Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Sebuah Dongeng



Alvin masih berada di rumah Daniel setelah meninggalkan rumah Nerissa. Sama seperti dirinya, Daniel juga memiliki banyak pertanyaan yang ia simpan untuk Nerissa.


Tidak hanya cantik, tapi Nerissa juga mempunyai banyak hal yang patut di pertanyakan seperti ucapan Daniel.


Namun Alvin tidak ambil pusing, ia akan menyimpan semua pertanyaan itu dalam kepalanya selama Nerissa belum menceritakan apapun padanya.


"Aku terkadang merasa aneh pada Nerissa dan juga Marin, tapi aku tidak pernah menanyakan apapun pada mereka karena aku takut akan menyinggung perasaan mereka," ucap Daniel ada Alvin .


"Apa itu sangat mengganggu pikiranmu?" balas Alvin bertanya.


"Aku hanya tidak ingin memulai suatu hubungan yang aku sendiri tidak bisa memastikan apakah akan terus berlanjut atau tidak," jawab Daniel.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti Daniel, jadi jalani saja apa yang ada di hadapanmu sekarang!" ucap Alvin memberi nasihat.


Daniel hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapannya Alvin.


"Sebenarnya apa yang terjadi semalam? kenapa kau bisa bersama Nerissa dan kenapa Nerissa bisa tenggelam di kolam renang?"


"Aku juga tidak tahu kenapa dia bisa tenggelam di kolam renang, aku sedang mencari Delia saat itu dan aku tidak sengaja menemukan Nerissa yang sudah tenggelam di kolam renang," jawab Alvin menjelaskan


"Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Delia?" tanya Daniel curiga.


"Entahlah, tapi aku ragu, apakah Delia bisa melakukan hal sejauh itu pada Nerissa?"


"Kau tahu Delia sangat menyukaimu dari dulu tetapi kau hanya menganggapnya sebatas adik dan sekarang ada Nerissa yang berada dekat denganmu, jadi mungkin dia cemburu pada Nerissa karena lebih dekat denganmu dibanding dirinya!"


"Apa kau juga cemburu?" tanya Alvin yang membuat Daniel tersenyum tipis.


"Aku memang sangat menyukainya tapi aku masih ragu apakah aku mencintainya atau hanya sebatas suka, kalau kau bertanya apakah aku cemburu, iya aku cemburu karena yang ada di sampingnya saat itu adalah dirimu bukan aku!" jawab Daniel.


"Maafkan aku," ucap Alvin


"Tidak, justru aku berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan Nerissa," balas Daniel.


"Tapi sebenarnya apa yang terjadi padanya? kenapa tubuhnya tiba-tiba menjadi sedingin es tadi?" lanjut Daniel bertanya.


"Aku juga tidak tahu pasti, tapi dia terlihat sangat pucat dan lemah saat tubuhnya menjadi sedingin es, dia sengaja menahanku untuk tidak keluar dari kamarnya karena dia merasa hangat saat aku menggenggam tangannya, jadi aku harap kau tidak salah paham karena hal itu!"


"Apa dia hanya merasakan kehangatan dari tanganmu?" tanya Daniel.


"Aku tidak tahu pasti Daniel, tapi itulah yang dia katakan padaku," jawab Alvin.


"Aku tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya jika Nerissa ternyata menyukaimu, aku rasa hatiku akan terasa sangat sakit," ucap Daniel dengan tersenyum tipis.


"Jika kau terus berusaha untuk mendekatinya aku yakin dia akan menyukaimu," balas Alvin.


"Aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena seorang perempuan Daniel, persahabatan kita lebih berarti dibanding apapun!" lanjut Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.


"Aku pulang dulu, kau bisa menemui Nerissa setelah dia terbangun dari tidurnya," ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya.


Alvin berjalan meninggalkan Daniel kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Daniel.


Alvin mengendarai mobilnya ke arah rumahnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan kantor yang sudah menunggunyanya.


