
Daniel masih bersama Marin malam itu, masih di tempat yang sama mereka duduk berdua di tepi jalan raya di depan rumah Marin.
Daniel terdiam mendengar dengan baik ucapan Marin padanya, tentang Alvin dan Nerissa yang sudah saling mengenal sebelum Daniel mengenal Nerissa.
"Kau harus tahu Daniel, selama ini Alvin sengaja menyembunyikan hal itu tidak hanya darimu tetapi juga dari Putri dan aku, Alvin memutuskan untuk menjauhi Putri karena dia tidak ingin membuatmu salah paham, karena dia tidak ingin terjadi pertengkaran dalam persahabatan kalian berdua!" ucap Marin pada Daniel.
"Hal itu membuat Putri sangat marah pada Alvin, mungkin karena Alvin sudah benar-benar jatuh cinta pada Putri akhirnya dia berusaha untuk meminta maaf pada Putri dan kembali berteman dengan Putri, tetapi Alvin berkata jika ia akan menjauhi Putri saat kau dan Putri sudah benar-benar menjalin hubungan yang serius, apa sikap Alvin yang seperti itu masih terlihat brengsek di matamu?" lanjut Marin.
Daniel masih terdiam, ia berusaha mencerna dengan baik setiap kata yang Marin ucapkan padanya.
"Alvin sudah berniat untuk menjauhi Putri, tetapi Putri yang mengajaknya berteman Daniel, Putri tidak ingin hubungannya dengan Alvin ataupun denganmu menjauh, jika kau mencari seseorang yang bersalah disini maka salahkan Putri yang hadir di antara persahabatan kalian berdua!" ucap Marin.
"Tidak Marin, Nerissa sama sekali tidak bersalah," balas Daniel.
"Jika begitu apa Alvin yang bersalah menurutmu? apa dia salah karena berusaha untuk menjaga perasaanmu? apa dia salah karena dia menerima ajakan Putri untuk berteman?"
Daniel menggelengkan kepalanya pelan menjawab pertanyaan Marin. Daniel kemudian tersenyum tipis dengan menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Waaahhh semua kenyataan yang aku dengar hari ini benar-benar membuatku terkejut," ucap Daniel.
"Begitulah kenyataan Daniel, terkadang tidak sesuai dengan harapan kita, tetapi apapun kenyataan itu harus kita terima daripada selamanya kita hidup dalam kebohongan!" balas Marin yang mengikuti Daniel menatap ke arah hamparan bintang dalam gelap malam.
"Mungkin benar apa yang mama ucapkan padaku, aku tidak bisa memaksakan hati yang memang tidak tercipta untukku!" ucap Daniel yang membuat Marin segera membawa pandangannya pada Daniel.
"Apa kau sudah menceritakan tentang Putri pada mamamu?" tanya Marin.
"Tidak, ini bukan tentang Nerissa dan aku, tapi tentang mama dan papa, rasanya sangat sakit saat mengetahui kenyataan yang tidak ingin aku dengar selama ini!" jawab Daniel dengan kedua mata yang berkaca-kaca mengingat semua cerita sang mama padanya.
"Apa kau mau bercerita padaku?" tanya Marin ragu, ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan masalah keluarga Daniel, tetapi ia tidak ingin Daniel menanggung sendiri beban pikiran dalam kepalanya.
"Mungkin ini adalah malam terburuk dalam hidupku Marin, malam dimana aku mengetahui semua kenyataan yang benar-benar membuatku terkejut, tidak hanya tentang hubungan Alvin dan Nerissa, tapi juga tentang hubungan mama dan papa yang selama ini disembunyikan dariku!" ucap Daniel.
Marin hanya diam membiarkan Daniel melanjutkan ceritanya.
"Sepertinya keluargaku akan hancur Marin, sepertinya mama dan papa akan berpisah," ucap Daniel dengan kedua mata yang sudah dipenuhi oleh genangan air mata.
"Apa tidak ada jalan keluar yang bisa diusahakan selain perpisahan?" tanya Marin.
