Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Berpelukan



Daniel mengendarai mobilnya ke arah toko bunga Marin untuk menemui Nerissa, ia harus memastikan bahwa Nerissa baik-baik saja meski Alvin sudah mengecewakannya.


Sesampainya di toko bunga Daniel segera turun dari mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam toko bunga dan hanya mendapati Marin yang tengah merangkai bunga.


"Putri baru saja pergi mengantar bunga, kau mencarinya bukan?" ucap Marin yang seolah tahu maksud hati Daniel.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Daniel sambil berjalan menghampiri Marin.


"Dilihat dari luar memang dia baik-baik saja tetapi sepertinya terjadi sesuatu yang tidak aku tahu," jawab Marin.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Marin," ucap Daniel yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.


"Apa kau tahu Nerissa sudah jatuh cinta pada Alvin?" tanya Daniel yang membuat Marin terdiam beberapa saat.


"Katakan saja dengan jujur Marin, agar aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang!"


Marin menghela nafasnya lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya aku tahu, Putri sudah menyukai Alvin sejak pertama kali mereka bertemu, mungkin semakin lama saling mengenal pada akhirnya Putri jatuh cinta pada Alvin."


"Bagaimana jika ternyata Alvin bukan laki-laki yang baik?" tanya Daniel yang membuat Marin mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Daniel.


"Kenapa kau berkata seperti itu? bukankah kalian berteman dekat?"


"Aku memang berteman dekat dengan Alvin, aku pikir aku sangat mengenalnya tetapi beberapa hari ini sikapnya membuatku bingung, aku sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya."


"Aku juga memikirkan hal yang sama, beberapa hari ini Putri tampak murung karena sikap Alvin yang terkesan berubah pada Putri, tetapi Putri hanya diam dan tidak menanyakannya pada Alvin."


"Selama ini kau selalu mengagungkan Alvin dan membandingkan aku dengan Alvin, lalu bagaimana sekarang? apa kau masih percaya padanya setelah dia mengabaikan Nerissa beberapa kali?"


"Entahlah Daniel, hubungan Putri dan Alvin biar menjadi urusan mereka berdua, aku tidak akan terlalu ikut campur!"


"Lalu apa kau akan membiarkan Nerissa terus seperti ini? murung dan terus bersedih karena sikap Alvin padanya?"


"Lalu apa yang bisa aku lakukan Daniel? aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk putri jika dia bercerita padaku."


Daniel menghela nafasnya kemudian membawa dirinya duduk di kursi diikuti oleh Marin yang duduk di samping Daniel.


"Sikap Alvin selama ini membuat Putri berpikir bahwa dia seseorang yang istimewa untuk Alvin, aku pun berpikir hal yang sama, aku pikir Alvin juga jatuh cinta pada Putri, tetapi sekarang aku berubah pikiran."


"Apa maksudmu?" tanya Daniel.


"Aku memang tidak tahu apa dan bagaimana yang sebenarnya Alvin rasakan pada Putri, tetapi melihat sikap Alvin beberapa hari ini aku rasa apa yang putri rasakan bertepuk sebelah tangan," jawab Marin menjelaskan.


"Bukankah kau sangat mengenal Alvin? seharusnya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alvin bukan? kenapa sikapnya tiba-tiba berubah beberapa hari ini?" lanjut Marin bertanya.


Daniel hanya diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Marin, ia tidak mungkin mengatakan pada Marin tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"maaf Marin, aku tidak bisa mengatakannya padamu, setidaknya untuk saat ini sampai aku benar-benar memastikan pilihan Alvin yang sebenarnya," ucap Daniel dalam hati.


"Kita tidak akan pernah tahu bagaimana hati orang yang sebenarnya Marin, kita hanya bisa menilai dari apa yang kita lihat," ucap Daniel pada Marin.


"Aku hanya tidak ingin Putri kecewa dan terluka karena Alvin, kau pasti mengerti maksudku bukan?"


Daniel hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


**


Di sisi lain sepeninggalan Daniel, Alvin juga meninggalkan kantor mengendarai mobilnya untuk menemui Amanda.