**


Waktu berlalu, matahari mulai tampak turun kembali bersiap ke peraduannya.


Saat Marin sedang bersiap-siap untuk menutup toko bunganya Nerissa tiba-tiba datang dan membantunya.


"Aku bisa melakukannya sendiri Putri, kau beristirahatlah!" ucap Marin pada Nerissa.


"Aku sudah baik-baik saja Marin, jangan khawatir!" balas Nerissa.


Setelah selesai merapikan toko bunga dan menutupnya Marin dan Nerissa pun kembali pulang.


Mereka duduk di kursi sambil menonton TV untuk melepas penat sejenak.


"Bagaimana keadaanmu Putri? apa kau baik-baik saja?" tanya marine pada Nerissa.


"Aku baik-baik saja Marin, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku!" jawab Nerissa.


"Apa itu?" tanya Marin.


"Ala kau tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku? aku tiba-tiba merasa kedinginan, detak jantungku terasa sangat lemah dan perlahan aku kehilangan seluruh tenagaku!"


"Aku sebenarnya tidak yakin apa yang terjadi padamu Putri, tapi aku pernah membaca sebuah dongeng dan kejadian dalam dongeng itu sangat mirip dengan apa yang terjadi padamu!" jawab Marin.


"Tolong ceritakan padaku Marin, apa yang sudah kau ketahui!" pinta Nerissa.


Marin kemudian menjelaskan tentang dongeng seekor mermaid yang pergi ke daratan untuk mencari kekasihnya.


Saat berada di daratan mermaid itu tenggelam dan segera ditolong oleh kekasihnya namun tubuhnya menjadi sangat dingin dan perlahan jantungnya membeku setelah dia tenggelam di dalam air.


Pada akhirnya merrmaid itu itu mati membeku sebagai manusia di daratan karena laki-laki yang ia pikir adalah cinta sejatinya ternyata hanyalah laki-laki yang penuh dengan kebohongan.


Di akhir cerita dari kisah mermaid yang memilukan itu dijelaskan bahwa mermaid yang sudah menukar ekornya dengan kaki akan kehilangan kekuatannya untuk berenang dan bernafas di dalam air.


Mermaid akan kedinginan sampai membuat jantungnya membeku dan perlahan meninggal karena tidak dapat bernafas.


Satu-satunya yang bisa menolong mermaid saat mermaid dalam keadaan kedinginan adalah sentuhan hangat cinta sejatinya.


Apabila rasa dingin itu sudah menyentuh jantung Mermaid maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan ciuman dari cinta sejati sang mermaid.


Namun Marin tidak menjelaskan bagian terakhir kisah mermaid yang memilukan itu pada Nerissa.


"Jadi apa yang ada di dongeng itu benar Marin? jika kita sudah memiliki kaki maka kita akan kehilangan kemampuan berenang dan bernafas di dalam air, itu kenapa aku semalam tenggelam di kolam renang?"


"Aku rasa begitu, walaupun aku meragukannya tapi itulah yang terjadi padamu Putri," ucap Marin.


"Lalu bagaimana dengan Alvin? kenapa aku merasa sangat hangat saat dia menggenggam tanganku? detak jantungku yang melemah juga kembali normal secara tiba-tiba!"


"Mmmm..... tentang itu aku juga tidak tahu Putri tapi yang pasti kau harus berterima kasih pada Alvin karena dia sudah menjagamu lama di sini!"


"Kau benar aku akan menghubunginya nanti," balas Nerissa.


"Dan satu lagi Putri, kau harus berjanji padaku untuk menjaga dirimu dengan baik, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi padamu!"


Nerissa menganggukan kepalanya dengan tersenyum pada Marin.


"Tapi aku masih penasaran apa yang sebenarnya membuatmu tenggelam di kolam renang kemarin malam?" tanya Marin yang sudah memendam lama pertanyaan itu.


Nerissa diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Marin, ia ragu apakah ia harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi atau tidak.