"Selama ini dalam pernikahan mereka tidak pernah ada cinta yang tulus dari papa, hanya mama yang mencintai papa tanpa mama pernah mendapatkan cinta yang tulus dari papa dan selama itu juga mama terus bertahan dengan harapan lambat laun papa akan benar-benar memberikan cintanya untuk mama, tetapi aku akan meminta mama untuk tetap bertahan dan bersabar lebih lama, di sisi lain aku akan meminta papa untuk membuka sedikit hatinya untuk mama agar papa bisa melihat seberapa besar papa mencintai mama."
"Pasti tidak mudah bagi mamamu untuk bertahan selama ini Daniel, apa kau yakin meminta mamamu untuk tetap bertahan dengan situasi seperti itu?" tanya Marin yang membuat Daniel segera membawa pandangannya pada Marin.
"Apa aku harus membiarkan mama menyerah? apa aku harus membiarkan keluargaku hancur? tidak Marin, aku tidak ingin hal itu terjadi!"
"Tidak ada seorangpun yang ingin keluarganya hancur Daniel, termasuk mama dan papamu, tetapi mungkin ini batas dari kesabaran dan usaha mamamu selama ini, apa kau tahu seberapa sakitnya luka yang selama ini dirasakan oleh mamamu? aku tidak tahu pasti tapi bisa jadi kesabaran mamamu selama ini selalu didampingi dengan rasa sakit yang mengoyak hatinya, mungkin mamamu bertanya sampai kapan dia harus bertahan dengan luka yang menyakiti hatinya!"
Daniel terdiam memikirkan ucapan Marin, ia tahu sang mama sudah lama bersabar menghadapi sang papa. Ia juga tahu sang mama menyimpan luka dalam hatinya tetapi dengan bodohnya ia meminta sang mama untuk bertahan lebih lama yang artinya meminta sang mama untuk terus menahan luka dalam hatinya.
"Perpisahan memang hal yang sangat menyakitkan, tetapi bertahan dengan menahan luka dalam hati itu juga sangat menyakitkan bukan?" tanya Marin pada Daniel.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Marin? aku benar-benar tidak ingin mama dan papa berpisah, tetapi aku juga tidak ingin mama semakin lama terluka!"
"Aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan Daniel, kau yang lebih memahami situasinya, kau yang ada di antara mereka berdua dan kau yang sudah lama tinggal dengan mereka berdua, aku yakin kau lebih tahu apa yang harus kau lakukan!" balas Marin.
Daniel menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan membawa pandangannya pada Marin. Entah kenapa gadis di hadapannya malam itu terlihat begitu cantik.
"Tentang Alvin dan Putri, aku harap kau bisa menyelesaikannya dengan dewasa, jangan biarkan persahabatanmu berakhir begitu saja Daniel!" ucap Marin pada Daniel.
Daniel hanya diam tanpa mengucapkan apapun. Ia masih menatap gadis yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? apa ada yang salah denganku?" tanya Marin yang merasa Daniel memperhatikannya.
"Kenapa malam ini kau terlihat sangat cantik?" tanya Daniel yang membuat Marin tersenyum tersipu malu.
"Kau benar-benar mabuk Daniel, sebaiknya kau pulang ke rumahmu!" ucap Marin sambil beranjak dari duduknya.
Danielpun ikut beranjak dari duduknya, namun belum sampai ia berdiri sepenuhnya ia tiba-tiba terjatuh.
Marinpun segera membantu Daniel untuk kembali duduk.
"Sepertinya kau tidak bisa mengendarai mobilmu, aku juga tidak mungkin membiarkanmu menginap disini malam ini!" ucap Marin pada Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya dengan memukul-mukul kepalanya yang terasa semakin pusing.
"Berhenti memukul kepalamu Daniel, aku akan meminta bantuan seseorang untuk menjemputmu!"
"Berhenti marah padaku Marin, tapi kau terlihat sangat cantik jika sedang seperti ini, aku sangat menyukainya....." ucap Daniel sambil tersenyum dengan membawa pandangannya pada Marin.
"Sepertinya kau tidak hanya mabuk Daniel, kau sudah gila!" ucap Marin sambil berusaha mengatur nafasnya karena tiba-tiba dadanya kembali berdebar saat Daniel mengatakan hal itu padanya.
Daniel hanya tersenyum menatap Marin dengan kedua matanya yang semakin sayu. Daniel lalu menjatuhkan badannya pada Marin yang duduk di hadapannya, ia benar-benar sudah kehilangan tenaganya saat itu.
"Kenapa kok bisa datang kesini saat mabuk? kau benar-benar menyusahkan!"
Marin kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya. Marin menghubungi Alvin, memberitahu Alvin jika Daniel sedang mabuk berat dan berada di depan rumahnya saat itu.
Tanpa banyak bertanya Alvinpun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah Marin untuk menjemput Daniel
Sesampainya di rumah Marin, Alvin segera menghampiri Daniel dan Marin yang duduk di tepi jalan.
"Akhirnya kau datang Alvin, cepat bawa dia pergi dari sini sebelum Putri melihatnya!" ucap Marin pada Alvin.
"Terima kasih sudah menjaganya Marin, apa kau bisa membiarkan mobilnya berada disini?"
"Baiklah, biarkan mobilnya disini dan bawa dia pergi dari sini!"
Alvin menganggukkan kepalanya kemudian membawa Daniel masuk ke dalam mobilnya. Alvinpun mengendarai mobilnya ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah, Alvin segera membawa Daniel keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
"Kau sahabatku yang paling brengsek Alvin......" ucap Daniel dengan langkahnya yang sangat lemah.
"Kau benar, memang tidak ada sahabat yang sebrengsek aku!" balas Alvin lalu menjatuhkan Daniel di ranjangnya.
"Kau benar, memang tidak ada sahabat yang sebodoh aku!" balas Alvin kemudian menutup pintu kamar.
Alvin menggelengkan kepalanya pelan sambil berjalan ke arah kamarnya.
Saat Alvin akan merebahkan badannya, ia melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Banyak pesan dan panggilan dari Nerissa yang ia abaikan saat itu.
Iya sengaja melakukan hal itu meski sebenarnya ia tidak ingin melakukannya.
"mungkin ini yang terbaik untuk semuanya Nerissa, maafkan aku!" ucap Alvin dalam hati kemudian merebahkan badannya dan memejamkan matanya.
Dalam tidurnya Alvin kembali bermimpi berjumpa dengan perempuan dengan ekor berwarna merah muda, namun tiba-tiba ombak besar seolah menyapu dirinya membawanya masuk ke dalam golongan ombak.
Dengan nafas yang terengah-engah dan keringat dingin yang mengucur di keningnya Alvin terbangun dari tidurnya.
Alvin melihat ke sekelilingnya dan berusaha mengatur nafasnya lalu meminum air putih yang ada di mejanya.
"Aku lupa belum meminum obat tidurku!" ucap Alvin kemudian membuka laci mejanya dan mengambil obat tidur yang diresepkan oleh dokter Jessica.
Setelah meminum obat tidur Alvinpun kembali memejamkan matanya dan tertidur sampai pagi.
**
Waktu berlalu hari sudah pagi, Daniel mengerjapkan matanya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Saat membuka matanya Daniel mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan ia segera beranjak dari tidurnya saat ia menyadari bahwa ia sedang berada di rumah Alvin.
"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Daniel pada dirinya sendiri.
Saat Daniel akan beranjak dari ranjangnya, ia merasa kepalanya benar-benar pusing saat itu, ia pun kembali duduk di tepi ranjang dengan memijat pelan kepalanya.
Daniel diam beberapa saat, ia berusaha menggali ingatannya tentang apa yang terjadi semalam.
"Apa aku semalaman menemui Marin setelah pulang dari klub?" tanya Daniel pada dirinya sendiri saat sekilas ingatannya tentang Marin memutar di kepalanya.
"Aaaahhhh...... bodoh sekali..... kenapa aku pergi kesana!" ucap Daniel dengan memukul-mukul kepalanya saat ia sudah mengingat semua yang terjadi malam itu, saat dirinya sedang bersama Marin.
Tooookkkk tooookkk tooookkk
"Daniel, apa kau sudah bangun?" tanya Alvin dari luar pintu kamar.
"Hmmmm......" jawab Daniel berdehem tanpa membuka pintu.
"Cepat keluar, bibi sudah menyiapkan sarapan untukmu!" ucap Alvin.
Daniel hanya diam tanpa mengucapkan apapun. Ia mengingat dengan jelas semua ucapan Marin tentang Alvin.
"itu adalah kenyataan yang sebenarnya Daniel, Alvin yang lebih dulu bertemu Putri, Alvin yang dulu mengenal Putri dan bisa jadi Alvin yang lebih dulu jatuh cinta pada Putri, tetapi Alvin berpura-pura tidak mengenal Putri karena Alvin tahu kau menyukai Putri, kau pasti ingat bukan pertemuan mereka yang pertama di hadapanmu? Alvin berkata jika dia tidak mengenal Putri tetapi saat itu dia berbohong demi menjaga perasaanmu Daniel!"
Daniel kembali memijat kepalanya yang terasa pusing. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya saat ia mengetahui apa yang Alvin sembunyikan darinya.
"dia yang pertama kali bertemu Nerissa, apa dia juga menyukai Nerissa sejak saat itu? kau memang bodoh Alvin, kenapa kau melakukan hal itu hanya untukku!" ucap Daniel dalam hati kemudian beranjak dari duduknya.
Daniel berjalan keluar dari kamar ke arah meja makan sambil mengedarkan pandangannya mencari Alvin.
Namun sampai Daniel duduk di depan meja makan, Daniel tidak melihat Alvin.
"Alvin di mana Bi?" tanya Daniel pada bi Sita yang menyiapkan minuman untuk Daniel.
"Tuan Alvin baru saja pergi Den," jawab bibi.
"Tanpa sarapan?" tanya Daniel.
"Iya, sepertinya Tuan Alvin sedang terburu-buru jadi tidak sempat sarapan," jawab bibi.
"Oohhh iya.... sepertinya dia menghadiri pertemuan penting di luar kota!" ucap Daniel.
Setelah Daniel selesai sarapan, ia meminjam telepon di rumah Alvin untuk menghubungi Marin.
"Halo Marin, ini aku Daniel, apa mobilku ada di rumahmu?" tanya Daniel saat Marin sudah menerima panggilannya.
"Iya mobilmu ada disini," jawab Marin.
"Apa Nerisaa sudah keluar mengantar buket bunga?"
"Sudah, Putri baru saja pergi, kenapa?"
"Aku akan mengambil mobilku sekarang sebelum Nerissa kembali, aku tidak ingin dia melihatku yang berantakan seperti ini!"
"Baiklah, cepatlah datang sebelum Putri kembali!"
"Oke!"
Daniel kemudian meninggalkan rumah Alvin dengan menggunakan taksi untuk pergi ke rumah Marin.
Sesampainya disana sudah ada Marin yang menunggunya di depan toko bunga.
"Ini kunci mobilmu, Alvin yang memberikannya padaku!" ucap Marin sambil memberikan kunci mobil milik Daniel.
"Terima kasih Marin," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Marin.
Marin kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam toko bunga, namun Daniel tiba-tiba menahan tangan Marin membuat Marin kembali berbalik menghadap ke arah Daniel.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Marin!" ucap Daniel pada Marin dengan raut wajah serius.
"Lebih baik kau pulang dulu dan beristirahatlah, kau tidak ingin Putri melihatmu yang berantakan seperti ini bukan?"
"Aahh iya kau benar, aku harus pulang sekarang, terima kasih Marin, aku akan menghubungimu lagi nanti!" ucap Daniel kemudian berjalan ke arah mobilnya lalu mengendarainya meninggalkan rumah Marin.
"semoga masalahmu cepat selesai Daniel dan tidak ada pertengkaran antara kau dan Alvin lagi!" ucap Marin dalam hati kemudian kembali masuk ke dalam toko bunganya saat mobil Daniel semakin jauh tak terlihat.