Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mencari Tahu



Matahari yang bersinar terik mulai kembali ke peraduannya, digantikan oleh cahaya bulan malam yang tampak remang karena langit malam yang sedang mendung, bahkan tidak ada satupun bintang yang terlihat menemani sang bulan malam itu.


Nerissa dan Marin sedang berada di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Daniel setelah Nerissa meminta Daniel untuk datang beberapa saat yang lalu.


Tak lama kemudian suara mobilpun berhenti di depan rumah mereka, diikuti oleh suara ketukan pintu yang membuat Marin segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.


"Masuklah!" ucap Marin pada Daniel.


Daniel membawa langkahnya masuk mengikuti Marin lalu duduk di ruang tamu bersama Nerissa dan Marin.


"Tidak biasanya kalian memintaku datang kesini, apa ada sesuatu yang sangat penting?" tanya Daniel dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin.


"Tadi siang Cordelia kesini dan memberitahuku bahwa dia baru saja pulang dari rumah Alvin," jawab Nerissa.


"Apa dia mengganggu kalian berdua lagi?" tanya Daniel yang dibalas gelengan kepala oleh Nerissa dan Marin.


"Sepertinya Delia juga tidak menyukai Amanda, dia kesini untuk memastikan apakah Putri sudah bertemu dengan Amanda atau belum," jawab Marin.


"Delia memang sangat tahu bagaimana terpuruknya Alvin saat Amanda pergi, jadi sudah pasti Delia tidak menyukai Amanda, seperti aku yang juga sangat tidak menyukainya," ucap Daniel.


"Cordelia berkata jika dia ingin membantuku untuk membuktikan pada Alvin bahwa aku tidak bersalah atas kejadian di rumah Alvin kemarin," ucap Nerissa yang membuat Daniel mengernyitkan keningnya.


"Membantumu? apa kau yakin Nerissa? kenapa dia tiba-tiba mau membantumu?" tanya Daniel heran.


"Alasannya sederhana, hanya ada 3 perempuan yang dekat dengan Alvin, karena Delia sangat tidak menyukai Amanda jadi dia membantu Putri untuk menyingkirkan Amanda dari Alvin, dengan begitu saingan Delia untuk mendapatkan Alvin hanya Putri," jawab Marin.


"Apapun itu yang pasti dia ingin membantuku untuk menemui bi Sita karena dia tahu di mana tempat tinggal bi sita di kampung," ucap Nerissa.


"Bagaimana jika ternyata Delia membohongimu Nerissa? kau tahu seperti apa Delia bukan?"


"Iya aku tahu, itu kenapa aku memintamu untuk datang kemari, karena aku ingin menanyakan pendapatmu tentang hal ini," jawab Nerissa.


Daniel terdiam beberapa saat untuk memikirkan apa yang seharusnya ia katakan pada Nerissa, karena ia pun tahu bagaimana Cordelia terobsesi pada Alvin.


Ia tidak ingin menjatuhkan Nerissa pada keputusan yang salah jika dia menerima bantuan Cordelia begitu saja.


"Delia pasti mempunyai alasan kenapa dia mau membantu Nerissa, salah satu alasan terkuatnya adalah untuk menyingkirkan Amanda yang sekarang dekat dengan Alvin, setelah Amanda pergi Deliapun akan melakukan hal yang sama pada Nerissa saat Nerissa sudah dekat dengan Alvin," ucap Daniel dalam hati.


tooookkkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Nerissa, Marin dan Daniel saling pandang untuk beberapa saat. Marin kemudian beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya.


"Delia," ucap Marin pada Nerissa dan Daniel


"Biarkan dia masuk Marin," balas Nerissa.


Marinpun membuka pintu rumahnya dan mendapati Delia yang berdiri di depan rumahnya.


"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Marin pada Delia.


"Bisakah kau sedikit saja ramah padaku? aku hanya ingin bertamu," jawab Cordelia.


"Rasanya itu hal yang sangat mustahil untuk beramah tamah denganmu," balas Marin.


"Aku tahu Daniel ada disini, bukankah kalian sedang membicarakan tentang rencanaku tadi siang?"


"Masuklah!" ucap Marin lalu berjalan masuk diikuti oleh Cordelia.


