Nerissa, Story Of Mermaid

Nerissa, Story Of Mermaid
Pilihan Nerissa dan Marin



Nerissa masih bersama sang Bunda di kamar sang Bunda. Dalam hatinya ia ragu untuk memutuskan apa yang harus ia pilih, tetap berada di Seabert sebagai mermaid atau menukar kehidupan abadinya sebagai mermaid untuk menjadi manusia seutuhnya demi Alvin.


"Hal yang sangat membahagiakan bagi Bunda adalah saat Bunda melihatmu bahagia Nerissa, jika ada ayahmu disini pasti ayahmu juga menginginkan hal yang sama karena sejatinya kebahagiaan orang tua hanyalah saat melihat anaknya bisa menjalani hidupnya dengan bahagia," ucap Ratu Nagisa.


Setelah pergulatan batin yang cukup lama, Nerissapun memberikan keputusannya pada sang Bunda.


"Nerissa sangat mencintainya Bunda, tapi bukan berarti Nerissa lebih mencintainya dibanding Bunda, bagi Nerissa Bunda tetap yang utama tetapi Nerissa benar-benar tidak bisa melupakannya," ucap Nerissa.


"Bunda mengerti sayang, bunda bisa memahami perasaanmu saat ini, Bundapun tidak akan menyalahkanmu jika memang keputusanmu untuk melanjutkan hidupmu sebagai manusia seutuhnya bersamanya," balas Ratu Nagisa.


"Apa kita akan tetap bisa bertemu setelah Nerissa menjadi manusia, Bunda?" tanya Nerissa dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Tentu saja bisa, setiap malam saat bulan bersinar penuh bunda akan selalu menunggumu di pantai, bunda tidak akan pernah melewatkan waktu itu seumur hidup Bunda," ucap Ratu Nagisa sambil membelai lembut rambut Nerissa.


Nerissapun segera memeluk sang Bunda dengan erat, menumpahkan air matanya dalam pelukan sang Bunda.


"Terima kasih sudah memahami Nerissa Bunda, terima kasih sudah mempercayai Nerissa untuk membuat keputusan ini," ucap Nerissa.


"Berjanjilah pada bunda untuk selalu mendatangi Bunda saat bulan bersinar penuh Nerissa," ucap sang Bunda yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Nerissa.


Ratu Nagisa lalu mencium kening Nerissa dan memeluk Nerissa dengan erat.


**


Esoknya, dengan diantar oleh Cadassi dan Chubasca, Marin mendatangi istana untuk menemui Ratu Nagisa dan Nerissa.


"Marin sudah mengambil keputusan Ratu, Marin harap keputusan Marin ini akan mendapatkan persetujuan dari ratu Nagisa," ucap Marin pada Ratu Nagisa.


"Apapun keputusanmu tentu saja aku akan menyetujuinya Marin," balas Ratu Nagisa yang saat itu sedang berada di singgasananya bersama Nerissa.


Marin kemudian membawa pandangannya pada Cadassi dan Chubasca yang berada di kanan dan kirinya. Cadassi dan Chubascapun kompak menganggukkan kepala mereka pelan sebagai isyarat agar Marin mengatakan keputusannya pada Ratu Nagisa.


"Marin akan menggunakan mutiara merah muda ini Ratu, Marin bersedia menukar kehidupan abadi Marin dengan menjadi manusia seutuhnya," ucap Marin dengan suara bergetar saat ia memberitahukan pada Ratu Nagita tentang keputusan besar yang baru saja ia katakan.


"Apa kau sudah memikirkannya baik-baik Marin? apa kau yakin tidak akan ada penyesalan suatu hari nanti?" tanya Ratu Nagisa memastikan.


"Marin sudah memikirkannya baik-baik ratu, Marin yakin ini adalah jalan terbaik yang bisa marahin ambil atas izin ayah dan kakak Marin," jawab Marin tanpa ragu.


"Bagaimana denganmu Nerissa? apa kau sanggup melanjutkan hidupmu tanpa Marin yang selama ini selalu menemanimu?" tanya Ratu Nagisa pada Nerissa yang membuat Marin begitu terkejut.


