
Nerissa seketika terdiam saat Ran memintanya untuk menukar nyawanya dengan keselamatan Marin.
Nerissa memang sangat mengkhawatirkan Marin, tapi ia juga memikirkan apa yang akan terjadi nantinya jika ia membiarkan Ran lolos dari tangannya.
Entah apa yang akan Ran lakukan untuk menghancurkan Seabert jika Ran benar-benar bebas berkeliaran sesuai dengan keinginannya.
"apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Nerissa bertanya pada dirinya sendiri.
"Jika kau melepaskan satu butir mutiara biru milikmu dan menaruhnya di dalam putaran ombak yang kau buat, maka putaran ombak itu akan membuat kekuatan biru dan kekuatan hitam milik Ran bersatu dan jika kekuatan itu bersatu maka kekuatan itu akan menghancurkan siapapun yang ada di dalam putaran ombak itu," ucap suara misterius yang Nerissa dengar.
"menghancurkan siapapun yang ada di dalamnya?" tanya nerissa mengulang ucapan suara misterius itu.
"Baiklah jika memang harus seperti itu," ucap Nerissa dengan tersenyum tipis lalu menggenggam tangannya dan tak lama kemudian sebuah mutiara biru berada dalam genggaman tangan Nerissa.
Nerissa kemudian berjalan ke arah Ran dan memperlihatkan mutiara biru pada Ran.
"Apa yang akan kau lakukan dengan mutiara itu? kau tidak akan memasukkannya kesini bukan?" tanya Ran.
"Sepertinya kau tahu apa yang akan terjadi jika aku menyatukan kekuatan biru milikku dan kekuatan hitam milikmu," ucap Nerissa tanpa menjawab pertanyaan Ran.
"Jangan gila Nerissa, kau hanya akan......"
"Sepertinya aku memang sudah gila," ucap Nerissa memotong ucapan Ran.
"Aku sudah kehilangan ayah yang sangat aku cintai dan aku baru saja meninggalkan laki-laki yang sangat aku cintai dan baru saja aku gagal menyelamatkan satu-satunya teman baikku, lalu untuk apa lagi aku hidup, keberadaanku disini benar-benar tidak ada gunanya, mungkin lebih baik jika aku lenyap bersamamu bukan?" lanjut Nerissa yang membuat Ran begitu terkejut.
"Rasanya sangat menyakitkan saat aku dengan sengaja meninggalkan laki-laki yang aku cintai, tapi aku berusaha untuk berdamai dengan keadaan itu, tapi sepertinya ini adalah titik dimana aku harus berserah pada takdir hidupku, dengan perginya kau dan aku mungkin keadaan disini akan jauh lebih baik," ucap Nerissa dengan tersenyum tipis.
Nerissa kemudian melemparkan mutiara birunya ke dalam putaran ombak yang sudah ia buat untuk menahan Ran. Tak butuh waktu lama putaran ombak itupun mengeluarkan kilatan cahaya berwarna hitam dan biru.
Nerissapun berenang memasuki putaran ombak itu dan hanya diam menikmati kilatan cahaya yang seolah mencambuknya dengan sangat keras.
Namun tiba-tiba Ran berenang berusaha mendapatkan mutiara biru yang tengah berputar di sekitarnya, dengan badannya yang penuh luka Ran berusaha meraih mutiara biru milik Nerissa dan mengembalikannya pada Nerissa.
Nerissapun kembali mendapatkan mutiara biru miliknya sebelum tubuh mereka berdua hancur di dalam putaran ombak itu.
Ran kemudian menutup matanya mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan aura hitam yang melekat pada dirinya.
Perlahan ekor hitam milik Ran berubah menjadi warna kuning seiring dengan gumpalan warna hitam yang keluar dari tubuh Ran yang melambung semakin tinggi.
Nerissa hanya terdiam melihat apa yang terjadi pada Ran. Ia tidak tahu apa yang sedang Ran lakukan saat itu namun tiba-tiba Ran tampak melemah dan kehilangan tenaganya.
Kilatan cahaya hitam dan biru yang ada dalam putaran itupun menghilangkan seiring dengan melemahnya Ran di hadapan Nerissa.