Cordelia, Daniel, Nerissa dan Marinpun duduk di ruang tamu.


"Ada apa kau kesini?" tanya Daniel pada Cordelia yang duduk di sampingnya.


"Aku sudah menduga kau ada disini malam ini dan ternyata dugaanku benar, kalian sedang membicarakan ideku tadi siang bukan?" balas Cordelia sambil membawa pandangannya pada Nerissa, Marin dan Daniel bergantian.


"Katakan saja padaku dimana alamat bibi tinggal, aku akan datang kesana bersama Nerissa," ucap Daniel pada Cordelia.


"Tidak bisa, aku harus ikut bersama kalian, jika kau tidak mau aku pergi berdua bersama Nerissa, kau dan Marin bisa ikut karena aku tahu kalian berdua tidak mempercayaiku sekarang," balas Cordelia.


"Apa yang kau lakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang Amanda lakukan Delia, jadi bagaimana aku bisa percaya padamu?"


"Bicaramu itu jahat sekali Daniel, sudah jelas aku jauh berbeda dengan Amanda, aku hanya tidak menyukai Nerissa karena dia mendekati Alvin dan membuat Alvin menjauh dariku, sedangkan Amanda perempuan yang sangat egois dan jahat karena sudah meninggalkan Alvin demi laki-laki lain dan sekarang dia tiba-tiba datang untuk merebut Alvin dariku," balas Cordelia membela diri.


"Apa alasan yang membuatmu mau membantu Nerissa? bukankah sekarang sainganmu Amanda?"


"Daniel, aku sangat mengenal Alvin dan kaupun pasti sangat mengenal Alvin lebih dari siapapun, kau pasti tahu jika Alvin sebenarnya menyukai Nerissa, hanya saja Amanda tiba-tiba datang dan menggoyahkan Alvin, apa kau tidak berpikir seperti itu?"


Daniel hanya diam tanpa mengatakan apapun karena apa yang Cordelia ucapkan adalah suatu kebenaran.


"Amanda perempuan yang jahat Daniel, dia bahkan memfitnah Nerissa agar Alvin menjauh dari Nerissa, aku hanya tidak ingin jika Alvin kembali pada Amanda, suatu saat nanti Amanda akan meninggalkan Alvin untuk kedua kalinya, aku tidak bisa membayangkan segila apa Alvin nanti saat hal itu terjadi, aku hanya ingin Alvin sadar bahwa Amanda bukan perempuan yang baik untuknya," ucap Cordelia.


"Padahal dia juga memfitnah Putri," ucap Marin pelan namun cukup didengar oleh Cordelia.


Cordelia hanya menanggapi dengan tatapan sinis ucapan Marin padanya.


"Apa kau berpikir dirimu baik untuk Alvin?" tanya Daniel dengan tersenyum mengejek Cordelia.


"Waaaahh senyummu itu menggangguku sekali, tentu saja aku perempuan yang baik untuk Alvin, aku sudah menunggu Alvin bertahun-tahun lamanya, aku sudah memperjuangkan Alvin sangat lama, aku bahkan tidak menyerah saat Alvin dekat dengan Nerissa, aku masih setia menunggu Alvin dan......"


"Dan menutup mata bahwa sebenarnya Alvin tidak menyukaimu!" sahut Marin dengan menahan tawanya.


"Kau pasti tahu, batu yang terus-menerus ditetesi oleh air hujan pasti akan berlubang, aku percaya selama aku masih setia menunggu Alvin suatu saat nanti dia pasti akan melihat ke arahku!" Ucap Cordelia percaya diri.


"Sudah sudah..... bukan itu yang ingin kita bahas sekarang, fokus saja pada masalah yang ada!" Ucap Nerissa.


"Aku benar-benar ingin membantumu Nerissa, Alvin harus tahu bagaimana jahatnya Amanda!" ucap Cordelia meyakinkan.


"Baiklah, kita berangkat menemui bibi besok pagi!" ucap Daniel memberi keputusan.


"Apa kau yakin Daniel?" tanya Marin pada Daniel.


"Jangan khawatir Marin, aku tidak akan membiarkan Delia yang mengganggu kalian berdua," jawab Daniel sambil membawa pandangannya pada Cordelia di akhir kalimatnya.


"Terserah kau saja," balas Cordelia kesal dengan melipat tangannya di dada.


**


Di tempat lain, Alvin sedang bersama Amanda di kamarnya. Entah kenapa yang ada di pikiran Alvin saat itu hanyalah Nerissa.


Jauh dalam hatinya ia merasa sedang merindukan gadis cantik dengan rambut coklat terang itu.


"Alvin, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Amanda yang saat itu sedang duduk dalam dekapan Alvin.


"Hanya memikirkan tentang pekerjaan," jawab Alvin beralasan.


"Banyak hal yang terjadi di perusahaan Amanda, kaupun tahu apa yang sebenarnya terjadi di Atlanta grup!" balas Alvin.


"Tapi sekarang aku senang karena kau sudah berada di posisi yang jauh lebih baik daripada saat aku masih bersamamu dulu, setidaknya kau sudah semakin dekat dengan tujuanmu," ucap Amanda.


"Kau benar, itu kenapa aku harus mempertahankan posisiku saat ini, banyak hal yang harus aku pikirkan tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya!"


"Tapi bisakah kau hanya memikirkan aku saat ini? aku merasa sangat cemburu pada pekerjaan yang selalu kau pikirkan itu," ucap Amanda dengan memanyunkan bibirnya.


"Kenapa aku harus memikirkanmu saat kau ada di hadapanku?" tanya Alvin dengan semakin erat memeluk Amanda yang duduk di depannya.


"Karena aku merasa kau sedang tidak disini saat ini, meskipun pada kenyataannya kau sedang memelukku, tetapi pikiranmu melayang jauh, benar bukan?"


"Maafkan aku," balas Alvin.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Amanda," ucap Alvin pada Amanda.


"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya," balas Amanda.


"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku dulu? apa kau benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun padaku? apa kedekatan kita sama sekali tidak ada artinya untukmu?" tanya Alvin yang membuat Amanda terdiam beberapa saat.


"kau hanya pegawai biasa di Atlanta grup saat itu, bagaimana mungkin aku bisa memilihmu sebagai masa depanku saat masa depanmu sendiripun masih belum jelas, aku hanya ingin masa depanku menjadi lebih baik dengan menikahi laki-laki kaya raya yang akan menjamin masa depanku Alvin," ucap Amanda dalam hati.


"Kenapa kok tiba-tiba menanyakan itu? bukankah kau tidak ingin membahas masa lalu lagi?" tanya Amanda sebelum menjawab pertanyaan Alvin.


"Hanya ingin tahu saja, kau tidak perlu menjawabnya jika tidak ingin menjawabnya," balas Alvin.


"Sangat banyak waktu yang kita lalui berdua Alvin, rasanya tidak akan mudah bagiku untuk melupakan semua itu, mungkin aku tidak sadar apa yang sebenarnya ada di hatiku saat itu, tapi sekarang aku sadar dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi, maafkan aku karena bersikap egois saat itu," ucap Amanda.


Alvin hanya terdiam mendengarkan ucapan Amanda. Bayang-bayang Nerissa dengan senyumnya yang cantik membuat Alvin tidak benar-benar mendengarkan ucapan Amanda saat itu.


"aku merindukanmu Nerissa," ucap Alvin dalam hati.


"Kau tidak marah padaku bukan?" tanya Amanda membuyarkan lamunan Alvin.


"Tentu saja tidak, aku senang karena kau kembali padaku," jawab Alvin sekenanya.


Amandapun tersenyum senang sambil menggenggam tangan Alvin yang melingkar di pinggangnya.


Tanpa Amanda tahu, sebenarnya yang ada di pikiran Alvin saat itu hanyalah Nerissa.


**


Hari telah berganti, Daniel dan Cordelia sudah berada di rumah Nerissa pagi itu. Mereka berniat untuk pergi ke kampung halaman bi Sita.


Mereka berangkat menggunakan mobil Daniel, Daniel mengendarai mobilnya bersama Nerissa yang duduk di sampingnya sedangkan Marin dan Cordelia duduk di kursi belakang.


"Apa kau tahu Marin, aku sangat tidak suka pandanganmu padaku!" ucapkan Cordelia pada Marin yang duduk di sampingnya.


