
Alvin hanya terdiam menatap Amanda yang berjalan ke arahnya. Dalam hatinya ia memikirkan apa sebenarnya tujuan Amanda datang padanya.
"Kebetulan sekali, aku baru saja datang dan kau sudah membuka pintu, apa kau menungguku?" ucap Amanda sekaligus bertanya.
"Masuklah!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Amanda.
Amandapun berjalan mengikuti Alvin lalu duduk di samping Alvin. Saat Amanda akan memeluk Alvin, Alvin menggeser posisi duduknya menjauh dari Amanda.
"Ada apa denganmu Alvin? apa kau marah padaku?" tanya Amanda.
"Apa kau yakin bibi pulang kampung karena anaknya sakit?" tanya Alvin tiba tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang bibi? apa bibi menghubungimu?" balas Amanda bertanya sebelum menjawab pertanyaan Alvin.
"Jawab saja Amanda, tidak biasanya bibi pergi tanpa berpamitan padaku!"
"Mmmm..... waktu itu bibi sangat terburu-buru karena anaknya tiba tiba masuk rumah sakit jadi dia tidak sempat berpamitan padamu," ucap Amanda berbohong.
Alvin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Terima kasih sudah mengembalikan ponselku, aku benar-benar tidak tahu jika ponselku terjatuh tadi," ucap Amanda pada Alvin.
"Apa kau disini sudah memiliki banyak teman? karena aku tidak sengaja menerima panggilan dari temanmu tadi," tanya Alvin pada Amanda.
"Mmmmm..... ada salah satu teman lamaku yang kembali menghubungiku ketika dia tahu aku kembali kesini, mungkin itu dia," jawab Amanda yang sedikit gugup.
"Teman lama? apa kau sangat dekat dengannya? dia bahkan menyebut namaku tadi," tanya Alvin.
"Apa dia membicarakan sesuatu?" balas Amanda bertanya.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya?" balas Alvin lalu beranjak dari duduknya, namun Amanda menahan tangan Alvin.
"Kau mau ke mana? kenapa kau bersikap dingin lagi padaku? apa aku melakukan kesalahan padamu?" tanya Amanda.
"Tanyakan saja pada temanmu apa yang sudah dia katakan tadi siang!" balas Alvin lalu melepaskan tangan Amanda yang menahannya.
Amanda diam beberapa saat lalu mengejar Alvin dan kembali menahan tangan Alvin.
"Tolong jangan salah paham Alvin, dia pasti bercanda, aku memang sering membicarakan tentangmu padanya, tapi tidak semua yang aku ucapkan adalah hal yang serius, terkadang aku hanya bercanda saja padanya," ucap Amanda memberi alasan.
"Aku baru tahu jika kau sekarang suka bercanda," ucap Alvin lalu merogoh ponselnya yang ada di sakunya.
"Mungkin ini juga candaan buatmu," lanjut Alvin lalu memutar rekaman yang Daniel kirimkan dan memberikan ponselnya pada Amanda.
Alvin berjalan masuk ke kamarnya saat Amanda mendengarkan rekaman yang terdengar dari ponsel Alvin yang ada di tangannya.
"Bibi tidak begitu mengingatnya den, tapi yang pasti saat itu non Amanda mengatakan jika kepalanya pusing dan non Nerissa berbalik untuk memeriksa keadaan non Amanda, tapi tiba-tiba non Amanda berjalan mundur hingga membuat akuarium itu terjatuh."
"Apa Amanda yang meminta bibi untuk menyembunyikan hal ini dari Alvin? apa Amanda juga yang meminta bibi untuk pulang kampung tiba-tiba?"
"Bini minta maaf den, bibi terpaksa melakukan ini karena non Amanda mengancam akan mengusir bibi dari rumah tuan Alvin jika bibi mengatakan yang sebenarnya saat itu, bibi tidak ingin pergi dari sana den, bibi ingin selalu menemani tuan Alvin di rumah itu."
Amanda terdiam terpaku di tempatnya berdiri setelah ia mendengar seluruh isi rekaman yang ada di ponsel Alvin.
Ia tidak menyangka hal itu akan terjadi padanya terlebih saat ia baru saja mendapatkan Alvin.
"apa yang harus aku lakukan sekarang? aku tidak mempunyai alasan apapun untuk membenarkan apa yang sudah aku lakukan, tapi aku tidak mungkin melepaskan Alvin begitu saja, aku akan melakukan apapun agar Alvin tidak pergi dariku," ucap Amanda dalam hati lalu berjalan ke arah pintu kamar Alvin dan membukanya begitu saja.
Alvin yang terkejut karena pintu kamarnya terbuka tiba-tiba segera beranjak dari duduknya.
"Alvin dengarkan aku, ini tidak seperti yang kau pikirkan, bisa saja bibi berbohong bukan? bisa saja seseorang memaksa bibi untuk mengatakan hal itu, aku yakin ini pasti ulah Nerissa, dia......"
"Semakin kau menjelekkan nama Nerissa di depanku semakin aku yakin dengan apa yang sudah aku dengar dari rekaman itu," ucap Alvin memotong ucapan Amanda.
"Rekaman itu tidak benar Alvin, itu semua rekayasa, aku tidak mungkin berbohong padamu, aku juga tidak mungkin mengancam bibi seperti itu, kau tahu aku Alvin aku tidak mungkin berbuat seperti itu!" ucap Amanda.
Alvin hanya diam sambil meraih ponselnya dari tangan Amanda. Ia sangat mempercayai bibi yang sudah bekerja lama dengannya, ia juga percaya pada Daniel yang tidak mungkin melakukan manipulasi pada rekaman itu.
"Alvin aku mohon percaya padaku, aku tidak mungkin seperti itu, kau lihat tanganku yang terluka ini, aku tidak mungkin menyakiti tanganku sendiri bukan?"
"Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini Amanda? apa tujuanmu menghubungiku lagi?" tanya Alvin sambil menatap tajam kedua mata Amanda.
"Aku datang padamu karena aku baru sadar tentang perasaanku padamu Alvin, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu!"
Alvin hanya tersenyum tipis menyeringai mendengar ucapan Amanda.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku Alvin? kau membuatku sangat bersedih, sikapmu ini sangat menyakitiku Alvin!"
"Apa kau tidak sadar bahwa apa yang kau lakukan itu hanya untuk keegoisanmu sendiri? apa yang sudah kau lakukan padaku jauh lebih menyakitkan Amanda!"
"Aku sudah meminta maaf padamu Alvin dan aku sudah menyesalinya, bukankah kau sudah tidak ingin membahas hal ini lagi?"
"Bukankah kau mendekatiku hanya karena berharap masa depanmu akan terjamin jika kau bersamaku? bukankah kau mendekatiku karena aku akan menjadi pemilik Atlanta Grup suatu hari nanti?"
"Apa yang kau bicarakan Alvin? aku tidak mungkin......"
"Temanmu yang menghubungimu yang mengatakan hal itu," ucap Alvin memotong ucapan Amanda, membuat Amanda terdiam seketika tanpa bisa berkata-kata lagi.
Alvin kemudian meraih tangan Amanda, membawa Amanda keluar dari kamarnya.
"Pulanglah, aku membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini, aku bahkan ragu apakah keputusanku untuk kembali bersamamu adalah keputusan yang terbaik," ucap Alvin.
"Kenapa kau lebih percaya orang lain dibanding denganku Alvin? apa hanya sebatas ini cintamu untukku?" tanya Amanda dengan kedua sudut mata yang sudah penuh oleh air mata.
"Aku dulu memang sangat mencintaimu Amanda, aku bahkan hampir gila karena kau meninggalkanku dan setelah kau kembali dalam hidupku apakah aku masih mencintaimu seperti dulu, aku juga menanyakan hal itu pada diriku sendiri," balas Alvin lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Dengan langkah yang tak bersemangat Amanda berjalan keluar dari rumah Alvin.
"aku tidak akan melepaskanmu semudah ini Alvin dan kau Nerissa, aku tidak akan membiarkanmu memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Alvin," ucap Amanda dalam hati.