Nerissa kemudian menghilangkan putaran ombak yang ada di sekitarnya lalu membawa Ran berbaring di dekat Marin.
"Apa yang terjadi padanya? kenapa ekornya berubah menjadi warna kuning?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.
"Dia baru saja melepaskan aura jahat dari dalam tubuhnya, sepertinya dia sudah berdamai dengan masa lalu dan dendam yang selama ini dia simpan," jawab suara misterius.
"Kenapa dia melakukan hal itu?" tanya Nerissa.
"Entahlah, sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan padanya, kau bisa membawanya ke dasar laut atau menyembuhkannya!"
"Jika memang dia sudah berdamai dengan masa lalu dan dendamnya, maka aku tidak punya alasan untuk membuatnya terkurung di dasar laut, setidaknya dia harus menyelamatkan Marin terlebih dahulu," ucap Nerissa lalu menaruh tangannya di kening Ran.
"Aku tidak akan menghapus ingatanmu, aku hanya akan membuat memorimu lebih banyak menyimpan kenangan indah daripada dendam karena kematian kedua orang tuamu," ucap Nerissa.
Nerissa kemudian berusaha untuk menyadarkan Ran dan tak lama kemudian Ranpun tampak mengerjap dengan ekornya yang mulai bergerak dengan perlahan.
"Sepertinya kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Nerissa.
Ran hanya terdiam dengan menatap Nerissa yang ada di hadapannya.
"Apa yang tadi kau lakukan? apa kau benar-benar sudah melepaskan aura jahat dalam tubuhmu?" tanya Nerissa.
"Kebodohanmu yang membuatku melakukan hal itu," jawab Ran.
"Apa maksudmu?" tanya Nerissa tak mengerti.
"Sebenarnya sejak pertama kali kau menemuiku aku sudah merasa bahwa kau berbeda dari mermaid yang lain, tapi aku masih meyakinkan diriku bahwa aku harus membinasakanmu, karena kau mempunyai kekuatan yang bisa jadi akan kau gunakan untuk kesenanganmu sendiri," ucap Ran menjelaskan.
"Tapi mendengar semua ceritamu membuatku berpikir bahwa kita memiliki cerita yang hampir sama, kita diharuskan takdir untuk kehilangan orang-orang yang kita cintai, bedanya adalah kau bisa menerima takdir itu sedangkan aku tidak, aku lebih memilih untuk balas dendam daripada menerima takdir itu," lanjut Ran.
"Lalu apa yang membuatmu mengeluarkan aura hitam itu dari dirimu?" tanya Nerissa.
"Karena aku berpikir kau tidak pantas untuk lenyap bersamaku, aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku dan sekarang aku akan menerima semua hukuman yang akan kau berikan padaku, aku tidak peduli jika memang aku harus mendekam di penjara dasar laut untuk selamanya."
"Aku tidak akan melakukan hal itu sekarang karena kau harus menyembuhkan Marin terlebih dahulu," ucap Nerissa yang membuat Ran segera membawa pandangannya pada Marin yang terbaring di dekatnya.
Ran kemudian mendekati Marin, menyentuh kening, wajah, tangan dan seluruh tubuh Marin sampai ke ekornya. Tak lama kemudian Marinpun tampak mengerjap lalu membuka matanya.
"Marin, akhirnya kau sadar!" ucap Nerissa yang segera memeluk Marin.
"Putri, apa kau baik-baik saja? bagaimana dengan......."
Marin menghentikan ucapannya saat dia melihat mermaid asing yang berada di dekatnya.
"Siapa dia Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Gianira, namanya Gianira, dia yang sudah membantuku untuk membuat Ran pergi," jawab Nerissa yang membuat Ran begitu terkejut.
"Benarkah? aahhh..... kau baik sekali," ucap Marin lalu memeluk Ran yang ada di dekatnya.
"Kau menyebalkan sekali Marin, kau baru sadar dan kau langsung memeluknya sebelum memelukku," ucap Nerissa dengan memanyunkan bibirnya membuat Marin segera memeluk Nerissa dengan erat.
"Aku sangat senang kau baik-baik saja Putri, aku juga senang karena akhirnya kau bisa mengalahkan Ran," ucap Marin.
"Apa kau sudah baik-baik saja sekarang Marin?" tanya Nerissa memastikan keadaan Marin.
