Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Menginap



Malam yang panjang telah berlalu, Nerissa menggeliat dengan mata yang masih terpejam. Nerissa kemudian mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam dinding yang membuatnya segera bangun dari tidurnya.


Nerissa keluar dari kamar Marin untuk memastikan apakah Alvin sudah pulang atau belum mengingat pagi itu Alvin harus berangkat ke kantor.


"Marin, apa Alvin sudah pulang?" tanya Nerissa pada Marin yang saat itu sedang memasak di dapur.


"Sepertinya belum, aku tidak melihatnya keluar dari kamar," jawab Marin.


Nerissa kemudian mengetuk pintu kamarnya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Karena jam yang terus berjalan Nerissapun memutuskan untuk masuk ke kamarnya tanpa izin karena ia khawatir jika Alvin akan terlambat ke kantor jika tidak segera bangun.


Nerissa membuka pintu kamarnya dan melihat Alvin yang tengah terpejam dengan keringat dingin yang mengucur di keningnya.


Nerissa melihat Alvin seperti sedang mengalami mimpi buruk saat itu. Nerissapun berusaha membangunkan Alvin dengan cara menepuk pipinya beberapa kali hingga akhirnya Alvin membuka matanya.


"Ada apa Alvin? apa kau baru saja mimpi buruk?" tanya Nerissa yang melihat Alvin seperti ketakutan dan keringat dingin yang mengucur di keningnya.


"Nerissa, kau......"


Alvin menghentikan ucapannya tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing begitu saja.


"Apa yang terjadi padamu Alvin? katakanlah, jangan membuatku khawatir!"


Alvin hanya diam dengan memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


"ekor merah muda berkilau yang aku lihat di pantai waktu itu sama persis seperti apa yang aku lihat dalam mimpiku, tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah pemilik ekor itu, aku hanya tahu jika rambutnya sama sepertimu Nerissa, dia juga terlihat cantik meski aku hanya bisa melihatnya dengan samar," ucap Alvin dalam hati.


"Alvin apa kepalamu sakit? apa karena kau tenggelam semalam?" tanya Nerissa khawatir.


Alvin kemudian membawa pandangannya pada Nerissa, menatap lekat-lekat gadis di hadapannya.


"tidak...... tidak mungkin, dia hanya gadis biasa, mungkin aku terlalu memikirkan hal-hal yang tidak logis sama sekali l, mungkin aku terlalu terobsesi dengan khayalan ku sendiri," ucap Alvin dalam hati.


Nerissa kemudian meletakkan telapak tangannya di kening Alvin untuk memastikan apakah Alvin demam atau tidak.


Alvin kemudian memegang tangan Nerissa di keningnya dan menggenggamnya serta menatap kedua mata Nerissa dengan dalam.


"Nerissa, jika ingin ada yang kau katakan padaku maka katakanlah jangan ragu dan berpikiran terlalu jauh tentang bagaimana reaksi ku nanti, bagaimanapun dirimu yang sebenarnya aku tidak akan pernah mempermasalahkannya, yang aku tahu kau adalah gadis yang baik," ucap Alvin pada Nerissa.


"Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu? apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan saat ini Alvin?"


"Entahlah, aku merasa kau begitu misterius, banyak hal yang tidak aku ketahui tentangmu Nerissa," jawab Alvin sambil melepaskan tangan Nerissa dari genggamannya.


"Aku baru datang kesini dan aku baru mengenalmu, aku tahu kau laki-laki yang baik tapi apakah perlu aku menjelaskan semua hal padamu tentangku?" balas Nerissa bertanya.


Alvin terdiam dengan menggelengkan kepalanya. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Nerissa. Mereka memang berteman dan cukup dekat namun bukan berarti Alvin harus tahu semua hal tentang Nerissa.


"Maafkan aku, aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh," ucap Alvin.


"Seiring dengan berjalannya waktu kau akan bisa mengenaliku dengan baik, begitu juga aku yang akan bisa mengenalmu dengan baik tanpa harus memaksa satu sama lain untuk menceritakan semua hal yang terjadi pada diri kita masing-masing," ucap Nerissa yang hanya dibalas anggukan kepala Alvin.


"Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku Nerissa," ucap Alvin.


"Apa itu?" tanya Nerissa.


"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam Nerissa? aku melihat barang barangmu di tepi pantai, tapi aku sama sekali tidak melihatmu disana, kemana kau dan Marin pergi dan bagaimana kalian bisa menyelamatkanku?"


Nerissa terdiam beberapa saat untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Alvin agar Alvin tidak mencurigainya.


"Semalam aku dan Marin ke pantai, aku sengaja menaruh sepatu dan tas ku disana, saat aku ingin berendam di laut tiba-tiba seseorang memanggil aku dan Marin untuk membantunya di jalan raya, jadi aku dan Marin pergi ke jalan raya untuk membantu seseorang itu tapi aku tidak tahu jika kau juga ada di sana saat itu," ucap Nerissa memberi alasan.


"Seseorang siapa? apa kau mengenalnya atau Marin yang mengenalnya?"


"Aku dan Marin tidak mengenalnya, dia hanya seseorang yang tidak sengaja lewat dan mobilnya bermasalah, aku dan Marin membantu sebisa kita saja, sampai akhirnya seseorang itu bisa menyalakan mobilnya lagi," jawab Nerissa yang masih beralasan.


"Lalu bagaimana kau bisa menyelamatkanku? yang terakhir aku ingat adalah aku kehabisan nafas karena tanpa sadar aku berada di dalam lautan terlalu lama!"


"Bukan aku yang menyelamatkanmu, tetapi seseorang yang baru saja aku bantu saat itu yang menyelamatkanmu, Marin hanya berusaha menyadarkanmu dan aku duduk di sampingmu saat kau pisan di tepi pantai!"


"Bukankah seseorang itu sudah meninggalkan pantai setelah mobilnya bisa berjalan?"


"Mmmmm.... iya, tapi aku memanggilnya lagi karena melihat kau masuk berjalan semakin ke tengah lautan," jawab Nerissa yang mulai bingung dengan alasan yang dibuatnya.


"Tapi bagaimana kau tahu kalau aku....."


"Sudahlah Alvin sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan padaku, tanyakan saja tidak perlu membahas hal lain lagi!"


"Aku sangat berterima kasih karena kau menyelamatkanku semalam, aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana caramu menyelamatkanku itu saja!" ucap Alvin.


"Aku sudah memberitahumu apa yang terjadi, aku berada disana bersama Marin kemudian membantu seseorang yang mobilnya bermasalah, saat aku kembali aku melihat mu berjalan semakin ke tengah laut kemudian menghilang begitu saja jadi aku memanggil seseorang itu lagi untuk membantumu kembali ke daratan karena aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu dan ternyata benar kau tenggelam!" ucap Nerissa dengan kesal.


Tidak hanya kesal pada pertanyaan Alvin yang menyudutkannya, tapi Nerissa juga kesal pada dirinya sendiri yang gagal mencari alasan yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan Alvin.


"Kalau kau tidak mempercayaiku terserah kau saja, mungkin seharusnya aku tidak berada di sana malam itu," ucap Nerissa kemudian beranjak dari duduknya, namun Alvin segera menarik tangan Nerissa membuat Nerissa kembali terduduk di tepi ranjang.


"Maafkan aku l, aku aku tidak akan menanyakannya lagi," ucap Alvin pada Nerissa.


Nerissa hanya diam dengan menarik tangannya dari genggaman Alvin kemudian membuka lemarinya dan mengambil kemeja milik Alvin lalu memberikannya pada Alvin.


"Ini milikmu, aku kembalikan padamu, sekarang pergilah kau harus segera berangkat ke kantor!" ucapnya Nerissa kemudian keluar dari kamarnya.


Alvin hanya mengacak-acak rambutnya kasar kemudian beranjak dari ranjang dengan membawa kemeja miliknya.


Saat Alvin sudah keluar kamar, ia hanya melihat Marin yang sedang sibuk di dapur.