"Apa kau tidak memilih keputusan yang sama denganku Putri?" tanya Marin pada Nerissa.


Nerissa hanya tersenyum lalu menghampiri Marin dan memeluknya.


"Aku juga akan tetap berada disini jika kau memilih tetap berada disini," ucap Marin pada Nerissa.


"Kau memang teman yang sangat baik Marin, mutiara merah muda itu memang pantas menjadi milikmu," sahut Ratu Nagisa.


"Tapi......"


"Aku akan ikut denganmu," ucap Nerissa memotong ucapan Marin.


"Ikut denganku? apa itu artinya kau juga akan menggunakan mutiara merah muda milikmu?" tanya Marin pada Nerissa.


"Tentu saja, aku sudah memikirkannya baik-baik dan Bundapun sudah memberikan restunya padaku," jawab Nerissa dengan tersenyum dan kedua mata yang berkaca-kaca.


Marinpun seketika memeluk Nerissa dengan erat.


"Kita selalu akan bersama-sama Putri, kita akan saling menjaga dan melindungi satu sama lain, aku berjanji untuk selalu ada di sampingmu dimanapun kau berada," ucap Marin pada Nerissa.


"Terima kasih sudah menjadi teman yang baik untukku Marin, kita mulai kehidupan kita yang baru sebagai manusia seutuhnya," balas Nerissa yang juga memeluk Marin dengan erat


Ratu Nagisa kemudian mengantar Nerissa dan Marin untuk menemui mermaid tua penjaga persimpangan dua dunia. Sesampainya disana mereka sudah disambut oleh mermaid tua dengan ekor merah itu.


"Tidak perlu menjelaskannya, aku tahu keputusan apa yang kalian berdua ambil," ucapnya.


"Apa benar kau adalah nenekku?" tanya Nerissa pada mermaid tua di hadapannya.


"Iya benar, kau adalah cucuku Nerissa, cucu yang sangat aku sayangi dan selalu aku perhatikan walau aku berada jauh darimu," jawab mermaid tua itu yang membuat Nerissa segera berenang ke arahnya dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih sudah memberikan kesempatan Nerissa untuk memilih keputusan ini, sekarang nenek tidak perlu memperhatikan Nerissa yang akan menghabiskan waktu di daratan, nenek hanya harus memperhatikan Bunda dan menjaga Bunda dengan baik," ucap Nerissa.


"Kau memang cucu kebanggaanku Nerissa," balas mermaid tua itu sambil membelai lembut rambut Nerissa.


"Apa kalian berdua sudah yakin dengan keputusan yang akan kalian ambil saat ini?" tanya mermaid tua itu dengan membawa pandangannya pada Nerissa dan Marin bergantian.


Nerissa dan Marinpun menganggukkan kepala mereka tanpa ragu.


"Baiklah kalau begitu, bawa tas ini kalian akan membutuhkannya saat kalian sudah menjadi manusia seutuhnya di daratan, di dalamnya juga ada banyak mutiara yang harus kalian gunakan dengan baik agar kalian bisa menjalani kehidupan kalian di daratan tanpa kesulitan," ucap mermaid tua itu sambil memberikan sebuah tas pada Marin dan Nerissa.


"Sekarang kalian berdua ikutlah denganku dan kau Nagisa kembalilah ke istana dan sampaikan pada Cadassi dan Chubasca untuk tidak mengkhawatirkan Marin, karena dia aman bersama Nerissa," ucap mermaid tua pada Ratu Nagisa.


Ratu Nagisa menganggukkan kepalanya lalu berenang kembali ke istana. Sedangkan Nerissa dan Marin berenang mengikuti mermaid tua berekor merah itu.


Setelah beberapa lama berenang merekapun sampai di tepi pantai. Pantai dimana Nerissa pertama kali bertemu Alvin, pantai dimana awal mula takdir mempertemukan Alvin dengan Ratu Nagisa yang menyelamatkan hidupnya.


"Kalian pasti sudah tahu bagaimana kehidupan di daratan, banyak manusia dengan berbagai macam watak dan sifatnya, kalian jangan mudah terperdaya dan terpengaruh pada mereka yang bahkan tidak kalian kenal dengan baik," ucap mermaid tua itu menjelaskan.


