Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Mencari Cara



Cordelia masih berada di rumah Alvin setelah kepergian mama dan papanya.


Ia sangat senang karena Alvin bisa memaafkannya.


"Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi Alvin, aku berjanji," ucap Cordelia pada Alvin.


Alvin hanya diam dengan fokus membersihkan akuarium di hadapannya.


"Aku juga minta maaf tentang berita di internet kemarin, aku sudah pastikan mereka tidak akan mencari tau tentangmu!" ucap Cordelia yang masih membuat Alvin tak bergeming.


"Alvin, sampai kapan kau terus mencampakkan ku seperti ini?" tanya Cordelia kesal.


"Pulanglah jika kau merasa bosan di sini!" balas Alvin dingin.


Cordelia menghembuskan napasnya kesal namun tetap berada di tempatnya berdiri.


"Aku harus keluar untuk membeli batu batuan, kau mau tetap di sini atau pulang?" ucap Alvin sekaligus bertanya pada Cordelia.


"Aku ikut!" jawab Cordelia bersemangat.


"Tapi aku tidak mengajakmu!" balas Alvin lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan tak lama kemudian kembali keluar.


Cordelia mengikuti Alvin dan masuk ke dalam mobil Alvin begitu saja. Meski kesal, Alvin hanya diam membiarkan Cordelia mengikutinya.


Tiba tiba Cordelia merasa seperti menginjak sesuatu, ia pun mengambilnya. Sebuah mahkota yang tampak indah kini ada di tangannya.


"Ini......."


Alvin yang melihat apa yang dipegang Cordelia segera merebutnya.


"Jangan pernah menyentuh barang milikku!" ucap Alvin pada Cordelia.


"Mahkota itu milikmu? apa kau tidak salah? apa jangan jangan kau baru saja memberi tumpangan perempuan lain?" tanya Cordelia penasaran.


"Bukan urusanmu!" balas Alvin singkat lalu menyimpan mahkota itu.


Setelah membeli batu batuan yang ia butuhkan, Alvin lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Cordelia.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Cordelia.


"Turunlah sendiri selagi aku masih berbaik hati untuk tidak menyeretmu turun dari sini!" jawab Alvin.


"Kau memang kejam Alvin!" ucap Cordelia kesal lalu turun dari mobil Alvin.


Alvin hanya tersenyum tipis lalu mengendari mobilnya ke arah rumahnya.


"aku sudah berbaik hati dengan membiarkanmu dekat denganku Delia, tapi kau sendiri yang membuatku menjadi laki laki kejam!" ucap Alvin dalam hati.


Sesampainya Alvin di rumah, ia mengambil mahkota yang ia simpan di mobilnya sebelum ia masuk ke dalam rumah.


Ketika Alvin menaruh batu batuan yang baru saja dibelinya ke dalam akuarium, tanpa sengaja ia menjatuhkan mahkota di tangannya ke dalam akuarium.


Ia begitu terkejut saat melihat mahkota itu memancarkan sinar yang begitu indah di dalam air.


Ia pun mengambil mahkota itu dan membawanya ke kamarnya.


"Siapa pemilik mahkota ini?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.


Seketika memorinya mengulas kejadian saat ia bertemu Nerissa.


"Nerissa," ucap Alvin dengan senyum di wajahnya saat ia mengingat pertemuannya dengan Nerissa di tepi pantai.


Suara indah, rambut coklat cerah yang tergerai panjang, ditambah wajah cantiknya yang terlihat alami membuat Alvin tidak bisa melupakan Nerissa dengan mudah.


"kenapa dia menangis di sana? apa dia....."


"Kenapa dia belum menghubungiku? apa dia baik baik saja? apa dia..... aaahhh tidak, kenapa aku jadi memikirkannya? lupakan lupakan, dia cuma gadis yang tidak sengaja ku temui, bisa jadi kita tidak akan bertemu lagi!" batin Alvin dalam hati.


Alvin lalu mengambil sebuah kotak kayu, mengeluarkan isinya dan memasukkan mahkota itu ke dalam kotak kayu lalu menyimpannya.


