
Marin duduk di bangku yang ada di dekat taman rumah sakit untuk menunggu Nerissa. Tak lama kemudian Nerissa datang dan duduk di samping Marin.
"Bagaimana Putri? apa keadaan Alvin sudah membaik?" tanya Marin pada Nerissa.
"Aku belum bisa melihat keadaannya karena saat aku akan kembali ke ruangannya sudah ada Daniel yang berada disana," jawab Nerissa.
"Aahh iya, aku berpapasan dengannya tadi," ucap Marin.
"Benarkah? dia tidak mengenalimu bukan?" tanya Nerissa.
"Tentu saja tidak, dia bahkan tidak menoleh padaku sama sekali, kita benar-benar menjadi orang asing saat ini," jawab Marin.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nerissa sambil merangkul tangannya di pundak Marin.
"Tentu aku baik-baik saja Putri, aku yakin Daniel akan mendapatkan perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku, perempuan yang bisa menemaninya sepanjang hidupnya," jawab Marin dengan tersenyum meski hatinya sedang bersedih saat itu.
"Kau tidak keberatan bukan jika kita berada disini sampai aku bisa menemui Alvin? aku hanya ingin memastikan bahwa dia sudah sadar dari komanya."
"Nikmati waktumu disini selama yang kau mau Putri, aku juga masih merindukan kaki-kakiku yang lucu ini," jawab Marin sambil menggerakkan kedua kakinya.
Nerissa hanya terkekeh mendengar jawaban Marin.
"Putri, apa setelah ini kita tidak akan kembali ke daratan lagi? apa setelah kau memastikan bahwa Alvin sudah sadar kita akan benar-benar melupakan semua yang sudah terjadi di daratan?" tanya Marin yang membuat raut wajah Nerissa seketika berubah.
"Kita sudah tidak punya alasan untuk kembali lagi kesini, lagi pula gelang mutiara ini akan diminta lagi oleh Bunda setelah kita kembali ke Seabert," jawab Nerissa dengan menundukkan kepalanya.
"Jika bisa memilih, apa kau ingin tetap berada disini Putri?" tanya Marin.
"Di satu sisi, aku memang ingin berada disini, aku ingin mengulang kembali semua kebahagiaan yang pernah aku rasakan disini, terutama saat aku menghabiskan waktuku bersama Alvin, tetapi di sisi lain aku tahu bahwa kebahagiaan itu hanyalah kebahagiaan semu yang tidak nyata karena pada kenyataannya aku adalah mermaid yang seharusnya tinggal di lautan," jawab Nerissa.
"Meskipun itu hanya kebahagiaan semu, tapi aku yakin kebahagiaan itu tidak akan pernah hilang dari memorimu bukan?"
"Tentu saja Marin, kau tahu bagaimana aku sangat mencintai Alvin, dia laki-laki pertama yang sudah membuatku jatuh cinta, aku bahkan sudah menyukainya sejak aku pertama kali melihatnya, bahkan sebelum aku mengenalnya," balas Nerissa.
"Setidaknya aku akan menyimpannya sebagai kenangan terindah dalam hidupku walaupun tidak mungkin kenangan itu akan terulang lagi," lanjut Nerissa.
Marin hanya diam mendengarkan ucapan Nerissa, ia kemudian menggenggam tangan Nerissa, berusaha menguatkan satu sama lain tentang takdir hidup yang harus mereka jalani meskipun tidak mereka inginkan.
"Bagaimana denganmu Marin? apa kau juga ingin tetap berada disini?" tanya Nerissa pada Marin.
"Mungkin akan lebih baik jika aku tidak mengenal Daniel, dengan begitu aku tidak akan merasa kehilangan dan merasa sedih seperti ini, dengan begitu aku bisa dengan mudah melupakan semua kejadian yang sudah terjadi selama aku tinggal disini, tapi pada kenyataannya aku mengenalnya dan bahkan jatuh cinta padanya, membuatku ingin tetap berada disini walaupun aku tahu takdir tidak mengizinkannya," jawab Marin.
Di tempat lain, Daniel begitu senang karena Alvin sudah sadar dari komanya. Dokter menjelaskan bahwa apa yang terjadi pada Alvin adalah sebuah keajaiban mengingat bagaimana kondisi Alvin yang sebelumnya dan tiba-tiba saja Alvin tersadar dari komanya dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Meskipun dia terlihat sehat, tapi dia harus tetap mendapat perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan keadaannya," ucap dokter pada Daniel sebelum keluar dari ruangan Alvin.
"Baik dok, tolong lakukan yang terbaik untuk teman saya," balas Daniel.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuknya, sekarang kami akan menyiapkan pemeriksaan lanjutan untuk memeriksa keadaannya secara menyeluruh," ucap dokter yang dibahas anggukan kepala oleh Daniel.
Alvin kemudian dipindahkan ke ruangan lain. Setelah beberapa lama menunggu, dokterpun menjelaskan pada Daniel bahwa keadaan Alvin sudah membaik, namun ia masih harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sampai tenaganya kembali pulih setelah dia cukup lama terbaring di ranjang rumah sakit.
Alvin kemudian dipindahkan ke ruangan VIP agar Alvin bisa lebih nyaman.
"Terima kasih sudah bertahan Alvin, aku senang bisa melihatmu terlepas dari semua alat medis di tubuhmu," ucap Daniel yang sudah duduk di samping ranjang Alvin.
"Apa yang sudah terjadi Daniel? kenapa aku bisa ada disini?" tanya Alvin yang masih tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi padanya.
"Apa kau tidak mengingat sama sekali tentang kecelakaanmu?" tanya Daniel.
"Kecelakaan? tidak..... aku sama sekali tidak mengingatnya," jawab Alvin setelah berusaha menggali ingatannya tentang kecelakaan yang dimaksud oleh Daniel.
"Kau tidak perlu mengingatnya, kau harus fokus pada kesehatanmu agar kau segera diizinkan keluar dari rumah sakit," ucap Daniel.
"Apa aku sudah sangat lama berada disini?" tanya Alvin penasaran.
"Sudah lebih dari satu minggu kau terbaring disini Alvin, keadaanmu kritis dan kau sempat koma beberapa hari, tapi beruntung keajaiban menyelamatkanmu dan aku percaya kau bisa melewati semua ini karena keinginanmu untuk mempertahankan hidupmu," jawab Daniel menjelaskan.
Alvin terdiam sambil memijit keningnya, ia sama sekali tidak mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
"Sudahlah jangan terlalu memikirkannya, yang terpenting sekarang kau sudah baik-baik saja, kau hanya perlu mengembalikan tenagamu agar kau bisa keluar dari sini," ucap Daniel.
"Jika aku terbaring disini lebih dari satu minggu, bagaimana dengan acara peragaan busana kita?" tanya Alvin yang membuat Daniel menghela nafasnya.
"Kau baru saja sadar dari koma Alvin dan kau malah menanyakan tentang peragaan busana," protes Daniel.
"Aku sudah mempersiapkannya dengan baik, aku tidak ingin acara itu gagal karena kelicikan Ricky," ucap Alvin.
"Aku sudah menanganinya dengan baik, kau tidak perlu terlalu memikirkannya, ada waktu 3 hari sebelum acara itu dilaksanakan jadi persiapkan dirimu agar kau bisa turun langsung untuk menangani acara itu," ucap Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Alvin.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Daniel berdering, sebuah panggilan dari sang mama.
"Halo sayang, apa kau sedang sibuk?" tanya sama mama setelah Daniel menerima panggilan itu.
"Tidak ma, ada apa?" jawab Daniel sekaligus bertanya.
"Papa sudah siap untuk pulang Daniel, apa kau bisa menyebut mama dan papa sekarang?"
"Baik ma, Daniel akan kesana sekarang," jawab Daniel lalu mengakhiri panggilan sang mama.
Daniel kemudian memberitahu Alvin tentang apa yang terjadi pada papanya, ia juga menjelaskan bahwa sang papa dirawat di rumah sakit yang sama dengan Alvin.
"Aku akan mengantar mama dan papa pulang, setelah itu aku harus mengurus beberapa masalah lain, kau tidak keberatan bukan jika aku meninggalkanmu sendirian disini?" ucap Daniel sekaligus bertanya pada Alvin.
"Pergilah dan selesaikan masalahmu dengan baik, salam untuk om dan tante," ucap Alvin yang hanya dibalas anggukan kepala Daniel.
Daniel kemudian keluar dari ruangan Alvin lalu pergi ke ruangan sang papa.
Daniel kemudian membantu mamanya membawa beberapa barang-barang papanya, sedangkan mamanya mendorong kursi roda sang papa untuk keluar dari rumah sakit.
Di sisi lain, Marin dan Nerissa yang masih duduk di taman dekat tempat parkir rumah sakit tanpa sengaja melihat Daniel yang tengah membantu papanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Putri, lihatlah!" ucap Marin sambil menunjuk ke arah Daniel.
"Daniel, dia sedang bersama siapa? apa itu orang tuanya?" tanya Nerissa.
"Iya itu mama dan papa Daniel, sepertinya terjadi sesuatu yang buruk pada papa Daniel, Putri," jawab Marin.
"Sepertinya begitu, apa kau tahu sesuatu Marin?" tanya Nerissa yang dibalas gelengan kepala oleh Marin.
"Putri, bisakah kita berada disini lebih lama lagi? aku ingin mencari tahu apa yang terjadi pada papa Daniel dan jika bisa maukah kau menyembuhkan papa Daniel?" tanya Marin pada Nerissa.
"Tentu saja Marin, karena ini adalah saat terakhir kita di daratan kita lakukan semua yang ingin kita lakukan agar tidak ada penyesalan ketika kita kembali ke lautan, karena sudah tidak mungkin lagi bagi kita untuk kembali ke daratan setelah ini," jawab Nerissa.
"Terima kasih Putri, kau memang sangat baik," ucap Marin lalu memeluk Nerissa.
"Aku ingin melihat keadaan Alvin, apa kau mau ikut denganku?" ucap Nerissa sekaligus bertanya pada Marin.
"Tidak Putri, aku tidak akan mengganggu waktumu dengan Alvin," jawab Marin.
Nerissa kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan masuk ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alvin.
"sepertinya dia sudah berpindah ruangan," ucap Nerissa dalam hati lalu mencari keberadaan Alvin dengan kekuatan yang dimilikinya.
Nerissapun menemukan ruangan Alvin. Nerissa hanya terdiam berdiri menatap Alvin dari kaca pintu ruangan Alvin.
Dengan pelan, Nerissa membuka pintu ruangan itu lalu berjalan menghampiri Alvin yang tengah terpejam di ranjangnya.
"sudah tidak ada alat medis yang melekat di tubuhnya, sepertinya keadaannya sudah membaik, tapi kenapa dia belum sadar?" tanya Nerissa dalam hati sambil menatap Alvin yang terpejam di hadapannya.
"Aku mohon bangunlah Alvin, aku sangat merindukanmu, setidaknya aku bisa mendengar suaramu sebelum aku kembali ke Seabert," ucap Nerissa dalam hati tanpa ia tahu bahwa sebenarnya Alvin hanya sedang terpejam saat itu.
Melihat Alvin yang hanya terpejam tanpa bergerak sedikitpun membuat Nerissa hanya bisa menghela nafasnya.
"sepertinya aku harus menunggumu lebih lama lagi," ucap Nerissa dalam hati lalu berbalik hendak keluar dari ruangan Alvin, namun tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Nerissa, membuat Nerissa begitu terkejut dan segera membalikkan badannya kembali menghadap ke arah Alvin.
"Siapa kau?" tanya Alvin dengan menatap kedua mata Nerissa.
Nerissa yang begitu terkejut hanya bisa terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.
"Jawab aku, siapa kau dan kenapa kau masuk ke ruanganku?" tanya Alvin sambil menggoyangkan tangan Nerissa yang ada pada genggamannya.
"Aku. aku sepertinya salah masuk ruangan, maafkan aku," ucap Nerissa lalu menarik tangannya dari Alvin dan berjalan keluar dari ruangan Alvin.
Nerissa segara duduk di depan ruangan Alvin, ia memegang dadanya yang berdegup dengan sangat kencang saat itu.
"dia sudah sadar..... dia sudah terbangun dari komanya, tapi...... tapi kenapa aku merasa sedih, rasanya sangat menyakitkan saat dia menanyakan siapa aku," ucap Nerissa dalam hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Tidak..... aku tidak boleh bersedih, seharusnya aku bahagia karena dia sudah sadar dari komanya, meskipun dia tidak mengingatku setidaknya dia bisa kembali menjalani hari-harinya dengan lebih baik," ucap Nerissa dalam hati sambil mendongakkan kepalanya menahan air mata yang sudah ingin keluar dari kedua sudut matanya.
Nerissa kemudian beranjak dari duduknya lalu kembali melihat Alvin dari kaca pintu ruangan Alvin.
"Sia sudah sembuh, dia sudah bisa menjalani hari-harinya seperti sebelumnya, tidak ada lagi alasan yang membuatku mengkhawatirkannya jadi sekarang aku bisa pergi meninggalkannya, aku harap kau bisa lebih bahagia dengan kehidupanmu tanpaku Alvin," ucap Nerissa lalu membawa langkahnya pergi meninggalkan ruangan Alvin.
Nerissa berjalan menemui Marin yang masih duduk di tempatnya.
"Bagaimana keadaan Alvin, Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Dia sudah sadar dari komanya Marin dan sepertinya dia sudah baik-baik saja sekarang, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi," jawab Nerissa.
"Tentang papa Daniel, aku sudah tahu apa yang terjadi padanya, papa Daniel baru saja kecelakaan beberapa hari yang lalu dan terjadi cedera tulang punggung yang membuat papa Daniel menderita kelumpuhan," ucap Marin.
"Kelumpuhan? lalu bagaimana caranya agar aku bisa menyembuhkan papa Daniel, Marin?" tanya Nerissa.
"Aku sudah mencari tahunya Putri dan aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan papa Daniel," jawab Marin.
"Apa yang harus kita lakukan Marin?" tanya Nerissa.
"Ikut aku, aku akan menunjukkannya padamu Putri," jawab Marin lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan rumah sakit bersama Nerissa.
Marin mengajak Nerissa untuk membeli beberapa barang yang tidak dimengerti oleh Nerissa.
"Kita akan pergi ke rumah Daniel sekarang juga, kau akan menjadi terapis dan aku adalah asistenmu," ucap Marin yang membuat Nerissa mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Kau hanya perlu berpura-pura menjadi terapis Putri, aku yang akan menjelaskan semuanya pada mama Daniel, aku yakin Mama Daniel akan mempercayaiku," ucap Marin menjelaskan.
"Baiklah terserah kau saja," balas Nerissa pasrah.
Nerissa dan Marin kemudian pergi ke rumah Daniel dengan menggunakan taksi. Sesampainya disana mereka mengatakan pada satpam tentang tujuan kedatangan mereka.
Satpampun mengizinkan Nerissa dan Marin untuk menunggu di teras rumah sampai Mama Daniel datang menghampiri mereka berdua.
Marin kemudian menjelaskan pada Mama Daniel bahwa mereka berdua adalah terapis yang didatangkan dari rumah sakit khusus untuk membantu penyembuhan papa Daniel.
Meski pada awalnya ragu, namun entah kenapa Mama Daniel dengan mudah tertarik pada Marin setelah mendengar semua penjelasan Marin.
Mama Daniel kemudian mengantar Marin dan Nerissa untuk menemui sang suami yang sedang terbaring di ranjang kamarnya.
Tanpa ragu Nerissa memijit-mijit dengan pelan kaki papa Daniel sembari menyalurkan kekuatannya untuk menyembuhkan papa Daniel.
Setelah dirasa sudah cukup, Nerissa dan Marinpun berpamitan pulang. Tepat saat Nerissa dan Marin baru saja keluar dari pintu rumah Daniel, tiba-tiba Daniel berlari kecil mengejar Nerissa dan Marin.
"Tunggu," ucap Daniel yang membuat Nerissa dan Marin seketika menghentikan langkah mereka berdua.