Sesampainya di rumah Amanda, Alvin segera masuk dan memanggil Amanda. Mendengar Alvin datang, Amandapun segera membawa langkahnya menyambut Alvin.


"Aku baru saja ingin menghubungimu, tetapi kau sudah datang kesini!" ucap Amanda sambil meraih tangan Alvin, mengajak Alvin berjalan ke arah bagian belakang rumah Amanda.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? apa sudah membaik?" tanya Alvin.


"Ruamnya memang belum menghilang, tetapi sudah tidak gatal lagi," jawab Amanda.


"Baguslah kalau begitu, tetap minum obat mu sampai kau benar-benar sembuh!" ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Amanda.


"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu, tapi tutup matamu!" ucap Amanda sambil berdiri di belakang Alvin dan menutup kedua mata Alvin dengan tangannya.


Amanda menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di depan lukisan yang baru saja dibuatnya, ia kemudian menarik tangannya dari kedua mata Alvin.


"Buka matamu dan lihatlah apa yang baru saja aku buat!" ucap Amanda yang membuat Alvin segera membuka matanya dan melihat lukisan mawar merah yang ada di hadapannya.


"Apa kau baru saja membuatnya?" tanya Alvin yang dibalas anggukan kepala Amanda.


"Cantik sekali, sama sepertimu," ucap Alvin yang membuat Amanda tersenyum tersipu malu.


"Aku baru saja memesan bunga mawar merah ini dan segera melukisnya saat bunga ini baru saja diantar padaku!" ucap Amanda.


"Apa kau selalu memesan bunga mawar merah Amanda?"


"Iya, dari awal kedatanganku kesini aku selalu memesan bunga mawar merah di toko yang sama, aku bahkan cukup dekat dengan pengantar bunga ini," jawab Amanda.


"Perempuan atau laki-laki?"


"Tentu saja perempuan, apa kau akan cemburu jika pengantar bunga itu laki-laki?" jawab Amanda sekaligus bertanya sambil menyenggol lengan tangan Alvin.


"Apa aku berhak untuk cemburu?" tanya Alvin sambil menatap kedua mata Amanda.


Amanda tersenyum tanpa mengatakan apapun lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Alvin.


"Aku sangat merindukanmu Alvin, aku sangat merindukan semua kenangan kita berdua, bagiku saat-saat bersamamu adalah saat terindah dalam hidupku dan aku sangat menyesal karena aku baru menyadari hal itu setelah aku memutuskan pilihan yang salah," ucap Amanda.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan Amanda, jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri karena hal itu," ucap Alvin sambil membelai rambut Amanda.


"Apa kita bisa seperti dulu lagi Alvin? apa aku terlalu egois jika aku ingin memilikimu seperti dulu?" tanya Amanda sambil mendongakkan kepalanya menatap Alvin.


Alvin menggelengkan kepalanya dengan tersenyum. Tatapan mata Amanda selalu berhasil membuatnya luluh dan tidak bisa berpikir dengan logis.


Amanda kemudian mendaratkan kecupan singkatnya di pipi Alvin lalu kembali memeluk Alvin dengan erat.


Amanda berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan meninggalkan Alvin untuk kedua kalinya, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang sudah ia lakukan di masa lalu.


Ia memang tidak mengerti seperti apa cinta yang sebenarnya ia rasakan, ia bahkan tidak yakin dengan sebuah kata yang dinamakan CINTA, ia hanya tidak ingin hidup seorang diri tanpa siapapun yang mempedulikannya, jadi dia akan berusaha untuk tetap membuat Alvin berada di sampingnya selamanya.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Alvin mengendarai mobilnya untuk menemui Nerissa.


Ia belum sempat meminta maaf pada Nerissa secara langsung atas sikapnya yang meninggalkan Nerissa di bukit perkebunan teh.


Meskipun ia tahu kesalahannya, tetapi ia berharap Nerissa masih bisa memaafkannya.


Sesampainya di rumah Nerissa, Alvinpun mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.


"Aku kesini untuk meminta maaf padamu Nerissa, maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang kemarin!" ucap Alvin setelah Nerissa meletakkan minuman di meja untuk Alvin.


"Tidak apa, Daniel yang mengantarku pulang kemarin, bagaimana dengan temanmu? apa dia baik-baik saja?" balas Nerissa sekaligus bertanya.


"Iya dia baik-baik saja," jawab Alvin yang merasa bersalah karena menyembunyikan yang sebenarnya pada Nerissa.


Alvin semakin merasa bersalah karena Nerissa sama sekali tidak menunjukkan kemarahan atau kekecewaan yang dirasakannya saat itu.


"Nerissa, kau boleh marah padaku, kau boleh memakiku karena aku tahu aku sudah melakukan kesalahan dengan meninggalkanmu di bawah bukit perkebunan teh kemarin!" ucap Alvin pada Nerissa.


"Aku memang sempat kecewa karena kau meninggalkanku dan tidak menjemputku, tetapi aku mencoba untuk memahamimu Alvin," balas Nerissa.


"bagaimana aku tidak menyukaimu jika sikapmu seperti ini Nerissa, bahkan siapapun yang baru mengenalmu pun pasti akan menyukaimu, tidak hanya karena kecantikan tapi juga karena kebaikan hatimu," ucap Alvin dalam hati.


Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Nerissa, kemudian suara ketukan pintu membuat Nerissa dan Alvin membawa pandangan mereka ke arah pintu.


Nerissapun melangkahkan kakinya untuk membuka pintu dan mendapati Daniel yang berdiri disana.


"Sepertinya kau sedang bersama Alvin, apa aku mengganggu kalian?" tanya Daniel.


"Tidak, masuklah," jawab Nerissa lalu berjalan masuk diikuti oleh Daniel.


"Aku akan mengambilkan minum untukmu," ucap Nerissa lalu berjalan ke dapur untuk mengambil minum.


"Apa yang kau lakukan di sini Alvin? apa kau akan terus memberinya harapan palsu seperti ini? apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan hanya akan semakin mengecewakan dan menyakitinya?" tanya Daniel pada Alvin dengan suara yang cukup pelan.


"Aku tidak pernah berniat untuk mengecewakan apalagi menyakitinya, jadi berhentilah bersikap seolah-olah kau yang paling tahu tentangku dan Nerissa!"


"Aku sudah pernah memberitahumu Alvin, aku tidak akan membiarkan Nerissa bersamamu jika kau menyakitinya seperti ini dan sekarang aku akan kembali berusaha untuk mendapatkannya!"


"Kau......"


Alvin menghentikan ucapannya saat Nerissa berjalan ke arahnya.


"Kenapa kalian berdua terlihat tegang sekali? kalian tidak sedang bertengkar bukan?" tanya Nerissa dengan membawa pandangannya pada Alvin dan Daniel bergantian.


"Aku pulang Nerissa, aku akan menghubungimu lagi nanti!" ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.


Nerissa hanya menganggukan kepalanya membiarkan Alvin pergi dari rumahnya. Kini hanya ada Daniel dan Nerissa di ruang tamu setelah kepergian Alvin.


"Ada perlu apa kau kesini Daniel? apa kau mencari Marin?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tidak, aku memang ingin menemuimu, memastikan apa kau baik-baik saja atau tidak!"


"Tentu saja aku baik-baik saja, kenapa kau mengkhawatirkanku seperti itu?"


"Apa yang Alvin lakukan kemarin sudah sangat keterlaluan Nerissa, dia sudah membahayakanmu tetapi kenapa kau masih bersikap baik padanya? apa kau benar-benar tidak marah padanya?"


"Aku memang sedih dan kecewa karena dia meninggalkanku, tetapi aku tidak bisa marah padanya Daniel, keberadaannya di dekatku saja sudah membuatku sangat bahagia," jawab Nerissa.


"Bagaimana jika dia melakukan hal itu lagi padamu? apa kau tetap tidak akan marah padanya?"


"Aku tahu dunia tidak berputar di sekelilingku Daniel, Alvin pasti mempunyai masalah lain yang juga harus dia selesaikan, asalkan dia bisa menjelaskan alasannya padaku maka aku akan menerima semua alasannya tanpa harus menghabiskan tenagaku untuk marah padanya!"


