Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mencari Mahkota



Marin yang begitu khawatir dengan keadaan Nerissa berharap jika Daniel akan datang membantunya.


Saat ia membuka pintu, bukannya Daniel yang ia lihat, tetapi Alvin.


"Alvin, ada apa?" tanya Marin.


"Aku.... aku ingin mencari bunga, apa aku terlalu pagi?"


"Aahh iya, aku tidak bisa membuka toko bungaku hari ini karena aku harus menemani Putri, maksudku Nerissa," jawab Marin.


"Kenapa? apa terjadi sesuatu padanya?"


"Mmmm.... sepertinya dia sedang tidak baik baik saja, dia terlihat lemah dan hanya terpejam sedari tadi," jawab Marin.


"Dimana dia sekarang? aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang!" tanya Alvin khawatir.


"Dia di kamar, tapi kau tidak bisa membawanya ke rumah sakit!"


"Kenapa tidak bisa?"


"Tidak bisa, karena..... karena...."


"Minggirlah, aku harus segera membawanya ke rumah sakit," ucap Alvin kemudian masuk begitu saja.


"Tidak Alvin, kau tidak bisa membawanya ke rumah sakit, Dokter tidak akan bisa mengobatinya!" ucap Marin sambil berlari mengikuti Alvin.


"Apa kau akan membiarkan dia terbaring seperti ini?" tanya Alvin yang membuat Marin kehabisan kata kata.


Bagiamanapun juga ia tidak mungkin membiarkan Nerissa terbaring tak berdaya di atas ranjang. Namun membawanya ke rumah sakit hanyalah membuang waktu karena Nerissa bukanlah manusia.


"Kau mau ikut atau tetap disini?" tanya Alvin pada Marin.


"Aku ikut," jawab Marin kemudian berlari kecil mengikuti Alvin dan membuka pintu mobil Alvin untuk Nerissa.


Alvinpun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


"seharusnya aku meminta Alvin untuk menemani Putri di rumah agar aku bisa pergi ke istana, bukannya malah mengantarnya ke rumah sakit, aaahhh Marin, kau sangat bodoh!" batin Marin merutuki dirinya sendiri.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Nerissa.


"Dia baik baik saja, hanya saja tekanan darahnya sangat rendah, kemungkinan dia pingsan karena tekanan darahnya menurun secara tiba tiba," ucap Dokter menjelaskan setelah memeriksa keadaan Nerissa.


"Apa dia akan segera sadar Dok?"


"Kalian tidak perlu khawatir, dia akan segera sadar setelah tekanan darahnya mulai stabil," jawab Dokter.


"Terima kasih Dok," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Dokter.


"Apa Putri baik baik saja?" tanya Marin pada Alvin.


"Iya, kau harus menjaga pola makannya agar tekanan darahnya selalu stabil," jawab Alvin.


Tiba tiba seseorang datang dengan menepuk pundak Alvin.


"Daniel, kau...."


"Apa yang.... terjadi.... pada Nerissa? dia.... baik baik saja kan?" tanya Daniel dengan terengah engah.


"Dia baik baik saja, Dokter bilang dia akan segera sadar, tapi.... kau...."


"Aku tadi melihat mobilmu pergi dari toko bunga Marin....... saat aku sampai disana seseorang memberi tahuku kalau kau menggendong Nerissa masuk ke dalam mobil bersama Marin....... jadi aku mengikuti kalian," ucap Daniel menjelaskan.


"Kau ada perlu apa pagi pagi ke toko bunga?" tanya Alvin.


"Aku hanya ingin menemui Nerissa, kau sendiri, apa yang kau lakukan disana pagi pagi seperti ini?"


"Aku? aku..... aku hanya ingin membeli bunga untuk Delia," jawab Alvin beralasan.


"Untuk Delia? sejak kapan kau....."


"Karena kau sudah disini, aku pergi dulu, jangan terlambat ke kantor!" ucap Alvin lalu pergi begitu saja.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan berusaha mengatur nafasnya karena baru saja berlari mencari keberadaan Nerissa.


"Kenapa kau tidak segera menghubungiku tadi?" tanya Daniel pada Marin.


"Aku.... aku panik, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan," jawab Marin.