"Akupun tidak suka duduk di sebelahmu, jika bukan karena terpaksa aku tidak akan duduk disini bersamamu," balas Marin.


"Aku sedang membantu temanmu Marin, seharusnya kau berterima kasih padaku!"


"Aku sangat berterima kasih padamu Delia, tapi aku tidak akan pernah melupakan bagaimana sikapmu pada Putri dan apa saja yang sudah kau lakukan pada Putri," balas Marin.


"Sudahlah jangan bertengkar, kita sedang dalam perjalanan untuk tujuan yang sama saat ini," ucap Nerissa menengahi.


Setelah lama berkendara Danielpun mulai meninggalkan kota, beberapa jam kemudian Daniel mulai memasuki daerah pedesaan.


"Apa kau yakin bibi tinggal di daerah sini Delia?" tanya Daniel.


"Tentu saja aku yakin, aku pernah mengantar bibi kesini bersama Alvin, aku bahkan mengenal anak bibi yang tinggal disini," jawab Cordelia meyakinkan.


"Baiklah, aku hanya bisa mempercayaimu saat ini, aku harap kau tidak akan mengecewakan kita semua," ucap Daniel.


"Kalian harus percaya padaku, setidaknya hanya untuk saat ini!" balas Cordelia.


Tak lama kemudian Daniel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana dengan beberapa bunga yang tertanam di depannya.


Daniel, Nerissa, Marin dan Cordelia


pun turun dari mobil.


"Kak Delia!" panggil seorang anak laki laki yang membuat Cordelia segera membawa pandangannya ke arah sumber suara.


Delia tersenyum dan melambaikan tangannya pada anak laki laki yang memanggilnya dan berlari ke arahnya.


"Bagaimana keadaanmu? apa kau sudah sehat?" tanya Cordelia.


"Aku sudah lama keluar dari rumah sakit kak, kakak kenapa kesini? apa kakak mencari ibu?"


"Iya, apa bibi ada di rumah sekarang?"


"Ada, ayo masuk!"


Cordeliapun memberikan kode pada Nerissa, Daniel dan Marin agar berjalan mengikutinya.


"Kakak tunggu disini, aku akan memanggil ibu," ucap anak bi Sita lalu berjalan masuk untuk memanggil ibunya.


"Siapa dia Delia?" tanya Nerissa pada Cordelia.


"Dia anak bibi satu-satunya, bibi hanya akan pulang kampung saat terjadi sesuatu pada anaknya dan seperti yang baru saja kau dengar, dia mengatakan bahwa dia sudah lama keluar dari rumah sakit, itu artinya ada seseorang yang memaksa bi sita pulang," Jawab Cordelia menjelaskan.


Nerissa menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Cordelia.


Tak lama kemudian bi Sita datang dan begitu terkejut melihat Daniel, Nerissa, Cordelia dan Marin yang berada di rumahnya.


"Kenapa semuanya datang kesini? tidak terjadi sesuatu pada Tuan Alvin bukan?" tanya bi Sita khawatir.


"Alvin baik-baik saja Bi, kita kesini karena ingin menanyakan sesuatu pada bibi," jawab Daniel.


"Sebenarnya apa yang membuat bi Sita pulang kampung? setahu Nerissa bibi tidak pernah pulang kampung jika tidak terjadi sesuatu pada anak bibi dan Nerissa lihat anak bibi tampak baik-baik saja," tanya Nerissa.


Bi Sita terdiam dengan menundukkan kepalanya, ia ragu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


"Apa ada seseorang yang memaksa bibi untuk pulang kampung?" tanya Cordelia.


"Mmmm.... tidak non..... tidak ada yang memaksa bibi pulang, bibi...... bibi hanya ingin beristirahat di rumah," ucap bibi memberi alasan.


"Sebenarnya kedatangan kita kesini untuk meminta kesaksian bibi tentang kejadian di rumah Alvin beberapa hari yang lalu saat Nerissa datang mengantar buket bunga dan saat akuarium di rumah Alvin pecah, bibi melihat kejadian yang sebenarnya bukan?" ucap Daniel sekaligus bertanya.


Bi Sita terdiam tanpa mampu mengatakan apapun. Bi Sita tidak ingin apa yang akan ia katakan memberikan pengaruh yang buruk padanya.