
Di antara riuh sirine ambulans yang mulai berdatangan ke sekitar pantai, Nerissa masih berusaha untuk menyadarkan Marin hingga akhirnya Marinpun mengerjapkan matanya.
"Marin bangunlah, cepat putar gelangmu 7 kali agar ekormu berubah menjadi kaki!" ucap Nerissa sambil membawa tangan kanan Marin ke arah gelang Marin yang terletak di tangan kirinya.
Marin yang saat itu masih sangat lemah hanya mengikuti saja apa yang Nerissa ucapkan padanya. Dengan bantuan Nerissa, Marin yang sudah kehilangan tenaganya itu memutar gelang mutiaranya sebanyak 7 kali dan seketika ekornya pun berubah menjadi kaki.
Nerissapun tersenyum senang saat melihat ekor Marin yang sudah berubah menjadi kaki, namun seketika raut wajah Nerissa berubah saat melihat Marin yang kembali terpejam dengan tetesan darah yang keluar dari kening Marin.
Nerissa menyibakkan rambut Marin di keningnya dan menyadari jika Marin tengah terluka cukup parah saat itu.
"Astaga tidak hanya tangannya yang terluka, keningnya juga terluka sangat parah, kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi?" ucap Nerissa yang menyesal karena baru mengetahui jika Marin tengah terluka saat itu.
"Bertahanlah Marin, aku akan segera menyembuhkanmu!" ucap Nerissa lalu memegang kening Marin.
Saat baru saja tangan Nerissa menyentuh kening Marin, tiba-tiba seseorang berlari ke arah Nerissa dan Marin sambil berteriak.
"Cepat bawa tandu kesini, disini ada korban lagi!" ucap seseorang itu yang disusul dengan beberapa orang yang datang dengan membawa tandu.
"Apa yang akan kalian lakukan padanya?" tanya Nerissa saat beberapa orang itu mengangkat Marin ke atas tandu.
"Dia terluka cukup parah, kami akan membawanya ke rumah sakit terdekat!" ucap seseorang itu sambil membawa Marin pergi ke arah ambulans.
"Jangan membawanya pergi, aku bisa mengobatinya, aku akan......"
"Apa kau temannya?" tanya seseorang memotong ucapan Nerissa.
"Iya, dia temanku, tolong jangan bawa dia pergi, aku akan mengobatinya sekarang juga!"
"Masuklah ke ambulans, kau juga harus diobati, percayakan semuanya pada dokter karena luka temanmu cukup serius!" ucap seseorang itu lalu mendorong Nerissa masuk ke dalam ambulans bersama Marin yang masih terbaring dan terpejam di dalamnya.
Nerissapun tidak bisa menolak lagi, ambulans pun berjalan meninggalkan pantai ke arah rumah sakit terdekat.
"apa yang harus aku lakukan sekarang? aku harus segera menyelamatkan Marin, tetapi aku tidak bisa melakukannya saat ada orang lain yang memperhatikanku disini!" ucap Nerissa dalam hati sambil membawa pandangannya pada beberapa orang yang juga berada di dalam ambulans saat itu.
"maafkan aku Marin, tolong bertahanlah sebentar lagi, aku pasti membantumu," ucap Nerissa dalam hati.
Seseorang yang di dalam ambulans itu kemudian mendekati Nerissa, berniat untuk mengobati luka kecil yang ada di kening dan tangan Nerissa.
Nerissa hanya diam, membiarkan seseorang itu mengobatinya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain mencari waktu yang tepat untuk menyentuh kening dan tangan Marin, agar membuat luka pada kening dan tangan itu sembuh dengan seketika.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mobil ambulans pun berhenti. Pintu terbuka, Nerissapun keluar bersama beberapa orang yang membawa Marin keluar dari dalam ambulans.
Para petugas rumah sakit dengan sigap membawa Marin ke ruang UGD untuk segera memeriksa keadaan Marin, sedangkan Nerissa hanya bisa menunggu di depan ruangan yang sudah disediakan.
Setelah beberapa lama diperiksa oleh dokter, Marinpun dipindahkan ke ruangan umum karena ruangan lain yang sudah penuh dengan para korban lainnya.
Nerissapun segera membawa langkahnya untuk mengikuti Marin. Setelah Marin selesai dipindahkan dan petugas rumah sakit sudah meninggalkan Marin, Nerissapun segera menyentuh kening dan tangan Marin berniat untuk menyembuhkan luka yang Marin alami saat itu.
Tak butuh waktu lama bagi Nerissa, luka di kening dan tangan Marin pun menghilang tanpa bekas.
Tak lama kemudian Marinpun mengerjapkan matanya, membuka matanya seolah tidak terjadi apapun padanya.
Marin membawa pandangannya ke sekelilingnya dan begitu terkejut saat melihat keadaan Nerissa yang tampak kacau dengan luka kecil yang ada di wajah dan tangannya.
"Apa yang terjadi padamu Putri? kenapa kau penuh luka seperti ini?" tanya Marin mengkhawatirkan Nerissa.
"Ini hanya luka kecil Marin, bagaimana denganmu? apa kau baik-baik saja sekarang?" jawab Nerissa sekaligus bertanya pada Marin yang baru saja terluka cukup parah.
"Aku baik-baik saja, apa kita ada di rumah sakit sekarang?" tanya Marin yang hanya dibalas anggukan kepala Nerissa.
"Kenapa kita ada disini Putri dan kenapa aku yang ada di atas ranjang, bukannya kau yang terluka?"
"Kau terluka cukup parah tadi, tetapi aku sudah menyembuhkannya sekarang," jawab Nerissa dengan tersenyum.
Marin terdiam beberapa saat, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia berakhir di rumah sakit.
"Seingatku aku melihat gulungan ombak yang sangat besar, apa gulungan ombak itu juga menerjang kapal yang ada di atas ku Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Iya, gulungan ombak itu menghempaskan kapal besar itu arah pantai, banyak korban yang terluka karena kecelakaan kapal itu, tetapi aku masih beruntung karena aku hanya memiliki luka kecil dan aku bisa menyelamatkanmu Marin, terima kasih karena sudah bertahan untukku!"
"Aku yang berterima kasih padamu Putri, terima kasih karena sudah menyelamatkanku, entah apa yang akan terjadi padaku jika kau tidak menyelamatkanku!"
Nerissa hanya tersenyum dengan menggenggam tangan Marin, dalam hatinya ia bersyukur karena memiliki kekuatan yang bisa ia gunakan untuk menolong orang-orang yang ia sayangi.
"Apa semua yang ada di ruangan ini adalah korban dari kapal itu Putri?" tanya Marin pada Nerissa.
"Sepertinya begitu Marin, aku tidak bisa menyembuhkan luka mereka semua, aku hanya bisa mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan, aku tidak ingin dokter atau yang lainnya merasa curiga jika tiba-tiba luka mereka menghilang begitu saja," ucap Nerissa menjelaskan.
"Kau memang sangat baik Putri, aku sangat bangga padamu!" ucap Marin dengan tersenyum penuh kebanggaan.
Nerissa kemudian menghampiri satu persatu para pasien yang ada di ruangan itu, Nerissa hanya menyentuh tangan mereka sembari menanyakan pertanyaan basa-basi.
Tanpa mereka sadari rasa sakit yang mereka rasakan perlahan berkurang dan menghilang meski luka pada tubuh mereka tetap ada.
Sama seperti Marin, Nerissapun senang dan bangga pada dirinya sendiri. Ia senang karena kekuatan yang ia miliki bisa berguna tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk para manusia yang bahkan tidak ia kenal.
"aku tahu manusia sangat baik, hanya ada beberapa dari mereka yang memiliki niat jahat dalam hati mereka, tetapi aku yakin kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang baik," ucap Nerissa dalam hati kemudian kembali duduk di samping ranjang Marin.
Marin tersenyum dengan mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Nerissa, membuat Nerissa tersenyum tersipu malu.
**
Di sisi lain, Alvin yang baru saja membereskan meja kerjanya mendapat notifikasi dari ponselnya jika baru saja terjadi kecelakaan kapal akibat dari gelombang besar yang tiba tiba datang.
"keadaan laut memang susah untuk diprediksi, secanggih apapun kemampuan manusia, alam masih menyimpan banyak misteri yang tidak bisa terpecahkan," ucap Alvin dalam hati sambil membuka artikel itu.
Karena penasaran dengan berita yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial saat itu Alvin pun mencari rekaman video tentang berita yang beredar saat itu.
Saat sedang melihat rekaman video tentang penyelamatan korban kapal itu, Alvin melihat Nerissa yang berjalan masuk ke dalam sebuah ambulans.
Alvin yang begitu terkejut segera memutar kembali video yang dilihatnya untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat dan benar saja ia melihat Nerissa yang berjalan masuk ke dalam ambulans bersama seseorang yang dibawa dengan menggunakan tandu oleh tim SAR.
"Aku harus segera memberitahu Daniel!" ucap Alvin kemudian beranjak dari duduknya.
Saat Alvin baru saja membuka pintu ruangannya, Daniel berlari ke arah Alvin saat itu juga.
"Apa kau juga melihatnya?" tanya Daniel yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.
Tanpa banyak bicara, Alvin dan Daniel pun segera berlari ke arah lift yang akan membawa mereka turun ke lantai satu.
Alvin dan Daniel meninggalkan kantor dengan menggunakan mobil Alvin. Tanpa menunggu lama, Alvin segera menancap gas ke arah rumah sakit yang terdekat dari pantai dimana kecelakaan kapal itu terjadi.
Sepanjang perjalanan Alvin hanya berharap Nerissa dan Marin akan baik baik saja. Kecelakaan kapal yang terjadi saat itu mengingatkan Alvin pada kejadian saat ia kehilangan kedua orang tuanya.
Alvin tidak ingin apa yang terjadi saat itu membuatnya harus kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya.
Sesampainya di rumah sakit, Alvin dan Danielpun segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Alvin dan Daniel mendatangi salah satu petugas tim SAR yang berada di sana untuk memastikan bahwa korban kecelakaan kapal yang baru saja terjadi berada di rumah sakit itu.
"Iya benar, seluruh korban kecelakaan kapal itu berada di rumah sakit ini, data manifest sudah kami tempelkan di depan resepsionis, jika ada anggota keluarga kalian yang merupakan penumpang kapal itu silahkan kalian pastikan pada data manifest yang sudah kami tempelkan!" ucap tugas tim SAR menjelaskan.
Setelah berterima kasih, Alvin dan Daniel pun membawa langkah mereka untuk melihat data manifest yang ada di depan resepsionis. Mereka membaca satu persatu nama yang terdaftar di sana.
Setelah beberapa lama mencari, Alvin dan Daniel saling pandang dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Kenapa tidak ada nama Nerissa dan Marin disini?" tanya Alvin yang dibalas gelengan kepala oleh Daniel.
"Aku yakin aku melihat Nerissa masuk ke dalam ambulans bersama Marin, kau juga melihatnya bukan?" tanya Alvin pada Daniel.
"Iya aku juga melihatnya, seharusnya Marin ada disini karena dia terluka!"
Alvin kemudian berlari mengejar petugas tim SAR untuk menanyakan kejelasan dari data manifest yang ditempel di depan resepsionis.
"Itu adalah data penumpang kapal yang terluka dan berhasil kami evakuasi, untuk keseluruhan data penumpang kapal itu akan segera kami tempelkan setelah laporan dari atas turun!" ucap petugas tim SAR kemudian pergi meninggalkan Alvin dan Daniel karena harus kembali mengerjakan tugasnya.
Alvin dan Danielpun duduk dengan gelisah untuk menunggu data keseluruhan dari penumpang kapal.
"Aku yakin melihat Marin terluka di video itu, seharusnya Marin dan Nerissa ada disini, seharusnya nama mereka berdua ada pada daftar nama itu," ucap Daniel pada Alvin.
"Bersabarlah Daniel, kita akan mengetahuinya setelah petugas tim SAR membawa data keseluruhan dari penumpang kapal," ucap Alvin.
Setelah beberapa lama menunggu, petugas tim SAR yang lainpun datang dan menempelkan data manifest seluruh penumpang kapal.
Alvin dan Daniel segera membaca satu persatu nama yang ada pada daftar itu namun lagi lagi mereka berdua tidak menemukan nama Nerissa dan Marin disana.
Alvin kemudian mengambil ponselnya dan membuka video dimana ia melihat Nerissa dan Marin disana.
"Ini tidak benar Daniel, mereka pasti ada disini!" ucap Alvin kemudian berjalan meninggalkan resepsionis diikuti oleh Daniel.
"Mungkin lebih baik kita berpencar!" ucap Daniel yang dibalas anggukan kepala Alvin.
Alvin dan Danielpun berpencar untuk mencari keberadaan Nerissa dan Marin yang mereka yakini berada di rumah sakit itu.
Setelah beberapa lama mencari Alvinpun terdiam di tempatnya berdiri. Dalam hatinya ia begitu lega karena melihat gadis cantik yang dicarinya ada di hadapannya dengan senyum yang mengembang pada raut wajah cantiknya.
"Nerissa!" panggil Alvin pelan namun bisa terdengar dengan jelas oleh Nerissa.
Nerissapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang memanggil namanya, ia begitu terkejut karena melihat Alvin yang berdiri di pintu yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Nerissapun berdiri dari duduknya saat Alvin berjalan ke arahnya. Tanpa banyak bertanya Alvin memeluk Nerissa begitu saja, menuntaskan semua kekhawatiran dan kegelisahan yang ia rasakan sejak Nerissa pergi tanpa kabar.
"Alvin, kenapa kau ada disini?" tanya Nerissa.1
Alvin tidak menjawab pertanyaan Nerissa, ia hanya diam sambil memeluk Nerissa dengan erat. Kekhawatiran dan kegelisahan yang ia rasakan luruh begitu saja saat ia bisa membawa Nerissa ke dalam dekapannya.
"Alvin tolong lepaskan, ini rumah sakit!" ucap Nerissa pelan sambil sedikit mendorong tubuh Alvin.
Alvin yang menyadari hal itu segera melepaskan pelukannya dari Nerissa.
"Maafkan aku, bagaimana lukamu? apa dokter sudah mengobatinya?" tanya Alvin sambil memperhatikan luka di wajah dan tangan Nerissa.
"Sudah, ini hanya luka kecil Alvin, jangan terlalu mengkhawatirkanya," jawab Nerissa.
"Nerissa!"
Nerissa segera mengalihkan pandangannya saat Daniel memanggil namanya.
"Daniel, kau juga disini?" tanya Nerissa yang terkejut karena kedatangan Daniel.
Daniel menganggukkan kepalanya kemudian membawa pandangannya pada Marin yang terbaring di ranjang.
"Bagaimana keadaanmu Marin?" tanya Daniel pada Marin.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, kenapa kau bisa ada disini bersama Alvin?" jawab Marin sekaligus bertanya.
Daniel kemudian membawa pandangannya pada Alvin seolah memberi kode pada Alvin agar Alvin menjelaskan pada Marin dan Nerissa.
"Aku dan Daniel mencari kalian berdua, kenapa kalian pergi tanpa memberi kabar sama sekali? kalian berdua benar-benar membuat aku dan Daniel khawatir!" ucap Alvin sambil membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin.