
Di tempat lain Alvin mengendarai mobil Amanda bersama Amanda yang duduk di sampingnya.
Ia akan mengantarkan Amanda pulang terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka pun sampai di rumah Amanda. Alvin membantu Amanda turun dari mobil kemudian mengantar Amanda masuk ke dalam kamar.
"Apa kau tinggal disini sendiri?" tanya Alvin pada Amanda.
"Siapa lagi yang bisa tinggal bersamaku Alvin? hanya ada bibi yang datang pagi pulang malam dan pak satpam yang 24 jam berjaga," jawab Amanda.
"Jaga dirimu baik-baik Amanda, hubungi aku jika kau membutuhkanku, aku pasti akan segera datang!" ucap Alvin sambil membelai rambut Amanda.
Amanda menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.
"Beristirahatlah dan jangan lupa minum obat, aku harus segera pulang karena aku harus ke kantor hari ini!"
"Iya, terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Amanda yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Alvin.
Alvin kemudian keluar dari kamar Amanda lalu meninggalkan rumah Amanda dengan menggunakan taksi.
**
Di sisi lain, Daniel mengendarai mobilnya ke arah tempat ia bekerja. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu Alvin dan mendengar semua penjelasan Alvin atas apa yang Alvin lakukan pada Nerissa.
Sesampainya di kantor, Daniel tidak segera masuk ke ruangannya, ia masuk ke ruangan Alvin dan duduk menunggu Alvin disana.
Setelah beberapa lama menunggu, pintu ruangan Alvinpun terbuka, Alvin masuk dan begitu terkejut karena ada Daniel disana.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Alvin yang berjalan ke arah tempat duduknya.
"Aku sedang berbaik hati padamu, jelaskan semuanya padaku sekarang sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku padamu!" ucap Daniel dengan tatapan tajam pada Alvin.
"Apa ini tentang Nerissa?" tanya Alvin menerka.
"Apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan itu membahayakan Nerissa? entah apa yang akan terjadi padanya jika aku tidak ada disana waktu itu!"
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu Daniel, tapi bukan sekarang, tolong mengertilah ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang!"
"Jelaskan padaku selagi aku mau mendengar penjelasanmu Alvin, kau tahu apa yang akan terjadi jika kau menyakiti Nerissa bukan?" balas Daniel lalu beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan Alvin.
Bagaimanapun juga Daniel mengerti ia tidak mungkin membuat keributan di tempat kerjanya.
Danielpun masuk ke ruangannya, berusaha untuk fokus pada pekerjaannya.
Di sisi lain, Alvin juga berusaha untuk tetap fokus meski pikirannya tengah terbagi saat itu. Tidak hanya memikirkan tentang kesalahannya pada Nerissa, tetapi ia juga memikirkan keadaan Amanda saat itu.
Tanpa Alvin sadari apa yang Alvin lakukan sudah membahayakan Nerissa, ia tidak tahu kejadian buruk apa yang sudah menimpa Nerissa saat ia meninggalkan Nerissa seorang diri di bawah bukit perkebunan teh.
Entah apa yang ada di pikiran Alvin saat itu, kedatangan Amanda membuatnya perlahan menjauh dari Nerissa.
Alvin merasa perasaan yang ada dalam hatinya tentang Nerissa hanya sebuah rasa yang sempat singgah, namun tidak tinggal dalam hatinya.
Kedatangan Amanda seolah memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki masa lalu yang tidak berakhir seperti yang ia inginkan.
Saat Amanda sudah ada di hadapannya, ia seolah tidak ingin Amanda kembali pergi meninggalkannya seperti yang sudah Amanda lakukan padanya di masa lalu.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Daniel sudah berdiri di depan ruangan Alvin untuk menunggu Alvin keluar.
"Tidak sekarang Daniel," ucap Alvin saat ia baru saja keluar dari ruangannya dan melihat Daniel yang berdiri di depan pintu ruangannya.
"Jelaskan semuanya sekarang Alvin, siapa seseorang yang kau sebut teman itu? siapa teman yang sudah membuatmu meninggalkan Nerissa di pinggir jalan sendirian? siapa teman yang sudah membuatmu membahayakan Nerissa?"
Alvin menghela nafasnya panjang kemudian mengajak Daniel naik ke rooftop agar tidak ada yang melihat keributan di antara mereka berdua.
Alvin dan Danielpun sudah berada di rooftop Atlanta Group. Dengan ragu Alvin memberitahu Daniel tentang apa yang sudah ia sembunyikan dari Daniel dan Nerissa.
"Kau mengenalnya," ucap Alvin tanpa berani membawa pandangannya pada Daniel.
"Cepat katakan Alvin, jangan berbelit-belit!" balas Daniel tidak sabar.
"Amanda, aku menemuinya," ucap Alvin pelan namun cukup bisa didengar dengan jelas oleh Daniel.
Mendengar hal itu tanpa pikir panjang Daniel melayangkan tinjunya pada Alvin. Ia tidak menyangka Alvin rela membahayakan Nerissa hanya untuk menemui Amanda, masa lalu yang sudah susah payah Alvin lupakan.
"Pukul aku sepuasmu Daniel, aku tidak akan menahanmu, aku tahu ini salahku karena sudah mengabaikan Nerissa, tapi aku tidak bisa meninggalkan Amanda begitu saja, aku mempunyai alasan untuk....."
Alvin menghentikan ucapannya, saat Daniel kembali melayangkan tinjunya pada Alvin yang membuat darah segar menetes di sudut bibir Alvin.
"Aku sudah memperingatkanmu Alvin, jika kau menyakiti Nerissa maka aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya!" ucap Daniel sambil mencengkeram kerah kemeja Alvin.
Alvin hanya menganggukan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia seolah sudah menyerah pada Nerissa, ia seperti melupakan begitu saja apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Nerissa.
Daniel kemudian berdiri, tersenyum tipis dengan penuh emosi dalam dirinya.
"Kau benar-benar brengsek Alvin, lebih brengsek dari Amanda!"
"Jangan mengatakan hal buruk tentang Amanda, kau tidak tahu apa yang terjadi padanya, kau....."
"Apa kau sudah lupa apa yang sudah dia perbuat padamu? kau hampir gila hanya karena dia meninggalkanmu dan sekarang kau kembali lagi padanya saat dia datang di hadapanmu? apa semudah itu kau melepaskan Nerissa hanya untuk masa lalu yang sudah membodohimu? kau bahkan mengecewakan dan menyakiti Nerissa, apa kau tidak sadar dengan apa yang kau lakukan itu?"
"Aku tidak bermaksud untuk mengecewakan ataupun menyakiti Nerissa, aku hanya tidak bisa meninggalkan Amanda saat ini, dia tidak mempunyai siapapun disini Daniel!"
"Itu hanya alasan yang dia buat karena ingin kembali padamu dan memanfaatkan kebodohanmu!"
"Hidupnya sudah hancur Daniel, dia kehilangan kedua orang tuanya, pernikahannya gagal dan dia menyesali apa yang sudah dia lakukan di masa lalu, apa semua itu tidak cukup sebagai balasan atas apa yang sudah dia lakukan padaku? aku rasa itu sudah lebih dari cukup Daniel, aku tidak mungkin membiarkannya semakin jatuh dalam kesedihannya!"
"Kau memang benar-benar bodoh Alvin, jika kau memang lebih memilih Amanda tinggalkan Nerissa, jangan membuatnya berharap lagi padamu, kau hanya akan semakin menyakitinya!"
"Aku tidak mungkin meninggalkan Nerissa!"
"Maka tinggalkan Amanda!"
"Aku juga tidak mungkin meninggalkan Amanda, Daniel!"
"Baiklah, karena kau tidak bisa meninggalkan Amanda maka itu artinya kau memilih Amanda, jadi mulai sekarang jangan pernah memunculkan batang hidungmu lagi di depan Nerissa, aku tidak akan membiarkan Nerissa terus berharap padamu!"
"Aku tidak bisa melakukannya Daniel, aku....."
"Aku akan membuatnya menjadi milikku, aku akan benar-benar berusaha untuk itu sekarang, karena aku tahu kau tidak pantas untuk Nerissa," ucap Daniel memotong ucapan Alvin lalu pergi begitu saja meninggalkan Alvin.
Daniel membawa langkahnya meninggalkan kantor dengan semua emosi yang ada dalam dirinya. Ia tidak menyangka Alvin yang sudah berusaha melupakan Amanda kini kembali luluh pada perempuan dari masa lalunya itu.
Saat masa kuliah, Daniel memperkenalkan Amanda pada Alvin. Karena Daniel tahu Alvin tidak pernah dekat dengan perempuan, Daniel dengan sengaja membuat Alvin dekat dengan Amanda.
Hingga akhirnya Alvin dan Amandapun menjadi teman dekat. Tidak banyak yang tahu tentang kedekatan Alvin dan Amanda karena mereka tidak pernah terlihat dekat di depan umum.
Bahkan sampai mereka lulus kuliah dan Alvin bekerja di Atlanta Grup, Alvin dan Amanda menjadi semakin dekat tanpa ada hubungan yang pasti.
Selain Daniel, hanya Amanda yang tahu tentang semua masalah pribadi Alvin, tentang keluarga dan juga Atlanta Grup.
Alvin sangat terbuka pada Amanda, ia menceritakan semua masalahnya pada Amanda karena ia percaya perempuan yang akan menjadi masa depannya adalah Amanda.
Karena mereka berdua sangat dekat, tak jarang Amanda menginap di rumah Alvin sampai beberapa hari.
Mereka berdua bak pasangan pengantin yang baru menikah, mereka saling memberi perhatian dan kasih sayang namun tanpa hubungan yang jelas.
Alvin berpikir Amanda juga merasakan apa yang ia rasakan dalam hatinya, rasa yang dia sebut cinta, rasa ingin selalu bersama dan saling memiliki.
Namun ternyata Alvin salah, tanpa Alvin tahu Amanda tengah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di luar sana.
"Aku tidak ingin membuang waktuku lagi Alvin, aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk bekerja seumur hidupku, jadi aku ingin segera menikah dan hidup bersama suamiku tanpa perlu mengkhawatirkan masa depanku lagi!" ucap Amanda di suatu malam.
Tanpa pikir panjang Alvinpun berniat untuk melamar Amanda. Esoknya, sepulang dari kantor, Alvin membeli cincin yang akan ia selipkan di jari manis Amanda, Alvinpun segera menemui Amanda yang saat itu berada di rumahnya.
Dengan langkah penuh senyum Alvin keluar dari mobilnya berjalan ke arah kamarnya. Dengan cincin yang ada di saku jasnya, Alvin membuka pintu kamarnya dan melihat gadis cantiknya tengah berdiri menunggu kedatangannya.
"Amanda!"
"Alvin!"
Mereka saling memanggil bersamaan, membuat mereka berdua terkekeh karena hal itu.
"Kau dulu!" ucap Amanda dengan senyum yang ditahan.
"Tidak, kau dulu!" balas Alvin yang juga menyembunyikan senyumnya karena sudah tidak sabar untuk melamar Amanda.
Amanda menundukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengulurkan tangan kirinya pada Alvin, menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
Alvin yang tahu jika Amanda tidak pernah mengenakan cincin di jari manisnya sedikit terkejut namun ia tetap berusaha berpikir positif.
"Apa maksudmu Amanda? apa kau menunjukkan cincin barumu?" tanya Alvin pada Amanda.
Amanda menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum.
"Cincin yang cantik, apa kau baru membelinya?"
"Tidak, aku tidak membelinya, ini adalah cincin pertunanganku," jawab Amanda yang membuat Alvin benar-benar terkejut saat itu.
"Cincin pertunangan? apa maksudmu?" tanya Alvin yang sudah tidak bisa lagi berpikir positif tentang cincin yang melingkar di jari manis Amanda saat itu.
"Kau mengenal Steve bukan? dia baru saja melamarku!" balas Amanda penuh senyum di wajah cantiknya.
"Steve? bukankah kau baru mengenalnya?"
"Aku memang baru mengenalnya satu bulan terakhir ini, tetapi dia menunjukkan keseriusannya padaku!"
"Dari mana kau tahu kalau dia serius Amanda? kau bahkan belum benar-benar mengenalnya!"
"Dia tidak akan melamarku jika tidak serius denganku!"
"Tapi kau belum mengenalnya dengan baik Amanda, bagaimana kalau....."
"Tidak ada alasan untukku menolaknya Alvin, dia adalah anak satu-satunya pemilik perusahaan besar di luar negeri, dia juga memiliki banyak bisnis miliknya sendiri, dia bahkan sudah mempunyai rumah pribadi yang dia siapkan untukku di luar negeri, masa depanku sudah terjamin dengannya Alvin, aku sudah tidak perlu mengkhawatirkan masa depanku lagi sekarang!"
"Lalu bagaimana denganku? bagaimana dengan hubungan kita selama ini?"
"Kau teman yang baik Alvin, kau sudah banyak membantuku, aku sangat berterima kasih padamu!"
"Hanya itu?"
Sebelum Amanda menjawab, sebuah klakson mobil membuat Amanda segera berlari meninggalkan Alvin begitu saja.
Alvinpun membawa langkahnya untuk melihat seseorang yang membunyikan klakson di halaman rumahnya.
Alvin hanya terdiam saat melihat Amanda dipeluk dan dicium dengan mesra oleh laki-laki yang baru saja melamar Amanda.
"tidak Amanda, ini tidak benar...... kau tidak mungkin pergi begitu saja dariku," ucap Alvin dalam hati.
Alvin kemudian mencari tahu tentang Steve dan ia pun mengetahui bahwa semua yang Amanda ceritakan tentang Steve adalah sebuah kebohongan.
Alvinpun segera menemui Amanda untuk menceritakan yang sebenarnya.
"Dia bukan laki-laki yang baik Amanda, dia bahkan membohongimu, perusahaan besar yang kau ucapkan itu bukan milik keluarganya, dia memang memiliki bisnis sendiri tetapi itu hanyalah sebuah klub kecil di pinggiran kota!"
"Cukup Alvin, aku sudah tahu semuanya!"
"Kau sudah mengetahuinya tetapi kenapa kau masih mengenakan cincin darinya?"
"Ini bukan tentang Steve, tapi tentangmu, aku tahu kenapa kau menentang hubunganku dengan Steve!"
"Karena dia bukan laki-laki yang baik Amanda, dia sudah membohongimu!"
"Berhenti menjelekkan Steve di depanku Alvin, ini adalah keputusanku, masa depanku ada pada keputusan yang aku ambil sekarang, jadi kau jangan ikut campur lagi dengan keputusan yang sudah aku ambil!"
"Tapi Amanda....."
"Daniel sudah menceritakan semuanya padaku, aku minta maaf Alvin, sepertinya kau salah paham tentang hubungan kita, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu selama ini, jadi tolong jangan menggangguku lagi!" ucap Amanda kemudian berjalan pergi meninggalkan Alvin namun Alvin menahan tangan Amanda.
"Amanda....."
"Lepaskan Alvin, aku sudah memilih jalanku sendiri, sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu lagi jadi jangan pernah menemuiku apalagi berharap lebih padaku, aku tidak mungkin menyia-nyiakan waktuku dengan hidup bersamamu!" ucap Amanda kemudian menarik tangannya dari Alvin dan pergi begitu saja.
Daniel yang melihat kejadian itu hanya terdiam melihat sikap Amanda pada Alvin. Ia tidak menyangka Amanda yang selama ini ia kenal sangat baik ternyata begitu egois.
"Kau akan menyesal," ucap Daniel saat Amanda berjalan melewati Daniel.
Amanda hanya diam tanpa mengatakan apapun meski ia mendengar dengan jelas apa yang Daniel ucapkan padanya.
Sejak saat itu Alvin sudah kehilangan semangat hidupnya. Alvin menjalani hidupnya dengan kacau hingga akhirnya Daniel memperkenalkan Alvin pada dokter Jessica yang membantu Alvin untuk bisa melupakan Amanda dan melanjutkan hidupnya dengan lebih baik.
Flashback off