
Waktu berlalu, Alvin baru saja membereskan meja kerjanya siap untuk keluar dari ruangannya.
Saat berjalan melewati resepsionis, seseorang memanggil namanya, namun Alvin melanjutkan langkahnya dan mengabaikan suara yang ia kenal itu.
"Alvin, tunggu!" ucap Amanda setengah berteriak sambil berlari kecil mengejar Alvin.
Amanda menarik tangan Alvin, menahan Alvin agar menghentikan langkahnya.
"Ini tidak adil buatku Alvin, kau tidak bisa mempercayai begitu saja apa yang kau dengar," ucap Amanda yang masih memegang tangan Alvin.
Alvin yang tidak ingin terjadi keributan disana segera meraih tangan Amanda, membawa Amanda keluar dari kantor.
Di sisi lain, Nerissa yang baru saja keluar dari taksi hanya berdiam di tempatnya berdiri saat melihat Alvin yang menggandeng tangan Amanda berjalan keluar dari kantor.
"setelah kau mengetahui yang sebenarnya, apa dengan mudahnya kau memaafkan Amanda?" tanya Nerissa dalam hati.
"Nerissa!" panggil Daniel membuyarkan lamunan Nerissa, Nerissapun membawa pandangannya pada Daniel dengan tersenyum hambar.
"Kenapa masih berdiri disini? apa kau sudah lama menungguku?" tanya Daniel yang sudah berdiri di hadapan Nerissa.
"Aku baru saja sampai," jawab Nerissa.
"Ada apa denganmu? kenapa kau terlihat murung?" tanya Daniel yang menyadari raut wajah Nerissa yang tampak bersedih.
Nerissa hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Tunggu disini sebentar, aku akan mengambil mobil," ucap Daniel lalu berlari ke arah tempat ia memarkirkan mobilnya.
Tak lama kemudian Daniel kembali dengan mengendarai mobilnya.
Nerissapun masuk dan duduk di samping Daniel.
"Kenapa tiba-tiba kau tidak bersemangat seperti ini Nerissa?" tanya Daniel.
"Sepertinya kita batalkan saja rencana kita untuk menemui Alvin," jawab Nerissa.
"Kenapa? bukankah ini waktu yang tepat untuk menunjukkan bahwa kau tidak bersalah?"
"Sepertinya apa yang kita lakukan sia-sia Daniel, aku sudah menyerah sekarang," ucap Nerissa dengan menundukkan kepalanya bersedih.
"Apa maksudmu Nerissa? kenapa kau tiba-tiba seperti ini? apa terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?" tanya Daniel yang masih tidak mengerti dengan sikap Nerissa yang tiba-tiba berubah.
"Setelah Alvin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sikap Alvin pada Amanda ternyata tidak berubah, sepertinya aku benar-benar kalah Daniel, sepertinya Alvin masih mencintai Amanda seperti dulu."
"Kenapa kau mengatakan hal itu Nerissa? apa Amanda yang mengatakan hal itu padamu?"
"Tidak Daniel, aku melihatnya sendiri saat Alvin menggandeng tangan Amanda keluar dari kantor sebelum kau datang," jawab Nerissa.
"Apa kau yakin? mungkin kau hanya salah lihat!" ucap Daniel.
"Aku yakin Daniel, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Alvin berjalan dengan menggandeng tangan Amanda, jadi lebih baik sekarang antarkan aku pulang, aku tidak ingin bertemu lagi dengan Alvin ataupun Amanda!" ucap Nerissa.
"Tidak Nerissa, kita harus menemui Alvin untuk memastikan semuanya!"
"Aku tidak mau berhubungan lagi dengan mereka berdua Daniel, aku mohon mengertilah, aku hanya ingin pulang sekarang," ucap Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Daniel menghela nafasnya lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Nerissa. Meskipun ia tidak yakin dengan apa yang Nerissa ucapkan, tapi ia tidak ingin membuat Nerissa semakin bersedih jika ia memaksa untuk menemui Alvin saat itu.
Setidaknya ia harus memberikan waktu untuk Nerissa menenangkan dirinya, jika memang Alvin masih bersama Amanda setelah Alvin tahu kejadian yang sebenarnya, maka ia tidak akan memaafkan Alvin yang sudah jelas memilih perempuan yang sudah memfitnah Nerissa.
**
Di tempat lain, Alvin masih berada di dalam mobilnya bersama Amanda. Alvin sengaja mengajak Amanda masuk ke dalam mobil agar tidak ada yang melihat keributan di antara mereka berdua.
"Ini hanya kesalahpahaman Alvin, tolong jangan membuatku bersedih seperti ini, sikapmu ini benar-benar melukai hatiku," ucap Amanda pada Alvin.
"Lalu bagaimana denganku Amanda? kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri, kau yang tiba-tiba pergi dan melukai hatiku tapi sekarang kau tiba-tiba datang seolah tidak terjadi apa-apa pada masa lalu kita," balas Alvin.
"Harus berapa kali aku bilang jika aku menyesal, akupun sudah meminta maaf padamu Alvin, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?"
"Pergilah dan jangan pernah datang lagi dalam hidupku!" balas Alvin dengan menatap tajam kedua mata Amanda.
"Apa hanya sebatas ini cintamu padaku Alvin? apa hanya sebatas ini perasaan cinta yang kau agungkan itu?" tanya Amanda dengan kedua mata berkaca kaca.
"Tidak ada lagi cinta dalam hatiku setelah kau pergi Amanda dan setelah kau kembali aku berpikir aku kembali mencintaimu, tetapi sepertinya aku salah, sisa rasa yang pernah ada itu kembali mengingatkanku pada kebersamaan kita di masa lalu, tanpa aku sadar bahwa kau adalah luka terbesar dalam hidupku!" ucap Alvin.
"Aku akan menebus luka yang pernah aku berikan padamu Alvin, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!" ucap Amanda dengan meraih tangan Alvin namun Alvin menghindar.
"Apa yang ingin kau perbaiki Amanda? kau bahkan sudah memfitnah Nerissa dan mengancam bibi yang sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri!"
"Aku hanya tidak ingin kau mengabaikanku Alvin karena kedatangan Nerissa kau seperti bukan Alvin yang dulu aku kenal, aku merindukanmu seperti kau yang dulu Alvin!"
"Kau salah karena sudah membawa Nerissa dalam masalah kita, hanya demi untuk menemuimu aku bahkan meninggalkan Nerissa dan sekarang kau memfitnah Nerissa seperti ini, kau membuatku benar-benar menyesal atas keputusan yang sudah aku pilih saat itu, kau membuatku menyesal karena sudah meninggalkan Nerissa hanya untuk menghampirimu!" ucap Alvin.
"Sadarlah Alvin, dia hanya seseorang yang baru datang dalam hidupmu, jauh dalam hatimu kau pasti masih mencintaiku bukan?"
"Tidak Amanda, semuanya sudah berubah, tidak ada lagi cinta di hatiku untukmu dan sekarang aku sadar apa yang aku lakukan padamu sekarang hanya karena rasa kasihanku padamu, bukan karena aku masih mencintaimu!" ucap Alvin.
"Lihatlah aku Alvin, aku masih Amanda yang dulu, aku akan memperbaiki hubungan kita seperti dulu, aku mohon jangan seperti ini padaku," ucap Amanda dengan berusaha meraih tangan Alvin dan menggenggamnya.
Alvinpun segera menarik tangannya dari genggaman Amanda dan membuka pintu mobilnya, memaksa Amanda untuk keluar
"Pergilah Amanda, jangan pernah menemuiku lagi!" ucap Alvin tanpa menoleh ke arah Amanda.
"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini!"
"Apa aku harus memaksamu keluar dari sini?" tanya Alvin dengan menahan emosi dalam dadanya.
"Sekeras apapun kau mencoba, aku tidak akan pergi dari sini, aku tidak akan pergi darimu dan aku tidak akan meninggalkanmu!" ucap Amanda bersikeras
"Baiklah jika itu maumu," ucap Alvin lalu meraih tas kerjanya kemudian keluar dari mobil dan berjalan pergi begitu saja.
"Alvin tunggu!" ucap Amanda setengah berteriak sambil berusaha melepaskan sabuk pengaman yang ia kenakan.
Namun karena terburu-buru dan tidak fokus, Amanda tidak bisa melepas sabuk pengaman yang dia kenakan. Saat ia sudah berhasil melepasnya, ia pun berlari mengejar Alvin namun ia kehilangan jejak, ia tidak melihat Alvin di manapun saat itu.
"tidak Alvin, kau tidak boleh pergi dariku, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku seperti ini," ucap Amanda dalam hati.
**
Di sisi lain, Alvin pergi ke rumah Nerissa dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan ia ragu apakah ia harus menemui Nerissa saat itu atau tidak.
Dalam hatinya ia ingin menemui Nerissa untuk meminta maaf secara langsung atas semua yang sudah dia lakukan pada Nerissa, tetapi di sisi lain ia ragu karena ia mengingat ucapan Daniel padanya beberapa waktu yang lalu, saat Daniel baru saja memberitahunya bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang serius.
"Mungkin ini terlalu tiba tiba untukmu, tapi aku dan Nerissa sudah mempertimbangkan keputusan ini cukup lama,"
Alvin menghela nafasnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"ada apa dengan hatiku? apa mungkin kejadian yang sama terulang lagi sekarang? saat aku berpikir bahwa aku dan Amanda memiliki perasaan yang sama namun ternyata berbeda, apa hal itu juga terulang lagi pada hubunganku dengan Nerissa saat ini?" batin Alvin bertanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba taksi berhenti, membuat Alvin tersadar dari lamunannya dan segera membawa pandangannya ke sekitarnya, ia baru menyadari jika ia sudah sampai di depan toko bunga Marin.
Namun Alvin tidak segera turun, ia masih duduk di dalam taksi berusaha meyakinkan apa yang seharusnya ia lakukan saat itu.
"aku tetap harus menemui Nerissa, bagaimanapun juga aku sudah bersalah karena sudah mengabaikannya, aku juga sudah tidak mempercayainya, terlepas dari bagaimana hubunganku dengannya nanti aku tidak akan memikirkannya, aku hanya tidak ingin lebih lama dalam kebimbangan ini," ucap Alvin kemudian memantapkan dirinya untuk keluar dari taksi dan berjalan masuk ke arah toko bunga Marin.
Baru saja Alvin melangkahkan kakinya masuk, Marin sudah berteriak padanya.
"Berhenti disana dan jangan melangkah sedikitpun!" ucap Marin yang membuat Alvin menghentikan langkahnya tepat pada pintu masuk toko bunga Marin.
"Aku hanya ingin menemui Nerissa," ucap Alvin.
"Untuk apa kau menemui Putri? belum cukup kau menyakitinya? belum puas kau membuatnya menangis?" tanya Marin penuh emosi karena Nerissa sudah menceritakan tentang apa yang dilihatnya saat Nerissa menjemput Daniel di Atlanta grup.
"Aku ingin meminta maaf padanya Marin, aku......."
"Tidak perlu, Putri sudah tidak ingin melihatmu lagi, jadi pergilah dan lanjutkan hidupmu bersama perempuan barumu yang jahat itu!" ucap Marin memotong ucapan Alvin.
"Apa aku tidak punya kesempatan untuk menebus kesalahanku pada Nerissa?" tanya Alvin penuh harap.
"Tidak ada kesempatan untuk laki-laki sepertimu Alvin, jangan coba-coba untuk menemui Putri lagi, Putri sudah bahagia bersama Daniel sekarang, jadi jangan pernah berniat untuk mengganggu hubungan mereka berdua!"
"Tolong izinkan aku bertemu Nerissa, setidaknya aku ingin meminta maaf padanya secara langsung sebelum hubungan kita berakhir begitu saja," ucap Alvin memohon.
"Tidak ada hubungan apapun di antara kalian berdua, jadi kau tidak perlu berlebihan seperti ini, sekarang pulanglah atau aku akan memanggil petugas keamanan disini untuk mengusirmu!"
"Aku tahu kau bisa menilai dengan baik Marin, kaupun pasti tahu bahwa aku sekarang benar-benar tulus ingin meminta maaf pada Nerissa!"
"Baiklah jika kau memaksa, aku akan menghubungi petugas keamanan sekarang!" juga ucap Marin sambil mengambil ponselnya.
"Aku tidak peduli, aku akan tetap berdiri disini sampai aku bisa bertemu Nerissa," ucap Alvin yang masih berdiri di tempatnya tanpa goyah sedikitpun pada ancaman Marin.
"Waaah kau menantangku rupanya, baiklah jika itu maumu!" ucap Marin lalu benar-benar menghubungi petugas keamanan yang berjaga di dekat rumahnya.
"Tunggu saja, petugas keamanan akan datang dan menyeretmu pergi dari sini!" ucap Marin lalu melanjutkan membuat buket bunga.
"Kau hanya mengganggu waktuku saja," gerutu Marin kesal.
"Nerissa keluarlah, aku ingin meminta maaf padamu!" ucap Alvin berteriak.
Tak lama kemudian dua orang petugas keamanan datang menghampiri Alvin.
"Apa yang kau lakukan disini? apa kau yang membuat keributan disini?" tanya salah satu petugas keamanan pada Alvin.
"Saya hanya ingin menemui......"
"Iya Pak, dia yang membuat keributan disini, tolong bawa dia pergi dari sini, jika perlu paksa dan seret dia agar dia tidak kembali lagi kesini?" sahut Marin memotong ucapan Alvin.
Dua petugas keamanan itu pun melakukan apa yang Marin perintahkan, mereka meminta Alvin untuk pergi meninggalkan toko bunga Marin dengan sedikit paksaan karena Alvin yang enggan untuk pergi dari sana.
"Terus saja hidup dalam penyesalanmu Alvin, kau pantas mendapatkannya," ucap Marin dengan tersenyum tipis.
Alvinpun berjalan tanpa tenaga menyusuri trotoar jalan raya. Dengan pandangan kosong Alvin berjalan tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
Di sisi lain Daniel yang sedang berkendara melihat Alvin yang berjalan seorang diri di trotoar.
Danielpun menantikan mobilnya tepat di sebelah Alvin.
"Alvin!" panggil Daniel yang membuat Alvin menghentikan langkahnya, Alvinpun membawa pandangannya pada Daniel dengan tatapan datar
"Masuklah!" ucap Daniel.
Alvinpun membawa langkahnya mendekat ke arah mobil Daniel lalu masuk dan duduk di samping Daniel.
"Dimana mobilmu?" tanya Daniel.
"Di kantor," jawab Alvin singkat.
"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau terlihat kacau sekali?" tanya Daniel.
Alvin hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia tidak mungkin mengatakan pada Daniel bahwa dirinya baru saja diusir secara paksa oleh petugas keamanan di toko bunga Marin.
"Kemana aku harus mengantarmu? kembali ke kantor atau pulang ke rumah?" tanya Daniel.
"Pulang ke rumah," jawab Alvin.
"Baiklah!"
Danielpun mengendarai mobilnya ke arah rumah Alvin, sesampainya di rumah Alvin sudah ada Amanda yang berdiri menunggu Alvin di depan gerbang.
Saat Alvin keluar dari mobil Daniel, seketika Amanda berlari kecil dan memeluk Alvin. Daniel yang mengetahui hal itu hanya tersenyum tipis lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Alvin.
"kau benar-benar bodoh Alvin," ucap Daniel dalam hati.
Tanpa Daniel tahu Alvin yang mendapat pelukan dari Amanda dengan tiba-tiba segera mendorong Amanda, memaksa Amanda melepaskan pelukannya.
"Aku sudah lama menunggumu, aku juga sudah membawa mobilmu kembali ke rumah," ucap Amanda pada Alvin seolah tidak terjadi apa-apa pada hubungan mereka berdua.
"Berhentilah bersikap seperti ini Amanda, kau hanya membuatku semakin muak padamu!" ucap Alvin lalu berjalan masuk begitu saja.