Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Ungkapan Perasaan



Cordelia masih berada di ruangan Alvin, ia sangat yakin jika Alvin menyembunyikan sesuatu dari Daniel.


Meski ia tidak tahu pasti tapi ia berpikir jika apa yang Alvin sembunyikan dari Daniel berhubungan dengan Nerissa.


Tak lama kemudian pintu ruangan Alvin kembali terbuka, Daniel masuk dan sedikit terkejut dengan adanya Cordelia di sana.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Daniel yang masih memegang handle pintu.


"Tidak, masuk lah," jawab Cordelia.


Daniel kemudian masuk dan memberikan berkas yang sudah dikerjakannya pada Alvin.


"Kenapa kau disini Delia? apa kau seorang pengangguran sekarang?" tanya Daniel pada Cordelia.


"Aku ingin meluruskan masalahku dengan Alvin, tapi sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat, bukan begitu Alvin?" balas cordelia sambil membawa pandangannya pada Alvin.


Alvin hanya diam dengan memeriksa berkas yang baru saja diberikan oleh Daniel, kemudian memberikan tanda tangan dan mengembalikannya pada Daniel.


"Seharusnya kau tidak datang kemari Delia, seharusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukankah kau harus menjaga jarak dengan Alvin mulai sekarang? kau tidak ingin karirmu dan juga karir Alvin hancur bukan?"


"Aku sama sekali tidak pernah mengawatirkan karirku, aku juga tidak berniat untuk menghancurkan karir Alvin, aku sama sekali tidak tahu hal itu akan terjadi dan aku juga sudah membereskannya walaupun masih ada beberapa artikel atau postingan tentang berita itu!" balas Cordelia.


"Justru itu, seharusnya kau berhenti mendekati Alvin agar berita itu bisa menghilang dengan cepat, kau pasti tahu berita seperti itu akan mempengaruhi Alvin dalam pekerjaannya!"


"Kenapa kau sangat membela Alvin? apa kau benar-benar mempercayainya sebagai sahabatmu? apa kau sama sekali tidak pernah berfikir jika Alvin menyembunyikan sesuatu darimu?"


Daniel menggelengkan kepalanya pelan mendengar semua pertanyaan Delia.


"Pergilah Delia, kau hanya mengganggu saja!" ucap Daniel sambil menarik tangan Delia dan membawanya keluar dari ruangan Alvin.


"Ini bukan saat yang tepat untuk mencari masalah baru, jadi pergilah sebelum Alvin benar-benar marah padamu!" ucap Daniel kemudian menutup pintu ruangan Alvin dan menguncinya dari dalam.


Daniel kemudiaan berbalik dan kembali menghampiri Alvin.


"Kau pasti tahu apa yang dia bicarakan tadi, apa benar kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Daniel pada Alvin.


"Aku memang tidak ingin memberitahu siapapun termasuk dirimu," jawab Alvin.


"Kenapa aku tidak boleh tahu? apa ini menyangkut Nerissa? apa kau......"


"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan Nerissa, aku hanya tidak bisa memberitahumu kemana aku menginap semalam," ucap Alvin memotong ucapan Daniel.


"Tentang itu aku sudah tidak memikirkannya lagi, di kota ini banyak hotel yang bisa kau datangi, aku yakin kau bisa menjaga diri dengan baik tetapi aku akan sangat senang jika kau mau menghubungiku saat kau merasa kesusahan!" ucap Daniel.


Alvin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun. Ia tidak bisa memberitahu Daniel tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Bagaimanapun juga menginap di rumah perempuan yang disukai Daniel adalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya ia lakukan.


Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia melakukan hal sejauh itu untuk Nerissa, ia hanya melakukan apa yang terbesit dalam pikirannya ketika ia mengkhawatirkan Nerissa malam itu yang tanpa sadar membuatnya lalai pada keselamatannya sendiri.


"Aku akan melanjutkan berkas yang sudah kau tandatangani!" ucap Daniel kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Alvin.