Daniel hanya menghela nafasnya mendengar ucapan Nerissa. Daniel menilai apa yang Nerissa lakukan sama persis dengan apa yang Alvin lakukan terhadap Amanda. Cinta benar-benar membuat logika mereka berdua seolah mati.


Setelah beberapa lama mengobrol Danielpun memutuskan untuk pulang. Saat Daniel akan masuk ke dalam mobil, sebuah suara memanggilnya membuat Daniel segera membawa pandangannya ke arah sumber suara.


"Daniel!" panggil Marin sambil melambaikan tangannya.


Marin kemudian beralih kecil menghampiri Daniel yang berdiri di samping mobilnya.


"Kau baru datang atau sudah mau pulang?" tanya Marin pada Daniel.


"Aku sudah dari tadi disini, kau dari mana?" jawab Daniel sekaligus bertanya.


"Membeli beberapa keperluan untuk membuat buket bunga, kenapa kau kesini lagi? apa kau masih mengkhawatirkan Putri?"


"Sepertinya percuma aku mengkhawatirkannya karena yang ada di hati dan pikirannya hanya Alvin."


"Kau benar, jadi berhentilah melakukan hal yang sia-sia itu, sekarang cepat pulang dan beristirahatlah!" ucap Marin sambil menepuk-nepuk bahu Daniel lalu berjalan meninggalkan Daniel begitu saja.


Daniel hanya tersenyum tipis melihat sikap Marin lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Marin.


**


Hari telah berganti, siang itu Nerissa mengantarkan buket bunga pesanan Amanda.


Seperti biasa, buket bunga mawar merah itu Nerissa letakkan di keranjang sepedanya lalu mengayuh sepedanya ke arah rumah Amanda.


Sesampainya di rumah Amanda, dengan ragu Nerissa membawa sepedanya masuk ke halaman rumah.


Satu hal yang membuat Nerissa ragu adalah saat ia melihat sebuah mobil yang tidak asing di matanya sedang terparkir di halaman rumah Amanda.


"mungkin mobil yang sama persis," ucap Nerissa dalam hati berusaha untuk tetap berpikir positif.


Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Nerissa berjalan ke arah pintu rumah Amanda.


"tidak biasanya pintu rumah Amanda terbuka seperti ini," ucap Nerissa dalam hati sambil membawa langkahnya dengan pelan ke arah pintu.


Saat baru saja Nerissa berdiri di depan pintu, ia begitu terkejut karena melihat Alvin yang sedang berpelukan dengan Amanda di hadapannya saat itu.


Tanpa sadar Nerissa menjatuhkan buket bunga di tangannya, membuat Amanda dan Alvin segera membawa pandangan mereka ke arah Nerissa.


Melihat Nerissa yang datang, Amandapun segera menghampiri Nerissa dengan menggandeng tangan Alvin.


Alvin yang saat itu juga terkejut karena kedatangan Nerissa hanya bisa diam mengikuti langkah Amanda yang membawanya pada Nerissa.


"Apa itu bunga untukku?" tanya Amanda sambil menunjuk bunga yang terjatuh di lantai.


Seketika Nerissa tersadar dan segera mengambil bunga yang terjatuh di lantai.


"Maafkan aku, aku akan menggantinya," ucap Nerissa sambil memberikan buket bunga mawar itu pada Amanda.


"Tidak perlu, bunga ini masih terlihat cantik," balas Amanda.


"Alvin, dia adalah pengantar buket bunga yang pernah aku ceritakan padamu, cantik bukan?" ucap Amanda pada Alvin, namun Alvin hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.


"Ada apa Alvin? apa kalian saling mengenal?" tanya Amanda sambil membawa pandangannya pada Alvin dan Nerissa.


"Tidak," jawab Nerissa cepat, membuat Alvin begitu terkejut mendengar jawaban Nerissa.


"Aku permisi Amanda, aku akan meminta seseorang untuk mengantar buket bunga yang baru untukmu!" ucap Nerissa lalu berlari pergi dari hadapan Amanda dan Alvin.