"Marin, apa kau melihat Nerissa?" tanya Alvin pada Marin.


"Dia baru saja pergi dengan sepedanya, apa ada yang ingin kamu sampaikan padanya? katakan saja padaku!"


"Tidak, aku hanya ingin berpamitan pulang sekaligus berterima kasih karena sudah mengizinkanku untuk bermalam di sini!"


Marin menganggukkan kepalanya sambil mengaduk-aduk sop ayam yang ada di hadapannya.


Alvin kemudian keluar dari rumah Marin, masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah Marin.


Sesampainya Alvin di rumah ia menjadi tidak bersemangat untuk melanjutkan langkahnya karena melihat Delia yang sudah menunggunya.


Alvin berjalan masuk begitu saja mengabaikan Delia yang sudah menunggunya dari beberapa jam yang lalu.


"Alvin, dari mana saja kau? kenapa kau baru pulang? di mana kau tidur semalam? apa yang terjadi padamu?"


Rentetan pertanyaan Cordelia berikan pada Alvin, namun tidak ada satupun dari pertanyaan itu yang Alvin jawab. Alvin hanya berjalan masuk ke kamarnya dan tidak menghiraukan Cordelia sama sekali.


"Aku sudah menunggumu lama di sini Alvin, aku mengkhawatirkanmu, kenapa kau seperti ini padaku?" tanya Cordelia sambil mengetuk pintu kamar Alvin berkali-kali.


"Jangan menggangguku Delia, jangan pernah berada di dekatku sampai berita itu benar-benar hilang!" balas Alvin dari dalam kamarnya tanpa membuka pintu.


"Aku sudah membuat klarifikasinya sejak kemarin tetapi masih ada saja media yang memberitakan hal yang tidak benar, itu juga bukan salahku Alvin aku juga tidak bisa mengendalikan semua media itu sendiri!"


"Pergilah Delia, cukup masalah perusahaan yang menggangguku, masalahku denganmu jangan sampai membuatku semakin stres, jadi kumohon pergilah!'


"Aku akan pergi setelah kau memberitahuku di mana kau tidur semalam? kenapa kau baru pulang?"


Sampai beberapa lama menunggu, tak ada jawaban apapun dari Alvin, membuat cordelia semakin kesal.


Ia tahu ia sudah mengecewakan Alvin, tetapi ia tidak menyangka hal itu begitu mengganggu pikiran Alvin.


Ia sangat tahu bagaimana Alvin, Alvin tidak akan menginap di tempat lain dengan mudah, tetapi pagi itu saat ia datang bi Sita memberitahunya jika Alvin tidak pulang sejak Alvin berangkat ke kantor.


Cordelia sama sekali tidak bisa menghubungi ponsel Alvin, membuatnya memutuskan untuk menunggu Alvin dirumah hingga pada akhirnya Alvin pun datang namun mengabaikannya.


Cordelia kemudian duduk di ruang tamu menunggu Alvin selesai bersiap untuk berangkat ke kantor.


Tak lama kemudian Alvin pun keluar dari kamarnya, dengan menggunakan setelan jas dan membawa tas kerjanya ia berjalan keluar dari rumahnya mengabaikan Cordelia yang masih menunggunya di ruang tamu.


"Tolong katakan padaku Alvin, kemana kau semalam? kenapa kau tidak pulang kenapa....."


"Berhenti menanyaiku hal seperti itu Delia, aku mohon jaga batasanmu, aku bersikap baik padamu karena menganggapmu sebagai adikku, tetapi jika kau lupa batasanmu maka aku tidak akan segan-segan untuk berjalan mundur dan semakin menjauh darimu, aku harap kau bisa mengerti," ucap Alvin kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.


Cordelia masih terdiam di tempatnya berdiri. Ucapan Alvin seperti menusuk dirinya, meninggalkan rasa sakit di dadanya.


"Adik? sampai kapan kau terus menganggapku sebagai adik Alvin, sampai kapan aku harus menahan perasaanku padamu, sampai kapan kau akan mengerti betapa aku sangat menginginkan dirimu," ucap Delia dalam hati kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Alvin.