"Apa kau masih belum mempercayaiku? apa dimatamu aku masih seorang laki laki yang jahat?"


"Iya, kau pasti mempunyai maksud tersembunyi kan?"


Daniel hanya tersenyum menyeringai mendengar ucapan Marin.


"Dengarkan aku, kau hanya salah paham padaku, aku sama sekali tidak berniat jahat padamu, malam itu kau....."


"Putri, dia bangun," ucap Marin lalu segera masuk ke ruangan Nerissa diikuti oleh Daniel.


"Marin, aku dimana?" tanya Nerissa pada Marin.


"Kau di rumah sakit Putri, bagaimana keadaanmu sekarang?" jawab Marin sekaligus bertanya.


"Entahlah, rasanya badanku sangat lemas," jawab Nerissa.


"Kau harus berhenti mengantar bunga untuk sementara waktu Nerissa, kau harus banyak istirahat," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Kau benar benar membuatku khawatir," ucap Daniel dengan membelai rambut Nerissa.


"Kau pergilah, bukankah kau harus segera ke kantor?" ucap Marin dengan menarik tangan Daniel dari Nerissa.


"Iya... iya... aku akan pergi," balas Daniel kesal.


"Jaga dirimu baik baik Nerissa, segera hubungi aku kalau kau membutuhkan bantuanku," ucap Daniel pada Nerissa.


"Terima kasih Daniel," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Daniel.


Danielpun pergi meninggalkan ruangan Nerissa.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Putri? kenapa kau bisa pingsan?" tanya Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya diam, memorinya berusaha mengingat kejadian tadi pagi sebelum ia kehilangan kesadarannya.


Dan sekarang kau akan kehabisan tenagamu karena kau terlalu lama berada di dalam memori seseorang, jadi keluarlah!


Nerissa kemudian mengingat ucapan suara yang ia dengar. Kini ia mengerti apa yang terjadi padanya, ia pingsan karena ia belum cukup kuat untuk memasuki memori Marin setelah ia kehilangan tenaganya saat ia memasuki memori Daniel tanpa sengaja.


"lalu bagaimana caraku bisa memanipulasi ingatan kalau berada beberapa saat di dalamnya saja sudah membuatku pingsan!" batin Nerissa bertanya dalam hati.


"Putri, apa yang kau pikirkan?" tanya Marin yang melihat Nerissa hanya diam.


"Marin, aku harus segera menemukan mahkotaku!" ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Marin.


"Tentu saja, tapi bagaimana caranya?"


Nerissa menggelengkan kepalanya pelan mendengar pertanyaan Marin. Ia sama sekali tidak tau harus mencari mahkota itu kemana.


Setelah keadaan Nerissa membaik, Nerissa dan Marin pun meninggalkan rumah sakit. Mereka kembali ke rumah dengan menggunakan taksi.


Sesampainya di rumah, Marin kembali membuatkan ramuan untuk Nerissa. Ia juga berpikir kemana ia harus membantu Nerissa menemukan mahkota milik Nerissa.


Bagiamanapun juga ia harus bertanggung jawab atas hilangnya mahkota milik Nerissa karena dirinyalah yang memaksa Nerissa untuk pergi ke tepi pantai malam itu.


"Minumlah, ramuan ini akan menghangatkan tubuhmu!" ucap Marin sambil memberikan gelas yang berisi ramuan untuk Nerissa.


"Terima kasih Marin," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.


Setelah menghabiskan ramuan itu, Nerissa segera berdiri dari duduknya.


"Aku tau kemana harus mencari mahkota itu!" ucap Nerissa.


"Kemana? aku akan menemanimu mencarinya!"


Tepat saat pintu terbuka, Alvin berdiri di depan pintu.


"Kau mau kemana?" tanya Alvin.


"Aku harus pergi," jawab Nerissa kemudian berjalan melewati Alvin begitu saja, namun Alvin menahan tangan Nerissa.


"Kau tidak boleh pergi!" ucap Alvin.


"Kau tidak berhak untuk melarangku pergi!" balas Nerissa dengan menarik tangannya dari Alvin.


"Kau harus tetap di rumah Nerissa, kau harus istirahat sampai kau benar benar sehat!" ucap Alvin sambil tetap menahan Nerissa.