"Aku tidak sengaja terpeleset kemarin, itu saja," jawab Nerissa berbohong


Pada akhirnya Nerissa tidak menceritakan pada Marin apa yang sebenarnya terjadi, karena ia tidak ingin Marin semakin membenci Cordelia.


**


Ia menyambar kunci mobilnya lalu segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa.


Sesampainya disana ia segera keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Nerissa beberapa kali sebelum akhirnya terbuka.


"Aku ingin bertemu Nerissa," ucap Daniel pada Marin yang membuka pintu.


"Nasuklah," balas Marin kemudian berjalan masuk diikuti dengan Daniel.


Marin kemudian memberitahu Nerissa jika Daniel menunggunya di ruang tamu. Nerissapun keluar dari kamarnya untuk menemui Daniel.


"Apa aku mengganggu istirahatmu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Tidak, ada apa?" jawab Nerissa sekaligus bertanya.


"Bagaimana keadaanmu? apa kau sudah baik-baik saja?"


"Aku sudah baik-baik saja," jawab Nerissa yang masih sedikit kesal mengingat sikap Daniel padanya saat mereka berada di acara ulang tahun Cordelia.


"Aku kesini karena ingin meminta maaf padamu Nerissa, bukan hanya tentang mutiara itu tapi juga karena aku sempat mengabaikanmu kemarin, kau tahu aku tidak bermaksud seperti itu bukan? aku benar-benar menyesal dan aku minta maaf," ucap Daniel bersungguh-sungguh.


"Apa selama ini kau juga menilaiku sama seperti Delia menilaiku?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Tidak, bagiku kau adalah gadis yang sederhana dan baik hati," jawab Daniel.


"Lalu kenapa kau beranggapan sama seperti Delia? kau menganggap bahwa mutiara yang kubawa kemarin adalah mutiara palsu, apa karena aku hanya seorang penjual bunga?"


"Tidak, bukan begitu, tolong jangan salah paham padaku Nerissa, aku hanya tidak ingin Delia mempermalukanmu di depan teman-temannya!"


"Tapi ucapanmu itu seolah membenarkan ucapan Delia, Daniel!"


"Aku minta maaf jika apa yang aku ucapkan menyakiti hatimu, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu," balas Daniel.


Nerissa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Sejak pertama kali ia bertemu Daniel ia memang berpikir jika Daniel adalah laki-laki yang baik karena Daniel menolongnya bahkan sebelum mereka saling mengenal.


Semakin lama ia mengenal Daniel ia semakin yakin jika Daniel memang laki-laki yang baik namun apa yang terjadi saat pesta ulang tahun Cordelia kemarin membuat Nerissa berpikir lain tentang Daniel.


"Aku benar-benar minta maaf padamu Nerissa, apa yang kau pikirkan tentangku sama sekali tidak benar, siapapun dirimu seperti apapun dirimu kau tetaplah nerissa, gadis sederhana yang baik yang pernah aku kenal," ucap Daniel.


"Bagaimana kalau ternyata apa yang kau pikirkan tentangku itu salah, apa kau akan kecewa padaku atau bahkan akan menjauhiku?" balas Nerissa bertanya


"Aku tidak akan pernah menjauhimu, bagaimanapun dirimu kau tetaplah Nerissa yang aku kenal," jawab Daniel.


"Baiklah, lupakan kejadian kemarin malam, aku tidak ingin membahasnya lagi," ucap Nerissa.


"Apa kau sudah memaafkanku sekarang?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.


"Terima kasih Nerissa, aku janji akan lebih menjaga ucapanku agar tidak menyakiti perasaanmu," ucap Daniel dengan tersenyum senang karena Nerissa sudah memaafkannya.


"Kalau aku boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi padamu kemarin, kenapa kau bisa tenggelam di dalam kolam renang?" lanjut Daniel bertanya.


"Aku..... aku tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke kolam renang," jawab Nerissa beralasan.