**


Di Atlanta grup.


Alvin berjalan masuk ke ruangannya diikuti dengan Daniel yang berlari ke arahnya.


"Apa kau semalam tidur di luar? Cordelia berkali-kali menghubungiku dan menanyakan keberadaanmu!"


"Kenapa kalian menanyakan hal yang sama padaku? apa aku tidak boleh tidur di luar? apa kalian pikir aku masih anak kecil yang harus selalu melaporkan semua hal pada kalian berdua?" balas Alvin kesal.


"Bukan begitu maksudku Alvin, hanya saja tidak biasanya kau seperti ini apa masalahmu dengan Delia sebegitu beratnya sehingga membuatmu memilih tidur di luar agar Delia tidak menemuimu?"


Alvin hanya menganggukkan kepalanya kemudian membuka pintu ruangannya lalu masuk bersama Daniel.


"Aku sudah membereskan beberapa media yang menerbitkan artikel tentang mu, kita cuma bisa menunggu sampai semua berita tentangmu benar-benar menghilang," ucap Daniel pada Alvin.


"Terima kasih atas bantuanmu Daniel," balas Alvin.


"Aku harap masalah ini tidak terlalu mengganggu pikiranmu Alvin, kau harus tetap fokus pada pekerjaanmu dan rencanamu untuk menggagalkan kebusukan yang sudah direncanakan Ricky!" ucap Daniel pada Alvin.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya membalas ucapan Daniel.


Daniel kemudian keluar dari ruangan Alvin untuk melanjutkan pekerjaannya, begitu juga Alvin yang mulai fokus pada pekerjaan yang sudah menunggunya.


"aku harus memberitahu Nerissa agar dia merahasiakan apa yang terjadi semalam dari Daniel," batin Alvin dalam hati kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Nerissa.


"Halo Nerissa, apa aku mengganggumu?" tanya Alvin setelah Nerissa menerima panggilan nya.


"Tidak, ada apa?"


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal tadi pagi, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Alvin.


"Tidak apa, aku sudah melupakannya," balas Nerissa.


"Tentang apa yang terjadi semalam di pantai dan di rumahmu aku harap kau dan Marin bisa merahasiakannya dari Daniel," ucap Alvin.


"Kenapa?" tanya Nerissa dengan polosnya.


"Aku hanya tidak ingin Daniel salah paham dengan apa yang terjadi semalam," jawab Alvin.


"Baiklah, aku dan Marin tidak akan memberitahu Daniel tentang apa yang terjadi semalam," balas Nerissa.


Panggilan berakhir, Alvin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangannya dengan tersenyum misterius.


Alvin hanya diam berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Aku pikir kau dan Daniel bersahabat dekat ternyata kau menyembunyikan banyak hal dari Daniel, apa itu tentang Nerissa? apa diam diam kau menyukai Nerissa?" tanya Cordelia kemudian duduk di hadapan Alvin.


"Pergilah Delia, jangan menggangguku!" ucap Alvin tanpa menjawab pertanyaan Cordelia.


"Aku sudah mendengar apa yang baru saja kau katakan tentang sesuatu yang bisa membuat Daniel salah paham, apa ini ada hubungannya dengan ketidakpulanganmu semalam? apa benar kau memiliki hubungan yang lain dengan Nerissa? apa......"


"Berhentilah menggangguku Delia, semua yang kau pikirkan itu tidak benar, jangan membuat persahabatanku dengan Daniel renggang karena pemikiran burukmu itu!" ucap Alvin memotong ucapan Cordelia.


"Kenapa kau terlihat panik sekali? apa karena semua yang aku pikirkan itu benar?"


Alvin hanya menghela nafasnya panjang kemudian kembali fokus pada komputer di hadapannya.


Meski dalam hatinya ia takut jika Cordelia mengatakan sesuatu yang bisa membuat Daniel salah paham, namun ia tetap berusaha untuk bisa mengendalikan sikapnya agar Cordelia tidak semakin curiga padanya.