
Nerissa dan Marin sudah berada di pantai Pasha, mereka tengah berjalan melewati batas tepi pantai, membiarkan kedua kaki mereka diterjang oleh ombak malam itu.
Nerissa dan Marin kemudian memutar gelang milik mereka masing-masing dan tak lama kemudian kaki merekapun berubah menjadi ekor.
Nerissa dan Marin kemudian berenang ke istana Seabert dalam kebisuan karena tak ada percakapan sama sekali di antara mereka berdua hingga mereka sampai di depan istana.
Marin yang hendak pergipun segera ditahan oleh Nerissa.
"Marin, apa kau marah padaku?" tanya Nerissa dengan menahan tangan Marin agar tidak berenang pergi.
Marin hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu melepaskan tangan Nerissa darinya.
"Aku hanya sedang berusaha menerima takdir ini Putri, setelah aku bertemu dengan Daniel rasanya semakin sulit untuk aku melupakannya," ucap Marin lalu berenang pergi meninggalkan Nerissa begitu saja.
"aku juga merasakan hal itu Marin, tapi apa yang bisa aku lakukan, semua ini sudah menjadi takdir kita," balas Nerissa dalam hati lalu berenang masuk ke dalam istana.
Nerissa kemudian menemui sang Bunda lalu di duduk di samping sang Bunda dan membaringkan kepalanya di bahu sang Bunda.
"Akhirnya kau kembali, hampir saja bunda meminta Cadassi untuk menjemputmu dan Marin," ucap Ratu Nagisa sambil membelai rambut panjang Putri Nerissa.
"Nerissa dan Marin pasti kembali Bunda, bukankah tempat kita memang disini?" balas Nerissa.
"Tempatmu memang disini sayang, tapi sepertinya hati dan pikiranmu sedang tidak ada disini," ucap Ratu Nagisa yang membuat Nerissa segera mengangkat kepalanya dan membawa pandangannya ke arah sang Bunda.
"Kenapa Bunda berbicara seperti itu?" tanya Nerissa.
"Kau harus melupakan siapapun yang ada di daratan Nerissa, sedalam apapun perasaanmu padanya kau dan manusia tidak akan pernah bisa bersama, akan lebih menyakitkan jika kau terus mengingatnya seperti ini," ucap Ratu Nagisa tanpa menjawab pertanyaan Nerissa.
"Jika nerissa bisa, pasti Nerissa sudah melupakannya sejak lama Bunda, tapi pada kenyataannya Nerissa tidak pernah melupakan sedetikpun kebersamaan Nerissa dengannya," balas Nerissa.
"Dia hanya manusia biasa Nerissa, sedangkan dirimu adalah mermaid dari istana laut, jika kau memaksakan dirimu untuk bersama dengannya itu hanya akan menyulitkannya kehidupannya!"
"Apa maksud bunda?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Kau memang bisa tinggal di daratan dengan gelang mutiara yang kau pakai saat ini, tetapi jika kau memilih untuk hidup dengannya sebagai pasangan kekasih maka hal buruk akan selalu mengelilinginya karena auramu yang berasal dari lautan bertolak belakang dengan auranya sebagai manusia biasa," jawab Ratu Nagisa menjelaskan.
Nerissa terdiam mendengarkan ucapan sang Bunda, ia sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang baru saja bundanya jelaskan.
"Mungkin kalian bisa berbahagia karena kalian saling mencintai satu sama lain, tetapi perbedaan dunia di antara kalian berdua akan membuat jalan diantara kalian berdua menjadi lebih sulit, akan ada banyak hal buruk yang datang silih berganti yang pasti akan mempersulit kehidupannya sebagai manusia," ucap Ratu Nagisa.
"Apa itu artinya Nerissa tidak akan pernah bisa bersamanya lagi bunda?"
"Semakin kalian berdua dekat akan semakin banyak masalah yang terjadi padanya, jika kau ingin dia menjalani kehidupannya dengan baik maka menjauhlah darinya dan jangan pernah lagi menemuinya," jawab Ratu Nagisa dengan tegas.
Nerissa yang terdiam menundukkan kepalanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika keberadaannya di dekat Alvin selama ini hanyalah memberi pengaruh yang buruk pada Alvin.
Meskipun ada rasa bahagia yang ia rasakan saat bersama Alvin, namun dibalik bahagia itu ada sebuah kesulitan dan bahaya yang sudah siap mengintai Alvin tanpa Alvin ataupun Nerissa ketahui.
"Lupakan dia Nerissa, nikmati kehidupanmu disini seperti dulu sebelum kau mengenalnya, Bunda yakin lambat laun kau pasti bisa melupakannya," ucap Ratu Nagisa sambil menggenggam tangan Nerissa.
Nerissa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.
"Nerissa masuk ke kamar dulu bunda," ucap Nerissa lalu berenang masuk ke dalam kamarnya.
Nerissa membaringkan badannya dengan air mata yang sudah menetes membasahi kedua matanya. Rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya karena takdir yang tidak mengizinkan mereka bersama, tapi juga karena takdir yang pernah mempertemukan mereka, membuat benih benih cinta tumbuh bersama bahaya yang mengintai kehidupan Alvin.
**
Di daratan.
Hari-hari telah berlalu, acara peragaan busana yang Alvin dan Daniel selenggarakan berjalan dengan lancar, memberikan keuntungan yang besar bagi Atlanta Group.
Bersamaan dengan itu, Daniel berhasil mendapatkan bukti tentang kasus kecelakaan Alvin yang ternyata sudah direncanakan oleh seseorang.
Hari itu, perusahaan Atlanta Group menjadi pembicaraan hangat di portal berita nasional karena tertangkapnya Ricky Airlangga sebagai penyebab kecelakaan yang menimpa Alvin.
Semua bukti dan saksi yang sudah ada tidak bisa membuat Ricky mengelak lagi, bahkan beberapa orang suruhan Ricky sudah lebih dulu tertangkap oleh polisi.
Karena berita hangat itu, dalam sekejap saja saham perusahaan Atlanta group anjlok, bahkan beberapa investor menarik saham mereka dari Atlanta Group, membuat Atlanta group yang sempat kembali bersinar tiba-tiba menjadi redup karena berita negatif itu.
Rapat besarpun diadakan, rapat yang dihadiri para pemegang saham dan juga Johan Airlangga sebagai pemilik Atlanta Group.
Pada akhirnya rapat itu membuahkan keputusan dengan pengangkatan Alvin sebagai CEO Atlanta Group, pengganti Ricky Airlangga.
Johan Airlangga berharap Alvin bisa membawa kejayaan Atlanta Group seperti sebelumnya.
Malam itu Alvin menghadiri acara makan malam di rumah Delia setelah ia mendapat undangan secara langsung dari papa Delia.
"Om sebagai papa Ricky sangat menyesalkan apa yang sudah Ricky perbuat padamu Alvin, Om berharap kau bisa memaafkan Ricky setelah dia menerima hukumannya di penjara," ucap Johan pada Alvin.
"Alvin sudah memaafkannya Om, lagi pula dia juga sudah menjalani hukumannya," balas Alvin.
"Kau memang sangat baik Alvin, tidak salah Om merawatmu dari kecil dan mendidikmu menjadi laki-laki dewasa yang sebaik ini," ucap Johan dengan tersenyum senang.
Alvin hanya tersenyum tipis tidak terlalu menghiraukan ucapan papa Cordelia karena ia tahu bagaimana liciknya papa Cordelia.
Setelah makan malam selesai, Alvinpun meminta waktu untuk berbicara berdua dengan papa Cordelia.
"Katakan Alvin, apa ada masalah yang serius di perusahaan?" tanya papa Cordelia pada Alvin.
"Sebelumnya Alvin sangat berterima kasih pada om dan tante karena sudah merawat Alvin sejak kepergian kedua orang tua Alvin," ucap Alvin yang membuat papa Cordelia mengernyitkan keningnya.
"Aku pikir kau mengajakku kesini karena ada masalah perusahaan yang ingin kau bicarakan," ucap papa Cordelia.
"Om benar, Alvin juga ingin membicarakan tentang masalah perusahaan, tentang hak milik perusahaan yang sesungguhnya yang selama ini Om sembunyikan dari Alvin dan semua orang," ucap Alvin yang membuat Johan begitu terkejut.
"Apa maksudmu Alvin? hak milik perusahaan apa yang kau maksud?" tanya Johan gugup.
"Pengacara orang tua Alvin sebenarnya sudah lama memberitahukan pada Alvin tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi sayang dia sudah meninggal sebelum memberikan semua bukti-buktinya pada Alvin," ucap Alvin.
"Kenapa kau membahas masa lalu Alvin? apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku?"
"Sudah sangat lama Alvin berusaha mengambil apa yang sudah menjadi hak Alvin dan sudah sangat lama juga Alvin tahu tentang apa yang Om sembunyikan selama ini, tentang perusahaan Atlanta grup dan tentang alasan Om mau merawat Alvin dari kecil," ucap Alvin menjelaskan.
Johan Airlangga hanya terdiam dengan raut wajah yang mulai gugup dan tampak gelisah.
Alvin kemudian memberikan sebuah flash disk pada Johan dan menaruhnya di atas meja.
"Flash disk ini berisi pembagian saham Atlanta Group dan saat ini pemegang pemegang saham tertinggi di Atlanta Group adalah Alvin disusul Daniel lalu Om dan beberapa orang lainnya yang sebentar lagi akan memberikan saham mereka pada Alvin," ucap Alvin sambil menggeser flashdisk di meja ke arah Johan.
"Alvin juga menyertakan bukti kepemilikan Atlanta Group di flashdisk ini, jika Om keberatan dengan bukti ini Om bisa menuntut Alvin dan membawa masalah ini ke meja hijau setelah itu mari kita lihat bersama tentang kebenaran yang selama ini Om sembunyikan," lanjut Alvin yang membuat Johan semakin diam tak mampu berkata-kata lagi karena mendapat serangan tiba-tiba dari Alvin.
"Semuanya terserah pada Om jika Om mau mengakui kesalahan secara sukarela dan memberikan apa yang seharusnya menjadi milik Alvin maka Alvin tidak akan membawa masalah ini ke publik, tetapi jika Om merasa bahwa apa yang Alvin lakukan ini sebuah kesalahan Om bisa membawa masalah ini ke meja hijau," ucap Alvin.
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Alvin? apa selama ini kau menyimpan dendam padaku?"
"Alvin tidak pernah menyimpan dendam, Om Alvin hanya ingin mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik Alvin, Alvin hanya ingin mendapatkan apa yang orang tua Alvin berikan pada Alvin yang sudah om rebut diam diam," jawab Alvin dengan tegas.
"Apa ini balasanmu padaku yang sudah merawatmu dari kecil? apa hanya ini hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk membalas budi?"
"Tentu saja tidak, Alvin sudah mengatakan bahwa Alvin tidak akan membawa masalah ini ke publik jika Om bersedia mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Alvin, Alvin juga tidak akan menuntut apapun pada Om yang sudah memanipulasi data kepemilikan perusahaan Atlanta Group, jika Alvin mau Alvin bisa dengan mudah membuat Om menemani Ricky saat ini!"
"Apa kau mengancamku sekarang?" tanya Johan yang semakin gugup.
"Alvin sama sekali tidak bermaksud untuk mengancam, hanya memberikan pilihan dan selebihnya Om sendiri yang menentukan jalan mana yang akan Om ambil," jawab Alvin.
"Delia sudah sangat terpukul dan malu pada apa yang terjadi pada Ricky, apa kau akan membuatnya semakin terpuruk jika dia mengetahui hal ini?" tanya Johan yang berharap Alvin akan memberikan simpati padanya.