Sepeninggalan Daniel, Alvin masih mengerjakan pekerjaannya meski beberapa kali ia mengulangi kesalahan yang sama karena tidak bisa benar-benar fokus untuk mengerjakan pekerjaannya.


**


Di tempat lain Nerissa sedang mengantar kan bunga di sebuah rumah besar. Beberapa kali Nerissa memencet bel namun tidak ada yang keluar.


Saat Nerissa berbalik dan menaruh bunganya di keranjang sepeda, tiba-tiba gerbang besar itu terbuka.


Nerissa pun kembali berbalik dan dengan senyum cantiknya ia menanyakan alamat yang dipegangnya untuk memastikan agar ia tidak salah.


"Iya, benar masuklah," jawab seseorang yang membuka gerbang tinggi itu.


Nerissapun masuk ke dalam rumah yang sangat besar itu. Rumah yang terlihat mewah tinggi dan besar itu tampak sangat sepi.


Terdapat berbagai macam bunga yang tertanam di halaman rumah itu menandakan jika si pemilik rumah memang menyukai bunga.


"Kemana aku......" Nerissa menghentikan ucapannya saat ia menyadari jika seseorang yang membuka gerbang sudah tidak ada di belakangnya.


"Kemana dia pergi?" tanya Nerissa pada dirinya sendiri.


Dengan ragu Nerissa melangkahkan kakinya masuk ke arah pintu utama rumah itu.


"Permisi, saya dari Marin florist ingin mengantar bunga pesanan atas nama Amanda," ucap Nerissa sambil membawa langkahnya masuk ke dalam rumah itu.


Hening, tidak ada jawaban.


"Apa aku pergi saja? sepertinya pemilik rumahnya tidak ada di rumah," ucap Nerissa kemudian berbalik dan keluar dari rumah itu.


Saat Nerissa baru saja keluar dari pintu terdengar suara langkah kaki yang perlahan terdengar semakin jelas.


Nerissapun kembali berbalik dan melihat seorang gadis cantik menuruni tangga dengan sangat anggun.


Nerissa terdiam melihat kecantikan gadis dihadapannya, dengan senyumnya yang menawan gadis itu berjalan ke arah Nerissa.


"Apa itu bunga milikku?" tanyanya sambil menunjuk bunga yang dipegang oleh Nerissa.


"Aaahhh.... iya ini bunga pesanan atas nama Amanda," jawab Nerissa.


"Aku Amanda, apa aku bisa berkenalan denganmu? sepertinya aku akan sering memesan bunga dari toko bunga mu!" ucap Amanda sambil mengulurkan tangannya pada Nerissa.


Dengan senang hati Nerissa membalas uluran tangan Amanda dan menjabat nya.


"Tentu saja, namaku Nerissa," balas Nerissa dengan tersenyum senang karena bisa berkenalan dengan gadis cantik seperti Amanda.


"Kau cantik sekali Nerissa, bahkan bunga yang cantik ini terlihat tidak sebanding dengan kecantikanmu," ucap Amanda memuji Nerissa.


"Kau lebih cantik Amanda, bunga itu pasti merasa iri karena kalah cantik dibanding dengan mu," balas Nerissa membuat Amanda tertawa kecil.


"Aku harus pergi sekarang, terima kasih karena sudah memesan bunga di Marin florist, semoga kita bisa bertemu lagi lain kali, aku permisi," ucap Nerissa yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Amanda.


Nerissa kemudian keluar dari rumah Amanda dan mengayuh sepedanya untuk kembali ke toko bunga Marin.


Ia sudah tidak sabar untuk menceritakan pada Marin tentang pelanggan Marin florist yang baru saja ia temui.


Sesampainya di toko bunga Nerissa segera menghampiri Marin.


"Ada apa Putri? kenapa kau terlihat senang sekali?" tanya Marin pada Nerissa.


"Apa kau ingat pesanan atas nama Amanda yang memesan bunga mawar merah?"


"Iya benar, dia tinggal di rumah yang sangat besar, dia perempuan yang sangat cantik dan sepertinya dia juga perempuan yang baik," ucap Nerissa pada Marin.


"Kau tidak bisa menilai seseorang hanya dengan sekali bertemu Putri, kecantikan seseorang memang bisa dilihat dengan hanya sekali bertemu tetapi kebaikan seseorang sangat susah untuk dinilai bahkan jika kau sudah lama mengenalnya," balas Marin.


"Kau benar, tapi sepertinya dia memang perempuan yang baik dia bahkan mengajakku berkenalan padahal dia tahu kalau aku hanya seorang pengantar bunga!" ucap Nerissa.


"Kalau begitu ajak dia untuk berlangganan di toko bungaku hehehe....."


Nerissa hanya memutar kedua bola matanya mendengarkan ucapan Marin.


"Kau harus ingat Putri, tidak semua manusia itu baik, banyak dari mereka yang berpura-pura baik untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya walaupun memang masih banyak manusia yang benar-benar baik kau tetap harus berhati-hati dan tidak mudah percaya pada mereka," ucap Marin yang dibalas anggukan kepala Nerissa.


**


Waktu berlalu gelap malam kembali datang bersama cahaya bulan dan kerlip bintang.


Nerissa sedang menonton acara tv bersama Marin sebelum terdengar suara bel dari rumah mereka.


"Apa kau ada janji dengan seorang putri?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tidak, aku akan melihatnya dulu," jawab Nerissa kemudian beranjak dari duduknya dan mengintip seseorang yang memencet bel dari balik jendela.


Setelah melihat siapa yang memencet bel, Nerissapun kemudian membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan seseorang itu masuk ke dalam rumahnya.


"Apa aku mengganggumu Nerissa?" tanya Daniel pada Nerissa.


"Tidak, aku sedang menonton acara tv bersama Marin," jawab Nerissa.


"Aku ingin mengajakmu makan malam sebagai bentuk permintaan maaf kepadamu karena kejadian beberapa hari yang lalu," ucap Daniel pada Nerissa.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu Daniel, aku sudah memaafkanmu dan aku juga sudah melupakan kejadian itu," balas Nerissa.


"Apa kau menolak ajakan makan malam ku lagi? tolong katakan padaku kapan aku bisa mengajakmu makan malam berdua, aku tidak akan berhenti melakukan hal ini sampai aku bisa mengajakmu makan malam berdua Nerissa!"


"Baiklah, tunggu aku, aku akan segera berganti pakaian!" ucap Nerissa yang dibalas anggukan kepala dan senyum Daniel.


Nerissa kemudian menghampiri Marin dan memberitahu Marin tentang ajakan makan malam Daniel.


Nerissa kemudian berganti pakaian dan kembali menghampiri Daniel di ruang tamu.


"Kemana kita akan pergi?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Aku sudah menyiapkan tempat untuk makan malam kita, aku harap kau akan menyukainya," jawab Daniel.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti Daniel keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil Daniel dan meninggalkan rumah.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Daniel menepikan mobilnya dan masuk ke sebuah tempat parkir yang luas.


Daniel mengajak Nerissa masuk ke sebuah gedung besar. Mereka harus menaiki lift karena tempat makan malam yang Daniel siapkan berada di tempat yang tinggi.


Setelah lift berhenti Nerissa dan Daniel pun keluar dari lift lalu berjalan kearah sebuah tempat makan yang berada di sana.


Daniel menggandeng tangan Nerissa ke tempat duduk yang sudah ia pesan sebelumnya. Daniel memilih tempat duduk di dekat dinding kaca yang bisa memperlihatkan pemandangan malam yang penuh dengan gemerlap lampu jalan raya di bawahnya.


Nerissa tersenyum senang melihat apa yang ada dihadapannya saat itu. Gemerlap lampu kota terlihat sangat indah di matanya.


"Aku harap kau menyukai tempat ini Nerissa," ucap Daniel pada Nerissa.


"Aku sangat menyukainya Daniel, kau selalu tahu apa yang bisa membuatku senang, terima kasih Daniel!"


"Aku akan selalu berusaha untuk membuatmu senang Nerissa," ucap Daniel dengan bersungguh-sungguh.


Nerissa hanya tersenyum mendengar ucapan Daniel. Tak lama kemudian makanan dan minuman yang sudah Daniel pesanpun datang.


Mereka pun menikmati makan malam mereka. Tanpa sepengetahuan Nerissa, Daniel sengaja mengajak Nerissa untuk makan malam di tempat itu karena Daniel ingin menyatakan perasaannya pada Nerissa.


Namun ia ragu apakah ia harus menyatakan perasaannya saat itu juga atau tidak, mengingat ia belum terlalu lama mengenal Nerissa.


Meski banyak pertanyaan tentang Nerissa, Daniel tetap yakin jika Nerissa adalah gadis yang baik yang bisa menjadi masa depan untuknya.


Tetapi ia tidak yakin apakah Nerissa memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak, ia takut jika apa yang ia ungkapkan akan memperburuk hubungan mereka berdua.


"Ada apa Daniel? sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Nerissa pada Daniel.


"Aku hanya berpikir apa menurutmu aku laki-laki yang cukup baik untukmu?"


"Tentu saja kau laki-laki yang baik Daniel, kau sudah menolongku dan Marin bahkan saat kita belum mengenal satu sama lain, aku tidak akan pernah melupakan hal itu," jawab Nerissa.


Daniel tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan kemudian menyeruput minuman di hadapannya sampai habis untuk menghilangkan kegugupan yang ia rasakan saat itu.


"Katakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu Daniel? sepertinya kau sedang memikirkan masalah yang berat mungkin aku tidak bisa membantumu tapi dengan bercerita masalahmu akan sedikit terasa ringan!" ucap Nerissa pada Daniel.


"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu Nerissa, tapi ......" Daniel menghentikan ucapannya karena ragu


"Tapi kenapa? katakan saja Daniel aku akan mendengarkannya!"


Daniel menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan ia berusaha menenangkan dirinya yang sedang gugup saat itu.


Daniel memang laki-laki yang ceria dan memiliki banyak teman wanita namun tidak ada satupun dari mereka yang menarik perhatian Daniel apalagi membuat Daniel menyukai salah satu diantara mereka.


Hubungan mama dan papanya yang meregang membuat Daniel enggan untuk memulai suatu hubungan dengan seorang perempuan.


Tetapi berbeda saat dia bertemu dengan Nerissa, ia menyukai Nerissa sejak pertama mereka bertemu.


Senyum manis dan wajah cantik Nerissa membuat Daniel jatuh hati seketika, tidak hanya karena kecantikannya tapi juga karena kebaikan hati Nerissa membuat Daniel semakin yakin akan perasaan yang ada dalam hatinya.


Ia tidak ingin seseorang datang dan mengambil Nerissa darinya, mengingat betapa Nerissa memiliki kecantikan yang bisa membuat laki-laki dengan mudah jatuh hati padanya.


Danielpun membulatkan tekadnya untuk mengungkapkan apa yang disimpannya selama ini pada Nerissa.


Apapun jawaban yang akan diberikan Nerissa padanya ia akan berusaha menerimanya dengan baik meski itu bukanlah jawaban yang diinginkannya.


"Nerissa, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu aku sudah lama memendam apa yang aku rasakan selama ini jadi aku memutuskan untuk menyampaikannya padamu," ucap Daniel dengan menatap kedua mata Nerissa.


Nerissa hanya menganggukkan kepalanya membiarkan Daniel melanjutkan ucapannya.


"Aku menyukaimu Nerissa, aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu, maaf jika perkataanku ini membuatmu tidak nyaman tapi ini adalah perasaan yang aku rasakan selama ini," ucap Daniel bersungguh-sungguh.


Nerissa yang mendengar ucapan Daniel hanya bisa terdiam terkejut karena tidak menyangka jika Daniel akan mengatakan hal itu padanya.