"Apa kau yakin tidak ada seseorang yang mendorongmu kemarin?"


"Tidak, aku sendirian di sana," jawab Nerissa.


Tak lama kemudian Marin menghampiri Nerissa dan berpamitan pada Nerissa untuk membeli perlengkapan buket bunga.


"Apa kau mau aku mengantarmu?" tanya Daniel pada Marin.


"Tidak perlu," jawab Marin ketus kemudian keluar begitu saja dari rumah.


Meski Nerissa sudah memaafkan Daniel tetapi Marin masih kesal karena Daniel tidak bisa menjaga Nerissa dengan baik.


"Sepertinya dia masih marah padaku," ucap Daniel pada Nerissa.


Nerissa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Daniel.


**


Di bawah taburan bintang dan cahaya bulan malam Marin berjalan seorang diri dengan membawa perlengkapan buket bunga dalam satu kantong besar.


Saat sampai di persimpangan jalan raya, Marin tiba-tiba terdiam saat dia melihat seseorang yang berada tak jauh darinya.


Dia melihat seorang laki-laki paruh baya tengah berjalan ke arahnya. Setelah ia yakin siapa yang dia lihat saat itu, ia pun membawa kakinya mundur beberapa langkah, membuatnya tanpa sengaja menabrak seseorang dibelakangnya.


"Maaf, maafkan aku," ucap Marin sambil terburu-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam kantong belanjanya.


Marin kemudian berlari ke arah gang sempit yang berada tak jauh dari persimpangan jalan raya itu.


Marin berlari kencang tanpa berani menoleh ke belakang. Ia hanya berharap laki-laki yang dilihatnya tadi tidak menyadari keberadaannya.


Karena terlalu takut dan gugup Marin masih berlari kencang saat dia keluar dari gang sempit menuju ke jalan raya.


Silau lampu mobil membuat Marin menghentikan langkahnya tiba-tiba, menyadarkannya jika ia tengah berada di jalan raya saat itu.


Beruntung mobil itu berhenti tepat pada waktunya sehingga tidak menabrak Marin. Namun karena terkejut, takut dan gugup Marin terjatuh bersimpuh di jalan raya.


Si pemilik mobil segera turun dari mobilnya untuk melihat keadaan gadis yang terduduk di depan mobilnya.


"Marin, apa kau baik-baik saja? apa kau terluka?" tanya Daniel sambil membantu Marin untuk memasukkan kembali barang-barang Marin ke kantong belanja.


Marin tidak menjawab pertanyaan Daniel, ia sangat gugup dan takut jika seseorang yang dilihatnya tadi melihatnya dan mengikutinya.


"Apa yang terjadi padamu Marin? kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Daniel yang menyadari sikap Marin yang sedang ketakutan saat itu.


Marin tidak menjawab pertanyaan Daniel, ia segera berdiri saat barang-barangnya sudah masuk ke dalam kantong belanjanya.


Namun ternyata betisnya terluka dan berdarah saat ia terjatuh. Tanpa banyak bertanya lagi Daniel membantu Marin untuk berjalan dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Daniel segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Dia tidak segera membawa Marin pulang ke rumah, melainkan menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket.


Daniel membeli plester luka dan minuman lalu memberikannya pada Marin yang menunggunya di depan mini market.


"Minumlah dan tenangkan dirimu!" ucap Daniel samb memberikan satu botol minuman pada Marin.


Marin kemudian meminumnya sampai habis tak bersisa.


"Tenanglah Marin, kau aman di sini, tidak akan ada yang menyakitimu," ucap Daniel berusaha menenangkan Marin.


"Aku akan mengobati kakimu mungkin ini akan sedikit sakit," ucap Daniel sambil berjongkok untuk membersihkan luka di betis Marin.


Dengan perlahan dan hati-hati Daniel menempelkan plester pada luka di betis Marin. Setelah Marin sedikit lebih tenang, Daniel mengajak Marin masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang.