun.
"Ayolah Alvin, ini hanya permainan lagi pula kau sudah berjanji untuk memberikan hadiah sesuai dengan apa yang tertulis di kertas itu!" ucapkan Delia pada Alvin.
"Tapi ....."
"Jika kau tidak ingin melakukannya, biarkan aku saja yang melakukannya," ucapkan Delia memotong ucapan Alvin kemudian mendaratkan kecupannya di pipi Alvin begitu saja.
Alvin hanya diam tanpa sempat menghindar dari Cordelia. Semua yang ada di sana pun kembali bertepuk tangan dengan riuh melihat apa yang Cordelia lakukan pada Alvin.
Sedangkan Nerissa hanya diam, entah kenapa dadanya terasa berdenyut, ada sebuah rasa sakit yang ia rasakan tanpa ia tahu apa yang membuatnya merasakan seperti itu.
Semua yang ada di sana tampak berbahagia, mereka kemudian mulai menikmati hidangan yang sudah disajikan.
Saat Daniel sedang bercengkrama bersama temannya, Nerissa diam diam berjalan menjauh dari Daniel.
Nerissa berjalan keluar dari ruangan acara ulang tahun itu tanpa sepengetahuan Daniel. Nerissa membawa langkahnya ke arah kolam renang yang berada dekat dengan ruangan itu.
Tanpa Nerissa tahu, seseorang mengikutinya dengan tatapan tidak suka.