"Lepaskan aku Alvin, aku harus pergi!" ucap Nerissa dengan berusaha melepaskan tangannya dari Alvin, namun Alvin mencengkeramnya dengan erat.


Bersamaan dengan itu Daniel datang menghampiri Nerissa dan Alvin.


"Ada apa ini?" tanya Daniel yang membuat Alvin segera melepaskan tangan Nerissa.


"Daniel, aku......."


Nerissa menghentikan ucapannya karena merasa kepalanya begitu pusing, ia memegang kepalanya dan hampir saja terjatuh jika Alvin tidak segera memegang tangannya.


Daniel yang berada disana segera menggeser posisi Alvin dan menahan badan Nerissa yang akan ambruk.


"Kepalaku pusing," ucap Nerissa yang berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya.


Tanpa banyak bicara Daniel segera menggendong Nerissa dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.


"Kau harus istirahat Nerissa, keadaanmu akan cepat membaik jika kau mau beristirahat beberapa hari saja," ucap Daniel dengan lembut.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.


Setelah memakaikan selimut untuk Nerissa, Daniel pun keluar dari kamar Nerissa.


"Marin, tolong jaga Nerissa agar tidak banyak melakukan kegiatan yang membuatnya kelelahan, kau tau dia harus beristirahat agar cepat pulih," ucap Daniel pada Marin.


"Iya aku tau," balas Marin.


"Dan aku mohon padamu, cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya!" ucap Daniel sebelum ia keluar dari rumah Marin.


"Iya, bawel!" balas Marin kesal.


Daniel kemudian keluar dari rumah Marin dan menghampiri Alvin yang masih berdiri di depan mobilnya.


"Apa yang kau lakukan disini? membeli bunga untuk Delia?" tanya Daniel pada Alvin.


"Tidak, aku hanya tidak sengaja lewat dan melihatnya keluar dari rumah," jawab Alvin memberi alasan.


"Untung saja kau bisa menahannya untuk tidak meninggalkan rumah, keadaannya masih sangat lemah saat ini," ucap Daniel.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya kemudian masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke kantor karena jam makan siangnya hampir selesai.


**


Malam kembali datang bersama hamparan gelap tanpa kerlip bintang dan cahaya bulan.


Nerissa duduk termenung menatap tetes hujan dari jendela kamarnya. Ia kembali mengingat ucapan suara misterius yang ia dengar.


Ia harus segera mendapatkan mahkotanya agar ia bisa mengetahui semua hal yang masih tersembunyi tentang dirinya.


Nerissa membawa langkahnya ke arah teman baiknya yang sedari tadi menemaninya di kamar.


Marin sama sekali tidak pernah meninggalkannya sejak ia kembali dari rumah sakit.


Melihat Marin yang tampak tertidur lelap, Nerissa pun berjalan mengendap-endap untuk keluar dari kamarnya.


"maafkan aku Marin, aku akan segera kembali sebelum kau bangun," ucap Nerissa dalam hati.


Nerissa memutuskan untuk mencari mahkotanya ke pantai, tempat dimana ia menghilangkan mahkotanya.


Nerissa sengaja tidak memberi tahu Marin karena Nerissa yakin jika Marin tahu dia pasti akan melarangnya, bisa jadi Marin akan menghubungi Daniel atau Alvin jika Nerissa memaksa untuk meninggalkan rumah.


Dengan menggunakan taksi, Nerissa pergi ke pantai. Sesampainya disana Nerissa segera berjalan ke arah tepi pantai yang terlihat begitu sepi.


Hanya ada hamparan gelap bersama suara ombak yang memecah karang. Angin malam yang meniup rambut Nerissa membuatnya sedikit merasa kedinginan, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk mencari mahkotanya malam itu juga.


Waktu berlalu, entah sudah berapa lama Nerissa menyusuri tepi pantai malam itu, ia belum juga menemukan mahkota miliknya.


Nerissa menjatuhkan dirinya di atas hamparan pasir pantai dengan kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh karena menghilangkan mahkota miliknya yang begitu berharga.


"Apa mungkin tersangkut di dalam air?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.


