
Alvin masih berada di ruangan Ricky, saat ia akan menjawab pertanyaan Ricky, seseorang masuk dan menarik tangan Alvin.
"Ayo pulang!" ucap Cordelia dengan menarik tangan Alvin.
"Apa kau tidak punya sopan santun Delia?" tanya Ricky yang kesal pada Delia.
"Tidak, maafkan aku kakak!" balas Cordelia dengan menarik tangan Alvin keluar dari ruangan Ricky.
"Ada apa Delia? kenapa kau selalu seperti ini? berapa kali ku katakan kau harus....."
"Ketuk pintu sebelum masuk ke ruangan? iya iya.... aku minta maaf," ucap Cordelia yang mengerti maksud Alvin.
Alvin hanya menghela nafasnya lalu menarik tangannya dari Cordelia.
"Kau pulanglah dulu, masih banyak yang harus aku kerjakan!" ucap Alvin pada Cordelia.
"Ini sudah waktunya pulang Alvin, kau harus pulang, kau terlalu banyak menghabiskan waktumu di kantor!" balas Cordelia dengan kembali menarik tangan Alvin.
"Aku benar benar harus segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum pulang, jadi tolong pulanglah agar aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Alvin dengan melepaskan tangan Cordelia darinya.
"Kapan aku bisa menjemputmu?" tanya Cordelia.
"Kau tidak perlu menjemputku," jawab Alvin lalu berjalan masuk ke ruangannya.
Cordelia hanya diam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sudah lebih dari 10 tahun ia mengenal Alvin dan ia belum juga bisa meluluhkan hati Alvin.
Cordelia berjalan keluar dari perusahaan dengan langkah yang tak bersemangat.
"Nona Cordelia, kenapa wajahmu sangat masam sekali? apakah Alvin mengusirmu lagi? hahaha...." ejek Daniel saat ia berpapasan dengan Cordelia.
"Diam kau Daniel!" balas Cordelia kesal.
"Menyerah saja, kau tau Alvin tidak mungkin membuka hatinya untuk siapapun sekarang!" ucap Daniel.
"Menyerah tidak pernah ada dalam kamus hidupku Daniel, jadi jangan pernah memintaku untuk menyerah!" balas Cordelia.
"Baiklah, teruslah menunggu sampai kau puas hahaha.....!"
"Kau......."
Cordelia menatap Daniel dengan tatapan tajam, namun Daniel segera berlari meninggalkan Cordelia.
Daniel mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke ruangan Alvin.
"Ini berkas yang kau minta, apa aku sudah bisa pulang sekarang?" ucap Daniel sekaligus bertanya.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya dengan masih fokus pada layar komputer di hadapannya.
"Apa kau akan menghabiskan malammu disini?" tanya Daniel pada Alvin.
"Tentu saja tidak," jawab Alvin.
"Apa lagi yang kau lakukan? ayo pulang dan bersenang senang!"
"Kau sama saja seperti Delia," balas Alvin dengan tersenyum tipis.
"Sesekali kau harus keluar dari rutinitasmu dan berhenti memikirkan masalah perusahaan Alvin!" ucap Daniel.
Alvin lalu membawa pandangannya pada Daniel.
"Kau tau dimana aku melepas penatku kan?" tanya Alvin pada Daniel.
"Pantai?"
Alvin menganggukan kepalanya.
"Aku hanya perlu kesana sepulang kerja dan semua beban dalam kepalaku hilang seketika," ucap Alvin.
"Hmmmm..... rasa rasanya kau akan benar benar bertemu Putri duyung kalau kau terlalu sering pergi ke pantai setiap malam!" ucap Daniel lalu beranjak dari duduknya.
Alvin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Daniel. Entah kenapa ia tiba tiba teringat Nerissa, suaranya yang merdu, kulit putih dan rambut coklat terang yang bercahaya di bawah langit malam.
Alvin lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya, ia ingin segera menyelesaikannya dan pergi ke pantai setelahnya.
Sudah beberapa hari ia pergi ke pantai, berharap bertemu Nerissa, namun ia tidak pernah melihat Nerissa lagi disana.
"aku harap kau akan ada disana malam ini," batin Alvin dalam hati.
**
Di Seabert.