"Sekarang kalian berdua menepilah dan berikan mutiara merah muda milik kalian padaku!" ucap mermaid tua itu.


Setelah Nerissa dan Marin aku menepi mereka berdua pun memberikan mutiara merah muda milik mereka.


Mermaid tua itu kemudian melemparkan mutiara merah muda itu ke udara, membuat kedua mutiara itu seolah terbang mengitari Marin dan Nerissa untuk beberapa saat sampai ekor Nerissa dan Marin tiba-tiba berubah menjadi sepasang kaki.


Nerissa dan Marinpun segera berdiri dan begitu senang melihat kaki yang mereka miliki saat itu.


"Selamat menjalani kehidupan baru kalian, aku harap kalian benar-benar bahagia dengan keputusan kalian dan jangan lupa untuk menemui orang-orang terkasih kalian dari laut setiap bulan bersinar penuh," ucap mermaid tua itu lalu berenang pergi meninggalkan Nerissa dan Marin.


Nerissa dan Marinpun bersorak senang lalu saling berpelukan dengan kedua mata yang berkaca-kaca penuh haru, karena pada akhirnya mereka kembali ke daratan bukan lagi sebagai mermaid yang berpura-pura menjadi manusia melainkan menjadi manusia yang seutuhnya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang Putri? apa kita akan berjalan ke kota sekarang juga?" tanya Marin pada Nerissa.


"Kita sekarang adalah manusia sungguhan Marin, kita tidak punya cukup banyak tenaga untuk berjalan sampai ke kota, lebih baik kita bermalam dulu di sekitar sini," jawab Nerissa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


Pandangannyapun jatuh pada gubuk yang berada tak jauh dari tempat Nerissa dan Marin berdiri. Nerissa kemudian mengajak Marin untuk masuk ke gubuk kayu itu.


"Mari kita lihat apa yang ada di dalam tas ini," ucap Nerissa sambil membuka tas miliknya begitu juga Marin yang membuka tas miliknya.


"Kertas-kertas apa ini? kenapa di laut ada kertas-kertas seperti ini?" tanya Nerissa tak mengerti saat ia menemukan banyak dokumen yang ada di dalam tas itu.


"Sepertinya ini adalah identitas kita Putri, sepertinya nenekmu sudah menyiapkan semua ini karena dia tahu bahwa kita akan memilih untuk hidup di daratan," ucap Marin.


"Lihatlah Putri, nenekmu bahkan memberikan banyak mutiara pada kita," lanjut Marin yang melihat banyak mutiara di dalam tasnya.


"Aaahh iya, kau benar Marin, aku juga memiliki mutiara yang sangat banyak di dalam tasku, dengan mutiara ini kita bisa memulai kehidupan baru kita disini," ucap Nerissa.


Nerissa dan Marinpun tersenyum senang lalu saling berpelukan dan tak butuh waktu lama merekapun tertidur di dalam gubuk kayu itu.


Pagi harinya Nerissa dan Marin terbangun karena mendengar suara yang sangat berisik dari pantai. Nerissa dan Marinpun segera membawa langkah mereka ke arah pantai.


**


Di sisi lain dengan malas Alvin keluar dari rumahnya bersama Daniel.


"Ayolah Alvin, ini adalah pesta pertama yang sudah lama sangat aku inginkan, kau akan menemui banyak gadis disana dan aku pastikan salah satu dari mereka akan berhasil menarik perhatianmu," ucap Daniel pada Alvin.


"Sejak kapan kau suka mengadakan pesta di tepi pantai Daniel dan tentang gadis yang kau maksud lebih baik kau saja yang mengencani gadis-gadis itu!" balas Alvin.


"Hahaha..... aku sengaja mengadakan pesta ini di tepi pantai karena aku tahu kau sangat menyukai pantai jadi bersemangatlah Alvin, jangan hanya memikirkan pekerjaanmu, kau harus memikirkan masa depanmu juga," ucap Daniel.


Alvin hanya menghela nafasnya pasrah lalu masuk ke dalam mobil bersama Daniel. Danielpun mengendarai mobilnya ke arah pantai Pasha dimana ia sudah mempersiapkan pesta disana.


Sesampainya disana sudah banyak orang yang datang baik laki-laki maupun perempuan.


Namun bukannya berkumpul dengan semua yang ada disana Alvin membawa langkahnya ke arah batu karang besar tempat ia biasa duduk setiap malam.


Namun tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan yang berada tak jauh dari tempatnya. Suara yang ia dengar itu adalah suara Nerissa yang tidak sengaja menginjak batu karang yang cukup tajam sehingga melukai kakinya.


"Aahh kenapa sakit sekali, ternyata seperti ini rasanya hidup sebagai manusia sungguhan," ucap Nerissa sambil berjalan dengan tertatih-tatih.


Alvin yang melihat hal itu dari atas batu karang besar hanya terdiam untuk beberapa saat.


Entah kenapa ia merasa tidak asing pada gadis cantik yang ada di hadapannya, gadis cantik dengan rambut panjangnya yang berwarna terang membuatnya tidak berkedip untuk beberapa saat.


"Siapa dia? apa aku pernah bertemu dengannya?" tanya Alvin pada dirinya sendiri.


"Hanya ada satu cara untuk memastikannya," ucap Alvin lalu segera turun dari atas batu karang besar.


Alvin kemudian berlari kecil mengikuti Nerissa yang masih berjalan di tepi pantai, membiarkan kakinya yang berdarah tersapu oleh ombak pantai.


"Lukamu akan infeksi jika kau biarkan seperti itu," ucap Alvin yang membuat Nerissa segera berbalik dan membawa pandangannya pada seseorang yang berbicara di belakangnya.


Nerissa begitu terkejut saat ia menyadari bahwa laki-laki itu adalah Alvin. Laki-laki yang membuatnya menukar kehidupan abadinya sebagai mermaid untuk bisa menjadi manusia sungguhan.


"Tunggu sebentar disini, aku akan mengambil obat untukmu," ucap Alvin lalu berlari pergi meninggalkan Nerissa untuk mengambil obat.


Sedangkan di sisi lain Marin yang tengah mencari Nerissa tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah membawa minuman saat itu.


Seseorang itupun memaki Marin karena minumannya tumpah membasahi pakaiannya yang mahal.


"Apa kau tidak punya mata, lihatlah pakaianmu yang lusuh itu, aku yakin kau tidak akan mampu mengganti pakaianku yang sudah kotor karenamu," ucap seseorang itu.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak sengaja, berapa aku harus membayar pakaianmu yang kotor itu," balas Marin yang membuat seseorang itu semakin murka.


"Perempuan miskin sepertimu tidak akan mampu membayar pakaianku yang mahal ini, jadi sepertinya kau harus menjual dirimu untuk bisa membayar pakaianku yang sudah kau kotori ini!"


"Aku memang bersalah karena tidak sengaja menabrakmu, tapi bukan berarti kau bisa merendahkanku seperti itu!" ucap marin berusaha membela diri.


Daniel yang melihat keributan itu hanya bisa tersenyum tipis melihat sikap Marin yang dinilainya berani membela dirinya sendiri.


"Dilihat dari pakaiannya sepertinya dia bukan bagian dari orang-orang ini," ucap Daniel dalam hati lalu membawa langkahnya ke arah Marin.


Seseorang itupun tiba-tiba meraih tangan Daniel dan memeluknya manja sembari mengeluh pada Daniel atas sikap Marin.


"Lihatlah Daniel, dia membuat pakaianku kotor!"


Marin yang melihat hal itu begitu terkejut, tidak hanya karena melihat Daniel disana tapi juga karena melihat perempuan itu tengah memeluk tangan Daniel dengan manja.


"Berikan saja nomor rekeningmu padaku, aku akan memberikan sejumlah uang yang bisa kau gunakan untuk membeli pakaian yang jauh lebih mahal," ucap Daniel pada perempuan itu.


"Huuhh sombong sekali, kau pikir aku tidak mampu membayarnya!" ucap Marin kesal pada Daniel lalu berjalan pergi begitu saja.


Danielpun segera melepaskan tangannya dari perempuan itu dan berlari mengejar Marin.