Amanda kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa untuk menemui Nerissa. Setelah beberapa lama berkendara, Amandapun menghentikan mobilnya di depan rumah Nerissa.
Amanda keluar dari mobilnya lalu berjalan ke arah pintu rumah Nerissa dan mengetuknya beberapa kali.
"Ada perlu apa kau......."
PLAAAAAAKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nerissa sebelum Nerissa melanjutkan pertanyaannya.
"Apa kau puas sekarang? apa kau merasa menang karena sudah membuat Alvin membenciku? apakah kau sehina itu sehingga tidak cukup Daniel yang ada di sampingmu? aaaahhhh.... aku tahu kau memang perempuan rendahan yang hanya ingin menikmati kekayaan Daniel dan Alvin, benar bukan?" tanya Amanda dengan raut wajah penuh emosi.
Nerissa terdiam beberapa saat menahan emosi yang memburu di dadanya, bukan hanya karena tamparan Amanda padanya tetapi juga karena kemarahan Amanda yang sudah merendahkan harga dirinya.
"Kau memang wanita murahan Nerissa, wajah cantikmu itu hanya kau pakai untuk menarik perhatian laki-laki kaya yang......"
PLAAAAAAAAKKKK
Satu tamparan keras dari Nerissa mendarat di pipi Amanda sebelum Amanda menyelesaikan ucapannya, membuat Amanda meringis menahan sakit dengan memegang pipinya yang baru saja mendapat tamparan dari Nerissa.
"Kau....."
Amanda melayangkan tangannya bersiap untuk kembali menampar Nerissa, namun Nerissa menahan tangan Amanda dengan sigap.
Nerissa mencengkeram tangan Amanda dengan kuat, membuat Amanda menahan rasa sakit akibat cengkraman tangan Nerissa padanya.
"Aku sama sekali tidak ingin menyakitimu Amanda, tapi aku tidak akan membiarkanmu merendahkan harga diriku sedikitpun, kau boleh marah padaku tapi jangan pernah merendahkanku seperti itu," ucap Nerissa sambil melepaskan tangan Amanda dengan kasar.
Amanda seketika terdiam, ia tidak menyangka Nerissa berani melawannya seperti itu. Ia bahkan masih merasakan sakit di pergelangan tangannya yang dicengkeram dengan kuat oleh Nerissa.
"Dulu aku sangat menyukaimu Amanda, kau cantik dan baik hati, tetapi sekarang kau sendiri yang membuatku membencimu, jadi jangan salahkan siapapun jika sekarang Alvinpun membencimu karena sebenarnya yang salah adalah dirimu sendiri, kau dan sikap egoismu itu yang sudah membuat semua orang meninggalkanmu," ucap Nerissa lalu menutup pintu rumahnya begitu saja.
Amanda terdiam di tempatnya dengan menggenggam kedua tangannya dengan kesal. Ucapan Nerissa seolaj menusuk dadanya dengan sangat dalam.
"Aku membencimu Nerissa, aku benar-benar sangat membencimu!!" ucap Amanda dengan berteriak lalu pergi dari rumah Nerissa.
Nerissa yang mendengar hal itu hanya terdiam mengabaikan Amanda. Sedangkan Marin yang mendengar teriakan Amanda segera berlari keluar dari kamarnya dan menghampiri Nerissa yang duduk di ruang tamu.
"Ada apa Putri? siapa yang berteriak di depan rumah kita?" tanya Marin khawatir.
"Amanda," jawab Nerissa singkat.
"Aaahhh perempuan gila itu, apa dia melakukan sesuatu padamu Putri? apa dia menyakitimu?"
"Dia menamparku dan aku membalas menamparnya, apa yang aku lakukan itu salah Marin? apa tidak seharusnya aku menamparnya?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.
"Apa yang kau lakukan itu sudah benar putri, jika itu aku pasti aku sudah menamparnya berulang kali," jawab Marin.
"Sepertinya Alvin sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, itu kenapa dia datang kesini dan marah padaku," ucap Nerissa.