"Sejauh ini Alvin tidak pernah memberitahukan hal ini pada Delia, karena Alvin sudah menganggapnya seperti adik Alvin sendiri jadi Alvin tidak ingin Delia terlibat dengan hal ini," balas Alvin.
"Baiklah om hanya ini yang ingin Alvin sampaikan, Alvin akan menunggu keputusan Om sampai besok pagi, terima kasih atas waktunya, Alvin permisi," ucap Alvin lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Johan.
Tanpa Alvin dan Johan tahu ternyata diam-diam Cordelia menguping pembicaraan mereka berdua dan segera pergi setelah ia mendengar semua percakapan Alvin dan papanya.
Alvin kemudian berpamitan pulang dan tak lama setelah Alvin pergi, Cordelia keluar dari rumahnya untuk mengikuti Alvin pulang.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Alvin yang baru saja sampai di rumahnya begitu terkejut karena melihat mobil Cordelia yang memasuki halaman rumahnya.
Alvinpun berdiri di depan pintu untuk menunggu Cordelia turun dari mobilnya.
"Delia, kenapa kau...."
Alvin menghentikan ucapannya saat Cordelia berlari ke arahnya dengan menangis lalu memeluknya dengan erat.
"Apa yang terjadi padamu Delia? kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Alvin.
Cordelia tidak menjawab pertanyaan Alvin, ia hanya menangis dengan masih memeluk Alvin.
Alvin kemudian membawa Cordelia masuk ke dalam rumah dan mendudukkannya di sofa.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu, apa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Alvin dengan memegang kedua bahu Cordelia.
"Aku minta maaf Alvin, aku minta maaf atas semua kesalahan orang tua dan kakakku, kau boleh membenciku kau boleh membenci mereka tapi aku mohon beri kesempatan papa untuk memperbaiki kesalahannya," ucap Cordelia dengan terisak.
"Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti ini, apa kau mendengar pembicaraanku dengan papamu?" tanya Alvin menerka yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Cordelia.
"Tidak seharusnya kau mendengarnya Delia, biarkan ini menjadi masalah antara aku dan papamu," ucap Alvin sambil menghapus air mata Cordelia yang terus menetes di pipinya.
"Aku sangat malu padamu Alvin, aku pernah sangat mencintaimu dan menginginkanmu menjadi pasangan hidupku tanpa aku tahu ternyata keluargaku sudah sangat menyakitimu dan sekarang aku bahkan merasa tidak pantas untuk menjadi adik yang kau sayangi," ucap Cordelia di tengah isak tangisnya.
"Jangan berbicara seperti itu Delia, kau tetaplah Delia adik yang aku sayangi terlepas dari apa yang sudah orang tua dan kakakmu lakukan padaku," ucap Alvin berusaha menenangkan Cordelia.
"Maafkan aku Alvin," ucap Cordelia yang membuat Alvin segera merengkuh Cordelia ke dalam dekapannya.
Setelah Cordelia lebih tenang, Alvin membawa Cordelia masuk ke kamar di lantai dua.
"Tidurlah dan jangan memikirkan masalah ini, tidak akan ada yang berubah antara kau dan aku, biarkan aku dan papamu yang menyelesaikan masalah ini," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Cordelia.
Alvin kemudian keluar dari kamar Cordelia lalu masuk ke kamarnya. Kini langkahnya untuk mendapatkan apa yang selama ini dia usahakan sudah ada di depan mata.
Meskipun bisa saja Alvin memenjarakan papa Cordelia dengan mudah, tapi Alvin memilih untuk tidak melakukan hal itu sebagai bentuk rasa terima kasihnya karena sudah merawatnya sewaktu ia masih kecil, meski orang tua Cordelia melakukan hal itu dengan maksud lain.
Ia juga tidak ingin Cordelia menanggung malu atas apa yang sudah papanya lakukan yang bisa jadi akan berdampak pada kariernya.