Nerissa kemudian melepas sepatunya dan berjalan semakin mendekat ke bibir pantai. Saat dirasa sudah cukup dalam, Nerissa memutar gelang mutiara miliknya 7 kali dan seketika kakinya berubah menjadi ekor merah muda.


Nerissa tersenyum senang kemudian menyelam lebih dalam untuk menemukan mahkotanya.


Namun sampai ia lelah, ia tidak juga menemukan apa yang ia cari. Nerissa kemudian berenang ke bawah batu karang besar, membiarkan ekornya berada di dalam air sedangkan kepalanya dibaringkan di atas bebatuan.


"Maafkan Nerissa bunda, seharusnya Nerissa bisa menjaganya dengan baik," ucap Nerissa yang mulai menangis.


"Apa yang harus Nerissa lakukan sekarang? Nerissa benar benar bingung bunda, Nerissa takut jika Nerissa akan terlambat menyelamatkan bunda, tolong Nerissa ayah, bunda!"


Nerissa terisak dengan berkali kali menyeka air matanya agar tidak berubah menjadi mutiara.


Tanpa Nerissa tau, Alvin yang saat itu baru saja tiba di pantai begitu terkejut mendengar isak tangis yang tidak asing lagi baginya.


Alvinpun segera mendekat ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis dengan rambut coklat terangnya sedang menangis meratap di atas bebatuan pantai.


"Nerissa!" panggil Alvin, membuat Nerissa segera mengangkat kepalanya dan membawa pandangannya ke arah Alvin.


Melihat Alvin yang berdiri tak jauh darinya, Nerissa semakin menenggelamkan separuh badannya agar Alvin tidak melihat ekornya.


"Alvin, apa Marin yang memintamu kesini?" tanya Nerissa.


"Tidak, aku memang sedang ingin berada disini," jawab Alvin.


Nerissa hanya diam, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia sudah terjebak saat itu, ia tidak bisa merubah ekornya menjadi kaki saat ia berada di dalam air.


"Keluarlah Nerissa, kau baru saja keluar dari rumah sakit, kenapa kau sudah berendam disini?"


"Aku.... aku sudah baik baik saja," ucap Nerissa.


"Wajahmu saja sangat pucat, keluarlah atau aku yang akan menggendongmu keluar!" ucap Alvin memaksa.


"Tidak, jangan! aku akan keluar sendiri, tapi.... tolong ambilkan sepatuku disana," ucap Nerissa berusaha membuat Alvin menjauh darinya agar ia bisa keluar dari air untuk merubah ekornya.


"Keluarlah dulu, aku akan mengambil sepatumu nanti!" ucap Alvin.


"Aku tidak akan keluar sebelum kau mengambil sepatuku!" balas Nerissa bersikukuh.


Alvin menghela nafasnya kemudian berjalan menjauh dari Nerissa. Matanya berkeliling mencari sepatu milik Nerissa.


Sedangkan Nerissa diam diam keluar dari air dan duduk di bibir pantai untuk merubah ekornya menjadi kaki.


Ia duduk di dekat batu karang besar yang menghalangi Alvin untuk melihatnya. Namun saat Nerissa baru saja memutar gelang mutiaranya hujan tiba tiba turun, membuat Nerissa tidak bisa merubah ekornya menjadi kaki.


Ekor Nerissa harus terhindar dari air agar ekor itu bisa berubah menjadi kaki saat Nerissa memutar gelang mutiara, namun hujan yang turun membuat ekor Nerissa tidak bisa terhindar dari tetesan air dari langit.


"Nerissa, dimana sepatu milikmu?" tanya Alvin yang belum menemukan sepatu Nerissa.


Nerissa yang gugup saat itu segera kembali masuk ke dalam air dan berenang jauh ke dalam lautan agar Alvin tidak melihatnya.


Sedangkan Alvin yang baru saja menemukan sepatu Nerissa begitu terkejut karena Nerissa sudah tidak ada di tempatnya.


"Nerissa! kau dimana?" tanya Alvin berteriak.


"Nerissa! keluarlah, kita harus menjauh dari pantai sekarang!" ucap Alvin yang masih berusaha mencari keberadaan Nerissa di bawah hujan.