"Baguslah kalau begitu, apa Alvin sudah menghubungimu Putri?"
"Belum, tapi setidaknya aku sudah lega jika Alvin sudah mengetahui bahwa aku tidak mendorong Amanda saat di rumahnya," jawab Nerissa.
Marin hanya mengganggu anggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Nerissa, karena malam sudah semakin larut Nerissa dan Marinpun masuk ke kamar mereka masing-masing.
**
Hari telah berganti, Alvin sudah berada di ruang kerjanya pagi itu. Setelah memeriksa pekerjaannya, Alvinpun membawa laporan pekerjaannya untuk diberikan pada Ricky.
Alvin masuk ke ruangan Ricky dan memberikan laporan pekerjaannya pada Ricky.
"Sepertinya ada masalah baru," ucap Ricky sebelum membaca laporan yang Alvin berikan.
"Masalah apa maksudmu?" tanya Alvin.
"Acara peragaan busana yang akan kita adakan bulan depan ternyata bertepatan dengan acara peragaan busana nasional, sudah pasti acara kita akan kalah dengan acara nasional bukan?"
"Dari mana kamu mendapat informasi itu? apa kau sudah memastikannya?"
"Aku belum memastikannya sendiri tetapi lebih baik kau me-reschedule acara peragaan busana kita!"
"Rasanya itu tidak mungkin Ricky, aku sudah mempersiapkan semuanya, dalam waktu satu bulan tidak mungkin aku bisa me-reschedule acara kita!"
"Jika kau tidak merubah jadwal acara peragaan busana kita, bisa dipastikan kita hanya akan menderita kerugian besar, kau pasti tahu itu bukan?"
Alvin diam beberapa saat memikirkan ucapan Ricky.
"Aku akan membicarakan hal ini dengan Daniel, aku permisi," ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Ricky.
Ricky hanya tersenyum tipis lalu memeriksa laporan Alvin.
Setelah masuk ke ruangannya, Alvinpun menghubungi Daniel agar datang ke ruangannya. Tak lama kemudian Danielpun datang.
Alvin memberitahu Daniel tentang apa yang baru saja Ricky katakan padanya dan sama sepertinya Danielpun meragukan hal itu.
"Tidak mungkin acara nasional bersamaan dengan acara perusahaan kita, aku sudah mendapatkan tanda tangan kontrak dengan beberapa model yang cukup terkenal, jika memang acara itu bersamaan sudah pasti mereka akan lebih memilih acara nasional daripada perusahaan kita," ucap Daniel menjelaskan.
Alvin menghela nafasnya, memijit keningnya yang terasa pusing karena beberapa hari ini ia tidak bisa fokus bekerja dengan baik.
"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu Alvin? kenapa kau seperti tidak fokus dengan pekerjaanmu? kau bahkan tidak peka pada niat terselubung Ricky!" tanya Daniel pada Alvin.
"Entahlah, sepertinya pikiranku sedang kacau beberapa hari ini," balas Alvin.
"Bagaimana dengan rekaman yang aku kirim padamu? apa kau sudah menghubungi bibi untuk memastikannya?" tanya Daniel yang dibalas anggugan kepala Alvin.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Daniel yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Alvin.
"Kau memang pernah mencintai Amanda bahkan mungkin kau sangat tergila-gila padanya, tetapi itu dulu sebelum dia pergi meninggalkanmu dan sekarang saat dia kembali apa kau benar-benar masih mencintainya seperti dulu? apa perasaanmu padanya masih sama seperti dulu?" tanya Daniel yang membuat Alvin hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.
Dalam hatinya iapun menanyakan hal yang sama tentang perasaannya pada Amanda yang sebenarnya.
"jika memang aku sudah tidak mencintainya dan jika memang dia bukan perempuan yang baik untukku, lalu apakah aku bisa mendekati Nerissa lagi? semuanya sudah terlambat, Nerissa sudah menjadi milikmu dan kau tidak mungkin membiarkanku kembali mendekati Nerissa, aaahhh.... aku memang sangat bodoh," ucap Alvin dalam hati