"Tentu saja aku baik-baik saja, kau yang menyembuhkanku bukan?" balas Marin sambil berenang mengitari Nerissa.
"Gianira yang menyembuhkanmu," jawab Nerissa yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada mermaid di samping Nerissa.
"Benarkah? memangnya kau putri dari istana mana? kenapa kau bisa memiliki kekuatan seperti itu?" tanya Marin penasaran.
"Kenapa hanya aku yang pulang? bukankah kau juga harus pulang?" tanya Marin.
"Ada hal lain yang harus aku selesaikan bersama Gianira, kau pulanglah lebih dulu agar Chubasca dan Beetna tidak mengkhawatirkanku!" ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala Marin.
Marinpun pergi meninggalkan Nerissa. Sekarang hanya ada Nerissa dan Ran yang berada disana.
"Kenapa kau mengatakan hal itu padanya?" tanya Ran pada Nerissa.
"Bagiku sekarang Ran sudah tidak ada, aku sudah berhasil mengalahkannya dan sekarang yang ada di hadapanku adalah Gianira, peri laut dengan kemampuannya menyembuhkan berbagai macam penyakit mermaid di lautan," jawab Nerissa dengan tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan hukumanku? apa kau akan tetap memasukkan
ku ke dalam penjara dasar laut?"
"Tidak..... aku akan membawamu ke istana dan memperkenalkanmu pada bundaku," jawab Nerissa
"Tidak...... tidak mungkin, ratu Nagisa pasti segera meminta Morgan untuk menangkapku," ucap Ran menolak.
"Bukankah selama ini tidak pernah ada yang melihat wajahmu yang sebenarnya? bukankah aku mermaid pertama yang melihat wajahmu?" tanya Nerissa.
"Kau benar, kau memang mermaid pertama yang melihat wajahku setelah aku menjual diriku pada dunia kegelapan, kau juga mermaid pertama yang memanggilku dengan nama asliku."
"Namamu adalah Gianira dan Ran adalah sisi buruk dari dirimu sebagai mermaid penghancur yang sekarang sudah pergi darimu," ucap Nerissa.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa pergi ke istana bersamamu, aku pernah menyerang kedua orang tuamu walaupun pada akhirnya aku yang kalah, aku juga sudah banyak membuat kehancuran di Seabert, rasanya sangat memalukan jika aku harus datang ke Seabert bersamamu!"
"Aku akan memperkenalkanmu sebagai Gianira, peri laut yang akan menjadi penyembuh di istana," ucap .
"Apa itu artinya aku tidak akan mendapatkan hukuman darimu ataupun dari ratu Nagisa?"
"Tidak, aku sudah memberitahumu, kau sekarang adalah Gianira yang baik hati dan banyak menolong mermaid lain yang terluka, sedangkan Ran sudah pergi dan tidak akan pernah kembali," jawab Nerissa.
Ranpun tersenyum senang, dalam hatinya ia bersyukur karena bisa bertemu Nerissa yang akhirnya menyadarkan dirinya atas kesalahannya selama ini.
Ia bahkan sudah melupakan nama pemberian kedua orang tuanya dan lebih suka menyebut dirinya sebagai mermaid penghancur yang akan menghancurkan segala macam kekuatan yang tercium olehnya.
Namun kini ia seperti terlahir kembali dengan nama pemberian kedua orang tuanya, Gianira.
"Baiklah, aku akan ikut bersamamu dan aku akan mengabdikan diriku pada istana Seabert, aku akan mengikat perjanjian darah dengan Ratu Nagisa sebagai bukti kesetiaanku pada Seabert," ucap Gianira.
Nerissa menganggukkan kepalanya senang lalu memeluk Gianira, ia tidak menyangka mermaid yang selama ini ditakutinya sekarang berada dalam pelukannya dan akan menjadi salah salah satu mermaid yang tinggal di istana.
Nerissa dan Gianirapun berenang ke arah istana Seabert. Dalam perjalanannya, Gianira baru menyadari jika ekor Nerissa tengah terluka saat itu.
"Nerissa, ekormu terluka!" ucap Gianira.
"Tidak apa, ini hanya luka kecil," balas Nerissa namun Gianira segera menarik tangan Nerissa.
"Luka kecil jika dibiarkan akan menjadi semakin parah," ucap Gianira lalu berusaha menyembuhkan luka di ekor Nerissa.
"Tak lama kemudian luka di ekor Nerissapun tampak tertutup, Nerissa mengepakkan ekornya dengan kuat dan sudah tidak merasa sakit lagi pada ekornya."
"Waaahh..... kau benar-benar bisa menyembuhkan ekorku, aku sama sekali tidak merasakan sakit sekarang," ucap Nerissa senang.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke Seabert.
Sesampainya disana mereka disambut dengan hangat oleh para penghuni Seabert, mereka semua bersorak karena Marin sudah memberitahukan pada mereka semua bahwa putri Nerissa berhasil mengalahkan Ran dengan bantuan mermaid berekor kuning, Gianira
"Aku harus menemui Bunda terlebih dahulu," ucap Nerissa lalu berenang ke arah kamar sang Bunda.
Nerissa kemudian duduk di samping sang Bunda yang tengah terpejam saat itu dan tanpa menunggu lama Nerissa segera mengembalikan mutiara biru milik sang Bunda.
Sang Bundapun mengerjapkan matanya dan membuka matanya lalu membawa pandangannya pada Nerissa yang sudah ada di hadapannya.
"Nerissa!"
"Nerissa kembali Bunda," ucap Nerissa yang membuat Ratu Nagisa segera beranjak dan memeluk Nerissa dengan erat.
"Terima kasih sudah kembali sayang, terima kasih sudah berjuang untuk bunda dan Seabert," ucap Ratu Nagisa.
"Bagaimana keadaanmu sayang? apa kau baik-baik saja? apa Ran melukaimu?" tanya Ratu Nagisa.
"Nerissa baik baik saja bunda dan mulai sekarang Bunda tidak perlu mengkhawatirkan kedatangan Ran lagi karena Nerissa pastikan dan tidak akan pernah muncul lagi," ucap Nerissa.
"Apa yang kau lakukan padanya sayang? apa kau memenjarakannya di dasar laut?" tanya Ratu Nagisa yang dibalas gelengan kepala oleh Nerissa.
"Biarkan ini menjadi rahasia Nerissa dan Ran, yang terpenting sekarang keadaan Seabert baik-baik saja tanpa ancaman dari Ran, kita juga tidak perlu khawatir untuk menggunakan kekuatan kita disini bunda karena Ran sudah tidak akan mengganggu kita lagi," ucap Nerissa.
"Tapi sebagai putri istana Seabert kau harus menggunakan kekuatanmu dengan bijaksana sayang!" ucap Ratu Nagisa.
"Iya Bunda, Nerissa mengerti," balas Nerissa.
Ratu Nagisa dan Nerissa kemudian keluar dari kamar untuk menemui semua penghuni Seabert yang masih berkumpul di istana.
Ratu Nagisa memberitahu pada mereka semua bahwa ancaman Ran tidak akan pernah terjadi lagi karena Nerissa sudah berhasil melumpuhkan dan memastikan bahwa Ran tidak akan pernah kembali lagi.
Semuanyapun bersorak senang dan berterima kasih kepada Nerissa. Di antara riuh sorakan mermaid yang ada disana ada Gianira yang menatap Nerissa dengan penuh senyum.
"Sepertinya ada yang ingin bertemu dengan Bunda, bolehkah dia menemui Bunda?" ucap Nerissa sekaligus bertanya pada sang Bunda.
"Tentu saja boleh, bawa dia kemari," jawab Ratu Nagisa.
Nerissapun menghampiri Gianira dan membawa Gianira menghadap sang Bunda.
"Namanya Gianira Bunda, dia teman Nerissa."
"Gianira? peri dari laut? apa yang kau lakukan disini?" tanya Ratu Nagisa yang membuat Nerissa dan Gianira begitu terkejut.
"Apa Bunda mengenalnya?" tanya Nerissa pada sang Bunda.
"Tentu saja bunda mengenalnya, kenapa kau membawanya ke hadapan Bunda Nerissa dan kenapa kau berteman dengannya?" tanya Ratu Nagisa dengan menatap tajam Gianira yang ada di hadapannya.