Nerissa dan Chubasca berenang ke arah rumah Chubasca untuk menemui Marin. Chubasca akan berusaha membantu Nerissa untuk berbicara pada Marin agar masalah mereka cepat selesai.
Namun saat mereka berada dekat rumah Chubasca, mereka melihat Marin yang berenang ke arah rumahnya dengan menangis.
Nerissa dan Chubasca pun segera berenang dengan cepat untuk menghampiri Marin.
"Marin, kau kenapa? apa yang terjadi?" tanya Nerissa pada Marin.
Marin yang saat itu sedang menangis pun segera memeluk Nerissa. Ia merasa bersalah pada Nerissa karena sudah mengucapkan hal yang buruk padanya.
Pada kenyataannya, apa yang diucapkan Nerissa memang benar bahwa sang ayah telah membuat minuman berbahaya untuk sang ratu, bahkan perbuatan sang ayah juga lebih buruk dari itu.
"Maafkan aku Putri, maafkan aku," ucap Marin dengan menangis dan memeluk Nerissa.
"Ada apa Marin? ceritakan padaku apa yang terjadi padamu!"
"Maafkan aku Putri, aku sudah bertindak bodoh dengan memakimu kemarin, aku mohon maafkan aku," ucap Marin yang terus meminta maaf pada Nerissa.
"Aku tidak pernah menganggapmu bersalah Marin, jadi berhentilah meminta maaf dan ceritakan padaku apa dan siapa yang sudah membuatmu menangis seperti ini!"
Marin lalu melepaskan pelukannya pada Nerissa dan membawa pandangannya ke arah Chubasca.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Chubasca yang merasa mendapat tatapan intimidasi dari sang adik.
"Pergilah, aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Putri," ucap Marin pada Chubasca.
"Tapi aku....."
"Pergilah jika kau ingin masalah ini cepat selesai!" ucap Marin memotong ucapan Chubasca.
"Baiklah, aku akan pergi," balas Chubasca kemudian berenang pergi menjauh.
"Dasar, perempuan memang selalu merepotkan!" gerutu Chubasca kesal.
Marin kemudian mengajak Nerissa masuk ke kamarnya. Ia menjelaskan pada Nerissa tentang semua percakapan sang ayah dan pangeran Merville yang baru saja ia dengar.
Nerissa hanya diam mendengarkan semua cerita Marin, sesekali keningnya berkerut dan matanya membulat setelah ia mendengar rencana jahat pangeran Merville dan Cadassi.
"Putri, aku benar benar minta maaf atas apa yang sudah ayahku lakukan pada istana dan keluargamu, aku minta maaf atas nama ayahku Putri," ucap Marin di akhir ceritanya.
"Ini bukan kesalahanmu Marin," balas Nerissa dengan pandangan kosong.
Ia tidak menyangka jika penasihat kepercayaan ayah dan bundanya ternyata mempunyai niat yang buruk dibalik sikap bijaknya.
Ia sempat berpikir jika Cadassi membuat ramuan yang berbahaya itu atas perintah Pangeran Merville, namun ternyata Cadassi juga mempunyai tujuannya sendiri.
"Apa aku boleh berharap kalau kita masih bisa berteman Putri? aku benar benar minta maaf, kau boleh memarahiku sepuasmu tapi tolong jangan membenciku," ucap Marin dengan menggenggam tangan Nerissa.
"Apa yang ayahmu lakukan tidak ada hubungannya denganmu Marin, jadi aku tidak punya alasan untuk membencimu," balas Nerissa.
"Apa kau akan melaporkan hal ini pada Ratu? bisakah kau merahasiakan hal ini Putri? aku sangat menyayangi ayahku, aku tidak ingin ayahku dihukum di penjara kegelapan seumur hidupnya, aku mohon padamu Putri Nerissa!"
Nerissa terdiam mendengar ucapan Marin, melihat Marin yang begitu menyayangi ayahnya, ia tidak tega untuk membiarkan Marin kehilangan ayahnya.
Namun bagaimanapun juga apa yang sudah Cadassi lakukan adalah sebuah penghianatan besar yang sudah seharusnya mendapatkan hukuman yang besar juga.
Nerissa kemudian melepaskan tangan Marin yang menggenggamnya lalu berenang keluar dari kamar Marin.
Marin hanya bisa menundukkan kepalanya membiarkan Nerissa pergi.