**


Di sisi lain, Marin hanya diam memperhatikan Nerissa yang sudah membaca banyak buku di ruang baca.


Ia tak percaya seorang putri pemalas yang selama ini ia kenal bisa membaca dan memahami isi dari buku itu dengan sangat cepat.


"Sudah ku duga kau pasti punya kelebihan yang tidak aku miliki putri, hanya saja kau terlalu malas untuk melakukannya!" ucap Marin namun tidak dihiraukan oleh Nerissa.


Dari banyak buku yang sudah Nerissa baca, kini ia mengerti jika penyebab kebangkitan Ran adalah saat ia menggunakan kekuatannya.


Jadi, selama Nerissa tidak menggunakan kekuatan yang ia punya, Ran akan menghentikan kebangkitannya karena tidak bisa mendeteksi kekuatan yang Nerissa punya.


"beberapa tanaman sudah tampak menghitam karena aku menggunakan kekuatanku beberapa kali, jika aku tidak menggunakannya itu artinya kebangkitan Ran akan berhenti dan aku tidak perlu terburu buru untuk menikah," batin Nerissa dalam hati.


Saat sedang mengembalikan buku ke tempat asalnya, Nerissa melihat beberapa angka yang tertulis di tangannya, mengingatkannya pada laki laki tampan yang belum ia ketahui namanya.


"Jangan sampai terhapus, hubungi aku jika terjadi sesuatu!"


Nerissa mengernyitkan dahinya mengingat ucapan Alvin padanya.


"bagiamana caraku menghubunginya? apa yang harus aku lakukan dengan angka angka ini? aaahhhhh..... kenapa dia tidak menjelaskan apapun padaku!" batin Nerissa kesal.


"Apa yang sedang kau pikirkan putri? kenapa kau terlihat kesal seperti itu?" tanya Marin yang merasa aneh dengan sikap Nerissa.


"Aahh Marin, apa kau tau maksud dari angka angka ini?" tanya Nerissa sambil menunjukkan deretan angka di tangannya yang sebagian sudah terhapus.


"Angka apa ini?" tanya Marin tak mengerti.


"Kalau aku tau aku tidak akan bertanya padamu Marin!" balas Nerissa yang semakin kesal.


"Tunggu, sepertinya aku mengenal tinta ini, tinta ini bukan berasal dari laut, ini..... ini tinta darat putri, apa kau baru saja pergi ke daratan tanpaku?" tanya Marin tak percaya.


"Sssstttt..... pelankan suaramu Marin, kau mau bunda mendengarnya?"


"Tapi aku yakin ini tinta dari darat putri, darimana kau mendapatkannya?" tanya Marin dengan berbisik.


"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu sekarang Marin, tapi ku mohon rahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk ayahmu!"


"Ayahku? kenapa?"


"Ikuti saja ucapanku Marin, aku akan memberitahukan semuanya padamu nanti, setelah aku memastikan semuanya," ucap Nerissa.


"Baiklah putri, aku akan menjaga rahasia ini hanya untuk kita berdua," balas Marin.


"Terima kasih Marin, kau memang teman yang baik," ucap Nerissa.


"Dan kau bukan lagi putri yang pemalas hehehe...." balas Marin yang membuat Nerissa tersipu.


Nerissa lalu mengambil buku lain, ia membaca buku tentang bagiamana mermaid bisa pergi ke daratan dengan aman.


Selama ini ia tidak pernah meninggalkan laut, baginya Seabert adalah tempat ternyaman dan terindah.


Namun saat pertama kalinya ia pergi ke tepi pantai bersama Marin, laki laki tampan di bawah cahaya bulan purnama telah berhasil mencuri hatinya.


Terlebih setelah pertemuan mereka yang kedua, saat mereka saling berbincang dan berhadapan dengan jarak yang begitu dekat, membuat Nerissa betah berlama lama berada di tepi pantai.


Namun ia sadar, ia tidak mungkin membahayakan dirinya dengan pergi ke daratan. Terlebih saat bunda ratu sedang sakit seperti saat ini, ia harus fokus untuk bisa melindungi istana dari kebangkitan Ran.